[Flashfiction] Dia Yang Menyimpan Rahasia

peti rahasia

“Dasar lelaki pemalas!”

Dalam hati aku mengumpat lelaki tetangga baru sebelah rumahku ini. Berdasarkan pengamatanku dalam sebulan, kuketahui dia tidak bekerja. Istrinyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan dia, kerjanya hanya duduk santai di beranda, merokok, sesekali bermain kartu bersama pemuda pengangguran lain. Sebenarnya sih ini bukan urusanku. Tapi kegiatan mereka yang acap kali berisik membuat telingaku gerah. Kalau Mas Brata suamiku tidak menghalangi, pasti sudah kulabrak dia.

“Jangan panasan gitu toh, Bu. Nanti jadinya kita berantem sama tetangga sendiri.”

Hatiku gusar. “Lha, kelakuan dia itu lho Pak yang bikin sebel. Si Nana sering kebangun dari tidurnya kalo udah ngedenger suara berisik mereka.”

Mas Brata tersenyum menenangkan. “Iya, nanti Mas tegur mereka.  Ayok, kita makan. Aku udah lapar.” Suamiku berjalan menuju ruang makan.

Aku mengikuti.

**********

Aku tidak terlalu kenal dengan istri lelaki itu. Dia selalu berangkat pagi-pagi dan kembali saat malam. Dia juga hampir tak pernah bergaul dengan ibu-ibu di sini. Paling cuma sesekali saja menyapa kami yang berkerumun di gerobak sayurnya Mang Adul. Entah apa masalahnya. Sebenarnya aku juga tak peduli. Toh itu urusan masing-masing. Hanya saja, rasanya aneh, bertetangga tapi tak saling kenal. Tapi ya sudahlah.

**********

Malam itu hanya ada aku dan Nana di rumah. Mas Brata sedang dinas ke luar kota. Dari rumah tetanggaku itu seperti terdengar suara orang bertengkar. Ah, itu urusan rumah tangga orang. Kukipasi tubuh mungil Nana. Gadis kecilku itu seperti tak terganggu. Aku pun mencoba terlelap.

**********

Paginya aku melihat lelaki itu sedang mencangkul di halaman belakang. Tumben, pikirku. Kakiku tergerak mendekat. Dipisahkan oleh pagar bambu, aku memperhatikan dia bekerja. Merasa ada yang mengawasi, dia berbalik. Raut terkejut tampak jelas di wajahnya.

“Eh, Bu Jeni. Saya kirain siapa.” Dia mencoba tersenyum. Tapi kegugupannya tetap terlihat.

“Eh, maaf. Nggak bermaksud bikin kaget. Tumben Mas Raka pagi-pagi udah nyangkul tanah. Mau nanam apa?” Aku mencoba bertanya dengan ramah.

Dia terlihat berpikir. “Oh, ini Bu, mau nanam singkong. Daripada nggak dimanfaatin tanah kosongnya.”

“Loh, batang singkong buat ditanamnya mana?” Aku celingukan mencari.

“Eh..itu…anu…bibitnya belum dibeli. Tanahnya aja dulu.”

“Oooh…”

Dari dalam rumah kudengar suara Nana menangis. Aku bergegas ke dalam. “Saya lihat anak dulu yah.” Dia hanya mengangguk.

Nana ternyata hanya haus. Sesudah kuberi susu, ia tertidur lagi. Setelah mengerjakan beberapa tugas rumah tangga, aku kembali ke halaman belakang. Ternyata tetanggaku itu cukup ramah, pikirku. Kesempatan ini bisa kugunakan untuk memintanya agar tidak terlalu berisik saat di rumah.

“Loh, Mas Raka, nyangkulnya udahan? Kok malah ditimbun lagi? Eh, tangannya kok berdarah?” Aku menanyainya bertubi-tubi.

Wajah lelaki muda itu pias. Aku tak mengerti kenapa dia jadi gugup.

“Eh, anu….setelah saya pikir-pikir nggak jadi aja nanam singkong. Mungkin nanam cabe tomat aja.”

Dia melirik tangannya yang bernoda darah. “Ini  pasti karena kena duri atau pinggiran cangkul. Eh, saya ke dalam dulu ya Bu.”

Bergegas dia masuk dan mengunci pintu. Sekilas aku melirik timbunan tanah di samping pagar. Sepertinya ada gumpalan rambut di atas itu. Ah, mungkin juga bukan. Tapi mirip juga ya? Suara tangis Nana membuat aku melupakan pikiran burukku barusan.

“Ya, Sayang. Ibu datang.”

http://

Iklan

20 thoughts on “[Flashfiction] Dia Yang Menyimpan Rahasia

    • riga berkata:

      nah..aku setuju Rochma. menurutku pembaca berhak memiliki penafsiran sendiri. cerita yang tak memberikan ‘ruang tafsir’ bagi pembaca meski sedikit adalah cerita yang membosankan. 🙂

    • riga berkata:

      belum tentu berkaitan dengan ‘pembunuhan’ kan, Rin? Aku sih rencananya mau nambahin dikit ceritanya, biar ada penjelasan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ntar aja kalo udah selesai sesi BeraniCerita #09. | Thanks yah udah mampir 🙂

    • riga berkata:

      sebenarnya bu jeni ini udah curiga, ngeliat sesuatu mirip rambut. tapi keburu anaknya nangis, jadi pikirannya teralihkan. 🙂 | Makasi udah mampir ya Tami. 🙂

  1. dickoandika berkata:

    Sengaja digantung ceritanya bang?

    Komen saya:
    1. Kamu sengaja buat cerita yang dengan awalan pertengkaran rumah tangga, tangan berdarah, dan gumpalan rambut yang membuat pembaca mengira dia membunuh isterinya setelah pertengkaran malam sebelumnya.

    2. Cerita kamu bukan tipe yang gampang ditebak dan dengan sengaja ‘telanjang’ dari awal 😀

    3. Penasaran dgn kelanjutannya. Tapi lebih penasaran dengan bagaimana cerita ini berakhir dengan mengharukan :D. Just my expectation

      • dickoandika berkata:

        lho? gak kebaca semua komennya bang?

        Kalo ane sih pengennya happy ending dengan mengharukan :D. kalo misteri, kynya hampir rata-rata cerita kamu mengandung unsur misteri 😀

        • riga berkata:

          happy ending yang mengharukan ya? *catat* | Etapi kalo bikin yang happy ending kayaknya susah, Dika. Aku kan penulis kejam yang tak ingin tokoh-tokoh rekaannya bahagia. “(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s