[Flashfiction] Pernikahan Cino Buto

beri cincin

Pranggg!!

Satu piring berantakan ketika menghantam dinding. Di hadapanku Bang Rahman berdiri tegang. Wajahnya memerah, napasnya mendengus. Dia berjalan mendekatiku, menudingkan telunjuk.

“Apa? Mau apa?” tantangku. Rambutku yang awut-awutan kubiarkan meriap sebagian di dahi. Mataku menatap tak berkedip matanya.

“Kau! Perempuan paling keras kepala! Nggak mau nurut!”

“Oh, ya!? Lalu kau, bang? Laki-laki  baik begitu?” Aku mencibir. Membuang muka. Bang Rahman kian emosi, tangannya terangkat.

“Mau tampar aku? Berani, bang?”

Plakkkk….

Tangan besar Bang Rahman menghantam pipiku. Aku terperangah. Lelaki ini berani menamparku! Emosiku tak tertahankan.

“Berani ya kau, bang! Berani ya, kau! “ Aku merangsek ke depan, mencengkeram rambutnya. Mencakarinya. Bang Rahman refleks mendorong tubuhku hingga terjengkang.

“Ceraikan aku! Ceraikan!” Aku menjerit sejadi-jadinya. Dari mulutku berhamburan kata-kata makian. Pandanganku tertuju pada cincin kawin di jari manisku. Kurenggut paksa benda itu, kulemparkan ke wajah Bang Rahman.

“Ambil ini cincin jelek punyamu!”

Bang Rahman terdiam. Ia menunduk menjumput cincin emas dari lantai. Dipandanginya benda itu sambil menghela napas.

“Aku ceraikan kau.”

***

“Bodoh nian kau!” bentak Amak. “Cuma karena masalah kecil sajo sampai minta cerai, Niar? Di mano pikiran kau itu?”

Aku membisu.

Indak kau pikir nasib anak kau? Baru dua tahun umurnya. Mau kau dia dak punya abak?”

Aku masih membisu.

“Cepat temui Rahman. Minta maaf, lalu berbaikan.”

Aku mendongak. Mataku bertemu wajah marah Amak. “Tapi, Amak….”

Takut-takut kuceritakan yang sudah terjadi. Mata Amak membulat.

“Apa?! Rahman sudah tiga kali menjatuhkan talak sama kau, Niar?”

***

Amak terus membujuk Yasir. Dia susun kalimat sebaik-baiknya. Nada suaranya memohon, bahkan memelas. Aku diam saja di sebelahnya.

“Tolonglah etek kau ini, Sir. Kita ini satu rumpun, satu nagari. Dan saat ini cuma kau yang bisa bantu kami. Kau belum kawin.”

Etek  tahu, dulu aku suka sama Niar. Tapi tak etek ijinkan aku jadi suaminya. Sekarang etek minta aku jadi cino buto buat dia. Jadi suami sementara.”

“Justru itulah, Sir. Kau kan sayang sama Niar, bantulah dia supaya keluarganya utuh lagi.” Amak masih membujuk. Yasir memandangku tajam. Aku menunduk.

“Sir…”

Yasir menoleh ke pada Amak. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia  terpaksa menyetujui. Amak menghela napas lega.

**********

Aku dan Yasir bersanding di pelaminan. Wajah Yasir masam sejak tadi. Aku maklum. Pernikahan kami diselenggarakan secara sederhana. Malamnya kami tidur terpisah. Amak sudah berpesan dengan sangat pada Yasir.

“Jangan kau sentuh dia, ya Sir. Etek minta kau jaga amanat Etek ini.”

Yasir tak menjawab.

***

“Jadi, Ma, kok masih sama Papa Yasir?” tanya Raisa anak tertuaku sambil menuang adonan kue ke loyang.

“Sebenarnya Mama juga malas rujuk sama Bang Rahman, kalau nggak ingat saat itu ada kau, Sa. Tapi Tuhan punya rencana lain. Seminggu setelah menikah, Mama temui ayahmu. Dia memberikan cincin yang Mama buang. Biar Mama selalu ingat dia, katanya. Dua hari kemudian ayahmu ditemukan mati. Entah siapa pembunuhnya. Eh, adonannya cukup!”

***

Di dapur masih kudengar suara anak dan istriku membuat kue bersama. Aku membuka laci kerja, mengeluarkan sebuah kotak kumal. Di dalamnya ada sebilah pisau dengan bekas darah yang mengering.

Kugenggam erat-erat besi tajam itu. Mengingat-ingat sebuah malam. Lima belas tahun lalu.

499 kata (tidak termasuk keterangan)

Keterangan.

  1. Pernikahan Cino Buto adalah salah satu adat di masyarakat Minang. Saat seorang suami mengucapkan talak tiga kali untuk istrinya, dia dan istrinya tidak bisa rujuk kembali sebelum si istri menikah lagi dengan lelaki lain lalu bercerai. Lelaki yang dijadikan ‘suami sementara’ ini disebut Cino Buto, atau Cindua Buto, atau Paapuih Talak alias penghapus talak. Lelaki Cino Buto ini bisa siapa saja, tapi umumnya dipilih lelaki tua yang tidak terikat perkawinan dan sudah tidak memiliki gairah seks lagi.  Si perempuan bisa menikah lagi dengan suami terdahulu setelah bercerai dari ‘suami sementara’ dan melewati masa iddah.
  2. Etek       =  Tante
  3. Amak    =  Ibu
  4. Abak      =  Ayah
  5. Nian       =  Sekali
  6. Indak     =  Tidak. Dak = bentuk singkat dari Indak
  7. Sajo       =  Saja
  8. Nagari   =  Kampung

Iklan

27 thoughts on “[Flashfiction] Pernikahan Cino Buto

    • riga berkata:

      agak susah sih bikin lanjutannya, Nella. Karena Rahman udah aku ceritain mati di akhir kisah. Rencana yang udah aku pikirkan adalah mengembangkan flash fiction ini jadi cerpen, jadi lebih banyak konflik….walau ujungnya sama aja si Rahman mati, tapi kan pelakunya belum tentu Yasir. | Makasih yah udah mampir, baca, suka, dan komentar. 🙂

  1. ndazhou berkata:

    wah keren..
    berasa mudik nih banyak istilah2 kampuang ambo.. heh..
    bagus ceritanyaaaa walaupun agak serem ngebayangin ada bunuh2an segala..

    • riga berkata:

      makasih Ndazhou… 🙂 | Iya, karena cinta Romeo rela menenggak tuba, Laila menjadi gila, dan Rabiah Al Adawiyah kehilangan dua mata. 🙂

  2. chocoVanilla berkata:

    Waduh, niatnya bersandiwara malah kebablasan :mrgreen:
    Lagian ibunya siiiy, wong udah rusuh gitu perkawinannya kok masih disuruh balikan. Gitu kan jadinya?

    *terbawaemosi

    • riga berkata:

      iya, pertimbangan si ibu adalah ada anak yg masih kecil walaupun sebenarnya tokoh Niar sudah nggak nyaman lagi.
      *makasih yah udah mampir 🙂

    • riga berkata:

      makasih Ayu. Iya, sama dengan ketentuan dalam Islam. Cuma pada adat “perkawinan cino buto’ ini, perkawinannya adalah perkawinan sandiwara. Padahal perkawinan semacam ini dilarang agama. | Makasih udah mampir yah.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s