[Flashfiction] Ibu Sarinah

guru

Sarinah memasang kacamata bergagang tebal ke wajahnya. Sejenak mematut diri di depan cermin. Dirapikannya anak rambut yang terurai ke luar dari ikatan rambut. Blus putih dan rok panjang warna krem melekat sempurna.

“Hari Senin, anak-anak pasti gembira masuk sekolah lagi.” Sarinah menyandang tas berisi buku dan melangkah perlahan ke luar kamar.

Pelajaran hari ini adalah Matematika, Sejarah, dan Bahasa Indonesia. Sarinah tahu mungkin ia akan sedikit kelelahan. Tak mengapa, ia bisa meminta izin pada kepala sekolah untuk beristirahat di jeda tiap pelajaran.

Seorang lelaki mendekati Sarinah. Setelah memberi salam ia berkata, “Pelajaran hari ini dipindahkan ke taman belakang ya, Bu.”

Sarinah mengangguk. Ia sudah terbiasa mengubah tempat belajar. Tak melulu di ruang kelas. Kadang di taman, kadang di lapangan rumput di bawah pohon rindang. Pokoknya di mana saja asalkan anak-anak bisa menyerap pelajaran dengan baik.

Ah, itu mereka semua. Duduk rapi di bangku panjang. Tak ada meja. Setiap anak memegang sebuah buku catatan. Wajah mereka berseri-seri.

“Selamat pagi, anak-anak.”

Serempak mereka menjawab. “Selamat pagi, Ibu Sarinah.”

“Hari ini kita belajar Matematika dulu ya.”

Sarinah berjalan menuju sebuah papan tulis di sebelah kirinya. Ia menuliskan sebuah persamaan Matematika sederhana.

“Nah, siapa yang bisa mengerjakan ini?”

Beberapa tangan mengacung. Sarinah menunjuk salah satunya. “Bahri, ayo maju.”

Yang dipanggil Bahri segera maju mengerjakan. “Sudah, Bu.”

“Wah, kamu pintar! Dan kamu tambah tinggi ya sekarang? Silakan duduk.”

Ibu Sarinah terus mengajar dengan semangat. Wajah tuanya tampak gembira. Mengajar adalah semangat bagi hidupnya.

**********

Dari jauh Raya mengawasi mereka semua. Setitik airmata bergulir di pipinya. Ibu Kepala Panti Jompo memegang pundak Raya.

“Terimakasih, Bu.”

Wanita berwajah lembut itu tersenyum. “Demi ibumu, Raya.”

Raya mengangguk. “Tolong sampaikan rasa terimakasih saya buat teman-teman. Mereka mau melakukan hal ini setiap minggu untuk Ibu saya.”

“Akan saya sampaikan, Raya.”

Raya berpaling pada Sarinah. Ibunya sedang memperhatikannya. Ia tersenyum.

299 kata.

Iklan

55 thoughts on “[Flashfiction] Ibu Sarinah

  1. @momzsky berkata:

    Jadi inget film LOVE (2008), mirip-mirip scene Nugroho (Sophan Sophiaan) pengajar yang menderita alzheimer. Mengharukan.

    • riga berkata:

      di mata ibu sarinah, mereka semua masih dianggap anak-anak. alam bawah sadar nya tahu kalau mereka sudah besar, makanya dia bilang pada basri : kamu udah maki n besar yah. tapi dia ga mampu menyadari bahwa sebenernya memang bahri sudah besar (dewasa). makasih udah mapir ya mbak… 🙂

  2. erlinda berkata:

    mengharukan sekali, hebat semangat mengajarnya

    soal sudut pandang dicampur begini saya juga suka pakai dan sama2 dipisah pakai tanda bintang hehe

    • riga berkata:

      muridnya adalah para pengurus panti. sebab itu Raya menyebut mereka dengan “teman-teman”.
      thanks udah mampir yaa 🙂

    • riga berkata:

      mereka adalah para pengurus panti, sbb itu raya menyebut mereka dgn kata “teman-teman”. thanks udah mampir ya Nella 🙂

    • riga berkata:

      pertama, saya kesulitan nyari ilustrasi yang benar-benar pas, yaitu perempuan tua yang sedang mengajar. kedua, petunjuk tentang keadaan ibu sarinah di bagian pertama ada pada kalimat : kamu sudah tambah besar, yang diucapkan pada bahri. barulah pada percakapan raya dan kepala panti ada petunjuk tambahan d ar i ucapan terima kasih raya.
      begitu penjelasan dari saya, mbak 🙂

    • riga berkata:

      ringkasnya : ibu sarinah ini dulunya guru. bahkan pada saat sudah pikun pun dia masih pengen ngajar. nah, anaknya minta pada ibu kepala panti supaya ibunya diizinkan ‘ngajar’ dan pekerja di panti berpura-pura jadi muridnya biar si Ibu Sarinah senang. 🙂

  3. Sigit Raharjo berkata:

    sudut pandang pencerita sebagai orang ketiga di bagian pertama dan sebagai orang pertama di bagian kedua ini agak membingungkan saya… atau memang karena saat saya baca saya dalam keadaan bingung ya? bingung kan? *persoalan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s