[Cerita Pendek] Aku Ingin Tampan

topeng

“Kalau wajahku tampan, apa kau akan tetap memperlakukanku seperti ini?”

Chiara mencibir. Hatinya masih mendongkol sebab bokongnya diremas seseorang di busway tadi. Memang di belakangnya ada beberapa lelaki, tapi rasanya lelaki bertampang menyebalkan ini yang paling mungkin melakukannya. Perempuan cantik itu membereskan map kantor yang tadi ia banting ke lantai. Seorang teman membantunya.

“Udah pak! Bawa aja orang ini. Saya yakin dia yang ngelakuin. Lihat aja tampangnya bikin sebal kayak gitu. Saya males ngeliatnya. Mau ngantor kok malah ada kejadian seperti ini!” Chiara mengomel panjang-pendek dan memasang tampang jijik. Beberapa penumpang busway yang ikut turun menggiring Bobi menjauh. Bobi menatap Chiara dari kepala hingga ujung kaki dengan pandangan terluka. Ia akan ingat perempuan ini sampai kapanpun.

**********

Bobi berjalan pulang ke rumahnya dengan hati gundah.  Kejadian tadi membuat pikirannya kacau. Sesekali dia menyesali diri.

“Kenapa aku mesti dilahirkan seperti ini? Gemuk, pendek, jelek! Semua orang mengejekku. Semua orang melihat dengan tatapan sebal. Kalau saja wajahku tampan dan tubuhku keren, pasti nasibku nggak jadi begini!”

Di pinggir jalan seorang wanita tua duduk mengemis. Bobi merogoh saku, menarik selembar lima ribuan dan menyerahkannya pada pengemis itu. Sebuah ucapan terimakasih meluncur dari bibir kering perempuan bertubuh kurus.

Bobi melanjutkan perjalanan pulang sambil tetap merutuki diri. Sebuah kaleng bekas minuman yang tergeletak di pinggir trotoar ia tendang sekuat tenaga. kaleng itu melayang ke balik tembok.

“Aduhhh!”

Bobi mendongak. Sepertinya seseorang terkena kaleng bekas yang ia tendang. Matanya mencari-cari ke sekeliling. Dari balik pagar tembok di sebelah kanannya seorang lelaki keluar sambil memegangi kepalanya.

“Pak…aduh…saya minta maaf. Saya nggak tahu ada bapak di situ.” Bobi bergegas meminta maaf. Semoga lelaki itu tidak marah. Bobi tak ingin harinya bertambah buruk.

“Harimu sedang tidak baik, Bob?” Lelaki tampan berpakaian rapi itu menegur. Bobi terperanjat. Mereka belum berkenalan, tapi lelaki ini sudah tahu namanya!

“Kok bapak tahu namaku?”

Lelaki itu seperti mengabaikan pertanyaan Bobi. “Kalau aku bisa membantumu, apa kamu bersedia?”

Bobi menatap tak mengerti. Lelaki di depannya menyerahkan sebuah kotak kecil . “Yang kamu perlukan cuma benda di dalamnya. Ikuti saja petunjuknya, kamu pasti akan langsung mengerti.”

Bobi menerima benda itu dengan perasaan bingung. Lelaki di depannya mengedip.

“Bukalah!”

Bobi membuka kotak dan melihat ada sebuah kacamata hitam di dalamnya. Keren, ia membatin. Tapi, mana pantas aku memakainya. Batin Bobi mengeluh. Ia lalu membaca tulisan yang terletak di bagian dalam kotak.

“Pakailah saat kamu merasa rendah diri. Lepaskan ketika kamu ingin jadi diri sendiri.”

Bobi mengerutkan dahi. Apa maksudnya ini? Ia mengangkat wajah untuk bertanya tapi lelaki itu sudah tak ada di depannya. Bobi mengedarkan pandangan. Sepi. Ah, dasar orang aneh! Bobi memutuskan pulang. Ia harus mempersiapkan warung baksonya. Kotak pemberian lelaki aneh tadi ia pegang erat-erat.

“Biar kubawa pulang saja. Kacamatanya bagus.”

*********

“Chi… kita jadi ke pesta di The Cafe’s malam Sabtu ini kan?” Rani bertanya sambil membereskan tas kerjanya. Yang ditanya menganggukkan kepalanya.

“Sip… ntar aku jemput jam delapan ya. Semoga banyak cowok cakep di pesta itu. Bosan nih ngejomblo terus, hehe.”

“Ah, dasar emang kamunya yang enggak betahan sama cowok. Bosen mulu. Adaa aja kurangnya.” Chiara menggoda.

“Eh…eh…kalau emang nggak cocok, ngapain dipaksain kan? Btw, kamu nggak bawa pacar kan?”

Chiara mengibaskan tangannya. “Si Reno? Udah aku putusin. Bikin sebel mulu!”

“Hahahaha, kalau gitu sama dong! Jadi, ntar kita hunting cowok bareng nih?” Rani mengedip. Chiara tertawa.

“Yuk, ah. Aku duluan yaaa.”

*********

Di kamarnya Bobi merenung. Memandangi langit-langit kamar. Mengkhayal seandainya wajah dan fisiknya tak seperti ini, pasti perlakuan buruk tidak terus menerus ia terima. Ingatannya kembali lagi pada kejadian kemarin pagi. Tanpa ia sadari, kemarahannya muncul. Cibiran perempuan itu kembali mengiang di telinga. Bobi bangkit dari ranjang, menuju meja untuk mengambil gelas air minum. Pandangannya terantuk pada kotak pemberian lelaki misterius. Hm, ia belum pernah mencoba memakai kacamata hitam itu. Seperti apa ya tampangnya?

Bobi meraih kotak kecil dan mengeluarkan kacamata dari dalamnya. Sebelum memasang benda itu, ia memejamkan mata. Pasti aku terlihat sama saja, bahkan mungkin lebih jelek dan aneh, gumam hati Bobi. Sekarang benda itu sudah terpasang dengan baik di wajahnya. Bobi membuka mata perlahan.

“Ya Tuhan!” serunya kaget.

********

Suasana The Cafe’s tampak begitu meriah. Irama musik menghentak memenuhi gendang telinga. Chiara dan Rani hanyut dalam kegembiraan. Pesta yang diadakan oleh atasan di kantor mereka terhitung sukses. Kehadiran seorang DJ terkenal menambah keriuhan.

“Rani…” Chiara berteriak berusaha memanggil Rani yang tengah meliukkan tubuhnya di lantai dansa. Rani sepertinya tidak mendengar. Chiara memutuskan untuk mendekat.

“Aku ke luar dulu yaa. Cari udara segar!”

“Aah? Apa? Oh..ya ya ya.” Rani mengangguk-angguk entah mengerti entah tidak. Chiara bergegas menuju pintu samping The Cafe’s.

“Ahh..” Chiara merentangkan tangannya, menghirup udara segar bebas asap rokok dalam-dalam. Suara riuh pesta hanya terdengar samar-samar dari sini. bagian samping luar cafe berupa taman kecil dengan beberapa pohon kecil di dalam pot dan bangku taman.

“Mencari ketenangan juga?” Sebuah suara menegur Chiara.

“Eh…”

Dari sebuah bangku di sudut kiri Chiara, seseorang bangkit mendekat. Chiara mundur selangkah, waspada. Sosok itu kini berdiri hanya berjarak dua meter darinya. Seorang lelaki tampan dengan tubuh  menawan. Tinggi dan tampak berotot. Chiara terpana, hatinya bergumam. “Keren banget!”

“Di dalam memang bising banget yah. Belum lagi asap rokoknya, ugh!”

Si tampan memeragakan mimik kesal. Chiara tersenyum lagi.

“Eh iya, kita belum kenalan ya? Kenalin, namaku Randy.” Si Tampan mengulurkan tangan. Chiara menyambut dengan malu-malu sambil menyebutkan nama.

“Kita duduk di bangku itu yuk.” Randy menggamit tangan Chiara. Chiara merasa senang tangannya dipegang oleh lelaki setampan Randy.

Di bangku taman, Randy dan Chiara berbincang dengan akrab. Chiara seperti terhipnotis oleh pesona Randy. Wawasannya yang luas dan terutama oleh senyumnya yang menawan.

“Iya, sebenarnya aku malas ikut acara pesta beginian, lebih suka di rumah. Baca buku atau nonton dvd,” kata Randy.

Chiara mengangguk-angguk. “Iya, sama. Aku juga cewek rumahan. Ga suka pesta. Ini juga karena yang adain bos di kantor. Bisa berabe kalo nggak hadir.”

Ah, berbohong sedikit tak apa-apa, kan?

Mereka terus berbincang tentang banyak hal. Chiara merasa hatinya sudah terpaut pada lelaki gagah ini. Apa dia masih single ya?

“Eh, Chi…aku boleh tahu nomor telponmu, nggak?”

Hati Chiara bersorak. Randy ingin kenal dekat denganku! Eh, tapi beneran dia masih single?

“Tenang aja, nggak bakalan ada yang marah kok kalau aku nelpon kamu. Aku kan single. Kalau kamu?”

“Aku juga single,” malu-malu Chiara menjawab sambil menyodorkan kartu nama. Randy menyimpannya ke dalam saku. Randy mengeluarkan ponsel, membaca sebuah pesan masuk.

“Eh, Chi…aku pulang duluan yah. Temenku mulai mabuk kayaknya.”

Randy bangkit dari bangku. Mengulurkan tangan. Chiara menyambut.

Jangan lupa telpon aku, Randy.

Hati Chiara berbisik memohon. Ia menatap punggung Randy yang menjauh, membuka pintu samping The Cafe’s dan menghilang di baliknya.

Aaaaah….cakep bangetttt!

**********

“Kamu dari mana aja, Bobi?”

Bobi yang baru pulang tak langsung menjawab pertanyaan Jona. Rekan bisnisnya itu sedang duduk di belakang meja kasir, menghitung hasil penjualan bakso malam ini. Sementara dua pekerja mereka sedang membereskan warung.

“Aku ada keperluan. Kan tadi aku udah pamit.”

“Tapi kamu nggak bilang berapa lama, kan? Ini malam Sabtu, Bobi. Rame pembeli. Untung tadi si Inda mau ngebantuin.”

“Iya, maaf. Tolong sampaikan rasa terimakasihku sama dia kalau ketemu nanti ya.”

“Tuh orangnya masih di dapur. Bilang aja langsung.”

Dari arah dapur, seorang gadis manis berpenampilan sederhana muncul. Beberapa butir keringat masih menitik di dahinya. Bibirnya tersenyum melihat Bobi.

“Eh, bang Bobi. Udah pulang, bang?”

Bobi tersenyum tipis. “Iya, Nda. Makasih ya udah mau bantuin.”

Inda balas tersenyum. “Sama-sama, bang. Aku senang kok ngebantuin. Selain dapat honor, kan bisa makan gratis juga. Hehehe.”

Mau tak mau Bobi ikut tersenyum. “Sering-sering aja yah ngebantuin. Tapi honornya makan bakso aja. Gimana?” Bobi menyeringai jahil.

“Ish, abang gitu deh. Tega ya sama Inda?” Wajah manis itu pura-pura merengut. Bobi tertawa gemas.

“Ntar abang tambahin deh honornya.”

“Oh ya? Tambah berapa bang?”

“Tambah bakso seporsi lagi. Hahahaha.”

“Abaaaaaang!”
Dari belakang meja kasir, Jona bicara agak keras. “Kalo udah berdua ya, berisiiiik mulu. Pacaran aja gih!”

Wajah Inda memerah.

**********

“Ya ampun, Ran, cowok yang ini cakeeeep banget! Udah gitu ramah, sopan, plus wawasannya luas. Satu jam ngobrol sama dia nggak terasa!” Chiara bicara berapi-api. Rani yang sedang mengetik di kubikel sebelahnya merasa sebal.

“Ya ampun, Chiaraaa! Nggak liat aku lagi ribet gini? Lagian udah seminggu kamu ngomongin cowok yang ituuu melulu. Siapa sih cowok itu?”

Chiara mengedikkan bahu. “Cuma tahu namanya aja. Dia kerja di mana, rumahnya di mana, aku nggak tahu.”

“Jadi  kalian itu kalo telponan ngobrolin apa aja? Cuaca? Harga sembako?”

“Dih…segitunya. Nggaklah! Kami ngobrolin masalah politik, sosial, hukum, film, bahkan filsafat. Duh, keren banget ga sih?” Mata Chiara menerawang. Rani melirik sebal.

“Ya ya ya. Terus, udah janjian ketemu lagi?”

Wajah Chiara mendadak tersaput mendung. “Belum.”

Rani menghentikan ketikannya. “Belum?”

“Iya, belum.”

“Belum, Chi?”

“Dih…apa-apaan sih? Kan udah dibilang belum ya belum!”

“Sewot.” Rani menyeruput susu diet dalam kotak.

“Padahal kami udah ngobrol berkali-kali di telepon. Kalau aku yang ajak ketemu duluan, gengsi ah! ”

Rrrrttt…rrtttt…  Ponsel Chiara bergetar. Sudah menjadi kebiasaan Chiara untuk men-silent-kan hape ketika bekerja.

“Stop..stop,” sela Rani, “ada yang nelpon kamu tuh!”

Chiara menghentikan curhatnya. Melirik antusias pada layar hape. Matanya membulat senang.

“Randy! Si Randy telepon, Ran!”

“Dih, ga usah histeris gitu deh. Ya udah, angkat telponnya. Ntar malah ditutup sama dia.”

Rani melirik ke samping. Chiara sudah tak ada di kubikelnya.

“Uh, kayak jin aja. Tiba-tiba ngilang gitu.” Rani mengomel. Tangannya kembali bekerja.

**********

“Yakin nih aku pulang duluan aja?” tanya Rani setelah mengantar Chiara ke sebuah restoran mewah untuk fine dining bersama Randy.

Chiara mengangguk yakin.

“Kirain dijemput sama Randy. Masak ngajak dinner tapi berangkat sendiri-sendiri?”

“Duh, cerewet deh! Randy belum punya mobil. Dia ke mari naik taksi. Nggak apa-apalah. Nanti pulangnya baru dia nganter ke rumah.”

“Naik ojek?”

Chiara menyambit Rani dengan sebutir permen.

“Adawww!”

“Cerewet!” Chiara melambaikan tangan pada mobil Rani yang bergerak menjauh.

Chiara melangkah anggun memasuki restoran. Ia sudah memesan sebuah meja dan hidangan untuk mereka berdua. Randy mengaku sibuk sehingga tidak bisa melakukannya sendiri. Tak apa. Aku juga bisa kok, batin Chiara.

Seorang pelayan menyilakan Chiara duduk di meja pesanan. Randy belum sampai. Dia sudah mengirimkan pesan akan segera datang. Chiara menanti dengan sabar.

**********

Warung bakso milik Bobi dan Jona penuh dengan pembeli. Malam minggu begini pembeli yang kebanyakan berusia remaja memadati warung. Jona menatap para pembeli dengan pandangan senang.

“Laris…lariss…”

“Eh, Jo, aku pergi bentar ya.”

“Eh..mau ke mana Bob? Duh, plis deh. Lagi rame begini, kalo kamu pergi, siapa yang ngawasin warung? Aku kan jagain meja kasir!”

“Bentarrr. Nggak nyampe satu jam kok. Aku udah minta Inda ke mari. Biar dia yang jaga meja kasir. Oh iya, aku pinjam motormu ya?”

Jona menghela napas. “Kuncinya ada di….”

Ucapannya terhenti melihat kunci yang dimaksud ada di jari Bobi yang nyengir. “Udah aku ambil duluan. Hehe.”

Dari pintu samping, Jona melihat Inda sudah datang. Bobi memberi isyarat. Inda mengangguk sambil tersenyum.

Bobi memasukkan kunci motor, lalu segera berlalu.

**********

Chiara menunggu dengan cemas. Sudah hampir satu jam tapi Randy belum muncul juga. Pemilik restoran tadi sudah mendatangi meja, bertanya apakah pesanan jadi diantarkan. Chiara mengerti maksudnya. Jika tidak jadi memesan, ia harus merelakan meja ini dipakai oleh pengunjung lain.

“Randy, kamu di mana sih?” Gemas Chiara mencari nama Randy di phonebook. Menekan redial berkali-kali. Tapi tetap saja nomor Randy tidak bisa dihubungi.

Setengah jam lagi berlalu tanpa terasa. Pemilik restoran kembali mendatangi meja Chiara.

“Dengan sangat menyesal, saya harus meminta nona untuk memberikan meja ini pada pengunjung lain.”

Chiara menahan malu. Ia tahu ia harus menyingkir dari meja itu. Chiara bangkit dan meraih dompetnya.

“Maaf, saya akan pergi.”

Chiara berjalan tergesa ke luar restoran. Tangisnya hampir tumpah. Ia merasa malu. Ia merasa dipermainkan. Ditekannya sebuah nomor di hape. Begitu tersambung, Chiara langsung bicara sambil menangis. Suara di telepon hanya berkata singkat.

“Tunggu di situ. Aku jemput sekarang!”

Dari sudut remang parkiran restoran, seseorang mengawasi Chiara yang menangis sendirian. Sosok itu bergumam perlahan.

“Apa sekarang kamu mengerti rasanya diperlakukan tidak adil, Chiara?”

Bobi memasukkan kunci kontak. Lampu motor menyala terang. Satu sosok tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Bobi.

“Kamu puas sekarang, Bob?” Lelaki tampan yang dulu memberikan kotak menatap lurus ke mata Bobi. Bobi terperangah, sedikit terkejut.

“Aku cuma ingin memberinya pelajaran.”

Lelaki itu tertawa kecil. “Memberi pelajaran atau membalas dendam?”

Bobi terperanjat. Dendam?

Lelaki tampan berjalan mendekati Bobi. Tangannya terulur melepaskan kacamata di wajah Bobi.

“Coba lihat wajahmu di cermin,” perintahnya.

Bobi menurut meskipun ia sudah tahu apa yang bakal dilihatnya. Wajah bulat dengan bekas-bekas jerawat, hidung pesek dan bibir tebal. Kacamata hitam itu yang mampu mengubah penampilannya. Ia memakainya ketika bertemu dengan Chiara.

“Coba lihat lebih saksama, Bob!” Lelaki itu kembali memerintah. Meski bingung, Bobi menurut. Wajahnya ia dekatkan ke kaca spion. Bobi terkejut. Wajahnya terlihat gelap seolah ada lapisan hitam menyelubungi.

“Itu aura gelap.” Lelaki itu memberi penjelasan tanpa diminta. “Semakin lama kamu pelihara dendam, semakin gelap wajahmu. Fisik dan wajah rupawan tidak ada artinya jika hatimu gelap. Kamu pasti tahu hal itu.”

Bobi diam merenung.

“Kamu masih perlu  benda ini, Bob?”

Bobi menggeleng. Lelaki itu tersenyum. “Bagus.”

Motor Bobi tiba-tiba mati. Bobi memutar kunci kontak, motor kembali menyala. Tapi lelaki itu sudah lenyap. Pandangan Bobi kembali tertuju pada sosok Chiara yang masih duduk termangu di bangku pos satpam yang terletak di dekat pintu masuk. Motor ia kendarai menuju tempat itu.

“Selamat malam, mbak. Masih ingat saya?”

Chiara mengangkat kepalanya. Menatap heran pada sosok lelaki di depannya.

“Siapa, ya?”

“Saya orang yang mbak tuduh memegang tubuh mbak sewaktu di busway,” Bobi menjelaskan.

Sontak Chiara berdiri. “Aduh, saya minta maaf, Mas. Saya salah waktu itu. Ternyata teman saya yang melakukannya. Sekali lagi saya minta maaf.” Wajah Chiara menunjukkan penyesalan.

Bobi tersenyum. “Saya maafkan, Mbak. Saya juga mau minta maaf sudah membuat mbak seperti ini. Mohon dimaafkan.”

Meski bingung, tak urung Chiara mengangguk.

“Terimakasih. Saya permisi.”

Bobi menyalakan motornya. Ia lega sudah menghapus dendam di hati. Sekarang ia harus pulang. Warung baksonya, Jona, dan Inda sudah menunggu. Ah, menyebut nama terakhir itu menimbulkan getaran lain di hatinya. Bobi tersenyum.

Iklan

8 thoughts on “[Cerita Pendek] Aku Ingin Tampan

  1. dickoandika berkata:

    Emm..tumben kamu buat cerpen yg pake hikmahnya, bg. hehehehe. Anyways, like always…my comment.. :D.

    Expect sih endingnya gak kayak gitu. Eh, gak masalah sih endingnya kayak gitu, sampe Chiara keluar resto aja. Tapi kalo tulisan abang sih biasanya endingnya kayak.. ‘di ujung jalan, Bobi melepas kacamata hitamnya. Tersenyum puas memandang Chiara yg terluka…’ #eeaaa. Hahaha. kek kek gitu lah.

    “Seorang lelaki tampan dengan tubuh menawan. Tinggi dan tampak berotot” <– Mungkin lebih cocok diganti dengan Tinggi dan tubuh yang atletis.

    Awalnya sih mikir 'malem2 si Randy ini pake kacamata item? trus dari fisikly Gendut, Pendek, Pesek, Jerawatan jadi cowo tampan, tinggi dan atletis. — Tapi krn Fiction Short Story, it's okay.

    Tapi kalo dirubah yang 'jelek standart' aja gimana bg? Mksdnya jangan Gendut, Pendek, Pesek kali, kasian tokohnya. :D.

    Coba buat tokoh misteriusnya itu di dalem cermin, bg. Jadi lebih ke- sosok itu sebenernya ada di dalam diri dia sendiri, gitu :).

    Btw, semua komen ini menurut saya lho bangg…sekali lagi, menurut saya aja. :).
    Anggap sebagai masukan ya :).

    Over all, everything is okay. Good story like always.

    Keep writing,
    Cheer up. 🙂

    • riga berkata:

      first of all aku suka kalo dika kasih komentar. yah, inspirasi cerita ini dari film korea (?) yang sepotong ceritanya sempat abang liat. tokoh disitu emang digambarkan gendut pendek dan (maaf) jelek. lalu dengan bantuan sebuah alat, dia berubah ganteng pada waktu tertentu.
      nah, pada cerita yang abang buat, rasanya ganjil jika si tokoh kemana-mana bawain alat, maka abang pilih dia pakai kacamata, gampang dibawa.
      gimana jika si tokoh terlihat ganteng melalui cermin? rasanya akan sulit untuk menggambarkan pertemuan chiara dan ‘ randy’ jika randy hanya ganteng di cermin.
      yang abang bayangkan, kacamata itu mampu membuat orang yang memakai terlihat sempurna, terkecuali pada tokoh misterius yang memberi kaca mata.
      soal beberapa detil yang ‘miss’ ntar dibenerin lagi.
      thanks a lot dika.
      *hugs and grepe-grepe.
      * hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s