[Cerita Pendek] Maaf Untuk Ayah

my dad“Nik, mau ke mana?”

Suara serak-serak basah Ayah menahan langkahku sejenak. Tanganku yang semula akan meraih pegangan pintu kuturunkan. Tanpa menoleh ke arahnya kuberikan jawaban, “Rapat, Yah.”

“Malam begini?” Aku sudah menduga Ayah akan menanyakan ini. “Memangnya kenapa?” Aku balik bertanya. Kulirik sekilas wajah tuanya yang tercekat, tak menyangka aku menjawab seketus itu.

“Oh, nggak kenapa-kenapa kok, Nik. Pulangnya jangan kemalaman ya.” Ia tersenyum. Ada satu dorongan dari dalam hati yang membuatku ingin membalas senyum itu, tapi kutahan sekuatnya. Tidak, aku belum memaafkan Ayah.

“Iya. Aku pamit, Yah.” Tanpa menunggu jawaban, kubuka pintu dan menutupnya segera. Kubuka pintu sedan Estillo putih milikku dan segera melaju meninggalkan rumah.

****

Lewat tengah malam ketika aku pulang, kudapati Ayah tertidur di sofa ruang tamu. Hatiku sedikit terenyuh memandangi tubuhnya yang mulai keriput sedikit merosot di sofa. Kuperhatikan sejenak lelaki yang dulu jadi kebanggaanku, pahlawan masa kecilku, tempat aku berlindung, tempat bercerita. Rambutnya yang beruban, kacamatanya sedikit merosot di hidung. Bibirnya sedikit membuka mengeluarkan suara dengkuran halus. Dadanya naik turun perlahan. Dan di dada bidang itu, ia memeluk sebuah foto dalam pigura : foto Ibu.

Ibu.

Dadaku sesak setiap kali mengenang dirinya. Ibu adalah sosok yang sangat kubanggakan. Ia cantik, ramah, cerdas, pintar memasak, cekatan mengurus rumah, dan segala kebisaan lain yang semestinya dimiliki seorang perempuan. Dan sebagai anak satu-satunya aku mewarisi segala pengetahuan yang ia miliki. Masih kuingat sewaktu aku duduk di kelas satu sekolah dasar, ia mengajariku merajut, juga menjahit baju. Mulai mengenalkan aku pada bermacam bumbu masak, cara memasak berbagai macam hidangan, juga mengenalkan aku pada beragam jenis bunga yang ia tanam di pekarangan rumah. Ibu ibarat gudang ilmu buatku.

Ibu juga tidak menentang niatku berhenti kuliah saat masih duduk di semester tiga fakultas hukum sebuah perguruan tinggi terkemuka di kotaku. Aku merasa tidak bisa lagi membagi waktu antara bisnis fashion yang kugeluti bersama seorang teman dengan pelajaran di kampus yang kian hari kurasa kian membebani. Bekerja di dunia hukum bukan cita-citaku. Aku masuk fakultas hukum hanya untuk menyenangkan hati Ayah. Ditambah lagi sekarang toko baju kecil yang kami buka sejak masih duduk di semester satu mulai dikenal banyak orang, dan kami makin sering mendapat orderan. Dengan promosi dari mulut ke mulut makin banyak orang yang ingin dibuatkan baju oleh kami. Karena kami hanya punya dua orang penjahit maka sebagian orderan aku yang menangani sementara temanku bertugas mengurus administrasi dan promosi. Karena itu aku mantap memutuskan berhenti kuliah.

“Ya biarin aja, Yah. Nunik sudah nemuin dunianya sendiri. Jangan kita paksa kuliah padahal hatinya nggak di situ,” kata Ibu pada suatu malam ketika Ayah kembali menyinggung masalah kuliahku. Saat itu aku hanya diam, tidak berani menjawab.  Aku tahu Ayah sebenarnya khawatir jika kelak aku akan susah mencari pekerjaan tetap jika tidak memiliki ijazah sarjana. Syukurlah Ibu bisa meyakinkan Ayah bahwa pendidikan tinggi tidak mutlak diperlukan jika ingin sukses dalam hidup. Yang terpenting adalah bekerja dengan sungguh-sungguh dan terus belajar.

Malam itu juga Ibu memberi aku nasihat yang akan terus aku kenang. Ia datang ke kamarku, menepuk pinggir ranjang meminta aku duduk di sampingnya. Aku menurut.

“Nik, Ibu mendukung apapun yang kamu lakukan asal itu baik. Dalam bekerja yang penting gigih, jujur dan terus belajar. Ada begitu banyak ilmu yang mesti kamu pelajari. Makanya jangan pernah berhenti belajar ya, Nik.”

“Iya, Bu.”

“Sebenarnya Ayahmu bicara seperti tadi itu karena ia sayang sama kamu. Ia nggak mau lihat hidup anak semata wayangnya susah. “

“Nunik ngerti, Bu. Nunik tahu semua yang Ayah dan Ibu lakukan itu demi kebaikan Nunik.” Kutatap wajah cantiknya, lalu memeluk tubuhnya yang hangat.

“Ibu sayang kamu, Nik.” Ibu mengusap rambutku penuh kasih sayang.

“Iya, Bu. Nunik juga sayang Ibu.” Kueratkan pelukan, dan Ibu membalas dengan pelukan hangat yang erat.

Ingatan tentang pelukan sayang Ibu membuat hatiku sedikit teriris. Pelukan semacam itu tak akan bisa lagi aku dapatkan. Ibu sudah meninggal dua bulan lalu. Ayah yang jadi penyebabnya! Gusar, kuambil foto Ibu dari dekapan Ayah. Itu adalah foto Ibu yang paling cantik. Foto Ibu yang kuambil sekitar setahun lalu, saat kami pergi piknik ke taman kota. Ia sedang duduk santai di bangku taman, memakai terusan biru muda dan celana kain warna senada. Jilbab putih yang ia kenakan menambah keanggunannya. Ia tersenyum lebar saat kufoto. Senyum yang kini  telah hilang selamanya.

“Eh, Nik. Kamu udah pulang?” Ayah terbangun ketika menyadari ada seseorang sedang menarik lepas pigura di dekapannya. Ia membuka kacamata dan mengucek-ngucek matanya yang setengah terpejam. Aku urung menarik pigura itu. Berjalan mundur selangkah dan duduk di sofa di depannya.

“Rapat di mana tadi, Nik?”

“Di rumahnya Tania, ngebahas rencana buka cabang toko, Yah.”

Lalu ada jeda yang menyiksa. Kuputuskan untuk segera berlalu dari situ. Belum sempat aku berlalu, kalimat Ayah menahan kakiku.

“Ayah rasa kita perlu bicara, Nik.”

Ia kini menatapku lurus, pandangannya tidak memerintah melainkan memohon. Aku terpaksa menuruti keinginannya.

“Sejak Ibumu meninggal, kita tidak pernah benar-benar bicara kan, Nik?”

Aku mengangguk enggan. Memang, aku selalu berusaha menghindari obrolan seperti ini. Cukup komunikasi sekadarnya lalu menyibukkan diri dengan bisnisku yang kian besar. Toh Ayah bisa mengurus dirinya sendiri. Jika pun ia butuh bantuan, ada Bi Rani yang siap membantu.

“Ayah tahu kamu masih menyalahkan Ayah atas kematian Ibumu. Ayah akui itu dan Ayah minta maaf. Tapi kamu pasti tahu, Nik, bagaimanapun itu bukan kehendak Ayah. Ayah juga masih menyalahkan diri Ayah sendiri karena gara-gara Ayah maka Ibumu meninggal.”

Ayah membuka kacamatanya, mengusap-usap titik bening di sudut matanya. Aku tahu Ayah selalu mencintai Ibu. Tapi…

“Ayah minta maaf sama kamu, Nik. Benar-benar minta maaf. Penyakit Ayah yang jadi sebab secara tak langsung.” Suara Ayah terdengar sedikit serak. Kesedihan kembali menggumpali dadanya. Aku memalingkan wajah, sekuat tenaga menahan agar tidak ada air mata yang tumpah. Tapi aku tak bisa. Sakit…

“Kadang Ayah mengutuki diri sendiri, Nik, kenapa bisa lupa menjemput Ibumu pulang dari pasar. Ayah malah pulang ke rumah dan membaca buku sementara Ibumu menunggu Ayah di pasar. Kalau saja….kalau saja Ayah ingat…”

Ya, kalau saja saat itu Ayah ingat untuk menjemput Ibu, pasti Ibu tidak akan pulang sendirian. Pasti ia tidak perlu menyeberangi jalan depan pasar yang riuh oleh kendaraan lalu lalang. Pasti ia tidak akan tertabrak angkot yang nyelonong sembarangan. Pasti Ibu masih hidup sekarang!

Aku membiarkan tetes demi tetes kesedihan mengaliri pipi. Sesak di dada mungkin tak akan hilang meski aku menangis semalaman. Sesekali aku terisak merasakan kembali kerinduan yang demikian tajam merajam sanubari. Kehilangan ini entah sampai kapan akan terobati. Lalu telingaku menangkap sebuah isakan lain. Lelaki tangguh di depanku ini menangis! Sungguh-sungguh menangis. Kulihat Ayah sedang menangkupkan ke dua tangannya ke wajah. Pundaknya terguncang-guncang. Dan bisa kulihat beberapa tetes air mata mengalir dari sela-sela jemarinya.

Satu kesadaran menghantamku. Ya Tuhan betapa aku terlalu memikirkan diri sendiri. Ya, aku memang sangat kehilangan Ibu. Tapi lihatlah lelaki ini, ia jauh merasa kehilangan. Ibu adalah belahan jiwanya. Kekasih hatinya semenjak muda. Bagaimana bisa ia memaafkan diri sendiri jika kepergian istri tercintanya secara tak langsung adalah akibat kelalaiannya? Ya Tuhan! Dan lara yang teramat dalam itupun masih ditambahi dengan sikap permusuhan dari anak satu-satunya. Anak yang sangat ia sayangi dan – aku mengakuinya dalam hati – juga menyayanginya.

Aku bangkit dari sofa dan duduk di sampingnya. Kupeluk tubuh Ayah yang sesekali masih terisak. Ia tak menolak. Setelah isaknya mereda, ia membuka kedua tangannya dan menatapku dalam-dalam. Matanya memerah dan di wajahnya ada kesedihan yang mendalam. Dan satu hal yang baru aku sadari malam ini, uban di kepala Ayah jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dua bulan lalu sebelum Ibu meninggal. Ayah kelihatan sepuluh tahun lebih tua dari umurnya sekarang. Betapa cepat derita batin menggerogoti sinar kehidupan dari dalam diri seseorang.

“Ayah, Nunik udah maafin Ayah. Nunik juga minta maaf atas sikap kurang ajar Nunik selama ini sama Ayah.” Kukembangkan sebuah senyum permohonan maaf, meraih tangannya dan menciumnya penuh hormat. Ayah mengangguk. Senyumnya merekah.

Iklan

18 thoughts on “[Cerita Pendek] Maaf Untuk Ayah

  1. irfanaulia berkata:

    Tisu mana tisu…
    Bang, kalau ntar bikin buku genrenya yang kayak gini ya. We need more stories like this.

    ganjelan hati: Tapi menurutku bang, keputusan Nunik berhenti kuliah kok agak aneh ya. Gak konsisten dengan pesan ibu untuk ‘terus belajar’

    • riga berkata:

      thanks komentarnya. Fan. | Yang abang pikirkan adalah si ibu menyuruh Nunik terus belajar, tapi belajar nggak mesti melalui lembaga formal. Makanya beliau tetap mendukung meski Nunik ingin berhenti kuliah. | Tentang buku, insyaallah bikin yang – semoga – bisa menginspirasi pembaca. Sekali lagi terimakasihhhh… 🙂

      • irfanaulia berkata:

        Iya Bang, yang itu aku ngerti. Tapi kan Nunik kuliahnya di ekonomi. Kuliah yang dipelajari Nunik di kampus selaras dan relevan dengan usaha pengembangan bisnis Nunik.
        Kalau aku, justru aneh kalau dia malah DO bang. Gitu aja sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s