[Flashfiction] Salju Merah

foto : dok pribadi Kartika Kusumastuti

foto : dok pribadi Kartika Kusumastuti

Desa Shirakawa-go, 18 Desember 1859.

Pagi telah lahir dari rahim semesta. Cuaca cerah.  Langit bersih tanpa awan. Desa Shirakawa-go sudah terbangun dari tidur lelap semalam. Salju yang turun sejak kemarin sore telah berhenti jatuh. Sejauh mata memandang, hamparan putih memenuhi penglihatan. Namun ketenangan desa pegunungan di tengah lembah pegunungan Ryohaku seketika terganggu ketika seorang pemuda desa membawa kabar menggelisahkan.

“Para Samurai akan datang kemari!”

Katsumoto, sebagai tetua desa segera mengumpulkan penduduk. Di rumahnya kini berkumpul puluhan orang. Kegelisahan terbaca jelas di mata mereka. Gumaman-gumaman resah menggantung di udara.

“Apa saranmu, Katsumoto?” suara seseorang menyeruak di antara gumaman. “Keselamatan kita semua terancam.  Kau pasti tahu para Samurai tidak suka dengan orang-orang asing itu. Juga semua orang yang mendukung mereka. Semestinya sejak dahulu kita tolak kehadiran Jenderal Nobunaga! Dia teman orang-orang asing itu!”

“Kau gila, Taro? Meski sudah tidak menjabat lagi, tapi dia tetap seorang Jenderal! Lalu kita siapa? Shogun? Samurai?” seseorang menghardik.

Seorang lelaki lain berdiri. “Taro, Jenderal Nobunaga punya banyak jasa pada desa kita!” Wajahnya memerah. Dia menatap ke seluruh ruangan. Semua mata tertuju padanya. “Jenderal Nobunaga lahir di desa ini. Dia mendukung kebijakan Bakufu untuk melakukan hubungan dagang dengan orang kulit putih demi kesejahteraan penduduk Jepang, termasuk kita!”

“Omong kosong! Jepang mampu mengurus diri sendiri. Orang-orang asing itu hanya ingin mengeruk keuntungan. Dan Jenderal Nobunaga memperalat kita semua. Buka matamu, Kenji!” Taro membentak

Suasana menjadi riuh. Orang-orang mulai saling berdebat.

Brakkk….

Seseorang mendobrak pintu. Serempak seluruh kepala tertuju pada sosok berwibawa di ambang pintu. Raut wajah tegas menyapukan pandangan ke seluruh penduduk yang hadir. Wajah-wajah kini tertunduk.

“Para Samurai mencariku.” Suara berat berkharisma terdengar. “Aku yang akan menghadapi mereka. Kalian tenang saja.”

Seusai berbicara, Jenderal Nobunaga berbalik dan menghilang dari pandangan. Para penduduk menghela napas.

**********

Nobunaga berdiri tegak di depan gerbang desa. Jika perhitungannya benar, sebelum matahari jatuh di barat, para Samurai akan tiba. Lamat-lamat telinganya mendengar derap langkah kaki-kaki kuda. Lalu satu demi satu mereka muncul.

“Pengkhianat!” Seseorang yang menaiki kuda paling depan menuding Nobunaga dengan katana. “Hari ini kau mesti mati!”

Nobunaga menatap dingin. “Jangan banyak omong, Noisuke. Buktikan jika kau sanggup menghadapiku.”

Noisuke melompat dari kudanya. Katana ia hunuskan lurus ke arah Nobunaga. Pertarungan sengit segera terjadi.

Angin mati. Alam membisu. Hanya denting pedang yang beradu serta teriakan-teriakan garang memecah keheningan. Nobunaga dan Noisuke sedang bertarung nyawa. Berpasang-pasang mata mengintip dari celah jendela. Bibir-bibir mereka bergumam mengucapkan doa kepada dewa demi kemenangan Nobunaga. Tapi tampaknya dewa enggan mengabulkan permintaan mereka. Sebuah tusukan pedang Noisuke terlambat dielakkan Nobunaga. Katana menancap tepat di dada. Nobunaga mengernyit sakit. Saat pedang ditarik, darah memancar. Nobunaga ambruk.

Noisuke meludah. “Mati kau sekarang!”

Napas Nobunaga tinggal satu-satu. Susah payah dia mengajukan permintaan terakhir.

“To..tolong…biarkan…pen..penduduk desa ini hidup. Me…mereka tidak ber..bersalah.”

Noisuke tercenung lalu mengangguk. Nobunaga tersenyum lemah. “Te..terima..kasih.”

Keheningan sejenak menyelimuti udara.

Noisuke memandangi jasad jenderal tua yang dulu ia kagumi. Ia lalu berpaling kepada anggota samurai lain yang masih duduk di atas kuda masing-masing.

“Habisi semuanya!”

**********

18 Desember 1859, sejauh mata memandang hamparan salju merah menutupi tanah Desa Shirakawa-go.

500 kata.

Katana : Pedang samurai

Bakufu : Pemerintahan

Peristiwa pembantaian orang-orang yang mendukung kebijakan Shogun Tokugawa Iesada yang melakukan hubungan dagang dengan Amerika oleh para Samurai dikenal dengan peristiwa “Ansei no Taigoku” atau Tragedi Ansei.

Iklan

32 thoughts on “[Flashfiction] Salju Merah

  1. yusrizal berkata:

    Ceritanya saya suka banget. Tentang samurai dan sedikit potongan sejarah. 🙂
    Tapi saya sedikit janggal dengan karakter Noisuke ini.
    Seorang samurai selalu memegang ucapannya, meskipun itu terhadap musuh sekalipun.
    Tapi di cerita ini dengan mudahnya Noisuke berdusta kepada Nobunaga dengan membantai penduduk desa itu.
    Ya ini cuma pendapat personal saya aja sih. Mungkin si Noisuke ini memang bukan samurai sejati. :mrgreen:

    • riga berkata:

      nah…. itu juga jawaban saya. Tidak semua samurai memiliki jiwa samurai. Bisa jadi di masa lalu Noisuke dan Nobunaga punya konflik. Bahkan sebenarnya jika merujuk pada tragedi ansei, mengapa para samurai memutuskan membantai/menghabisi setiap orang yang berseberangan pandangan politiknya, padahal sama-sama orang jepang?
      Makasih Mas Yusrizal udah mampir dan berkomentar 🙂

  2. Liyaa berkata:

    uwaaaawwww kerennn…
    menggabungkan sejarah dn fiksi…
    kalau diperluas lagi pasti kerennn…
    jadiin cerpen aja… 🙂

    • riga berkata:

      duh….buat bikin 500 kata aja ‘riset’-nya panjang loh… *ngeles* *dasar males* hehe. | Makasih Liyaaa… 🙂

  3. nisamama berkata:

    ah, ini pasti zamannya Rurouni Kenshin. *ngasal* 😀
    suka deh ceritanya. Tp itu Jendral Nobunaga yang dimaksud bukan Oda Nobunaga kan? Soalnya Oda Nobunaga kan hidup jaman sengoku jidai, sebelum pemerintahan Tokugawa terbentuk. cmiiw 😉

    • riga berkata:

      nah! saya tahu juga tokoh Oda Nobunaga itu (gugling, hehe). Tragedi pembantaian Ansei itu cuma sebagai latar belakang aja Mbak Nisa. Tokoh-tokoh di dalam cerita ini fiktif. Saya pilih nama Nobunaga, jujur karena sepertinya cocok dijadikan sebagai nama untuk tokoh jenderal berwibawa. Tokoh Niosuke juga pernah hidup, tapi bukan dia yg saya maksudkan dalam cerita ini. Terimakasih Mbak Nisa… 🙂

    • riga berkata:

      iya, mas. beliau adalah jenderal yang hidup di masa pemerintahan Shogun abad ke 16. | Makasih udah mampir.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s