[Berani Cerita #17] Jebakan Detektif

detektif remaja

sumber

Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga.

“Kesempatan. Mumpung sepi.”

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi lalu membuka sebuah jendela kelas 9-H yang telah rusak.

Ruang kelas sepi. Seluruh siswa tengah berada di ruang laboratorium. Roni mendekati lemari kayu kokoh yang terkunci di sudut ruangan.

“Kali ini pasti pas!”

Roni mengeluarkan sebuah kunci dari saku. Dia membuka lemari, menarik sebuah laci dan membongkar isinya.

“Sejuta! Lumayan juga.” Roni bergumam. Diambilnya uang yang disembunyikan di bawah tumpukan berkas dan dimasukkan ke dalam saku. Ditepuk-tepuknya tangan yang sedikit kotor terkena serbuk putih yang bertebaran di sekitar laci.

“Banyak rayap,” gumamnya.

Roni bergegas membereskan laci lalu mengunci lemari dan ke luar melalui jendela.

**********
Bel pulang berbunyi nyaring. Roni bersiap-siap pulang. Langit mendung, mungkin sebentar lagi hujan. Tapi di pintu kelas sudah ada Aryo, Barry, dan Lisa. Ketiganya adalah murid kelas 9-H. Roni terkesiap tapi segera menguasai diri. Roni berjalan santai melewati ketiga orang itu.

“Hai semua,” sapanya ramah. “Belum pada pulang?”
Lisa menjawab cepat. “Kami nungguin lo kok, Ron.”

Roni mengernyit. “Ada apa memangnya?”

Aryo mengawasi murid terakhir yang ke luar dari kelas, lalu sigap menutup pintu.

“Duduk yuk, Ron.”

Barry menggamit tangan Roni. Mereka bertiga kini duduk di hadapan Roni.

“Mendingan balikin sekarang deh duitnya, Ron.” Lisa berkata lembut tapi tegas.

“Duit apaan?” sangkal Roni.

Arya bangkit dari kursi dan berbisik di telinga remaja itu.

“Duit sejuta yang lo ambil dari lemari kelas kami. Itu duit kas kelas. Lo balikin sekarang, dan kami nggak laporin ke Kepsek.”

Roni bertahan. Dia balik menuding. “Eh, jangan sembarangan nuduh ya? Apa buktinya?”

Lisa menjelaskan. “Lo kenal Bang Radin tukang kunci kan?”

Roni mengangguk enggan. Lisa tersenyum.

“Bang Radin cerita kalo lo bikin kunci duplikat tanpa membawa kunci asli. Lo pake cetakan di tangan, kan?”

” Emang nggak boleh?”

“Enggak masalah, asal bukan kunci lemari kami. Arya bilang lo pernah dititipin kunci itu, dan lo ngegenggam kuncinya kuat-kuat. Supaya berbekas di telapak ‘kan?” Giliran Barry bicara.

“Bang Radin bilang lo berkali-kali ngebenerin kuncinya. Pasti lo udah nyobain buka lemari tapi gagal. Makanya lo terus perbaiki kunci duplikat yang lo buat.”

Roni terdesak. Tapi dia terus mengelak.

“Oke, gue ngegandain kunci. Bukan berarti gue yang ambil!”

Lisa berdecak. “Ah, keras kepala banget yah?”

Gelegar petir mengagetkan mereka. Langit kian gelap. Lisa menatap Roni .

“Lo tahu fosfor kan?”

Roni mengangguk. Sial!

“Fosfor bisa nyala dalam gelap. Sebentar lagi, lo nggak bisa ngelak.” Lisa tersenyum menang.

“Oke! Gue nyerah! Gue yang ambil!”

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Seorang lelaki berjalan mendekat.

“Arya, Barry dan Lisa. Kalian berhasil memecahkan kasus ini. Kalian diterima sebagai anggota Klub Detektif.”

“Makasih, Bang Reza!” jawab Lisa, Arya, dan Barry berbarengan.

Reza melangkah ke luar diiringi tatapan empat adik kelasnya.

“Yuk cabut,” ajak Lisa. Tiga temannya menurut. Roni berkata pelan pada Lisa. “Eh, bubuk putih tadi bukan fosfor beneran kan?”

Wajah Lisa mendadak pucat. Roni terbelalak lalu bergegas lari menuju kamar mandi.

499 kata

Iklan

44 thoughts on “[Berani Cerita #17] Jebakan Detektif

    • riga berkata:

      astaga! aku kok ya nggak kepikiran kalo kelas 8-h itu artinya kelas 2 SMP! duh..jadi malu sama mbak isti dan yang lainnya. *nyengir

      etapi, ceritanya masih relevan kan kalo settingnya di SMP? πŸ™‚

  1. Ayu Citranigtias berkata:

    ide ceritanya keren sih, bang. tapi td sempat bingung. setelah baca beberapa kali baru ngeh kalo roni itu juga anggota detektip kan ya?
    dan Lisa tau kalo ditangan roni ada bekas fosfor, gitu kan? πŸ˜€

  2. rinibee berkata:

    Kakak Riga… Saya banyak mendapatkan penjelasan justru dari balasan komentarmu.. πŸ™‚

    Mantep ini idenya. Di SMP saya nggak ada klub detektif euy..

    *angkatan berapa loe Bee? :mrgreen:

    • riga berkata:

      kakak Riniii….makasih yaaa… iya neh, mau dijelaskan dalam cerita nggak cukup, jatah katanya terbatas. 500 kata itu susah banget. 650 kata sebenarnya baru ngepas. Udah ada penjelasan ttg peran Roni sebagai penguji, peran bang radin, juga reza juga sedikit ttg fosfor. Tapi ya itu, over limit. Ntar malah didiskualifikasi. hehehe.
      .
      btw…setting waktunya adalah SMA kok. πŸ™‚

  3. amyrahadian berkata:

    hehe bingung pas baca pertama-tama, baru mudeng pas baca komennya, awalnya tak kira malah roni yg ‘ketua’ yg disuruh ngetes anak barunya πŸ˜€
    idenya bagus sih, cuma sayanya aja yg ga nyampe kali ya hihi..

  4. Nona Senja berkata:

    ending yang ambigu kalau menurutku. Pertama, sesuai dengan yang dijelaskan kalau ternyata Lisa lupa untuk aturan mainnya. Atau yang kedua Roni sebenarnya yang terjebak dalam permainan. Dia jadi tertuduh yang memang dibuat oleh kawan-kawannya. Awalnya itu hanya pura2, tp niat awal Roni sebenarnya memang ingin ambil uang itu. Hmm.. ini hanya analisa sih.. hehe.. nice! πŸ™‚

    • riga berkata:

      gini penjelasan versiku… roni itu ditugasi mengetes calon anggota baru. nah, roni juga dites sama reza sbg ketua klub, bisa nggak dia merancang ‘skenario’ buat menuntun calon memecahkan kasus. skenario tidak boleh terlalu mudah juga sulit. jika terlalu mudah, gak seru, gak menantang. terlalu sulit bakal bikin calonnya mundur.
      3 calon diberikan petunjuk2 kecil, lalu disilakan untuk menelusuri. πŸ™‚

  5. beehani berkata:

    cobaaa di SMP saya dulu ada klub Detektif, mau juga jadi anggota… πŸ™‚ … btw, Roni dilepas gitu aja yaa?…

    • riga berkata:

      pasti asikk yah… πŸ™‚

      oya, Roni itu anggota klub yang tugasnya ngetes 3 calon anggota baru.

      thanks udah mampir yaaaa

    • riga berkata:

      sejak awal semua tahu kalau ini hanyalah tes masuk ke dalam klub, sehingga tidak boleh melakukan hal berbahaya atau memakai benda berbahaya. yang dikedepankan adalah nalar dalam menganalisis fakta. nah, lisa justru melupakan aturan ini. πŸ™‚

      • beehani berkata:

        oooh…baru tahu lhooh, kalo serbuk fosfor beracun. Nah…yg suka dipake mainan yg ‘nyala2 dlm gelap’ itu beracun jugakah? (*jadi sok detektif)

        • riga berkata:

          setahuku fosfor yg beracun adalah fosfor putih (ingat berita bom fosfor yg dipake israel?). Mungkin saja benda-benda yg “glow in the dark” memakai jenis yg lain. πŸ™‚

    • riga berkata:

      mestinya sih gitu….tapi apa daya aku orang termiskin di dunia, jangankan gedung, gubuk pun aku tiadaaaa… * lah, kenapa jadi mendangdut ya? hahaha

  6. irfanaulia berkata:

    Dih, sampai kalimat terakhir masih ada aja twistnya.
    Keren Bang. Awalnya terasa gak make sense, tapi perlahan-lahan tercerahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s