[Flashfiction] Rahasia Bunda

23 tahun lalu…

Mata Risna sembab karena menangis semalaman. Hatinya hancur. Dia memeluk Rahmi kakaknya dengan erat. Tangisnya pecah di bahu Rahmi.

“Kamu tenangkan diri, Na. Mungkin ini yang terbaik buat kamu, Adam, juga bayi kalian.”

Rahmi mengusap sayang punggung Risna. Mencoba meredakan perih yang terasa menyengat dada.

“Aku nggak rela, Kak. Nggak rela!” Risna meratap.

“Bang…”

Risna mengalihkan pandangan pada lelaki muda yang duduk mematung di sebelahnya. Lelaki berambut ikal itu menatap lurus pada dinding bisu di hadapannya. Airmata mengalir dalam tangis tanpa suara. Risna terisak. Rahmi mengeratkan pelukan.

**********

“Sitta! Ke mari sebentar!”
“Sebentar, Mak, sedang memakai jilbab nih!” Seorang gadis menyahut dari dalam kamar.
Rahmi menunggu dengan sabar di dapur. Semenit kemudian gadis berjilbab biru muda memasuki dapur. Rahmi segera memberi perintah.
“Aduk santannya ya. Jangan sampai pecah. Mamak mau shalat dhuhur dulu.”
Sitta mengangguk patuh. Perempuan berusia 55 tahun itu segera berlalu ke dalam kamar mandi. Sitta masih mengaduk santan yang dijerang di wajan ketika seorang perempuan berusia awal empat puluh memasuki pintu belakang.

“Mamakmu mana, Sitta?” bisik perempuan itu.

“Shalat, Bun.”

Perempuan yang dipanggil Bunda kemudian berkata pelan. “Duitnya udah ada?”

Sitta mendesah. “Belum ada, Bun. Sudah dipinjam Mamak untuk bayar arisan bulan ini.”

Raut kecewa tergambar jelas di wajah Bunda. “Bukannya minggu lalu Sitta bilang duitnya ada? Duit yang katanya buat Bunda, kok dipinjamkan sama Mamak?”

Sitta menghentikan gerakan tangannya mengaduk santan. Dikecilkannya api kompor. Sitta memandang ke arah Bunda yang masih berdiri di sampingnya. “Maaf, Bun. Telanjur ngasih ke Mamak. Nanti kalau ada duit lagi, Sitta pinjamin deh.”

Bunda mengembuskan napas kesal. “Kalau tahu duitnya nggak ada, Bunda kan nggak bilang ke Mak Lisa buat datang ambil angsuran hari ini. Kamu ini sama orangtua sendiri begitu amat, sih!”

Hati Sitta serasa tertusuk belati berkarat. Ucapan Bunda sungguh memerihkan telinga. Juga hatinya. Dia memilih diam hingga Bunda berlalu dari pintu belakang.

“Sudah masak santannya, Sitta?” Sebuah suara memecah keheningan. Rahmi sudah berdiri di ambang pintu dapur. Sitta mengangguk pelan. Dia memalingkan wajah sekedar menyembunyikan airmata yang mulai menggenangi pelupuk. Untung Rahmi tak melihat dan melanjutkan pekerjaannya memasak.

“Tadi siapa yang datang?”

“Bunda Risna.” Sitta menyahut pendek.

“Ada perlu apa?”

“Nggak ada perlu apa-apa kok. Cuma mampir.”

“Oh..” Tangan Rahmi kembali sibuk bekerja. Dia tak lagi bertanya tentang adiknya.

**********
Sitta duduk termenung di beranda. Pikirannya masih tertuju pada kejadian siang tadi. Betapa sakit hatinya dituduh tak berbakti pada orang tua. Sitta merasa sudah berusaha berbuat baik pada Mamak Rahmi dan Bunda Risna. Sitta mengingat-ingat lagi apa saja yang sudah dia lakukan buat kedua ibunya itu. Ya, Sitta punya dua orang ibu : Mamak dan Bunda. Serta dua orang ayah tentu saja.

Bunda dan Ayah – orangtua kandung Sitta- menyerahkan Sitta pada Mamak dan Bapak 23 tahun yang lalu, ketika Sitta masih berusia beberapa bulan. Sitta sudah diberitahu tentang ini ketika dia berusia sepuluh tahun. Tapi tak ada yang menceritakan alasannya. Semua bilang : Nanti kalau kamu sudah dewasa kamu akan mengerti. Tapi sampai sekarang belum ada yang bicara jujur padanya. Semua menyimpan erat-erat cerita itu seolah ia adalah rahasia kelam yang sebaiknya dikubur dalam-dalam.

Batin Sitta tak tenang. Dia melirik ke arah ruang tamu. Di sana ada Rahmi dan Risna sedang merajang bumbu-bumbu dapur sambil menonton sinetron sore. Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu, Risna lebih senang bertandang ke rumah Rahmi – yang telah bercerai dari suaminya ketika Sitta berusia tujuh tahun- sekedar untuk mengobrol atau menonton televisi. Risna dan suaminya tidak memiliki anak lain. Demikian juga dengan Rahmi dan suaminya.
Didorong oleh keinginan memperoleh jawaban atas pertanyaan yang belasan tahun menghantui pikirannya, Sitta beranjak masuk.

“Bunda…” Sitta memanggil pelan.

Risna menghentikan kegiatannya. Kepalanya berputar menatap Sitta. Heran. “Ada apa, Sitta?”

Rahmi yang duduk di sebelahnya juga menatap Sitta. Sitta menghela napas mengumpulkan keberanian. Resah itu mesti tuntas. Sore ini juga.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Sitta 23 tahun yang lalu?”

Akhirnya kalimat itu ke luar juga dari bibir Sitta. Wajah Risna dan Rahmi tampak terkejut. Sitta bahkan bisa melihat gurat luka di mata Risna.

“Buat apa tanya-tanya tentang itu, Sitta?” Rahmi bertanya lembut. Tangannya mengusap pundak Risna yang menegang.

“Sitta ingin tahu, Mak. Sitta punya hak untuk tahu. Selama ini Sitta bertanya-tanya, kenapa Sitta diserahkan pada Mamak dan Bapak ketika Sitta masih bayi? Apa Sitta menyusahkan? Sakit-sakitan? Apa Sitta….” Sitta menelan ludah, “…apa Sitta ini anak yang tak diharapkan?”

Risna mengejang. Dia menggeleng keras-keras. Airmata mulai berjatuhan. Rahmi berusaha menenangkan Risna yang mulai menangis.

“Sitta…” Rahmi ingin menjelaskan tapi Risna segera memotong ucapan Rahmi. “Kak, biar aku yang jelaskan. Aku sudah nggak tahan menyimpan rahasia ini.”

Sambil berurai airmata Risna bicara. Memuntahkan sesak di dalam dada. “Kamu anak Bunda, Sitta. Anak Ayah dan Bunda satu-satunya. Waktu kamu lahir, bukan main senangnya kami. Kami sangat bahagia. Tapi cuma sebentar.”

Mata Risna menerawang ke masa lalu. Sesekali ia menghela napas panjang dan dalam. “Almarhum Kakek dan Nenekmu yang menyuruh kami menyerahkanmu pada Kak Rahmi dan suaminya.”

“Kenapa?” sergah Sitta.

“Karena mereka menganggap kami terlalu muda untuk punya anak. Ayahmu belum punya pekerjaan tetap. Kami masih menumpang tinggal di rumah kakekmu. Ya, kami dulu menikah muda supaya tidak kebablasan pacaran meski kakekmu menentang habis-habisan. Tapi akhirnya dia terpaksa setuju setelah Nenekmu membujuknya.”

“Lalu kenapa Sitta diserahkan, Bun? Kenapa kalian tidak merawat Sitta? Kenapa tidak melawan keinginan Kakek dan Nenek?” desak Sitta.

“Kamu pikir kami senang? Kamu pikir kami menyerahkanmu dengan suka rela? Berhari-hari aku dan ayahmu menangis. Menangisi ketidakberdayaan kami. Kami tidak berani menentang keinginan kakekmu. Dia sangat keras. Selain itu….” Risna menggantung kalimatnya. Dia melirik Rahmi yang menunduk menekuri lantai.

Rahmi paham dengan yang akan dikatakan Risna. Dia berbisik pelan. “Bilang saja, Ris. Kasih tahu sama Sitta.”

Risna menghela napas. “Selain itu, kamu diserahkan pada Kak Rahmi karena Kak Rahmi dan suaminya sudah menikah sebelas tahun, tapi belum juga memiliki anak. Kak Rahmi……” sekali lagi Risna melirik pada Rahmi. Rahmi kembali mengangguk.

“…Kak Rahmi mandul.”

Sitta sudah menduga hal itu sejak dulu. Tapi mendengar langsung tetap menimbulkan keterkejutan. Risna melanjutkan penjelasannya.

“Kakekmu berpikir biar saja kau diangkat anak oleh Kak Rahmi, toh nanti aku dan Ayahmu akan memiliki anak-anak lain. Tapi dia salah, Sitta. Salah besar.”

Risna tercekat. Tenggorokannya tersendat. Kalimat terakhir tadi dia selesaikan dengan susah payah. Tangan Risna terangkat menutupi wajah. Dia terisak. Batin Sitta terasa disayat-sayat. Bundaku….bundaku yang malang, lirih batin Sitta meratap. Sitta beranjak mendekati Risna. Tangannya mengembang memeluk Risna. Rahmi tak tahan melihat keduanya menangis. Ia ikut memeluk adik dan anak angkatnya. Bertiga menangisi nasib yang tak berpihak pada mereka.

“Maafin Sitta, Bunda. Maafin Sitta.”

Risna tak menjawab. Hanya pelukan yang ia eratkan.

Iklan

34 thoughts on “[Flashfiction] Rahasia Bunda

  1. harryirfan berkata:

    <<< Kalo lagi asik bikin cerita gak bisa direm *toss ama Bang Riga*

    Btw, ceritanya menarik, Bang.. Cuman konfliknya menurutku kurang nampol sih… hehe 🙂

    • riga berkata:

      tosss..juga.
      tentang konflik…memang nggak diniatkan untuk bikin sesuatu yang dramatis, semisal : Bunda Risna ditikam Sitta yang merasa kesal, lalu membuka rahasia yang dia simpan selama ini, dsg.

      Sebenarnya sih ini nggak murni cerpen, lebih dari 50%-nya adalah kisah nyata di keluarga.

      Hanya beberapa detil yang sangat pribadi yang mesti disamarkan. Selebihnya….kejadian sebenarnya. 🙂

      • harryirfan berkata:

        Maksudku konfliknya gak sampe bunuh2an juga, Bang.. -___-”

        Iya, Bang.. Di daerahku juga banyak kejadian seperti ini, “meminjam” anak kerabat untuk dijadikan “pancingan”..

        Cuman emang kalo mau dijadikan cerpen, tentunya harapan pembaca ada hal dramatis..

        Nice post. Bang.. 🙂

    • riga berkata:

      Bunda Risna tersiksa sepanjang hidupnya. Sitta anaknya. Kenapa dia tidak bisa mendapat kasih sayang dari anaknya secara utuh? Kenapa dia seolah hanya mendapat ‘sisa’? Jadi yang nomor dua. padahal itu bukan mau dia. Hanya dengan keikhlasan dan kebesaran hati tiga perempuan itu, maka sakit hati bisa dihindari.
      Duh…kok jadi mellow gini ya?
      :’)

    • riga berkata:

      ini tentang perasaan seorang ibu yang ingin mendapat perhatian dari anaknya, Uda. Ketika Sitta bilang uangnya sudah diberikan pada Mamak Rahmi, Bunda Risna merasa kalau dia dinomorduakan. Padahal dia adalah ibu kandung Sitta. Kecemburuan ini yang membuat Bunda Risna merasa kesal.

      Begitu kira-kira penjelasannya, Uda. Makasih udah mampir yah. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s