[Cerita Anak] Ploppi Mengejar Pelangi

ploppi pelangi

Sama seperti kemarin, matahari masih berkuasa. Tinggi di langit, bersinar garang. Sudah hampir seminggu ketinggian air di kolam terus menyusut. Kecipak air di kolam kian jarang terdengar. Ploppi memandang sedih pada sebuah tempat di dekat batu besar. Di situ ia biasa duduk sambil menikmati cahaya matahari setelah lelah berenang ke sana ke mari. Sekarang tempat itu tak lagi teduh. Rerumputan ilalang yang meneduhi batu kini meranggas.

“Kita harus pindah, Ploppi.”

“Tapi Ayah, aku senang tinggal di sini.” Ploppi mengajuk.

“Tapi sebentar lagi tempat ini akan kering, Nak. Kita tidak bisa berenang, tidak bisa mencari makan. Kita akan mati.” Ayah masih sabar membujuk.

“Tidak bisakah kita menunggu sehari atau dua hari, Ayah? Mungkin hujan akan turun.”

Ayah mendesah. Ploppi memang keras kepala. “Nak, coba lihat Ibumu.”

Kepala Ploppi memutar ke belakang. Ia melihat Ibu kian lemah. Kulit tubuhnya mulai mengering. Dahaga tampak nyata di wajahnya. Ibu memandangi Ploppi dengan tatapan sendu.

Ploppi tercenung. Ia tidak boleh egois. Memang tempat ini adalah tempat kelahirannya, tempat yang sangat ia sukai. Tapi keadaan sudah berubah. Dan ia harus ikut berubah. Ia harus ikut keluarganya mencari tempat baru yang lebih banyak airnya.

“Iya, Ayah. Aku mau.”

Keesokan harinya, perjalanan pun dimulai.

Ploppi melompat-lompat lebih cepat,  berusaha mengikuti lompatan ayah dan ibunya. Sesekali ia mengedarkan pandangan melihat keadaan sekitar. Ploppi terperangah. Dunia yang sedang ia lihat sungguh indah! Tak pernah ia bayangkan ada keindahan seperti ini di luar dunianya. Ia pikir tempat tinggalnya adalah tempat terindah di dunia. Ternyata ia salah.

“Ayah, lihat! Itu burung yang sangat indah. Bulunya biru, terbangnya anggun sekali.”

Ayah yang melompat-lompat di samping Ibu tersenyum bijak. “Itu burung kutilang, Nak. Teruslah melihat-lihat. Nanti akan kau temui binatang lain yang tak kalah indah, Ploppi.”  Di samping Ayah, Ibu hanya tersenyum tanpa memberi komentar.

Di perjalanan, hujan ringan turun membasahi tanah. Ploppi bersyukur, ia bisa sekalian mendinginkan tubuh. Kelelahan yang ia rasakan selama melompat, seolah terbasuh oleh air hujan, meski sedikit.

Ketika hujan berhenti, sinar matahari sore kembali menyinari. Udara terasa menghangat. Tiba-tiba pandangan Ploppi terpaku pada sebuah keindahan yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Sebuah pita warna yang demikian indah membentang lembut di atas awan. Warna-warna cerah yang menyenangkan hati berbaris rapi membentuk jalinan yang indah sekali. Hati Ploppi terasa hangat. Ia melompat lebih cepat menyusul Ayah dan Ibu yang sudah melompat duluan.

“Ayah, itu apa?” tangan Ploppi menunjuk angkasa.

Ayah tersenyum. “Itu pelangi. Biasanya ia akan hadir setelah hujan reda.”

“Kenapa di tempat kita dahulu tak pernah ada pelangi, Ayah?”

“Karena tempat kita terlindung oleh pepohonan lebat. Cahaya matahari hanya sedikit yang bisa memasuki tempat kita. Akibatnya kita tak bisa melihat pelangi.”

Ploppi mengangguk-angguk senang. Tiba-tiba ia melompat lebih jauh, melebihi lompatan Ayah dan Ibunya. Ia berteriak.
“Ayah, aku duluan! Aku ingin mengejar pelangi!”

Iklan

One thought on “[Cerita Anak] Ploppi Mengejar Pelangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s