[Berani Cerita #13] Impian Arul

sekolah

Nafasku terengah mengayuh becak. Keringat berjatuhan dari dahi. Satu tetesnya masuk ke mata, memerihkan pandanganku. Kukucek mata dengan tangan kanan sembari terus mengayuh.

“Heii…pakai mata!”

Seorang ibu yang hendak menyeberang berteriak. Sigap aku menginjak rem. Becak berhenti mendadak. Si Ibu bergegas menepi sambil tak lupa memelototiku. Bibirnya runcing menggerutu.

“Maaf, Bu. Saya buru-buru”.

Tanpa menoleh lagi kukayuh becak menuju rumah. Sepuluh menit kemudian aku sampai. Di depan pintu kulihat Arul, anak bungsuku sudah menunggu. Di belakangnya istriku berdiri.

“Cepat naik, Rul. Kita berangkat sekarang!” Arul sigap melompat ke atas becak. Istriku melambai. Sebersit senyum harapan mengembang di bibirnya.

Jalanan sore masih seramai tadi. Tujuan kali ini adalah sebuah sekolah dasar swasta yang terletak persis di belakang Rumah Sakit Perwira. Kakiku terus menggenjot. Semoga masih sempat!

“Arul senang, Nak? Sebentar lagi Arul bisa sekolah. Bisa belajar biar pintar. Kalau besar nanti mau jadi apa?”

“Jadi pilot, Pak!” Binar riang di mata beningnya menghangatkan hatiku. Lelah di kaki sirna. Genjotan kupercepat. Arul masih berceloteh soal cita-citanya.

Di halaman sekolah becak kuparkirkan di bawah pohon mangga besar yang teduh. Kuraba saku celana, uang pinjaman itu masih ada di sana.

“Ayo, Rul. Kita cari petugas pendaftarannya.”

Tangan kecil Arul menggandeng tanganku yang kasar kehitaman. Langkah kaki kecilnya berusaha menjajari langkahku.

“Cari siapa, Pak?” tanya seorang lelaki tua berpakaian sederhana yang memegang sapu.

Sejenak kuatur napasku. “Cari Pak Dudi, Pak. Mau daftarin anak saya.” Kutunjuk Arul. Pandangan lelaki tua itu beralih. Dia tersenyum. Saat matanya kembali menatap mataku, senyum itu lenyap.

“Maaf, pendaftarannya sudah tutup. Petugasnya sudah pulang semua, Pak.”

“Bukannya pendaftaran buka  sampai jam lima, Pak? Sekarang baru jam setengah lima, kan?” Kulirik jam di tangan lelaki itu.

“Iya sih, tapi karena ini hari terakhir, petugasnya pulang lebih cepat.”

“Aduh gimana ini?” Kuremas rambutku. Sekolah ini adalah sekolah yang paling murah di kota kecil ini. Meski kecil, tapi kualitasnya relatif lebih baik dari sekolah negeri. Arul  berdiri muram di sampingku. Impiannya bersekolah tampaknya harus ditunda.

“Pak, tolong saya. Tolong hubungi petugasnya. Waktu pendaftaran kan masih ada. Anak saya mesti sekolah tahun ini, pak.”  Suaraku memelas. Lelaki itu mengangguk-angguk. “Ikut saya ke ruangan guru, Pak.”

Bertiga kami masuk ke ruangan luas dengan meja-meja dan lemari-lemari berjajar rapi. Lelaki tua itu mengangkat gagang telepon dan menekan nomor-nomor. Aku berdiri di dekatnya.

“Pak Dudi, ini di sekolah ada yang mau daftarkan anaknya. Bagaimana, Pak?”

“Suruh pulang aja, Pak Bim. Ngedaftarin anak kok waktunya mepet sekali. Hari terakhir pula!”

Wajah Pak Bim tampak pias. Orang di ujung telepon sana pasti berbicara keras. Aku yang berdiri di dekat Pak Bim bisa mendengar apa yang dia katakan. Pak Bim menatapku prihatin.

“Saya minta maaf, Pak.” Ia memohon pemakluman. “Saya nggak bisa bantu apa-apa.”

Aku menjabat tangan Pak Bim. “Saya mengerti Pak Bim. Kami pamit dulu.”

Sesudah memberi salam, aku menggandeng tangan Arul, mengajaknya pulang. Arul bergeming. Aku berjongkok di depannya.

“Maafin bapak, ya Nak. Nanti bapak cari sekolah lain buat Arul. Arul jangan sedih ya.”

Bocah kecilku mengangguk. Dua butir air mata menitik di pipinya.

495 kata

Iklan

8 thoughts on “[Berani Cerita #13] Impian Arul

  1. Citra Rahman berkata:

    Memang harus 495 kata ya, Bang? Emm…coba kalau kata ‘menghangatkan hatiku’ itu diganti menjadi ‘menyejukkan hatiku’ kayaknya lebih cocok sama kondisi si bapak yang mendayung becak. Kan capek dan pasti panas mendayung sore-sore. 😀

    • riga berkata:

      maksimal 500 kata, Cit. Mengenai penggunaan ‘menyejukkan’ dan ‘menghangatkan’ abang mikirnya gini, kalau ‘menyejukkan’ hati itu hubungannya jika si tokoh sedang dalam keadaan emosi (marah, kesal, atau tertekan). Sementara ‘menghangatkan’ hati bisa dipakai untuk situasi seperti dalam cerita yang abang buat. Hati si Bapak menjadi hangat sebab antusiasme anaknya. Makasih komentarnya yaaaa… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s