[Berani Cerita #19] Penyeberangan Hati

kardady.wordpress.com

kardady.wordpress.com

Pukul 09. 00. Pagi ini.

Seperti seratus satu pagi yang telah berlalu, mereka masih di sini, garis penyeberangan yang memisahkan jalan. Berdiri di masing-masing sisi. Menunggu salah satu mengesampingkan ego, berlari menyeberangi garis penyeberangan menuju satu yang lain, memeluk hangat lalu berbisik mesra di telinga : Maafkan aku. Aku mencintaimu.

Tapi tidak satupun dari mereka yang bergerak. Tidak Arni, tidak juga Hadi. Keduanya terlalu mementingkan harga diri juga memelihara sakit hati. Menanam api di hati. Mengembusnya terus-menerus hingga baranya kian besar, membakar. Ardi masih menatap perempuan cantik yang dulu ia akui sebagai kekasih tegak di seberang sana. Tetap tegak hingga lampu lalu lintas menyala merah, dan pandangannya terhalang segala macam kendaraan yang lalu-lalang. Lalu pada satu saat, sosok Arni menghilang. Hadi menghela napas dan pergi.

Pukul 10. 00. Seratus hari yang lalu.

Cafe Aras terletak tepat di seberang garis penyeberangan. Biasanya melalui dinding kaca cafe favorit itu mereka berdua memandang jalanan yang ramai. Pejalan kali yang tergesa, supir taksi yang gemas memencet klakson, dan orang-orang yang berkerumun hendak menyeberang. Mereka nikmati semua pemandangan itu sambil sesekali menyesap kopi kesukaan dan mengunyah waffle lezat. Rutinitas yang menyenangkan untuk mengawali hari.

Tapi hari itu tidak sama seperti hari kemarin. Tergesa Arni menyeberangi garis-garis putih berjajar ketika lampu jalan menyala hijau. Telepon dari orang tak dikenal tadi memaksanya meninggalkan rapat dan menuju Cafe Aras.

Di dalam cafe, di tempat duduk favorit mereka, dia melihat Hadi duduk berdua dengan seorang wanita cantik. Rapat. Akrab. Lengan Hadi melingkar mesra di pundak wanita itu. Batin Arni hancur.

“Hadi!”

Hadi tak bereaksi. Matanya sekilas melirik, tapi wajahnya masih mengarah pada wanita di sampingnya.

“Hadi!” Sekali lagi Arni memanggil. Tatapan tajamnya membuat si wanita memilih menyingkir. “Hanya dua minggu kita tak bertemu, dan kau sudah melakukan ini?” Hadi mendengus.

“Sama saja sepertimu,” jawabnya dingin. Tangan Hadi terulur ke dalam tas kerja, mengeluarkan setumpuk foto.

“Lihat sendiri. Asyik juga ya selingkuh sambil kerja.”

Gemetar tangan Arni meraih gambar-gambar di atas meja. Ada foto-foto dia dan seorang pria tampan sedang tertawa bersama. Lelaki itu menatap Arni mesra. Tangannya singgah di bahu.

“Bukan seperti itu kejadiannya!” Arni berusaha menjelaskan. Itu foto saat gathering kantor. Robert hanya teman kerja. Tak lebih. Sayang Hadi memilih tak percaya.

“Jika begitu, aku juga bisa bilang hal yang sama. Elisa cuma teman kerja. Kami cuma ngopi bareng.”

“Berdua? Sambil bermesraan?” tuding Arni sakit hati.

“Ya. Sama seperti yang kamu dan Robert lakukan.” Hadi menjawab santai. Arni tak mampu membendung air mata. Segera berlari ke luar cafe, menghentikan taksi, dan pergi entah ke mana. Hadi menghempaskan kepala di sofa. Matanya memancarkan luka.

Pukul 12.00. seratus sebelas hari sebelumnya.

“Foto-fotonya?”

Perempuan itu menyerahkan sebuah amplop tebal. “Sudah siap rencananya?”

Robert mengangguk mantap. “ Besok serahkan foto-foto itu pada Hadi. Selanjutnya tergantung kemampuanmu, Elisa.”

Elisa tertawa kecil. “Kita pasti bisa, Robert. Lihat saja nanti.”

Lamat-lamat terdengar suara Meatloaf mengalun dari pengeras suara milik Cafe. “….and i would do anything for love…”

Elisa dan Robert bersenandung sambil tertawa. “…and i WILL do that.”

492 kata.

Iklan

30 thoughts on “[Berani Cerita #19] Penyeberangan Hati

  1. dicko (@dicko_andika) berkata:

    Keren ini bg. Banget. Aku suka. Tapi menurutku….menurutku lho yaa….Sekali lagi hanya menurutku. Di percakapan terakhir ‘aku mengangguk mantap’ kenapa jadi ‘aku’??

    Itu aja sih. Selebihnya, like always….sadis. Tulisannya kamu banget 😀

    • riga berkata:

      makasih, mbak Rika…. seperti kata Ti Pat Kay : “Beginilah cinta, deritanya tiada akhir.” | Demi cinta, ada yang rela berbuat apa saja. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s