[Cerita Hati] Salaman

Seberapa sering dalam sehari kamu menyalami orang lain? Jawaban pasti beragam. Bisa sekali (salam pada orang tua saat berangkat kerja atau sekolah atau saat pamit pergi), lebih dari sekali (pejabat yang mesti menyalami bawahan?), atau nggak sama sekali? Ya, sekali lagi ditegaskan, jawabannya pasti beragam. Lalu bagaimanakah sikap tubuh kita saat bersalaman? Menatap langsung ke mata yang disalami? Sambil sedikit membungkuk jika orang yang disalami lebih tua atau lebih tinggi jabatannya? Atau malah sekedar menjulurkan tangan sambil mata dan pikiran mengembara entah ke mana?

Yang sering saya alami -biasanya saat selesai shalat jamaah- adalah disalami tanpa dilihat. Wow! Gimana maksudnya tuh? Yah, cuma tangan yang disodorkan sementara orangnya sedang menatap ke arah lain, atau malah sedang ngobrol dengan orang lain. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Kalo saya bilang sih, terserah masing-masing aja. Kalo saya lagi males mikir, ya disalami juga. Kadang sambil balas tak melihat, biar impas. -ooops :D. Kalo sedang iseng, saya biarin aja itu tangan mengambang tanpa sambutan. Atau saya genggam tangannya dan nggak dilepas sampai orang itu benar-benar melihat ke saya. Hehe

Ah…apa susahnya sih menjabat tangan orang sambil memandang orangnya langsung, apalagi sambil tersenyum. Apalagi kalau senyumnya manis.

Ah… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s