[Flashfiction] Jebakan Dua Hati

jebakan hati

Kami duduk berhadapan di sebuah meja bundar. Suasana kafe tidak terlalu ramai. Sengaja kami pilih meja paling sudut agar tidak terganggu dengan lalu lalang pengunjung. Di sebelah kanan kami ada sebuah panggung kecil dengan seorang penyanyi perempuan bersuara merdu sedang bernyanyi lirih ditemani denting gitar akustik yang dimainkan seorang lelaki berambut ikal. Suasana syahdu langsung menyergap siapapun yang memasuki ruangan kafe. Tapi hal itu tidak berlaku untuk kami berdua. Sejak tadi ketegangan terasa menyelimuti kami. Suasana yang sangat tidak nyaman.

“Jadi benar?” Desakku.

“Apanya?” Ia masih berusaha mengindari pertanyaanku. Aku mendengus kesal.

“Jadi benar kamu dan Derry sedang dekat? Kalau kalian pernah duduk berduaan aja di acaranya Wildan?”

Naya memalingkan wajah. Menghindari tatapanku. Aku semakin kesal. “Naya! Jawab aku!” Kutekan suaraku dalam-dalam. Aku tak ingin orang-orang di sini menoleh ke arah kami.

“Kami cuma ngobrol. apa salahnya?” Kali ini Naya seperti menantangku. “Nggak boleh?” Naya memelototkan mata ke arahku sembari mengucapkan kata terakhirnya tadi.

“Tapi ada yang ngeliat kalo Derry pegang tangan kamu dan kamu malah tersipu-sipu. Kamu senang kan dipegang tangannya? Ha? Kamu sebenarnya suka sama dia kan?”

Emosiku meninggi. Syukurlah saat itu lagu yang dinyanyikan perempuan bersuara merdu tadi adalah sebuah lagu up-tempo. Cukup untuk meredam nada suaraku yang agak tinggi. Naya tersentak mendengar kalimatku.

“Siapa yang bilang gitu?”

“Nggak penting siapa. Yang penting sekarang aku tahu kalo kamu udah ngeduain aku.”

“Ya sudah! Kamu sengaja ngomong kayak gini tujuannya karena mau kita putus kan? Mau kamu itu kan?” Suara Naya mulai tinggi. Beberapa pengunjung kafe yang duduk paling dekat dengan kami memalingkan kepala ke arah kami. Naya tak peduli.
Aku masih diam. Tapi kediamanku justru membuat Naya emosi.

“Aku minta putus!”

Aku mengangkat wajah, menatap Naya yang sedang emosi. “Lalu kamu mau jadian sama Derry. Gitu, kan?”

“Kalo iya kenapa? Derry lebih baik dari kamu. Dia lebih pengertian. Mau ngedengerin cerita aku. Dia lebih dewasa. Nggak kayak kamu yang masih kayak anak kecil.”

Aku tertawa mendengar kalimat ketus Naya. Naya semakin tersinggung. “Kenapa ketawa, hah?”

“Kamu baru kenal Derry berapa lama? Seminggu? Dua minggu? Kok bisa bilang dia orangnya seperti itu?”

“Nggak ada hubungannya.”

“Jelas ada.” Aku tersenyum menang.

“Maksudmu?”

“Derry itu sepupuku. Aku yang minta dia mendekatimu. Semacam ujian kesetiaan. Dan ternyata kamu gagal, Nay.”
Naya terperangah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s