[Cerita Pendek] Hujan Pasti ‘Kan Reda

Reda Hujan“Mak, beras habis.”

Aku mengangkat kepalaku yang masih terasa sedikit pusing. Kuraba dahiku.  Benjolan sebesar telur ayam akibat terbentur saat terpeleset di kamar mandi tadi pagi sudah mengempis. Hhh…aku harus sering-sering menyikat lantainya, gumamku dalam hati. Kulirik jam di atas pintu, pukul satu siang. Jadi aku sudah tertidur lebih dari dua jam! Aduh! Aku belum masak apa-apa!

“Mak..”

Kulihat Nisa berdiri di ambang pintu memegang wadah plastik tempat beras. Isinya hanya tinggal beberapa jumput lagi. Pasti tadi karena melihat nasi belum dimasak, Nisa mengambil inisiatif. Biasanya saat pulang siang, Nisa yang duduk di kelas lima Sekolah Dasar dan adiknya Abdul yang masih kelas tiga tinggal membuka tudung saji dan menyantap makanan. Tapi siang ini…

“Gimana, Mak?”

“Nis, coba ke rumah Wak Rahmi. Bilang sama Uwak, kita pinjam beras dua bambu*. Mamak bayar kalau udah gajian. Eh, adikmu mana?”

“Lagi tidur, Mak. Katanya kecapekan main.”

“Ya udah, ke tempat Uwak sekarang ya.”

Nisa mengangguk dan berlalu menuju rumah Kak Rahmi, saudara sepupu almarhum suamiku. Ah, semoga suasana hatinya sedang baik. Aku melangkah perlahan menuju dapur. Kulihat-lihat bahan masakan yang masih ada. Hanya ada seikat sayur bayam, beberapa potong wortel dan kentang. Lalu ada sedikit cabe merah dan bawang merah serta beberapa bumbu dapur lain. Kulirik rak bagian bawah lemari, ada tiga butir telur ayam terletak di situ.

“Ah, syukurlah. Cukup buat kami bertiga hari ini,” gumamku.

Kucuci bersih sayur-sayuran, memotong wortel dan kentang menjadi potongan-potongan kecil. Kumasukkan semuanya ke dalam air rebusan yang mulai mendidih. Tinggal memasukkan garam dan sedikit penyedap. Sementara itu kupecahkan telur dan mengocoknya hingga lepas. Rencananya aku akan membuat dadar telur. Agar jumlahnya banyak, selain dicampur dengan bawang merah dan cabe, aku juga memasukkan potongan kecil kentang yang sudah kugoreng sebelumnya. Kurasa hasilnya akan cukup untuk makan siang dan makan malam. Tanganku terus bergerak, mencoba mengabaikan nyeri dan denyut yang sesekali terasa di kepala.

Sambil bekerja, aku teringat pada Nisa. Sudah hampir setengah jam, kenapa ia belum kembali juga? Rumah Kak  Rahmi cuma berjarak sekitar 100 meter dari rumah kami. Kak Rahmi tidak ada di rumah?

Pikiranku terhenti karena mendengar suara salam dari depan pintu. Kukecilkan api kompor, mengelap tangan yang belepotan dan bergegas menuju ruang tamu. Di ambang pintu berdiri seorang lelaki muda dengan kemeja biru dan celana kain. Rambutnya sedikit gondrong dan senyumannya mengembang. Samar-samar kuingat ia sebagai salah satu teman kantor almarhum.

“Alaikumsalam. Siapa ya?”

“Saya Mardian, Bu.”

“Ada perlu apa?”

Kupersilakan ia duduk di kursi teras. Ia menurut.

“Saya teman kantornya almarhum Bang Rahman. Saya kemari…” Ia menggantung kalimatnya. Aku mencium gelagat tak enak.

Lelaki itu berdeham sejenak. “Gini Bu, sekitar enam bulan lalu Bang Rahman pernah pinjam uang sama saya, sejuta. Katanya buat biaya berobat anaknya yang masuk rumah sakit. Kebetulan saat itu saya punya uang, jadi saya pinjamkan.” Sambil bicara ia menyodorkan selembar kertas. Itu adalah surat perjanjian peminjaman. Sederhana, hanya ada uraian jumlah uang yang dipinjam, nama Mardian sebagai pemberi pinjaman, dan nama serta tanda tangan Bang Rahman.

Lelaki ini mau menagih uangnya! Sejuta! Kepalaku kembali berdenyut.

“Sekarang saya sedang butuh uang itu, Bu. Saya sudah di PHK sebulan lalu, belum dapat kerjaan baru. Sementara bulan depan  kontrakan saya habis.”

Aku menundukkan kepala. Menggigit bibir bawahku. Ya Allah, saat ini sungguh aku tak punya uang. Apalagi sejuta! Lelaki itu diam menunggu jawabanku. Aku bingung hendak menjawab apa. Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya.

Keheningan pecah ketika Abdul anak lelakiku tiba-tiba sudah berada di ambang pintu dan bertanya, “Mak, Abdul lapar.”

Aku bangkit dari kursi dan berjalan ke arah Abdul. Kuberi isyarat untuk menunggu sebentar pada lelaki itu. Ia mengangguk maklum.

Kubawa Abdul menjauh dari pintu. Berbisik pelan padanya. “Kak Nisa sedang ke rumah Wak Rahmi buat pinjam beras. Kalau  dia pulang, kita masak berasnya, lalu kita makan. Mamak udah hampir siap masak. Nah sekarang pergilah ke dapur, tolong Mamak matikan kompor dan tutup pancinya.”

Bocah lelakiku  menurut. Tanpa membantah ia pergi ke dapur. Kupandangi sejenak tubuh kecilnya menghilang di balik pintu ruang tengah. Aku kembali ke teras.

“Dik Mardian, bukannya saya nggak mau bayar utangnya Bang Rahman, tapi saya mohon pengertiannya. Saat ini saya sedang tidak punya uang, Dik. Sungguh!” Kutatap mata lelaki itu, berharap ia mau mengerti. Lelaki itu menundukkan kepala.

“Saya sebenarnya nggak mau minta uang itu dikembalikan sekarang kalau nggak benar-benar perlu, Bu. Tapi saya sudah ditagih-tagih sama pemilik kontrakan. Katanya kalau nggak dikasi panjar sekarang, kontrakan saya mau diberikan sama orang lain. Saya perantauan di kota ini, Bu. Nggak punya saudara. Mau minjam uang sama siapa?” keluh lelaki itu.

Aku menghela napas berat. Keadaan kami mirip. Sama-sama dalam keadaan terdesak masalah uang. Sebenarnya besok aku akan menerima upah cuci dari beberapa tetangga yang pakaiannya kucucikan selama ini. Jika kuhitung-hitung total jumlahnya ada enam ratus ribu. Tapi aku juga harus membayar utang kepada beberapa tetangga. Aku tak bisa memberikannya kepada lelaki ini. Apalagi jumlahnya pun tak mencukupi.

“Atau kalau ada separuhnya dulu, Bu. Tolonglah diusahakan.” Suara lelaki muda itu kini terdengar memelas. Tak urung aku jatuh iba padanya. Sebuah pikiran singgah di kepalaku.

“Dik Mardian, besok kamu balik lagi ke mari ya. Insya Allah saya bayar separuh utangnya Bang Rahman. Sisanya akan saya angsur. Boleh, kan?” Aku menawarkan pilihan.

“Boleh, Bu. Besok sore saya datang lagi.” Wajahnya kembali dipenuhi senyum. Ia pamit setelah memberi salam. Aku mematung di teras. Dari kejauhan kulihat sosok Nisa mendekat. Tapi siapa itu yang bersamanya? Semakin dekat aku semakin yakin, itu Kak Rahmi! Tapi kenapa dia tampak gusar dan Nisa seperti sedang menangis? Gundah, kubuka pintu pagar dan bersiap menanti kedatangan mereka.

“Eh, Rima! Anaknya diajarin yang bener dong!” tanpa salam Kak Rahmi langsung menyemprotku. Aku menatap wajah mereka bergantian. Ada apa?

“Kecil-kecil udah bakat jadi maling!” suara ketus Kak Rahmi serasa menamparku.

“Kak!” Aku tak terima anakku disebut maling! Kutatap Nisa yang sejak tadi terus menunduk.

“Benar kata Wak Rahmi itu, Nisa?” suaraku lembut. Nisa tidak menjawab, hanya isaknya kini terdengar. Ya Allah, anakku mencuri!

Kutatap wajah Kak Rahmi dengan perasaan masygul, meminta maaf padanya. “Kak, tolong maafin Nisa. Nisa pasti nggak bermaksud begitu.”

“Alahh, emang dasar kamu aja yang nggak bener ngajarin anak! Oh ya, utangmu udah banyak. Bayar gih, ntar pura-pura lupa lagi.” Ketus suara Kak Rahmi menggores perasaanku. Aku menjawab lirih, “Iya, Kak. Besok aku lunasi.”

“Bener ya? Awas jangan ingkar janji.” Tubuh tinggi langsing Kak Rahmi berbalik meninggalkan kami. Kuraih tangan kanan Nisa , membimbingnya memasuki rumah. Tangan kirinya menggenggam kantung plastik berwarna hitam yang isinya pasti beras. Nisa hanya diam membisu.

Kududukkan tubuh gadis kecil berusia sepuluh tahun itu di kursi ruang tamu. Mataku menatap dalam-dalam. Nisa masih diam. Tapi tak lama, ia terisak. Semakin lama isaknya semakin keras. Aku membiarkan ia menangis. Sesudah tangisnya reda, kuajukan pertanyaan.

“Kenapa Nisa berbuat kayak gitu, Sayang?”

Di antara isaknya, Nisa menjawab. “Tadi di rumah Uwak ada banyak makanan, Mak. Uwak kan habis bikin acara arisan. Tadi sebenarnya Uwak sedang tidak ada tamu. Tapi dia suruh Nisa nunggu lama. Nisa kan jadi tambah lapar, Mak.”

Ia diam meneliti raut wajahku. Aku tak berkomentar, membiarkannya melanjutkan cerita.

“Di meja makan ada banyak kue. Tadi Nisa ambil bolu sepotong. Tapi Wak Rahmi liat, terus dia marah-marah. Katanya bolu itu untuk tamu yang mau datang. Katanya gara-gara Nisa makan bolu itu, jumlahnya jadi nggak cukup lagi. Nisa dimarahin di situ, Mak.” Wajah Nisa mengeruh. Entah apa saja kata-kata yang sudah dilontarkan Kak Rahmi buat anakku itu.

“Mak, Wak Rahmi itu saudaranya Ayah kan Mak?”

Aku mengangguk. Kenapa Nisa bertanya?

“Kalau memang saudara, kok sikapnya kayak gitu ya Mak sama keluarga kita?”

Lidahku kelu hendak menjawab. Haruskah kuceritakan kejadian sekitar dua belas tahun lalu itu ke padanya? Rasanya tidak perlu. Nisa tidak perlu tahu kalau Kak Rahmi sebenarnya bukan sepupu ayahnya. Ayah Kak Rahmi adalah anak tetangga yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh nenek Bang Rahman. Bahwa sebenarnya Kak Rahmi suka dengan Bang Rahman, tapi Bang Rahman tidak menanggapi karena sudah menganggap Kak Rahmi sebagai kakak sendiri. Ah, itu cerita yang sebaiknya disimpan saja.

“Nisa, yang pertama Mamak mau bilang, apapun ceritanya mencuri itu nggak boleh. Nggak  boleh! Bukankah kau sudah belajar itu sejak dulu. Mamak nggak mau ada anak mamak yang mencuri. Bahkan kepada saudara kita tetap harus meminta izin jika hendak mengambil barangnya. Kau mengerti?”

Nisa mengangguk.

Aku mengetuk-ngetukkan telunjuk di sisi dahi. “Yang ke dua, segera kau ke dapur, masak nasi itu biar kita bisa makan. Sudah hampir jam dua siang. Kita semua sudah lapar.”

“Siap, Mak.” Nisa segera berdiri dan memberi hormat. Aku tertawa geli melihatnya. Kukibaskan tangan menyuruhnya segera berlalu. Baru dua langkah, tubuh Nisa terhenti. Ia berbalik.

“Mak, Nisa minta maaf sudah bikin Mamak sedih. Nisa janji, Nisa nggak akan mencuri lagi.”

Dadaku sesak oleh haru. Aku mengangguk pada Nisa. “Tolong sekalian pindahkan sayur dan dadar telurnya ke piring ya, Sayang.”

Lalu aku kembali termenung.

Seusai makan siang yang sedikit terlambat, aku memikirkan kembali rencana membayar utang pada Mardian. Tak ada jalan lain, pikirku. Utang mesti dibayar, bagaimanapun caranya.

“Lho, Mak? TV-nya kok dibungkus?” suara nyaring Abdul mengagetkanku yang sedang membungkus TV untuk digadaikan.

“Mamak mesti bayar utang, Sayang.” Aku melanjutkan pekerjaanku. “Nanti Abdul nggak bisa nonton dong, Mak?” Suaranya memprotes, bibirnya manyun. Matanya merah seperti ingin menangis.

“Nanti kalau Mamak punya duit, Mamak tebus tv-nya. Sementara ini nonton saja dulu di rumahnya Andi.” TV sudah selesai kubungkus, kuangkat perlahan menuju pintu depan. Abdul masih duduk di sofa, merajuk tak mau membantu memanggilkan becak. Biarlah, nanti juga dia akan mengerti. Kupanggil becak dan segera menuju pegadaian. Sekarang pukul tiga siang, masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi sebelum kantornya tutup. Syukurlah, transaksiku berjalan lancar. Aku pulang membawa uang lima ratus ribu rupiah. Uang itu kumasukkan ke dalam dompet kecil yang kemudian aku masukkan lagi ke dalam tas tangan. Kuambil selembar uang seratus ribu untuk belanja keperluan harian, sekalian membeli beras untuk membayar utang. Setelah semua bahan kubeli, aku pulang dengan menumpang becak.

Sesampainya di depan rumah kubayar ongkos becak dengan sisa uang belanja lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Aku akan ke rumah Kak Rahmi sore ini juga untuk membayar hutang berupa uang dan bahan makanan. Di rumah hanya Abdul yang kutemui. Tadi Nisa sudah minta izin untuk belajar kelompok di rumah temannya. Abdul membantuku membawakan beberapa kantung plastik dari tanganku.

“Mak, kok tas Mamak koyak?” Jantungku serasa berhenti berdetak. Koyak?

Buru-buru kuperiksa tas tangan warna hitam yang kusandang. Benar, koyak! Dompet kecil itu sudah tak ada di tempatnya. Ya Allah! Aku kecopetan! Kakiku lemas. Aku jatuh terduduk. Tanpa bisa kutahan air mata mengaliri pipiku. Ya Allah, banyak sekali cobaan buatku hari ini. Dengan apa nanti aku membayar utang? Belum lagi aku telanjur janji pada Mardian? Ya Allah! Abdul yang tak mengerti apa-apa mendekati dan memelukku. Kupeluk erat lelaki kecilku ini. Air mataku kian deras. Setelah rasa sedih mereda, kulepaskan pelukan Abdul dan bergegas menuju kamar. Aku belum shalat Ashar. Aku ingin mengadukan semua kesedihan ini pada Allah.

Sesudah berdoa dan mengadu, kurasakan kesedihan ini sedikit berkurang. Semua terjadi karena kehendak Allah. IA pula yang akan membantu hamba-NYA melewati semua cobaan. Kuhela napas, mencoba merelakan apa yang sudah terjadi.

Suara salam  Nisa terdengar dari pintu depan. Masih mengenakan telekung* aku bergegas menuju pintu. Nisa tidak sendirian. Bersamanya ada seorang gadis cantik berjilbab dengan baju panjang berwarna biru muda.

“Assalamualaikum, Bu.” Sapa gadis itu. Aku segera menjawab salam. “Ada perlu apa ya dek?”

“Saya Rayya, anaknya Bu Maimunah, kakaknya Dian.” Melihat aku masih bingung, Rayya menambahkan. “Dian itu temannya Nisa.”

Aku ber – oooh – panjang.

“Kebetulan minggu depan saya ada  acara lamaran. Rencananya saya mau sajikan kue-kue tradisional buat keluarga calon mertua. Tadi Dian bilang kalau ibunya Nisa pintar bikin kue. Ibu saya juga katanya pernah dibikinin kue sama Ibu. Ya sudah, saya pakai jasa Ibu saja, nggak nyari orang lain. Waktunya udah mepet.” Gadis itu mengakhiri penjelasannya dengan seulas senyum.

Sejenak aku menimbang-nimbang. Apa aku akan sempat mengerjakan pesanan itu? Aku harus mencuci pakaian empat keluarga setiap hari. Rayya yang melihat keraguanku segera menerangkan.

“Nisa sudah bilang pada saya kalau setiap hari Ibu mesti mencuci pakaian tetangga. Dan karena acara lamarannya malam hari, Ibu bisa bikin kue-kue itu setelah selesai mencuci. Gimana, Bu?” Rayya menatapku lekat.

Nisa berbisik padaku. “Ayo, Mak, terima aja. Nisa udah capek-capek lho promosiin Mamak. Lagian kan memang Mamak pintar bikin kue.” Mata indah itu kemudian berbinar. “Oh iya! Nisa promosiin aja ke semua teman Nisa di sekolah kalau Mamak itu pintar bikin kue. Nanti barangkali ada yang mau bikin acara kan bisa pesan kue sama Mamak!” Ia berbicara penuh semangat kini. Aku membelai rambutnya.

“Iya, dek Rayya. Saya mau ngerjain pesanan kuenya. Mau bikin kue apa aja?”

Rayya menyebutkan beberapa nama kue tradisional seperti Timpan, Kue Mangkok, Kue Cantik Manis, dan Putu Ayu. Aku mengerti cara pembuatan semua kue-kue itu. Ibuku sudah mengajariku sejak kecil.

“Harga per potong seribu rupiah ya Bu. Masing-masing kue dibuat sebanyak lima puluh buah. Dan ini Bu, uang untuk membeli bahan-bahannya. Ongkos bikinnya dibayar setelah kuenya jadi ya.” Rayya menyodorkan amplop. Kulihat ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan di dalamnya. Alhamdulillah, Allah memberikan jalan keluar atas kesulitan yang kualami hari ini. Kuraih Nisa dalam pelukan. Dari ujung mata kulihat Abdul yang sedang berdiri mengamati dari pintu kamar. Kulambaikan tangan ke arahnya. Ia mendekat, aku memeluknya. Bertiga kami saling berbagi bahagia. Di balik setiap kesusahan, ada kemudahan. Itu kata Allah. Dan aku percaya itu.

*satu bambu = kira-kira 1,5 liter beras.

*telekung = mukena

Iklan

10 thoughts on “[Cerita Pendek] Hujan Pasti ‘Kan Reda

  1. aulia berkata:

    Ini kalau disinetronkan sudah zoom in zoom out berapa kali ya? 😀

    Aku suka pesan ceritanya. Meski sederhana, kisahnya bikin betah membaca sampai akhir.

  2. ismyama berkata:

    Aku bener2 terlarut bang. Takut endingnya kenapa2.untung happy ending. Kisah kayak gini ada lho di kehidupan nyata. Makasih mengingatkan untuk selalu bersyukur

    • Attar Arya berkata:

      Kembali kasih, Dian. Kisah sederhana di kehidupan nyata yang mampu berikan pelajaran banyak bertebaran.Tinggal penulisnya aja mau mencoba ‘menangkap’ apa tidak. 🙂

  3. Dila Miftah berkata:

    Berharap pada Allah memang ndak pernah mengecewakan ya? :’) Ceritanya haru sekali, jadi ingat … aaaah, pokoknya bagus banget ceritanya. 🙂
    Pesan moralnya disampaikan secara halus bgt. Sama sekali ndak terasa digurui. Pengin bisa bikin cerita yg kayak gini 🙂

    • riga berkata:

      makasih Irfan… Mudah-mudahan cerita berikutnya nggak sekedar cerita, tapi ada hal baik yang bisa diingat dari cerita itu. 🙂

  4. @PramoeAga berkata:

    Sebuah keyakinan atas bantuan Allah pada hamba-Nya yang diberikan cobaan. Cerita yang mengalun sendu tapi tetap punya value.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s