[Flashfiction] Menghapus Masa Depan

masa depan

sumber

Bumi, 2113.

Pagi ini jalan raya di depan rumah tampak cukup sepi. Jalan bertingkat dua itu hanya terdiri dari beberapa pejalan yang berdiri santai di atas sebuah panel yang akan mengantarkan mereka ke tujuan tanpa harus melangkah, serta beberapa pengendara sepeda yang menggunakan bahan bakar air serta otoped bertenaga jet ringan. Sedangkan tingkat bawah dikhususkan untuk kendaraan angkutan berat. Sejak terjadinya ledakan nuklir bawah tanah dua puluh tahun lalu, jalan di atas tanah sangat riskan untuk digunakan.

Aku berdiri di depan jendela. Rumah kami berbentuk kapsul yang ringkas dan berdiri ditopang sebuah tonggak panjang menjulang.

“Kau yakin, Zed?” Istriku Zelda bertanya.

Aku mengangguk. “Demi kebaikan kita semua.”

“Kau tahu , semua akan lenyap, Zed!”

Aku berbalik menatap istriku. Mencari dukungan di matanya. Tapi yang kudapati cuma kesedihan. Saat aku akan menjawab pertanyaannya, Zane putra tunggal kami keluar dari kamarnya.

“Pap, Mam, aku berangkat sekolah.” Ia mengangguk hormat pada kami, menyalakan mesin sepedanya, dan terbang berlalu menuju gedung jangkung di ujung barat kota.

“Zane tidak akan pernah ada, Zed.”

Kupeluk tubuh langsing istriku. Pekerjaan ini memiliki taruhan sangat besar. Tapi aku tak bisa mundur. Semua ini harus diakhiri.

“Xavier harus dihentikan, Zelda. Dia terlalu lalim. Hanya aku yang bisa mencegahnya, meski aku harus berkorban.

Zelda menyerah. Ia melepaskan pelukannya dan menatap mataku. “Ingatlah, Zed. Meski kelak kau tak ada, meski kelak kita tak pernah jumpa, aku sangat mencintaimu.”

Aku tak menjawab. Kurengkuh lagi tubuhnya. Aku juga mencintaimu, bisikku dalam hati.

Kutekan tombol merah di pintu. Hubungan teleportasi terjadi. Dinding seolah membuka. Aku bersiap menuju gerbang waktu, melintasi dimensi, menuju bumi 2012. Sebelum kakiku melangkah, Zelda meraih tanganku. Dia menekan salah satu kancing bajuku. Seketika aku berganti kostum seperti mode di bumi seratus tahun lalu. Jeans biru, kaus hitam dan jaket cokelat.

“Jangan terlalu menarik perhatian,” dia tersenyum. Aku melambaikan tangan. Melangkah menuju portal yang segera menutup. Masih sempat kulihat airmata di pipi Zelda.

Akselerasi menguasai diriku. Aku seperti terseret sebuah pusaran waktu mahadahsyat. Berputar, melesat, terhempas. Entah berapa lama kurasakan keadaan seperti itu, sampai akhirnya kusadari aku telah berada di sebuah kafe dengan interior pedesaan. Ah, ini bumi tahun 2012.

Bergegas aku ke luar gudang tempat aku mendarat, menuju ruangan depan. Ada banyak pengunjung di situ. Aku hanya perlu mencari dua orang. Ah, itu mereka!

Seorang pemuda nampak malu-malu mendekati seorang gadis cantik yang sedang duduk sendiri. Aku bergegas mendahului. Kutekan alat penghipnotis ke arah gadis itu. Dia akan menganggap aku pacarnya. Aku menyapa hangat dan mencium pipi si gadis. Si pemuda terpaku di tempatnya, lalu pergi dengan wajah keruh.

Maafkan aku, Kek. Xavier, sumber bencana di bumi 2113 tak akan lahir kalau kakek dan nenek tak pernah bersama. Meski itu juga berarti aku dan Zane tak akan pernah ada. Perlahan, tubuhku memudar. Semakin pudar, seperti asap tertiup angin. Nenek sebentar lagi akan sadar. Semua orang tak akan menyadari kalau aku pernah ada di sini. Kupandangi wajah nenek yang cantik, bibirnya yang merah, dan bekas lipstiknya di cangkir yang ia pakai. Sekilas, bayangan Zelda singgah di benak, lalu sirna.

*jumlah kata : 498

Iklan

25 thoughts on “[Flashfiction] Menghapus Masa Depan

    • riga berkata:

      seperti begitu ya kebacanya? Niatnya sih menceritakan hal-hal terakhir yang dilihat tokoh sebelum menghilang. Cangkir dengan sisa lipstik menurutku adalah salah satu hal yang gampang terlihat sebab fokus si tokoh adalah sekitar si ‘nenek’. Makasih yah.. 🙂

  1. dicko (@dicko_andika) berkata:

    Paragraph awalnya kental teen lit :D. In a good way. Ceritanya bagus tapi seperti potongan dari sebuah novel, singkat. But, I felt like something missing here, it’s like flat, bang :D.
    This is ur first sci-fi short story kan? Well, it’s a nice try anyway :). Keep going…

  2. sulunglahitani berkata:

    Ada sedikit pertanyaan, sih. Di bagian ini: “Seorang pemuda nampak malu-malu mendekati seorang gadis cantik yang sedang duduk sendiri. Aku bergegas mendahului. Kutekan alat penghipnotis ke arah gadis itu. Dia akan menganggap aku pacarnya. Aku menyapa hangat dan mencium pipi si gadis. Si pemuda terpaku di tempatnya, lalu pergi dengan wajah keruh.”
    Agak terlalu memaksa. Apa cinta si kakek cuma sebegitu saja sampai2 melihat pacarnya dicium pria lain langsung nyerah? Kakeknya ga tangguh memperjuangkan cinta, nih. :mrgreen: Dan satu lagi, menurut saya di bagian tersebut yang seharusnya lebih ditekankan. Sebab bagian tersebut lah penentu mereka ada atau tidak di masa depan.

    Terakhir, nih. Mungkin pertanyaan konyol. Kalau di masa depan, nama seseorang emang susah2 gitu ya? :mrgreen:

    • riga berkata:

      nah, pada kalimat awal sudah dijelaskan “…malu-malu mendekati…” yang aku maksud sih pemuda itu baru mau ajak kenalan. Saat itu mereka belum ada hubungan apa-apa. 🙂
      Soal nama, emg namanya sulit ya? 🙂
      Thanks buat komentarnya yah. Means alot. 🙂

  3. jun berkata:

    sederhana dan mainstream. lg nyari dimana letak kesalahannya. sepertinya tdk ditemukan. haha- maaf Saya Nubie Sotoy-

      • harryirfn berkata:

        Aku juga belum terlalu paham sih genre sci-fi tuh mesti gimana, ahlinya tuh Bang Irfan…

        Menurutku, secara logika ada yg “salah”, setahuku konsep mesin waktu tak akan merubah sejarah.

        Oia, Xavier sebagai tokoh antagonis utama juga kurang dijelaskan, kenapa ia begitu berbahaya, sejahat apa dia..

        Maaf kalo sotoy.. heheh.. tetap ber FF..

        • riga berkata:

          dalam film ‘butterfly effect’ tokoh yang diperankan Ashton Kutcher, berusaha mengubah hal-hal yang tidak ia inginkan dengan cara kembali ke masa lalu. Tapi bukannya membaik, justru makin parah. Sebab itu ia memilih untuk langsung mengubahnya dari awal.
          Intinya adalah apapun yang kita lakukan di masa lalu, mempengaruhi masa depan.
          Apakah masa depan yang kita bayangkan itu memang sebenarnya sudah terjadi? Wallahu alam.. 🙂

          Mengenai Xavier….pengen sih ceritain dia dalam satu atau dua paragraf, tapi sayang, FF ini sudah dibatasi dalam maks. 500 kata. Jadi tidak sempat dikisahkan. 🙂

          Makasih udah kasih opini ya Harry… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s