[Cerita Pendek] Tak Terlihat Mata Bukan Berarti Tak Ada

tak terlihat mataPetang  itu semilir angin lembut menelusup membelai tubuh beberapa jama’ah  yang masih berada di mesjid  seusai shalat Ashar. Sebagian dari mereka duduk di bagian dalam mesjid, tampak tekun membaca Al Qur’an dengan suara lirih. Sebagian lain duduk santai di teras mesjid yang teduh. Jejeran pohon yang ditanam rapi di pinggir halaman menambah kesejukan. Di bagian kanan teras terdapat sekumpulan bocah berusia 7-8 tahun yang sedang belajar mengaji, ditemani seorang perempuan muda sebagai pengajar. Di sebelah kiri mereka tiga orang lelaki berusia menjelang 40 tahun duduk  mengobrol.

“Sudah beberapa hari ini Pak Madi nggak keliatan ya? Kau tahu dia ke mana, Dam?” seorang lelaki bertubuh sedikit gemuk berkulit terang dan berwajah menyenangkan bertanya pada Adam yang duduk di depannya, bersandar di dinding mesjid sambil bersila. Adam hanya mengedikkan bahu. Lelaki itu mengalihkan pertanyaan pada seorang lelaki yang duduk di samping Adam.

“Kau tahu, Din?”

“Nggak tau, Bang Mus. Mungkin sedang banyak kerjaan, jadi nggak sempat jama’ah.” Mudin lelaki paling muda di antara mereka bertiga menyahut. Mudin membuka peci yang ia pakai, menyisir rambut ikalnya dengan jari-jari dan mengenakan pecinya kembali.

“Alah..bisa jadi bukan karena banyak kerjaan. Palingan karena udah males.” Adam menyela. Tubuh besarnya ia geser untuk menyibakkan sarung yang ia pakai dan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana pendeknya. Mudin menegur pelan.

“Bang, jangan merokok di sini lah. Asapnya bakalan ke arah anak-anak itu.” Mudin mengangkat tangannya seolah berusaha merasakan  arah angin. Tatapannya terarah pada kumpulan bocah lelaki dan perempuan yang duduk rapi dalam dua barisan saling berhadapan. Bibir-bibir mungil mereka bersuara riuh, mengikuti arahan pembimbing.

“Alaah, mana ada sampai ke sana asapnya. Anginnya kan berubah terus.” Adam menyalakan rokoknya dan mulai mengisap dengan perlahan. Mudin hanya mengangkat bahu, sedikit bergeser ke samping menghindari asap rokok yang sebagian ditiup angin ke arah wajahnya.

“Jadi menurutmu Dam, kenapa si Madi males ke mesjid?” Mustafa bertanya lagi.

Adam menyahut, “ Ya karena gagal jadi kepala bagian. Dia kan ngebet dengan jabatan itu. Terus atasannya Pak Sali kan sering shalat di sini. Makanya dia rajin ke mari. Yah, sekalian setor muka gitu. Kabar yang kudengar, awalnya dia yakin Pak Sali bakal dukung dia dapat jabatan itu. Sampai-sampai dia ngadain syukuran minggu lalu. Kalian semua diundang kan?”

Mustafa dan Mudin mengangguk.

“Nah itu dia. Yang kita tahu kan dia syukuran karena anaknya si Dina keterima masuk kedokteran, padahal sekalian syukuran mau dapat jabatan. Yah, ternyata nggak dapat.”

Mustafa mengangguk-angguk. “Sayang sekali yah. Untung aja saat syukuran kemarin dia nggak bilang soal naik jabatan itu. Kalau nggak pasti udah malu.”

Adam menimpali. “Pasti malu.” Adam melepaskan peci putih yang sedari ia pakai dan meletakkannya di lantai mesjid. Sejenak ia memejamkan mata, merasakan sejuk angin di kulit wajahnya.

Mudin merasa sedikit terganggu dengan pembicaraan kedua temannya. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Hatinya sungguh terasa tak nyaman.

“Bang Mus, Bang Adam kok kita malah jadi gosipin Bang Madi? Kalau ternyata nggak benar kan jatuhnya jadi fitnah, Bang.”

Mustafa mengibaskan tangannya. “Nggak gosip kok. Kan udah jelas.”

“Jelas apanya bang?” tanya Mudin.

“Ya sudah jelas lah. Mau dijelasin kayak gimana lagi sih?” Adam menyergah jengkel. “Kamu kok kayaknya belain si Madi terus dari tadi?” Adam menyelidik.

“Loh bang, kan cuma ngingatin aja. Jangan sampai kita ngomongin yang nggak-nggak tentang orang lain.” Mudin menjawab dengan suara rendah.

“Lagian, Bang Madi nggak jama’ah di sini bukan berarti dia nggak shalat kan? Bisa aja dia shalat di tempat lain,” Mudin melanjutkan.

“Kamu nih belain Madi terus. Ada apa sih, Din?” tatapan Mustafa kini tampak menuduh. “Kamu sedang ada perlu sama dia?”

“Nggak ada apa-apa, bang. Sumpah.” Mudin menjawab pelan. Kemudian memilih diam.

Tiga lelaki itu kini hanya diam. Tak ada yang berbicara lagi. Adam masih  terus merokok dengan santai. Syukurlah arah angin sudah berubah sejak tadi. Asap yang ia embuskan buyar dibawa angin ke arah halaman mesjid. Mustafa menyandarkan kepalanya ke pilar mesjid. Kini matanya mulai memejam, menikmati semilir angin sore. Mudin melirik ke arah kumpulan bocah yang sedang belajar mengaji. Tak ada perempuan muda itu di sana. Mudin sempat melihat ketika seorang pengurus mesjid memanggil perempuan itu dan mereka berjalan ke arah kantor sekretariat remaja mesjid yang terletak di sebelah koperasi mesjid.

Suara bocah-bocah mungil itu terdengar lebih riuh sekarang. Ada yang terus mengaji, ada yang hanya diam melamun dan ada yang mengobrol dengan teman di sebelahnya. Tiba-tiba terdengar suara seorang bocah perempuan yang sedikit berteriak.

“Dini  nggak ngambil!” Matanya mendelik menatap temannya. Bocah lain di sebelahnya menepuk bahunya, berusaha menenangkan.

“Dini jangan teriak-teriak. Tadi Kak Aminah kan udah pesan supaya kita jangan ribut.”

“Ani, Rudi nuduh Dini ngambil buku ceritanya. Padahal Dini nggak ngambil.” Suara Dini kini memelan. Tapi pandangannya tetap tajam tertuju pada Rudi yang duduk di barisan depannya.

“Tapi kata Yamin kamu ada di kelas pas istirahat siang kemarin. Pasti kamu yang ambil.” Rudi tak mau kalah. Ia  menoleh ke arah bocah lelaki kurus di sampingnya. “Ya kan, Yamin?”

Yang ditanya hanya mengangguk ragu.

“Dini memang ada di kelas jam istirahat siang kemarin. Perutnya sakit makanya Dini istirahat sebentar. Tapi kan nggak berarti Dini yang ambil buku kamu, Rudi.”  Ani membela.

“Jadi kalau bukan Dini, siapa yang ngambil?” keluh Rudi putus asa.

“ Rudi tanya aja sama Yamin. Kan Yamin yang nuduh Dini ambil buku kamu. “ Tatapan Ani dan Dini tertuju pada Yamin yang menunduk.

“Yamin, Ani mau tanya sama Yamin. Yamin nggak terus-terusan ngeliatin Dini di kelas kan? Yamin cuma lewat ruangan kelas aja kan?”

Yamin mengangguk.

“Yamin nggak liat Dini pegang bukunya Rudi kan?”

Sekali lagi Yamin mengangguk.

“Berarti bukan Dini yang ambil dong.”

Rudi hendak menyela perkataan terakhir Ani. Tapi Ani keburu memotong. “Kalau Yamin terus-terusan duduk di kelas dan Yamin liat Dini ambil buku itu, baru Yamin boleh bilang kalau Dini yang ambil. Kalau Yamin nggak liat ya Yamin nggak boleh nuduh.”

Yamin dan Rudi tertunduk malu. Dini kini tersenyum mendapat pembelaan.

Akhirnya Yamin buka suara. “Dini, Yamin minta maaf udah nuduh Dini ambil bukunya Rudi. Dini maafin Yamin kan?”

Rudi tak mau ketinggalan. “Maafin Rudi juga ya Dini.”

Dini tersenyum manis. “Iya Dini maafin. Kita kan temen, nggak boleh marah-marahan. Ya kan Ani?”

Ani tersenyum tak kalah manis.

Di sebelah mereka, tiga lelaki bersarung menyimak percakapan bocah-bocah itu. Dua di antaranya merasa sungguh tertohok. Terutama Adam yang tadi begitu bersemangat menuduh Madi. Ia mengangkat wajahnya, memandang Mustafa yang juga sedang menatap ke arahnya.

“Sepertinya kita mesti minta maaf sama Madi, Bang.”

Mustafa menjawab sambil menghela napas panjang. “Ya, kita udah nuduh dia yang bukan-bukan padahal nggak tahu persis gimana kejadian sebenarnya.”

Keduanya menunduk. Malu.

Suara Mudin memecah keheningan. “Eh, Bang Madi! Kok baru kelihatan?” Ia bangkit menyambut kedatangan seorang lelaki berwajah teduh yang datang memakai sepeda motor.

“Assalamualaikum,” sapanya. Tiga jawaban terdengar.

“Iya, neh. Abis dari kampung tiga hari. Ibu sakit,” senyum lelaki itu mengembang. “Syukurlah sudah sembuh sekarang,” sambungnya.

“Alhamdulillah,” tiga lelaki itu menyahut.

“Eh, saya tinggal dulu yah. Baru nyampe dari kampung langsung ke sini. Kalau pulang ke rumah ntar nggak keburu Asharnya.” Madi bergegas menuju tempat wudhu untuk laki-laki.

Mudin memandangi Mustafa dan Adam yang masih terpaku di tempat duduknya. Senyuman jahil mengembang di bibirnya. “Lho, katanya mau minta maaf? Tuh, orangnya udah ada kok nggak langsung aja?”

Adam dan Mustafa hanya melengos. Mereka bangkit sambil menepuk-nepuk sarung, lalu berjalan melewati Mudin. Sambil menoleh sekilas ke arah Mudin, Adam berujar singkat.

“Nanti saja.”

Mudin tertawa tanpa suara. Membiarkan Adam dan Mustafa berjalan menjauh dari teras mesjid menuju jalan. Mudin mengalihkan pandangannya ke sebelah. Bocah-bocah yang belajar mengaji sedang membereskan peralatan yang mereka bawa. Wajah mereka bersih, ceria tanpa dosa. Tak sadar bibir Mudin tersenyum.

“Terimakasih sudah memberi kami sentilan, Nak.”

Iklan

2 thoughts on “[Cerita Pendek] Tak Terlihat Mata Bukan Berarti Tak Ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s