[Cerita Pendek] Lelaki Yang Selalu Tersenyum

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

sumber

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh bagian taman. Tapi orang yang aku cari tidak juga kelihatan. Padahal biasanya ia selalu  ada di sini. Duduk di bangku taman yang sama pada waktu yang juga nyaris selalu sama. Di mana dia? Ada kabar gembira yang tak sabar ingin segera aku bagi. Tapi, di mana dia?

********

Aku bertemu lelaki itu pertama kali  ketika sedang berjalan-jalan di taman kota empat bulan yang lalu. Ia duduk di sebuah kursi yang terbuat dari besi berwarna merah. Wajah lelaki itu tampak tenang. Di tangannya ada sebotol air mineral dan sebungkus kacang goreng. Sambil mengunyah, sesekali ia minum dengan perlahan. Ia biarkan angin memainkan anak rambutnya yang lurus. Sesekali anak rambut itu meriap di matanya. Ia hanya tersenyum. Senyum yang seketika menarik hatiku.

Semula aku hanya akan melewati bangku tempat lelaki itu duduk. Suasana hatiku yang kacau membuat aku enggan duduk di sampingnya, lalu mengobrol basa-basi. Sungguh, aku hanya ingin menyendiri. Tapi ketika aku sudah berada tepat di depannya sejenak aku melirik. Ia rupanya juga melihatku. Ia melambaikan tangan mengajakku duduk.

“Hai.” Senyumnya mengembang. Entah ada kekuatan apa yang terdapat dalam senyuman itu. Seolah ada tangan gaib yang memaksaku balas tersenyum dan melangkahkan kaki mendekatinya.

“Kacang?” Ia menawarkan.

Aku mengibaskan tangan. “Terimakasih.”

“Namaku Ismail. Ismail Ridha” Ia mengulurkan tangan.

Kusambut tangannya. “Eko.”

“Wajahmu murung sejak tadi.” Kucermati  nada suaranya. Kalimatnya barusan entah sebuah pertanyaan atau justru pernyataan.

Hening.

“Lamaran kerjaku ditolak. Ini entah sudah yang ke berapa kalinya.” Setelah menghela napas aku menjawab juga.

Lelaki bertubuh sedang yang kutaksir hanya berusia sekitar 5-6 tahun lebih tua itu lagi-lagi tersenyum. “Lalu apa yang kau khawatirkan? Kau bisa melamar di tempat lain kan?”

“Ah! Bapak bisa saja bilang seperti itu. Bapak tidak tahu seperti apa usaha saya mencari kerja. Pontang-panting, Pak! Ditolak di sana-sini. Sementara di rumah saya merasa nggak punya harga diri. Sudah sebesar ini tapi belum bisa mandiri.”

Mendengar kesewotanku, lagi-lagi lelaki itu tersenyum. Dan senyum ajaibnya itu seperti menyedot habis kekesalan hatiku. Lelaki itu mengulurkan selembar kertas. “Bacalah,” katanya singkat.

Sekilas kulirik kertas putih itu. Dari kop surat kubaca nama sebuah perusahaan top di kota ini yang bergerak di bidang ekspor-impor. Mataku menelisik lebih jauh. Sampai pada perihal isi surat kulihat sebaris kalimat : Surat Pemberhentian Kerja. Kepalaku terangkat, menatap wajah kenalan baruku itu.

“Yah. Dipecat.” Ia tersenyum. Barisan giginya yang putih rapi terlihat. Dekik di pipinya menyembul. “Baru tadi pagi.”

“Oh, maaf.”

Ia mengibaskan tangan. “Itu hal yang biasa. Ini bukan pertama kalinya saya dipecat. Sudah lebih dari lima kali saya berganti pekerjaan. Tapi tak sekalipun saya dipecat karena tidak cakap bekerja. Satu-dua kali karena perusahaan merampingkan pegawainya, sisanya karena saya minta berhenti sendiri.”

“Tapi bukannya perusahaan yang melakukan perampingan justru akan mempertahankan pegawainya yang berkompeten, kan?” Kalimat itu meluncur begitu saja. Aku terkejut. Segera kutatap wajah lelaki itu, memastikan ia tak salah mengartikan ucapanku.

Masih dengan senyum di wajahnya, lelaki itu menjawab. “Tenang saja, aku tidak tersinggung, kok. Kamu tahu, Eko, dalam dunia kerja, ada banyak sekali intrik. Kadang sebaik apapun kamu bekerja, kamu tetap akan disingkirkan. Kadang caranya elegan, kadang kasar.”

Aku manggut-manggut.

“Kamu masih muda. Ada begitu banyak kesempatan terbentang di depanmu. Satu kali, dua kali, sepuluh, bahkan seratus kali kegagalan jangan sampai meruntuhkan semangatmu. Teruslah berusaha, pasti kamu akan berhasil.”

Aku menekuri susunan paving block di kakiku. Kalimat-kalimat lelaki yang baru kutemui ini rasanya sangat benar. Aku akan terus mencoba. Lalu kami mengobrol seperti dua karib yang lama tak bertemu. Perlahan matahari yang kelelahan berjingkat menuruni tangga langit, menuju peraduan.

***********

Dua bulan berikutnya aku bertemu lagi dengan Mas Ismail. Di taman yang sama. Di bangku yang sama. Tapi kali ini ada seorang lelaki separuh baya yang menemaninya.

Aku mendatangi mereka berdua dan menyapa. “Selamat sore.”

Kukembangkan sebuah senyuman. Mereka balas tersenyum. Aku mengambil tempat duduk di pinggir kiri bangku. Mas Ismail mengulurkan tangan.

“Kenalin ini Pak Atmo. Dia salah satu pengurus taman ini. Dia juga tetangga di kampung, cuma beda gang saja. Kebetulan pekerjaannya sedang tidak banyak, jadi saya ajak mengobrol. Pak Atmo, ini teman saya, Eko.”

Pak Atmo tersenyum menyambut uluran tanganku. “Saya pengen ikutan ngobrol. Tapi maaf, saya harus kerja lagi. Sudah kelamaan ngobrolnya. Saya pamit dulu ya, Mas Eko, Pak Ismail.”

Aku dan Mas Ismail mempersilakan lelaki tua itu kembali ke pekerjaannya. Lalu kami mulai mengobrol. “Apa kabar? Sepertinya hari ini suasana hatimu sedang senang ya? Dapat lotre?”

Aku tertawa kecil. Meninju pelan lengannya. Ia mengaduh pelan. “Bisa aja. Tapi memang aku sedang bahagia, Mas. Aku diterima kerja!”

Mas Ismail menyalamiku. “Selamat ya, Ko! Kerja di mana sekarang?”

“Di PT. Sejahtera Abadi. Usaha ekspor-impor. Jadi staf administrasi.”

“Syukurlah. Mulai dari yang kecil, kalau kerjaan selalu baik, pasti diperhatikan atasan.” Mas Ismail memandangku dengan tulus. Aku merasa ia juga bahagia karena aku mendapat pekerjaan.

“Oh ya, aku lupa bertanya, Mas apa kabar?”

Ia menunduk sedikit. Saat wajahnya terangkat, seulas senyum sudah bertengger di bibirnya. “Kurang baik, Ko. “

“Lho, kenapa Mas? Belum dapat kerjaan? Kan masih bisa terus mencoba.”

“Bukan masalah pekerjaan, tapi masalah keluarga.”

“Oh, maaf. Aku nggak bermaksud ikut campur.”

Ia mengibaskan tangan. “Ah, kamu nggak ikut campur kok.”

Hening.

“Istriku menuntut cerai, Ko. Sekarang dia sudah pulang ke rumah orang tuanya dan membawa Rio serta Naya.”

Aku terperangah. Cerai? Berdasarkan cerita yang Mas Ismail katakan dua bulan lalu, perempuan yang menjadi istrinya adalah perempuan yang sangat ia cintai, dan juga sangat mencintainya. Mereka sudah menikah lebih dari lima tahun. Dikaruniai dua orang buah hati  – Rio dan Naya – yang sehat dan cerdas. Lalu apa yang menyebabkan perempuan ini meminta cerai? Aku menduga-duga dalam hati. Tapi aku tak berani bertanya. Aku hanya menunggu lelaki itu bercerita.

“Dia bilang sudah tak tahan hidup denganku. Hidup serba pas-pasan. Banyak hutang. Apalagi sekarang aku menganggur. Dia menyalahkanku yang tidak mau ikut-ikutan nyari obyekan seperti teman-temanku yang lain.”

Aku memberanikan diri memberi komentar. “Kalau istri Mas memang mencintai Mas, seharusnya dia mendukung Mas saat Mas Ismail dalam keadaan terpuruk begini. Bukannya malah menuntut cerai. Lagipula baru dua bulan kan Mas Ismail menganggur.”

“Aku bohong sama kamu, Ko.” Mata Mas Ismail menyiratkan kesedihan yang dalam. Tapi senyuman itu tetap ada di bibirnya.

“Maksudnya?” Aku menatapnya dengan pandangan bingung. Bohong?

“Dia tidak pernah mencintaiku.”

“Lho, kok bisa begitu? Aku nggak ngerti, Mas.”

Mas Ismail kembali terdiam. Sepertinya ia ingin bercerita tentang kisah masa lalu, sebuah rahasia yang tak ingin ia bagi atau kenang.

“Maaf, Mas. Aku nggak bermaksud pengen tahu. Maaf.”

Ia kini memandangku lekat. Meneliti wajahku. Seolah mencari keyakinan bahwa lelaki muda di depannya ini adalah orang yang bisa dipercaya, bisa menjaga rahasia.

“Aku yakin kamu orangnya bisa menjaga rahasia dan bisa dipercaya, Ko.”

Mas Ismail mengatakan kalimat yang sama persis dengan apa yang baru saja aku pikirkan.

“Makasih, Mas.”

“Rani tidak pernah mencintaiku.” Mas Ismail menerawang setelah menyebut nama istrinya. “Aku yang selalu mencintainya. Sejak dulu saat kami masih kuliah di fakultas yang sama. Perasaan itu tetap aku simpan meski aku tahu Rini mempunyai kekasih. Aku bodoh ya saat itu?” Ia tersenyum.

Aku memilih tak berkomentar.

“Lalu terjadilah sebuah peristiwa yang mengubah banyak hal dalam hidup kami semua. Pacar Rani menghamilinya lalu menolak bertanggung jawab. Ia beralasan kalau mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Keluarga Rani marah besar. Mereka berniat melabrak keluarga pacarnya Rani. Tapi niat itu diurungkan setelah mereka tahu mereka tidak akan bisa melawan keluarga pacarnya Rani. Mereka keluarga pejabat. Kau tahu kan apa artinya?”

Aku mengangguk.

“Untuk menghapus malu, keluarga Rani memaksa dia untuk menggugurkan kandungan. Rani menolak. Ia takut mati. Ia menceritakan hal itu kepadaku. Dan kau tahu yang terjadi selanjutnya?”

“Mas menawarkan diri untuk menikahinya.” Kalimat itu meluncur tanpa kusadari. Aku terkesiap.

“Ya, itu benar, Ko. Aku yang begitu mencintainya melihat kesempatan untuk memilikinya. Jadi aku menawarkan diri untuk menikahi dia. Menurutmu aku bodoh, Ko?”

Bibirku terbuka hendak menjawab. Tapi kemudian kusadari kalau Mas Ismail sebenarnya tidak mengharapkan sebuah jawaban. Ia sudah tahu, itu tindakan yang memang bodoh.

“Jadi akhirnya kami menikah. Keluarga Rani lega sebab terhindar dari cibiran tetangga – meski tetap saja akhirnya orang-orang itu tahu ketika anak pertama kami lahir hanya dalam waktu enam bulan sejak tanggal pernikahan. Kau dengar tadi kusebut anak itu dengan “anak kami” kan? Ya, aku mencintai anak itu, Ko. Dia anakku.”

Aku menghela napas. Lelaki di sampingku ini punya begitu banyak beban. Tapi ia tak membiarkan dunia tahu kecamuk apa yang ada di dalam dadanya. Ia selalu tersenyum.

“Apa keluarga Mbak Rani tidak membantu, Mas?”

Lelaki itu menggeleng. “Mereka juga tidak terlalu suka padaku, Ko. Mereka anggap aku ini lelaki yang tidak bermasa depan cerah. Lelaki level standar. Hahahahaha. Kau tahu, begitulah sebutan mereka buatku.”

Hatiku kecut. Tawanya begitu miris.

“Tapi aku akan tetap berusaha, Ko. Aku akan terus bujuk istriku, keluarganya, atau siapapun yang dekat dengannya agar membatalkan niatnya menggugat cerai. Aku sayang istriku, juga anak-anak kami.”

Senyum lebar kini menghiasi wajah lelaki di sampingku ini.

Aku menatapnya haru. “Semoga berhasil ya, Mas. Semoga bisa rukun kembali.” “Amiiin.”

*********

Setelah pertemuan dua bulan lalu, aku dan Mas Ismail belum pernah bertemu lagi. Komunikasi kami hanya melalui pesan singkat dan sesekali ngobrol di telepon. Nada suaranya masih sama, penuh optimisme. Dan di akhir setiap pesan singkatnya ia selalu menyelipkan sebuah smiley. Aku yakin pada saat mengetikkan pesan itu ia pun sedang tersenyum.

Doakan aku ya Ko. Hari ini aku akan ketemu istri dan orang tuanya. Semoga aku bisa membujuk mereka 🙂

Hari berikutnya ia mengirim pesan lagi.

Alhamdulillah, Ko. Rani mulai melunak. Sepertinya dia mau kembali padaku 🙂

Hari lainnya sebuah pesan singgah di ponselku.

Hari ini aku akan menjemput Rani dan anak-anak, Ko! 😀

Dan aku akan selalu membalas pesannya dengan kalimat-kalimat yang mendukung. Melihat pesan terakhir yang ia kirim mau tak mau aku tertawa. Bukan cuma ikon senyum yang ia sertakan, tapi ikon tertawa.

Kuketikkan sebuah balasan. Selamat, Mas! Kudoakan semoga kalian rukun dan bahagia selalu. Oh ya, jika Mas sempat, aku ingin ketemu besok di taman. Ada hal gembira yang ingin aku sampaikan. Sekalian kita ngobrol-ngobrol.

Ia membalas. Oke. 🙂

Dan di sinilah aku sekarang. Duduk di bangku taman. Menanti. Sudah sejak tadi aku mengirim pesan dan menelepon. Tak ada balasan. Tak ada yang mengangkat panggilanku. Setengah jam menunggu, aku memutuskan untuk pulang. Baru dua langkah aku berjalan, kulihat Pak Atmo sedang berjongkok memangkas serumpun perdu di dekat pagar taman. Kudekati lelaki itu dan menyapa.

“Pak Atmo masih ingat saya?”

Lelaki tua itu mengernyit sejenak. Lalu senyum cerah menghiasi wajahnya. “Oh, iya! Temannya Pak Ismail. Eko, kan?”

“Iya, Pak.” Kami bersalaman.

“Apa kabar, Pak?”

“Yah beginilah.” Ia mengedikkan bahu. Tersenyum lebar.

“Ngomong-ngomong, Pak Atmo, lihat Mas Ismail nggak? Saya ada janji ketemu dengan dia hari ini tapi sudah setengah jam orangnya nggak muncul juga.”

Wajah berkeriput itu mendadak sedih. Seperti ada beban yang tiba-tiba hadir menggumpali dadanya. “Mas Eko nggak tahu?”

“Loh, tahu apa Pak?”

“Pak Ismail…..” Suaranya tercekat. Tiba-tiba ia bangkit dan berjalan menuju sebuah bangku taman. Aku mengikuti dari belakang. Pak Atmo meraih tas lusuh berwarna merah dan mengeluarkan sebuah koran lokal. Ia mengulurkan gulungan itu ke padaku.

“Koran hari ini. Baca saja di halaman empat, berita kriminal.”

Gegas kubuka halaman yang dimaksud Pak Atmo. Sebuah judul berita menyentakku. “BINI MENOLAK RUJUK, SUAMI GELAP MATA. BINI DITUSUK BERKALI-KALI SAMPAI HILANG NYAWA” Kubaca rincian berita di bawahnya. Gaya bercerita yang blak-blakan membuatku miris. “Si suami berinisial IR bermaksud menjemput istrinya R dan dua anak mereka di rumah mertua. Semula korban sudah setuju untuk rujuk dengan IR tapi tiba-tiba membatalkan niat rujuk. IR berusaha membujuk R korban tapi korban tetap menolak. IR gelap mata dan mengambil pisau….”

Aku menatap Pak Atmo. “Pak…ini beneran…Mas Ismail?”

“Ya. Ismail. Sepulang kerja sore ini saya mau menengok dia di kantor polisi. Mas Eko mau ikut?” Ponselku bergetar. Kulihat layar dan mengenali nama penelpon.

“Ya, Sayang?”

“Udah ketemu sama Mas Ismail nya, Mas? Udah bilang kalau dua bulan lagi kita mau nikah? Dia mau jadi saksi nikah?”

Berondongan pertanyaan dari pacar yang sebentar lagi akan jadi istri membuat aku tergeragap. Kuhela napas panjang.

“Mas Ismail nggak akan datang ke acara pernikahan kita, Sayang. Dia nggak bisa.”

“Lho, kenapa Sayang? Apa dia sakit? Apa dia….”

Kupotong rentetan pertanyaan calon istriku. “Nanti malam Mas jelaskan, ya? Sore ini ada hal penting yang harus Mas kerjakan.”

Setelah mengucapkan  “i love you, too” kumatikan ponsel. “Aku ikut, Pak.” P

ak Atmo hanya mengangguk. Berjalan kembali ke arah rumpun perdu yang tadi sedang ia pangkas. Aku kembali duduk di bangku taman tempat Pak Atmo meletakkan tas. Kulirik lagi koran itu. Sungguh aku tak pernah menyangka akan seperti ini kejadiannya. Aku menengadah, memejamkan mata. Seribu kecamuk bermain di dalam dada.

Iklan

18 thoughts on “[Cerita Pendek] Lelaki Yang Selalu Tersenyum

    • riga berkata:

      makasih brader.. 🙂 | aku baru baca satu tulisanmu yang berjudul ‘elegi loyalitas’. Masih halaman depan sih, belum seluruhnya. Kelihatannya seru. Rehat kerja nanti aku mau baca seluruhnya. 🙂

    • riga berkata:

      bukan, Fan. Ini baru kelar kemarin. Draft-nya sudah ada sejak Januari. | Makasih komennya, ya. Nggak diterima Femina mungkin karena ga sesuai dengan visi/misi majalahnya. Tapi bisa jadi yang ini abang kirim juga. Mana tau sesuai. Hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s