[Cerita Hati] Melepas Ayah

pada ayah 2

Mengalir kesedihan dari mataku

Jiwa yang terluka dihempas takdir

Terpuruk jatuh menghilang asa

Berharap surya pinjamkan sinarnya

Mengalir bahagia dari mataku

Sukacita selubungi jiwa

Anugerah yang didapat

Berharap waktu hentikan langkahnya

Oh, permainan hidup yang kurasa

Beri aku tongkat untuk bertahan

Teteskan hujan pelipur dahaga

Agar selamat ke ujungnya

(13/03/2004)

Ketika merenangi kenangan, langkah terhenti pada cerita tentang dia. Tentang kasih sayangnya pada keluarga. Tanggung jawabnya yang besar pada kami semua. Tentang singkatnya masa bersama. Tentang rindu yang semerah bara lalu perihnya menguras kantung air mata.

Iklan

7 thoughts on “[Cerita Hati] Melepas Ayah

  1. tommy berkata:

    puisinya kurang suicidal… aku lebih suka puisi tentang orang yg bunuh diri karena gak bisa menahan kesedihan dalam hidupnya… pokoknya harus bunuh diri deh…

  2. chocoVanilla berkata:

    Jadi, kau sudah tak berayah bunda lagi, Bang? 😦 Duuhh, akupun sudah merasakan tak punya ayah, sejak 6 bulan lalu hiks….
    Sekarang, aku akan menjaga Bundaku sepenuh hati…

    Turut berduka…

    • riga berkata:

      Tolong….bahagiakan beliau. Jangan pernah lakukan apapun yang bisa buat hatinya sakit. :’) | Salam yah, buat Bunda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s