[Flashfiction] Lipstik Merah di Cangkir Putih

lipstik di cangkit

sumber

Pukul setengah enam sore, suasana kafe masih  sepi. Pelanggan kafe yang sebagian besar adalah pekerja kantoran di sekitar jalan Gatot Subroto belum tampak. Hanya ada tiga meja yang sudah dihuni. Beberapa pelayan  berjaga di dekat mereka, sesekali mencatat dan mengantarkan pesanan.

“Tambah lagi kopinya, Mas?” Pelayan cantik berambut panjang sebahu menyapa seorang lelaki muda yang duduk sendiri di sebuah meja. Senyumnya mengembang.

Lelaki yang disapa hanya memandang sekilas, lalu menyahut pelan. “Nggak, Mbak. Terimakasih.”

Pelayan itu mengangguk dan berlalu dengan sopan.

Zian melirik jam di tangannya. “Huft, kenapa dia lama sekali?”

Zian mengeluarkan ponsel dari saku. Memencet serangkaian tombol. Mendengarkan nada sambung.

Klik. Di –reject.

Gemas Zian menekan tombol redial. Tetap di-reject. Zian mendengus kesal. Ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah majalah berita. Matanya menekuri sebuah artikel di halaman depan.

Perhatian Zian teralihkan saat seorang wanita  memasuki pintu masuk kafe. Wanita itu langsung duduk di meja Zian.

“Maaf, Zi, aku terlambat. Meeting-nya molor. Tahu sendiri kan gimana Mr. Crab itu? Perfeksionis banget.”

“Kamu telat, Kay.”

“Iya, maaf.”

Ada hening menggantung di udara.

Kayla bersuara. “Jadi, gimana kita?”

Zian menghempaskan napasnya keras-keras. “Gimana kita? Kurasa kamu sudah tahu keputusan apa yang sebaiknya kita ambil.”

“Berpisah?”

Zian mengangguk. “Kurasa itu yang terbaik.”

“Kamu nyerah, Zi?” Suara Kayla terdengar sedikit serak. “Nyerah gitu aja?”

“Kayla!”, Zian menekan suaranya agar tidak meninggi,” Aku sudah melakukan banyak hal. Aku sudah berkorban banyak hal. Apalagi yang harus aku lakukan, Kay?”

“Menurutmu aku nggak berusaha, Zi?” Kayla memandang lurus mata Zian. Ada cairan bening di sudut matanya. “Aku juga nggak mau kita jadi seperti ini. Tapi aku masih pengen terus usaha. Aku belum mau nyerah, Zi.”

Hening kembali menyergap. Dua manusia yang saling mencinta, tetapi terbentur tembok penghalang bernama “restu orangtua” seperti hilang kata. Zian membolak-balik majalah berita, membaca sekilas tanpa minat. Kayla menekuri meja. Ada dua cangkir kopi, seporsi kentang goreng serta sepiring waffle. Tangan Kayla  memutar-mutar sebuah cangkir.

“Kamu datang sama siapa ke mari, Zi?”

“Sendiri. Kenapa tiba-tiba bertanya kayak gitu?”

“Yakin?”

“Iyalah! Maksudmu apa sih, Kay?” Suara Zian terdengar sedikit kesal.

Tanpa menjawab Kayla memutarkan cangkir yang tadi ia pegang ke arah Zian. “Lalu ini?”

Zian memperhatikan cangkir itu. Tercekat. Di bagian atas cangkir tercetak jelas sisa lipstik berwarna merah. Wajah Zian terangkat, Kayla sedang menatapnya dengan pandangan meminta penjelasan.

“Yakin sendirian?” Suara Kayla terdengar kering. Zian menganggapnya sebagai sebuah tuduhan.

“Aku datang sendirian, Kay! Sumpah! Nggak ada yang duduk bersamaku sejak tadi.”

Kayla mendecak. “Ah, padahal hubungan kita belum selesai tapi kamu sudah mulai nyari yang lain.”

“Kay!”

Kayla mengangkat tangan. “Sudahlah, Zi. Aku capek kerja. Aku nggak mau lagi capek hati. Lebih baik kita saling menjauh dulu buat beberapa waktu. Nanti kita pikirkan lagi tentang hubungan kita.”

Tanpa menunggu jawaban, Kayla bangkit lalu bergegas menuju pintu keluar. Zian hanya terpaku di kursinya. Wajahnya tampak keruh. Sesekali ia memaki.

**********

Di bagian belakang kafe, seorang manajer tengah memarahi dua pegawainya.

“Kenapa bisa ceroboh begini?! Ingat, sekali lagi bikin kesalahan, kalian saya pecat!”

Dua pegawai itu mengkeret ketakutan.

*jumlah kata : 499 kata.

Iklan

29 thoughts on “[Flashfiction] Lipstik Merah di Cangkir Putih

  1. dicko (@dicko_andika) berkata:

    I love this, bang. Nice story ;). Tapi entah kenapa part pelayannya dimarahi Bos karena ketauan pake gelas pelanggan itu kayak dikasih tau trick sulap yang kita udah tau. :D. Padahal expectation saya endingnya miris, atw sad ending :D.

    Terlepas dari adegan waiter itu, all perfecto…

    • riga berkata:

      ini yang terpikir di benakku kala menulis bagian akhirnya : jika tak ada bagian itu, pembaca akan terlalu jauh menebak-nebak ada apa sebenarnya. bisa jadi mereka justru tak akan mendapat kejelasan seperti apa kemungkinan penyebabnya. dengan ending dua pelayan yang dimarahi, akan terbuka banyak kemungkinan, yang berujung pada satu hal : keteledoran. Bisa karena lupa mencuci gelas, mencuci gelas tidak bersih, memakai gelas untuk pelanggan, dll. Anyway…thanks ya Dika.. 🙂

    • riga berkata:

      belum sempat, Mel. Tadi jaringan internet agak lelet sementara jam kantor udah abis. Bentar lagi aku masukin ke BC dari modem di rumah. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s