[Flashfiction] Sahabat Terbaik Naya

bear friends

Tok tok….

Naya menoleh ke arah pintu. Tapi ia tidak segera bangkit dari ranjang. Ia masih memeluk bantal Winnie The Pooh kesayangannya. Boneka beruang itu tampak pasrah dirangkul erat oleh Naya.

“Siapa? Mira, ya?”

“Iya, Nay.” Sebuah suara menyahut.

“Masuk aja, nggak dikunci.”

Pintu terbuka perlahan. Sesosok tubuh mungil menyembul dari baliknya. Gadis mungil berambut sebahu dengan kacamata berwarna putih bertengger di hidungnya yang mungil. Sebuah senyuman mengembang hangat.

“Kamu apa kabar, Nay?” Mira memeluk tubuh Naya. Naya balas memeluk.

“Baik.” Naya menjawab singkat, lalu menundukkan kepala.

“Ada apa?”

Naya diam.

Mira menunggu dengan sabar.

“Miko ngerjain aku, Mir.” Akhirnya Naya menjawab. Lirih.

“Maksudnya?”

“Iya, dia sengaja nyuruh sepupunya buat ngejebak aku. Kamu kenal Derry?”

Mira menggeleng.

“Sama. Aku juga nggak kenal sebelumnya. Dia juga nggak ngasi tahu kalau dia sepupuan sama Miko. Yang jelas, Miko berusaha bikin aku suka sama dia.”

“Dan kamu beneran suka?” Mira bertanya tanpa nada menuduh dalam suaranya.

“Sebenarnya iya. Tapi bukan suka semacam rasa suka pada kekasih gitu, Mir. Ya suka aja dengan sikapnya yang dewasa dan mau ngedengerin aku. Lalu dia juga sempat bilang kalo dia bisa meramal garis tangan.”

“Oh ya?” Mata Mira membulat.

“Iya. Makanya aku mau aja ngasi tanganku buat dia pegang. Lalu Derry bilang ke aku tentang hal-hal yang menyenangkan. Aku kan jadi tersipu-sipu, Mir. Dan itu dilihat oleh temannya Miko, yang kemudian ngaduin aku ke dia. Yah sebenarnya memang itu tujuan Miko. Sengaja bikin kami bertengkar. Ujung-ujungnya putus.”

Naya diam sesaat. Mira hanya mendesah.

“Sebenarnya saat itu aku nggak ingin putus, Mir. Tapi sikap Miko bener-bener nyebelin. Dia udah nuduh aku yang nggak-nggak. Rasanya aku malas menjelaskan. Tapi ternyata kami malah putus beneran.”

Naya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading. Entah apa yang dilihatnya di situ. Kemudian ia mendesah.

“Mungkin memang udah harus begini ya, Mir. Meski masih ada rasa sayang, tapi lebih baik kami jalan sendiri-sendiri.”

Mira mengangguk.

“Eh, kita jalan aja yuk Nay. Ke Mall, liat-liat aja. Kalo ada film bagus baru kita nonton. Gimana?”

“Asyiiikk… Aku ganti baju dulu yaa.”

Naya bergegas bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Mira menunggu dengan sabar.

Mira menatap pintu kamar mandi sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke ponsel yang sejak tadi ia genggam. Ponsel mungil itu masih menampilkan sebuah pesan. Mira membaca lagi sambil berusaha menahan agar air mata yang mulai menggenang tidak sampai menetes.

…sebaiknya kita udahan aja. Kamu dengan urusan kamu sendiri. Aku dengan urusanku sendiri.

Iklan

7 thoughts on “[Flashfiction] Sahabat Terbaik Naya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s