[Flashfiction] Rencana Rahasia

di atap

sumber

Aaaaaahhhhh…..

Jeritan dari kamar Nanda menyentakkan kami dari tidur. Tergopoh aku dan suamiku berlari menuju ruangan yang terletak di lantai dua, tepat di atas ruang makan. Suamiku menggedor pintu yang terkunci. Aku panik berteriak.

“Nanda! Nanda! Ada apa, Sayang? Buka pintunya!”

Suara jeritan kini berganti tangis. Hatiku semakin kacau. “Kita dobrak, Ma.”

Aku mengangguk.

Suamiku mengambil ancang-ancang, bersiap. Tepat sebelum tubuhnya menghantam pintu, Nanda terlebih dahulu membukanya. Wajahnya pias, matanya basah. Aku bergegas memeluknya erat.

Kuperhatikan sekeliling kamar. Tak terlihat sesuatu yang janggal. Hanya jendela saja yang terpentang lebar. Hembusan angin membuat gorden melambai-lambai. Suamiku memeriksa lebih teliti.

“Nanda lupa tutup jendela?”

Bocah perempuan berusia dua belas tahun dalam dekapanku menggeleng. Menyurukkan kepalanya lebih dalam ke dadaku. Aku tak bertanya lebih jauh. Suamiku menutup jendela, memberi isyarat semua baik-baik saja.

“Malam ini mama temani kamu ya..”

Nanda mengangguk.

***

Esoknya Nanda terlihat murung. Enggan bicara. Seperti tidak punya keinginan melakukan apapun.

“Ma, aku nggak masuk sekolah yah.” Wajahnya memelas. Aku menuruti keinginannya.

Setelah menelepon sekolah Nanda, aku kembali menemaninya di kamar.

“Sebenarnya apa yang Nanda lihat semalam?” Tanyaku tanpa nada mendesak.

Nanda menghela napas. “Nanda lihat Ayah, Ma.”

Napasku tercekat. Ayah adalah panggilan Nanda untuk suami pertamaku, ayah kandung Nanda.

“Nanda yakin? Bukan mimpi?”

Wajah manisnya menerawang. “Ya, Ma. Barangkali Nanda cuma mimpi. Ayah kan sudah meninggal.”

Aku mencoba tersenyum. “Ya, barangkali memang cuma mimpi.”

***

“Kamu kenapa, Dek?” Aku bertanya keheranan. Sejak siang tadi tingkah istriku sedikit tak biasa. Kuperhatikan ia berulang kali mondar mandir di kamar. Berdecak berkali-kali. Sesekali mengepalkan tangan, lalu komat-kamit sendirian.

“Mama kenapa sih?” protesku ketika saat makan malam dia masih saja seperti orang sedang banyak pikiran.

“Ah, nggak ada apa-apa Mas.”

“Tentang Nanda semalam? Kan katanya cuma mimpi buruk aja.” Aku mencomot ayam bakar dan mengunyahnya dengan nikmat. Nanda tidak bersama kami, ia memilih makan di kamar.

“Tentu. Pasti cuma mimpi buruk.” Kulihat ia mencoba bersikap ceria. Menyendokkan nasi ke piring lalu makan dengan lahap. Sesekali kupergoki dia melirikku dengan tatapan cemas. Ah, masa bodohlah. Perempuan kadang memang terlalu pencemas. Kugigit ayam bakar lezat di tanganku.

***

Aku merenung sendiri di kamar. Enggan bergabung dengan Mama dan Papa. Sepiring nasi lengkap dengan lauk masih tergeletak di meja belajar. Pikiranku kembali berputar-putar.

Apa benar itu Ayah?

Aku tidak bilang pada Papa dan Mama kalau Ayah sudah tiga kali ‘datang’ menemuiku. Aku tidak terlalu mengenal sosok Ayah. Umurku masih lima tahun saat ia –kata Mama- meninggal. Lelaki yang datang tadi malam pun tampak masih muda. Apa Ayah meninggal saat masih berusia muda ya?

Sosok “Ayah” tidak pernah berbicara sepatahpun padaku. Hanya tersenyum. Aku yang telanjur kaget selalu menjerit dan menutup mata. Saat kubuka mata, ia menghilang. Ah…memikirkan hal ini membuatku mengantuk. Sebaiknya aku tidur saja.

***

Dari atap bangunan kantor di sebelah rumah mereka, kuperhatikan  tiga orang itu dengan teropong. Hm, ini baru permulaan saja, gumamku. Akan kubuat hidup kalian tidak tenang. Akan aku pastikan, dendam itu terbalas. Kutengadahkan kepala menantang langit. Setengah berbisik kuikrarkan janji.

“Ayah, sakit hatimu akan kubalaskan. Aku janji, Yah!”

*499 kata

Iklan

7 thoughts on “[Flashfiction] Rencana Rahasia

    • riga berkata:

      singkatnya, tokoh di atas atap adalah anaktiri tokoh ibu dari suami terdahulu. Mengapa ia mendendam pada keluarga bekas ibu tirinya? Hmm… kira-kira kenapa ya? 😉 | Makasih udah mampir ya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s