[Flashfiction] Asa Yang Hanyut

banjir

“Banyak kardusnya?” suara Emak mengagetkanku.

“Lumayanlah, Mak. Rasanya cukup buat bayar uang  LKS.”

“Kalau masih kurang, Emak tambahin.”

Aku tersenyum pada Emak. Ia ngotot ingin aku terus bersekolah. “Pokoknya anak Emak harus pinter. Jangan kayak Emak ini, bodoh.”

Ah, buatku Emak adalah orang paling pintar sedunia. Ia bisa jadi apa saja supaya kami bisa makan. Jadi pemulung, buruh cuci, tukang masak, bahkan jadi tukang parkir dadakan.

“Sudah malam, Dek. Tidur sana.”

Aku menurut. Kuletakkan kardus-kardus bekas yang sudah kuikat rapi di dekat pintu, lalu merebahkan diri. Tak lama akupun seolah bermimpi. Kulihat Emak berteriak-teriak tanpa suara padaku. Aku tak mengerti, sampai sebuah tepukan mendarat di pipi.

“Bangun, Dek! Gubuk kita kebanjiran!”

Iklan

2 thoughts on “[Flashfiction] Asa Yang Hanyut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s