[Flashfiction] Rahasia Pengemis

pengemis

Siang ini matahari tak terlalu garang seperti kemarin. Selapis awan  menyelubungi wajahnya. Angin sepoi berhembus menyegarkan. Di tempat biasa, aku duduk beralaskan selembar tikar usang. Di depanku sebuah kaleng bekas susu teronggok, berisikan beberapa lembar seribuan dan uang recehan. Setiap orang yang lalu-lalang di jembatan penyeberangan ini tak luput dari sapaanku.

“Sedekahnya, Pak. Sedekahnya, Bu.”

Beberapa dari mereka ada yang merogoh saku atau tas untuk mencari uang kecil. Sebagian lagi berlalu tak peduli. Aku tak pernah sakit hati. Sekali dua kali kudengar celotehan mereka.

“Ah, paling cuma pura-pura miskin.”

“Iya, bisa jadi duitnya lebih banyak dari kita.”

Aku hanya menghela napas panjang. Kubetulkan letak kerudung usang di kepalaku. Pada seorang lelaki necis yang lewat aku bertanya.

“Maaf, Pak. Sekarang jam berapa ya?”

Dia melirik Rolex di tangan kanannya. “Jam tiga.”

“Oh, makasih Pak.” Lelaki itu segera berlalu.

Aku bergegas membereskan tikarku, menyampirkan tas, memasukkan kaleng. Perlahan kuturuni tangga menuju kamar mandi umum di seberang taman. Seusai berganti baju bersih aku menyetop ojek.

“Depan kantor DPRD, Bang.”

Ojek melaju kencang. Sesudah sampai dan membayar ongkos, bergegas aku menyeberang menuju gedung sebuah bank. Satpam membukakan pintu dan menyapaku ramah.

“Ada keperluan apa, Ibu?”

“Bayar kreditan, Pak.”

Satpam menyilakan. Aku memberinya senyum manis.

Yuk, ikutan QUIZ MONDAY FLASHFICTION #3 – On The Street

Iklan

46 thoughts on “[Flashfiction] Rahasia Pengemis

  1. Orin berkata:

    jadi siapa yg harus mengasihani siapa nih bang? *komen mbulet* hihihihi
    tapi memang faktanya begitu ya bang, ga semua pengemis pantas diberi, cuma kadang kan kita ga tau 😦

  2. rinibee berkata:

    Pengemis itu sudah termasuk mata pencaharian. Karena dianggap ‘tidak mampu’, maka ia mendapatkan banyak kemudahan. Termasuk bebas biaya sekolah, pajak dan lain-lain. Tinggal punya gengsi gak dibilang pengemis. Padahal mungkin pendapatannya lebih besar daripada pedagang.

    Tapi gak semuanya juga. Soalnya ada juga pengemis yang jadi ‘pegawai’ doang. Karena profesi pengemis itu juga rawan karena ada jaringan mafianya. IMHO

  3. Diah Kusumastuti berkata:

    hehe… udah sering liat fakta yang beginian.. ga cuma di kota besar seperti Jakarta aja, di kota-kota lain juga banyak.. ternyata masih banyak ya mental pengemis kayak gini di Indonesia 🙂

    • riga berkata:

      aku pernah nemuin ‘pengemis’ yang punya tabungan, rumah bagus dan 2 istri lho, Mbak Carra… “Hebat’ kan? Hehehe

      • dp wahyuni berkata:

        iya, ada… dulu swaktu ku kecil, ada peminta-minta yang biasa tiap hari ke rumah, eh, ternyata berangkat ‘kerja’nya naek kijang (taon dulu, itu udah mewah bagiku). eh, di madura ada lho kampung pengemis. Rumahnya, banyak yang berlantai 2.. (pernah baca)..

        etapi, itu jamnya mepet banget, riga. Jam 3 kasir biasanya mulai tutup llayanann

        • riga berkata:

          iya, banyak pengemis yang ternyata hidupnya berkecukupan. | Biasanya jam tutup layanan 3.30 sore, kan? Masih sempat lah kalo naik ojek. 🙂

  4. ranny berkata:

    *glek* edan bener neh pengemis x_x,mau bayar kreditan pura2 jadi pengemis. Kerja napah buuuu -_-” *koq jd saya yg esmosi*

    • riga berkata:

      banyak lho yang begitu… bahkan mereka lebih kaya dari rata-rata orang indonesia. Coba deh liat tautan yang aku taruh di komentar untuk Junior Ranger. 🙂

  5. junioranger berkata:

    siapa sangka aku punya rumah 4 tingkat di kampungku. Garasi mobilku ada 5 dan semuanya penuh. Persetan dengan harga diri. Yang penting aku kaya *urun ending*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s