[Cerita Pendek] Cerpen Tentang Cinta

menulis cerpen“Gue pengen nulis cerpen tentang cinta!”

Yudha membalikkan badannya. Pandangannya menyelidik. “Maksud lo?”

Aku menarik sebuah kursi mendekat ke mejanya. “Untuk tugas bahasa minggu ini, gue pengen ngebuat cerpen tentang cinta.”

Dahi Yudha mengerut. Matanya bertanya, “Lalu?”

“Tentang dua orang yang saling mencintai, lengkap dengan hambatan-hambatan yang dialami oleh mereka.”

Mulut Yudha membulat. Oooo. Lalu badannya kembali berpaling. Cuek.

Sial!

******

“Sudah jadi? Sini gue baca dulu.”

Aku memang sengaja meminta pendapat Yudha sebelum mengumpulkan tugas bahasa minggu ini. Pendapat dia selalu objektif. Dia tidak segan memberi kritik bila menurutnya jelek, pun pujian jika bagus. Aku harap-harap cemas menunggu komentarnya.

“Mau dengar pendapat gue?” Yudha bangkit dari kursi di sudut ruangan kelas tempat dia membaca. Aku mengangguk kuat-kuat. Memang itu yang kutunggu.

“Cerpen lo ngebosenin.” Yudha meletakkan kertas berisi cerpenku ke atas meja. Aku terperangah. Begitu burukkah?

“Kalimat-kalimatnya sih terstruktur dengan baik. Konfliknya juga lumayan. Tapi lo tahu apa yang hilang?” Matanya memandang lurus ke wajahku. Aku balas memandang dengan rasa penasaran.

“Nggak ada jiwa di dalamnya. Ini cerita tentang dua orang yang saling mencinta. Tapi nggak gue lihat itu di dalamnya. Dialog-dialognya kering, tanpa makna. Seperti dua orang yang sekedar kenal lalu mengobrol bersama tentang cuaca di sebuah kafe, hanya karena tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan.”

Aku terdiam. Jiwa. Itu rupanya yang hilang dalam cerita yang kubuat. Ingin segera kuubah cerpen ini, tapi tak ada waktu lagi. Besok, tugas bahasa ini harus dikumpulkan.

********

“Bu Naning nggak masuk?”

“Yup. Dia mesti masuk rumah sakit dan opname. Kita belum tahu kapan beliau akan mengajar lagi.”

“Oh…”

“Ini kesempatan bagus buat lo?”

“Maksudnya?”

“Untuk memberi jiwa pada cerpen lo.”

“Caranya?”

Yudha membisikkan sesuatu di telingaku. Mataku membelalak.

***********

Sudah seminggu ini aku mencoba mendekati Prita, anak kelas dua yang cantik itu. Sebenarnya sudah sejak dulu aku mengagumi dia, tapi rasanya hanya sekedar kagum, bukan suka. Cewek itu sudah punya pacar, anak lain sekolah. Aku jadi malas mencoba mendekati. Tapi itu dulu. Kudengar dari Nunik, teman baiknya yang kebetulan masih saudara jauhku, kalau mereka sudah putus. Sekaranglah kesempatanku. Dimulai dari menitip salam melalui Nunik, memberikan hadiah coklat kesukaannya, dan sesekali puisi yang kutulis di kertas wangi warna merah jambu. Melalui Nunik juga akhirnya aku bisa berkenalan langsung dan meminta nomor teleponnya.  Kami jadi lebih dekat sejak saat itu.

Malam minggu  besok kami akan nonton di bioskop dan dilanjutkan dengan makan malam. Cukup sulit untuk membujuk Prita pergi denganku. Akhirnya dia bersedia dengan syarat Nunik juga ikut dengan kami. Ah, itu gampang. Nanti aku akan menjemput Prita lebih dahulu. Lalu aku akan minta Nunik menelepon untuk berpura-pura sakit perut dan tak bisa ikut pergi bersama. Dengan begitu kami hanya akan pergi berdua. Sip!

Seusai nonton – film vampir romantis – kami makan malam di sebuah kafe yang tenang di lantai  bawah mal. Mengobrol akrab sambil mengunyah makanan. Sesekali kulontarkan lelucon yang membuat dia terkekeh geli. Sesekali kupuji penampilan cantiknya malam ini yang membuat pipinya bersemu merah. Aku suka sekali melihatnya tersipu seperti itu. Ah, sepertinya aku sudah benar-benar jatuh cinta.

Makanan sudah selesai kami santap. Kami duduk berhadapan saling menatap. Sesekali Prita menyeruput es jeruknya yang tinggal seperempat. Rasanya sekarang adalah saat yang paling tepat.

“Prita..”

“Ya?”

“Ehem….” aku batuk-batuk kecil sekedar melonggarkan tenggorokan yang mendadak tercekat.

“Ta, gue mau bicara serius nih.”

“Bilang aja. Gue ngedengerin kok.” Dia tersenyum. Manis sekali di mataku.

“Lo mau nggak jadi pacar gue?” Kutatap matanya dalam-dalam. Ia menunduk, tapi bisa kulihat seulas senyum mengembang di bibirnya. Sejenak rasaku melambung tapi langsung surut ketika kulihat senyum itu hilang secepat datangnya.

“Gimana, Ta?” Nada mengharap terdengar jelas dalam pertanyaanku.

“Gue pikir-pikir dulu, boleh ya?” Mata itu memohon.

“Oke, Ta. Gue tunggu ya jawaban lo.”

Kami berdiri dari kursi dan meninggalkan kafe. Di luar udara malam begitu hangat menyenangkan. Tapi hatiku cemas menunggu keputusan.

********

Sudah dua minggu berlalu sejak malam itu, tapi Prita masih belum memberi jawaban. Nunik yang kutanyai hanya mengedikkan bahu dan menggeleng. Setiap malam aku gelisah. Malam ini tak terkecuali. Aku hanya berbaring di kamar, memandangi langit-langit, melamun. Menunggu jawaban.

Ponselku berdering. Sms dari Nunik. “Prita di rumah gue, neh. Lo ke mari aja.”

Bergegas kusambar jaket dan kunci motor. Rumah Nunik lumayan jauh, sekitar 20 menit perjalanan. Di luar langit mulai menurunkan gerimis. Kurapatkan jaket, memacu motor dengan kecepatan sedang. Aku tak mau mengalami kecelakaan.

Dalam perjalanan, otakku berputar. Beberapa pertanyaan mampir di kepala. Kenapa Nunik menyuruhku ke rumahnya? Apa Prita sudah membuat keputusan dan dia berbicara terlebih dulu dengan Nunik? Atau Nunik sekedar ingin memberi kami waktu untuk ngobrol? Memang belakangan ini Prita sulit ditemui. Atau memang tak ingin kutemui. Aku memakluminya, mungkin ia ingin lebih jernih berpikir. Lamunanku terputus ketika kurasakan ponselku bergetar di saku celana. Ah, nanggung. Nanti saja kulihat siapa penelepon – atau pengirim sms- itu. Rumah Nunik sudah dekat.

Di depan rumah Nunik kulihat sebuah sedan merah terparkir. Rasanya mobil Papanya Nunik bukan sedan. Jadi milik siapa? Belum sempat kulangkahkan kaki menuju teras, kulihat Nunik, Prita, dan seorang lelaki keluar dari dalam rumah. Siapa lelaki itu?

“Nunik!” panggilku.

Mereka bertiga menoleh ke arahku. Wajah Nunik dan Prita tampak kaget. Wajah lelaki itu terlihat keheranan. Nunik bergegas menuju ke arahku. Raut bersalah terlihat jelas.

“Duh, kok lo dateng juga sih? Nggak baca sms yang gue kirim? Lagian, kenapa nggak diangkat pas gue telpon sih?” berondongnya.

Aku tergeragap. “Memangnya ada apa?”

Nunik menarik tanganku menjauh. Sambil melirik ke arah Prita dan lelaki itu, bibirnya berbisik,” Itu Prita dan pacarnya. Mereka CLBK.”

“Apa? Kenapa lo nggak bilang kalo mereka pacaran lagi?” Kakiku terasa lemas.

“Iiih, gue juga baru tahu, kalee. Prita tadi ke mari naik taksi. Dia lalu cerita tentang keputusannya untuk balikan dengan pacarnya. Katanya mereka masih saling cinta. Lalu dia minta saran gimana caranya ngasih tahu hal ini ke lo. Eh, nggak lama kemudian pacarnya datang. Lo sih, nggak angkat telpon!”

Rasanya percuma menjelaskan kalau saat itu aku sedang naik motor dan tak mungkin menjawab panggilan. Nunik mematung serbasalah. Kuhela napas panjang. Bagaimanapun sekarang status hubunganku dengan Prita sudah jelas. Tidak ada hubungan. Kugamit tangan Nunik, mengajaknya menuju teras. Prita dan kekasihnya masih berdiri di depan pintu.

“Hai.”  Sapaanku berbalas senyuman. Senyum hangat dari lelaki itu dan senyum canggung dari Prita.

“Hai, gue Damar.” Pacarnya Prita mengulurkan tangan.

“Fiza.”

“Maaf, kebetulan kami sudah mau pergi, neh. Lain kali kami mampir lagi ke mari untuk ngobrol dengan kalian, Fiza, Nunik.” Lelaki itu tersenyum.

“Oke, silakan.” Kali ini Nunik yang menyahut. Prita masih diam. Hanya matanya yang memandangku penuh penyesalan. Meminta maaf. Aku mengangguk sambil berusaha tersenyum tulus. Hatiku sudah patah. Berdua aku dan Nunik memandangi kepergian pasangan itu masuk ke dalam sedan merah dan berlalu.

“Bukan jodoh,” Senyum Nunik mengembang saat menepuk bahuku. Aku tak menjawab, berbalik langkah menuju motor yang terparkir di depan garasi. Kunyalakan motor dan berlalu. Dari jalan masih sempat kudengar seruan Nunik. “Hati-hati di jalan! Jangan ngebut! Cewek bukan cuma Prita aja di dunia!”

Sial!

*******

“Wah, cerpen lo bagus banget!” Wajah  Yudha berbinar. “Gue suka dengan ceritanya. Ada jiwa yang terasa di seluruh bagian cerita. Apalagi dialog-dialognya. Beuhhh…mantap!”

“Jangan lebay, deh lo.”

“Eh, beneran! Apalagi sad ending gitu, pas bagian patah hatinya terasa banget seolah yang nulis ngalamin sendiri. Uuh, kalo gue cewek, mungkin udah nangis deh.”

“Makin lebay.”

“Pasti gara-gara Prita kan? Tokoh yang patah hati itu lo kan?”

Aku menoleh. “Kok tahu? Kayaknya gue nggak pernah cerita ke lo lagi deketin siapa?”

Yudha nyengir. “Nunik. Tiga hari lalu dia cerita ke gue.”

Keningku berkerut. “Kok bisa? Kalian kan nggak dekat? Nunik ember banget deh.”

“Masak sama pacar sendiri dia nggak mau cerita? Nggak mungkinlah.” Yudha cengengesan. “Kami jadian minggu lalu,” sambungnya.

Sial!

Iklan

17 thoughts on “[Cerita Pendek] Cerpen Tentang Cinta

  1. temanmu dulu berkata:

    hmmm…hmmm… gituuuuu??? ada maunya gitu????
    emangnya aku Ember apa??
    kompi bendahara udah gk da lagi, tapi yang ini msih tetap aku simpan
    mau???? karang ulang aja lagi ga…

  2. temanmu dulu berkata:

    Ingatkah Kau Padaku?

    Ingatkah kau padaku?
    Seperti ku s’lalu ingat padamu
    Jauh perjalanan yang harus kita tempuh
    Terasa ringan langkah yang terayun
    Meniti buih hidup bersama
    Tiada keraguan

    Ku s’lalu ingat padamu
    Tak peduli apakah kau juga begitu
    Tulus harapan yang kukirimkan
    Lewat semilir hembusan bayu
    Dan percikan embun pagi
    Hidupmu kan s’lalu bersinar
    Diselubungi kebahagiaan sejati

    Hari ini tiba saat berucap
    Kata selamat ucapan doa
    Padamu yang tengah berbahagia
    Semoga segala cita dan cinta
    Menaungi hidupmu s’lalu
    Hanya satu yang ingin kutahu
    Ingatkah kau padaku?

    Jalanpanjangberliku, 020903
    Adakah Asa?
    serasa “dejavu” gak ga????

    • riga berkata:

      itu ‘semacam puisi’ yang aku buat ya Em? 10 tahun yang lalu? WOWWWW…… Eh, eh…kirimin dooong…semua tulisanku dulu yang masih nyangkut di kompie bendaraha… pliiiiissss…. 🙂

      • temanmu dulu berkata:

        hmmm…hmmm… gituuuuu??? ada maunya gitu????
        emangnya aku Ember apa??
        kompi bendahara udah gk da lagi, tapi yang ini msih tetap aku simpan
        mau???? karang ulang aja lagi ga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s