[Flashfiction] Belum Saatnya, Sayang

mati suri

Dadaku berdebar kencang. Sebentar lagi kami akan kembali bertemu. Aku dan Ibu. Sudah berapa lama ya? 10 tahun! Waktu yang sangat lama buatku.

Ibu, aku rindu. Kalimat itu yang pertama kali akan aku sampaikan pada Ibu. Lalu akan kupeluk tubuhnya erat-erat. Aku yakin Ibu akan balas memeluk, mengusap rambutku, atau mencium keningku.

“Kenapa kamu datang sekarang, Sayang?”

“Ibu…ibu tak senang aku datang?” Mataku mendadak nanar. Salahkah aku yang terlalu rindu lalu ingin segera bertemu?

“Ibu tak suka kamu di sini, Sayang. Pulanglah.”

Butiran bening menuruni pipiku. Hatiku hancur.

********

“Dokter! Napasnya berhenti!”

“Siapkan defibrilator!”

Alat pengejut jantung menyentuh dadaku. Tubuhku terlonjak. Berkali-kali.

“Dokter, aku tak ingin bangun. Aku ingin selamanya bersama ibu.”

4 komentar pada “[Flashfiction] Belum Saatnya, Sayang”

  1. Ah, sebelum bintang-bintang itu kupikir ibunya yang masih hidup. Efek puntiran endingnya jadi dobel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s