[Flashfiction] Aku Pembantu Anakku

ilustrasi-pembantu-rumah-tangga-dtc

sumber

Sudah beberapa hari ini kuperhatikan ada yang tak biasa dari Bi Anah. Ia yang semula selalu ceria, berubah drastis menjadi pemurung dan enggan banyak bicara. Setiap aku mengajaknya bicara, ia hanya menjawab seperlunya, lalu segera pergi. Kadang ia menatapku lama sekali.

Perubahan sikap Bi Inah dimulai sejak dua minggu lalu, ketika dua orang berpakaian perawat datang ke rumah kami. Saat itu Papa dan Mama sedang menghadiri resepsi pernikahan kolega ayah di Semarang. Hanya ada aku –anak tunggal mereka- dan Bi Anah yang dipercaya untuk menjaga rumah.

Siang ini kulihat Bi Anah sedang duduk merenung di teras belakang rumah. Aku mendekat dan duduk di sampingnya. Ia menoleh, tersenyum samar, lalu kembali menatap langit.

“Bi…”

Hanya desah napas berat yang terdengar.

“Bibi kenapa?” aku bertanya lagi.

Masih belum ada jawaban.

“Bibi marah sama Kirana? Kirana ada buat salah ke Bibi ya? Kalau iya, Kirana minta maaf Bi?”

Bi Anah menoleh. Menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

“Bibi sayang sama Kirana.”

Aku tak merasakan ada yang aneh dengan kalimat bibi barusan. Tentu saja ia sayang padaku. Ia yang mengasuhku sejak lima belas tahun lalu.

“Iya, Bi. Kirana juga. Kalau Bibi emang sayang, kasih tahu Kirana dong, ada apa?”

Desah napas berat kembali terdengar. “Kalau bibi cerita sama Kirana, bibi takut semuanya bakalan berantakan.”

Aku menggeleng tak mengerti. “Maksudnya, Bi?”

“Kirana….sebenarnya… Bibi itu….”

Brakkk…..

Pintu terbanting mendadak. Wajah pasi Mama muncul dari belakang pintu. Di belakangnya Papa menyusul. Pandangan mereka memohon pada Bi Anah.

“Bi…boleh kita bicara bertiga saja? Kirana, masuk ke kamar. Papa dan Mama mau bicara dengan Bi Anah.” Mama memberi perintah. Dengan enggan aku menurut. Aku berjalan melewati mereka bertiga, menutup pintu, lalu melangkah menuju kamar di lantai dua. Tapi mereka tak tahu, bahwa setelah pura-pura menutup pintu kamar, aku berjingkat kembali menuju teras. Bersembunyi di bawah meja makan. Mendengarkan.

“Bi, saya mohon jangan beritahu Kirana.” Suara Mama terdengar memelas.

Hening sejenak. Beritahu apa? Aku gelisah di persembunyian.

“Kami tahu, ini kesalahan kami. Menyembunyikan kenyataan tentang Kirana selama ini dari Bibi. Tapi semua kami lakukan karena kami sayang Kirana. Kami tidak bisa kehilangan dia.” Suara Papa terdengar sedih.

“Saya dan Mas Arif sudah sepakat, Bi, kami akan berikan apapun yang Bibi minta selama kami mampu. Asal Kirana tetap pada kami.”

“Kalian cuma memikirkan diri sendiri! EGOIS”

Aku tersentak. Bibi marah besar?

“Sudah beberapa tahun ini kalian tahu siapa ibu Kirana sebenarnya. Penjual bayi itu akhirnya bilang pada kalian, kan? Tapi kalian menyembunyikannya dari saya. Kalian takut saya akan bawa lari Kirana. Ya kan?”

Hening.

“Bayi saya diculik saat masih merah. Dan belasan tahun saya dianggap pembantu oleh anak saya sendiri? Apa kalian tahu seperti apa sakitnya?”

Sunyi.

Terdengar suara kursi berderit. “Saya mau beritahu Kirana kalau saya itu ibunya. Setelah itu saya mau pergi!”

Derit kursi kembali terdengar. Lalu suara Papa dan Mama yang memohon. Aku tak tahan, bergegas keluar dari persembunyian.

Kubuka pintu perlahan. Tiga orang yang aku sayangi tampak kaget. Kukuatkan hatiku untuk bicara.

“Ibu, jangan pergi. Kirana sayang sama ibu.”

Iklan

10 thoughts on “[Flashfiction] Aku Pembantu Anakku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s