[Flashfiction] Surat Milik Ibu

sebuah surat

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat. “Liza,” katanya, “ayah sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerja ayah.”
Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

Liza merasakan tangannya berkeringat. Padahal ruangan kerja Ayah cukup sejuk sebab jendela-jendela yang terbuka lebar memberi keleluasaan angin untuk masuk. Telinga Liza menangkap sebuah nyanyian keluar dari gramofon Ayah. Ayah pernah bilang kalau lagu ini milik grup musik terkenal saat ini : Koes Plus. Liza ingin ikut bernyanyi menghilangkan rasa gugup, tapi rasanya sekarang bukan saat yang tepat. Ayah sedang memandanginya.

“Sayang, kenapa kamu tulis surat seperti ini?” Ayah bertanya lembut. Liza menunduk tak mengerti. Ia hanya berpikir, jika ayah memanggilnya masuk ke dalam ruang kerjanya, itu berarti ia telah melakukan kesalahan. Liza memuntir ujung bajunya. Menggigit bibir.

Ayahnya hanya tertawa kecil melihat putri bungsunya.

“Ayah nggak marah sama Liza. Ayah cuma mau bilang kalau anak seusia kamu belum pantas bikin surat seperti ini. Ini surat orang dewasa. “

Ayah Liza membaca lagi sebaris kalimat yang tertera di kertas yang ia pegang.

“….aku sungguh tak sabar ingin bertemu denganmu, cintaku. Kerinduan ini teramat dalam. Membakar jiwaku. Hanya pertemuan yang bisa memadamkan hasrat denganmu…..”

Liza masih terdiam di kursinya. Ayah mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya, menyembunyikannya di belakang punggung lalu berjalan mendekati Liza. “Lihat, Ayah punya hadiah buatmu.”.

Tangan Ayah terulur. Liza memekik senang. Diraihnya boneka kelinci mungil dari tangan Ayah.

“Makasih Ayah. Liza senang sekali.” Mata bening itu berbinar. Ayahnya menunjuk pipi.  Liza turun dari kursi dan mencium pipi ayahnya.

“Ya sudah, sana pergi main. Jangan lupa bikin pe-er ya.” Liza mengangguk. Kuncir rambutnya bergoyang-goyang saat berjalan keluar.

Di ambang pintu ia berhenti. “Ayah.” Panggilnya dengan suara mungil.

“Ya?”

“Liza enggak bikin sendiri suratnya, kok. Liza cuma menyalin surat punya Ibu.” Liza menarik sebuah amplop dari saku baju dan menyerahkan benda itu pada ayahnya. Ia berlalu sambil bersenandung. Boneka kelinci mungil dipeluknya dengan erat.

Ayah membaca kalimat yang tertera di sampul surat : Untuk Arya, Kekasihku. Seluruh tubuh Ayah mendadak menegang. Itu bukan namanya!

*360 kata

http://

Iklan

19 thoughts on “[Flashfiction] Surat Milik Ibu

    • riga berkata:

      artinya ibunya mau ngirim itu ke orang lain. kalau buat suami, ngapain tulis surat kan? 😉 | Makasiiih udah mampir dan baca yaaa.. 🙂

      • Miss Rochma berkata:

        pertanyaan sulung sama dengan yang aku tanyakan. bagi aku yang udah nikah, kirim-kiriman surat (menyelipkan surat di beberapa tempat tersembunyi), itu bentuk keromantisan dan seru.

        sayangnya seh, disini nggak disebutin kalau si ibu selingkuh. jadinya malah bertanya-tanya nggak jelas 🙂

        • riga berkata:

          baiklah, satu kalimat tambahan mungkin bisa menjelaskan yg sebenarnya aku maksudkan, Rochma. Ntar aku selipkan kalimat itu. Makasih atas pendapatnya yaaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s