[Berani Cerita #12] Suatu Hari di Kota Baghdad

pasar

Brukkk…

Hasan terhuyung. Keranjang berisi kurma yang dijunjungnya disenggol seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Butiran buah manis itu berjatuhan ke tanah.

“Gunakan matamu, Nak, ” tegur lelaki bercambang lebat bermata tajam memakai tsaub dan surban putih yang diikat dengan igal hitam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin.

Mutaassif, Sayyid.” Hasan meminta maaf. Ia memilih mengalah untuk menghindari keributan. Hasan memunguti kurma yang berserakan, menggosok beberapa di antaranya untuk menghilangkan debu. Hasan tertatih  melangkah menuju kedai Tuan Zakir.

Ya, Hasan! Jika kau selalu terlambat seperti ini, bisa rugi daganganku!” gerutu Tuan Zakir. Ketika memeriksa isi keranjang, omelannya kembali meluncur. “Kau apakan kurmaku, Nak? Lihat, rusak begini! Tak akan ada yang mau membeli! Upahmu aku potong satu dirham!”

Hasan terperanjat. Ia menggeleng keras-keras.

Laa, Sayyid. Laa. Tuan, saya mohon, saya perlu uang itu.”

Tuan Zakir mengibaskan tangan. “Teruskan kerjamu atau tidak usah kerja sekalian.”

Hasan menunduk pasrah. Ia tidak punya pilihan.

*********

Senja menjelang. Kedai Tuan Zakir sudah ditutup. Masjid besar kota Baghdad mulai melantunkan ayat-ayat Al- Qur’an. Hasan membuka sepatu kumal yang ia kenakan, lalu memijat kakinya. Sepatu milik Hasan  sudah menipis bagian dasarnya, sehingga setiap kali menginjak batu kaki Hasan akan terasa sakit.

“Jika bukan karena janjiku pada Abi, tentu aku tak perlu melakukan semua ini.”

Hasan menengadah memandang ke kejauhan. Abi, Ummi, sedang apa kalian? Rasanya aku ingin berhenti saja. Hasan menunduk lalu menyusut air matanya. Tangannya menghitung uang yang ia dapat setelah tiga hari bekerja : Lima dirham. Perlu sepuluh dirham lagi agar jumlahnya menjadi satu dinar. Hasan menghela napas panjang. Ia letakkan uangnya di dalam kantung kain lalu memasukkannya ke dalam saku jubah. Ia melangkah menuju tempat wudhu.

Brukk….

Seseorang menabrak bahunya. Hasan jatuh terduduk di dekat deretan unta yang ditambatkan di sebuah pohon. Unta-unta mendengus kaget. Hasan bangkit menjauh dari kaki-kaki unta yang resah. Ia cuma bisa memandangi orang yang menabraknya pergi bergegas .

Firasat Hasan mengatakan jika orang itu adalah pencopet. Buru-buru ia periksa kantung jubahnya. Ya Allah! Kantung itu hilang! Hasan mencoba mengejar. ia menoleh ke kanan dan kiri. Lelaki itu sudah tak terlihat lagi. Batin Hasan menangis. Seluruh penghasilannya selama tiga hari bekerja di kedai Tuan Zakir terancam sirna. Hasan terus memacu langkah kakinya. Sepatu kumal yang ia pakai terasa begitu menyakiti kaki. Hasan tak peduli.

Itu dia! Di depan sebuah rumah berpintu kayu Hasan melihat lelaki itu. Itu pencopetnya!

“Tuan, kembalikan uang saya, Tuan!”

Aneh! Pencopet itu tidak berlari walaupun ia ketahuan. Ia hanya mematung di depan pintu. Menunggu. Hasan terhenyak.

Ammun Jafar?”

“Iya, Nak. Aku pamanmu.”

“Kenapa, Paman? Oh, janggut paman palsu! Jadi paman juga yang menabrakku tadi siang?”

“Hahahahaha. Benar, Nak.”

Jafar menepukkan tangannya. Dari balik pintu beberapa prajurit berseragam hitam keluar. Empat di antaranya mendekati Hasan.

“Pangeran, Sultan memerintahkan Tuan kembali ke Istana. Pelajaran telah selesai.”

Hasan melirik Paman Jafar. Jafar mengangguk. “Kerja bagus, Nak. Semoga kelak ketika menjadi seorang Sultan, kau bisa mengerti keadaan rakyatmu dan memperhatikan kesejahteraan mereka.”

Jafar menepukkan tangannya lagi seraya memerintah, “Antar Pangeran ke Istana!”

Hasan berbisik dalam hati. “Syukran ya Abi.”

497 kata (tidak termasuk keterangan)

Keterangan

1. Tsaub                   : Pakaian putih yang lazim dipakai lelaki di Arab.

2. Igal                       : Tali hitam pengikat surban.

3. Mutaassif           : Saya minta maaf.

4. Ummi                   : Ibu.

5. Abi                        : Ayah.

6. Sayyid                 : Tuan.

7. Laa                       : Tidak / Jangan.

8. Dinar /Dirham : Mata uang.

9. Ammun              : Paman (saudara dari Ayah).

10. Syukran           : Terimakasih.

http://

Iklan

20 thoughts on “[Berani Cerita #12] Suatu Hari di Kota Baghdad

  1. Miss Rochma berkata:

    yang aku suka dari ceritamu adalah pandainya dirimu mengurai detail tiap unsur. terutama setting. dan itu mendukung sekali, terutama untuk cerita dengan setting yang kita nggak pernah menemui di tempat sekitar kita 🙂

    • riga berkata:

      mbak…aku tersanjung nih…liat, pipiku udah merah begini… *icon tersipu-sipu* 😀 | Makasih Mbak Rochma.. 🙂

  2. ranny berkata:

    eh bang ini cerita bisa diperhalus trus bisa di post ke blog dongeng anak. ada pesan moralnya tuh..
    Bagus nih bang ^.^

  3. eksak berkata:

    Wah! Keren! Selalu sett-nya di luar negeri! Kalo settingnya di timteng jdi inget pilem children of the heaven, tapi ini ternyata seorang pangeran! Gudlak! 😉

    • riga berkata:

      setting cerita di luar negeri baru FF ‘Ma’ dan ‘Suatu Hari di Kota Baghdad’ kok mas Eksak. 🙂 |Makasih ya udah mampir – dan baca- 🙂

  4. sulunglahitani berkata:

    Kelebihan FF karya Mas Riga adalah detail-detail yang ia tempelkan dalam ceritanya. Dan saya suka itu. Hanya saja, selalu merasa tema yang diambil terlalu kompleks untuk sebuah FF. Sehingga ada rasa ketidakpuasan tiap selesai membacanya 🙂

    • riga berkata:

      iya mas sulung…saya juga nggak puas. *ehh… | saya terbiasa menulis ‘panjang’, minimal 1000 kata. kalo nggak percaya, baca deh cerpen-cerpen lama saya (eh…malah merintah-merintah :p ) | dan saya udah punya rencana mau mengembangkan beberapa FF menjadi cerpen yang utuh, biar pembaca (dan juga saya) merasa puas. Makasih udah mampir, Mas Sulung. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s