[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat

jam dua

Menjelang sore langit sedikit mendung. Angkasa tampak digelayuti gumpalan awan kehitaman. Angin berhembus kencang. Beberapa helai daun mangga yang tumbuh lebat di samping rumah kontrakan baru aku dan temanku berguguran ke tanah. Kurapatkan jaket sekedar menghalau dingin. Temanku yang kusuruh membeli gado-gado belum juga kembali.

“Ngeteh ajalah,” gumamku. Bergegas aku ke dapur. Saat sedang menyeduh teh, kudengar suara gedoran dari pintu.

Siapa sih, nggak sopan amat?

Aku beranjak malas ke depan rumah. Dari kaca jendela kulihat dua sosok berdiri, seorang lelaki dan seorang perempuan. Kubuka selot pintu.

“Cari sia— heiiii!”

Ucapanku terpotong sebab si lelaki lebih dulu merenggut kerah bajuku. Tatapan matanya menusuk.

“Nama lo Ari kan? Ngaku!” Sentaknya kasar. Wajahnya yang dihiasi bekas luka memanjang tampak seram.

Sia-sia aku meronta. Badan kecilku tak mampu menggoyahkan si tinggi besar. Aku melirik ke perempuan cantik yang masih berdiri di luar pintu. Matanya sembab memerah.

“Lo ikut merkosa adek gue, kan?” tuduhnya lagi.

“Sembarangan! Gue nggak kenal sama dia!” suaraku meninggi. Tuduhan ini keterlaluan!

“Lo berani bohong, hah!” si sangar menarik ‘adik’nya mendekat. “Lo barengan temen-temen lo yang mabok ikutan ngerjain adek gue di gudang kosong pabrik karet. Nggak ingat lo?” Tinjunya terangkat. Aku mengelak.

“Adek gue denger temen lo manggil nama lo!” Si sangar menatapku benci. “Kalo lo nggak mau nikahin dia, lo harus  bayar!”

Bayar? Aku mencium aroma pemerasan.

“Sepuluh juta! Buat biaya adek gue ke dokter kandungan.”

“Enak aja! Gue nggak mau bayar! Gue nggak kenal sama adek lo!” Emosiku meledak. “Lo mau meras gue hah? Mau gue laporin ke ketua RT?” Aku balas menggertak.

Si Sangar mengernyit. Mungkin dia tak menyangka lelaki kurus berkacamata di depannya berani melawan. “Adik” nya sudah berhenti tersedu sejak tadi.

“Kalian mau bukti, hah?” Kukeluarkan dompet, menarik KTP dari dalamnya. “Liat, nama gue Risman, bukan Ari!” Kusorongkan kartu identitas itu ke depan wajahnya, lalu cepat-cepat menyimpannya lagi.

“Kenapa tadi ngaku nama lo Ari?” Kegarangannya kini  jauh berkurang.

“Gue pengen tahu aja, apa mau lo berdua. Lo berdua penipu, kan? Sekarang pergi sebelum gue teriak manggil orang kampung!” Aku melotot sebisanya. Semoga mereka melihat kalau aku bersungguh-sungguh.

Dua orang itu bergegas beranjak dari rumah menembus hujan yang mulai menderas. Kulihat si sangar memarahi ‘adik’nya. Entah apa yang dia katakan.

Lekas kututup pintu dan menguncinya sekalian. Gemetar langkahku menuju meja tempat gelas tehku yang sekarang mendingin. Kuhirup pelan-pelan untuk meredakan ketegangan.

Tok tok tok…

Astaga! Siapa lagi itu?

“Woyy…cepetan buka pintu! Ngapain sih pake dikunci segala?”

Bergegas kubuka pintu. Temanku berdiri kedinginan. Sebagian tubuhnya basah. Dia menggenggam plastik berisi dua buah bungkusan, gado-gado untuk teman makan siang kami.

“Man, lo beli gado-gado di Hongkong?!”

“Sori, kelamaan. Tadi gue mampir dulu ke rumahnya Pak RT. Ternyata anak gadisnya cakep, jadi keasyikan ngobrol! Terus hujan deh, jadi neduh lagi.” Dia nyengir. Aku menghela napas kesal.

“Eh, ngapain diam aja. Makan gih. Katanya lapar?”

Malas-malasan kuraih sebungkus gado-gado dan mulai makan.

“Eh, tadi Pak RT bilang sebagai pendatang baru kita mesti segera lapor ke kelurahan. Siniin KTP gue.”

“Nih KTP, lo Man. Thanks, Bro.”

496 kata.

http://

Iklan

25 thoughts on “[Berani Cerita #13] KTP Penyelamat

  1. rinibee berkata:

    Kayanya si ‘kakak’ ini lihat KTP-nya kurang teliti ya? Ataukah memang wajahnya si Ari mirip sama Risman? Kok pas lihat KTP-nya nggak curiga. IMHO

    Idenya bagus. 🙂

    • riga berkata:

      Kusorongkan kartu identitas itu ke depan wajahnya, lalu cepat-cepat menyimpannya lagi. <<< triknya begini, kak. Sorongkan ke muka, lalu cepat2 tarik kembali. Hehe

  2. eksak berkata:

    Jgn2 Risman itu emang Ari? Bhahaha, ngeles gak mau tanggung jawab nih!

    Taph ada kata “telat” di situ! Kan gak boleh ama Mimin! 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s