[Flashfiction] Anakku Matahari

Terik. Angin mati.

Matahari seolah sejengkal jarak dari kepala. Marwan mengelap lelehan keringat di wajah. Napasnya mengembus keras.

Marwan melirik pria tambun yang duduk santai di becaknya. Sebersit iri menyelimuti hati. Ah, nasib tiap orang berbeda, yang penting kerja keras. Marwan menenangkan batinnya.

“Stop bang.”

Baru saja lelaki itu turun seorang bocah lucu menyongsong. “Papaaaaa.”

Lelaki itu segera memeluk si bocah lalu tertawa riang. Marwan memandangi mereka, lalu sebuncah rindu menyeruak di dada. Gegas ia mengayuh becak. Pulang.

Di rumah sederhananya ia temukan matahari ke dua dalam hidupnya. Bocah mungil di kursi itu tidak menyongsongnya. Ia hanya menatap tanpa perhatian, tertawa ganjil dan meneteskan liur. Marwan menatap penuh cinta.

“Anakku sayang.”

Iklan

2 thoughts on “[Flashfiction] Anakku Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s