[Cerita Pendek] Aku Pasti Datang

“Tunggu sebentar lagi yah. Udah sampe simpang lampu merah nih! Pasti datang lah”

Ugh! Simpang lampu merah? Lampu merah mana? Yang dekat rumah? Ini sms Abid yang kedua dalam waktu satu jam terakhir. 30  menit lalu dia sms katanya sudah sampai di simpang Kampung Lalang, artinya hanya perlu sekitar 20 menit untuk sampai di Plaza Medan Fair. Plaza ini adalah tempat kami janjian bertemu pertama kali setelah sekitar 2 bulan berkomunikasi hanya melalui sms dan telepon. Kuputuskan untuk tidak membalas smsnya. Rasa kesal masih menguasai. Kusesap lagi jus jeruk yang kini tinggal separuh. Kulirik jam di tangan kiriku : 19.55. Aku tunggu paling lama 15 menit lagi. Jika ia belum sampai juga, aku akan pulang.

Shinta pemilik kafe yang sudah kukenal menghampiri. “Belum datang juga nih pangerannya?” Ia mengerling jahil.

“Ih, apaan sih? Cuman nunggu kawan kok.” Aku berkilah.

“Ya sudah, kalau udah datang, ntar kenalin ke aku yah.” Ia berlalu sambil tertawa kecil. Aku kembali diam.

Sembari menunggu, kuedarkan pandangan kepada para pengunjung kafe yang sedang melakukan berbagai aktivitas, entah sekedar duduk membaca, mendengarkan musik, atau ngobrol dengan teman. Di pojok sebelah kanan kulihat sepasang remaja sedang asyik ngobrol. Si gadis bercerita dengan semangat sementara pemuda imut di depannya menatap dengan pandangan kagum. Apa nanti aku dan Abid akan ngobrol seperti itu juga ya?

Ah…

Kenapa malah berpikir seperti itu? Kami baru kenal dua bulan, itu pun awalnya lewat sms nyasar. Memang sih, kalau di sms atau telepon kami akan ngobrol dengan seru, membicarakan banyak hal. Abid tahu caranya menghidupkan percakapan. Jika obrolan mulai garing, ia akan melemparkan joke yang bisa membuatku sakit perut karena tertawa. Seperti kemarin.

“Nin….bosen ya?”

“Yah, dikit. Abis, ga tau lagi mau ngobrolin apa.”

“Hm…kalo gitu, aku punya cerita nih. Mau denger?”

“Boleh.”

“Jadi ceritanya ada tiga orang cewek – si rambut pirang, si rambut merah, dan si rambut coklat- yang terdampar di sebuah pulau kecil. Sebenernya sih, jarak antara pulau itu dengan pulau utama nggak terlalu jauh. Masalahnya, saat itu sedang tidak ada pelayaran yang melintasi pulau itu, dan mereka nggak punya apapun untuk dibakar. Yah, buat tanda SOS gitu.” Abid diam sejenak menanti reaksiku.

“Trus, gimana ceritanya?

“Nah, akhirnya mereka memutuskan untuk berenang ke pulau utama. Giliran pertama adalah si rambut coklat. Eh, baru seperempat perjalanan dia kelelahan, kakinya kram lalu tenggelam.”

“Waduh!”

“Iya, giliran kedua adalah si rambut merah. Tapi dia juga nggak berhasil. Baru sepertiga perjalanan dia udah kelelahan trus tenggelam.”

“Kasian banget.”

“Akhirnya si pirang pun berenang. Tapi baru separuh perjalanan dia juga merasa kelelahan, jadi dia memutuskan untuk berenang kembali ke tempat mereka terdampar.”

Abid menyelesaikan ceritanya dengan sebuah tawa keras. Butuh lima detik bagiku untuk menyadari bagian mana yang lucu dari cerita ini. Setelah menyadari, baru aku ikut tertawa. Bahkan lebih keras.

Hahahahahahaha.

“Hush…anak gadis kok ketawa ngakak kayak gitu. Gak elok.” Lalu ia kembali tertawa.

Ah…Abid memang suka bercanda.Ada saja ceritanya yang bisa membuatku tertawa dan sejenak melupakan masalah hubunganku dengan Bian yang memburuk. Ah, aku sedang tak ingin mengingat-ingat hal itu.

“…i feel goooooodd……” Suara nyaring Barry White memecah lamunan. Pesan dari Abid.

“Nin,  maaf aku terjebak kecelakaan di depan plaza, jadi aku nggak bisa ke mana-mana. Temui aku ya. Aku pake jaket  biru muda.”

Uh..apa-apaan sih ini? Kenapa juga nggak bisa ke mana-mana? Lagian, beneran adakecelakaan nggak sih? Keraguanku pupus saat seorang pengunjung yang baru masuk berbisik pelan pada temannya.

“Iya, kecelakaan. Motor terjepit dua mobil boks. Pengendaranya, hiii…kegencet lah.” Gadis itu bergidik. Aku menajamkan telinga.

“Kok bisa? Yah, kata yang ngeliat sih dia nyalip di antara dua mobil. Eh, pas nyalip gitu, mobil yang di depan mendadak berenti dan yang di belakang ga sempat ngerem. Jadi…ya gitu deh.” Gadis itu mengusap wajahnya.

Mendengar cerita gadis itu seperti ada sebuah kekuatan tak terlihat yang menggerakkan tubuhku untuk segera melihat lokasi kecelakaan. Setengah berteriak kupanggil Shinta.

“Shin, bentar yah. Aku mau liat ke depan dulu, ntar balik lagi.” Shinta mengangguk dari balik meja kasir.

Tergesa-gesa aku menuju bagian depan Plaza. Jalan Gatot Subroto ini memang selalu ramai. Di depan sebuah halte ada kerumunan orang. Beberapa polisi lalu lintas berusaha mengamankan lokasi dari orang-orang yang ingin tahu. Ada dua mobil boks berukuran besar di depan halte. Dan di antara keduanya ada sebuah motor matic. Astaga! Kuseberangi jalan satu arah yang kini semakin macet. Sebelum sampai di pembatas antara dua jalur seorang polisi lalu lintas mengadang jalanku.

“Maaf, dek. Nggak boleh lewat. Korban sedang ditangani paramedis.”

“Pak, saya mau lihat. Mungkin itu temen saya, Pak.” Kutatap wajah polisi setengah baya itu. Ia menggeleng sambil tersenyum. “Nggak bisa.”

Aku mengalah. Dari sela-sela kerumunan kulihat dua orang berpakaian putih-putih keluar dari sebuah ambulans yang baru tiba. Sigap mereka mengeluarkan sebuah brankar. Lalu ada aba-aba untuk memundurkan truk yang di belakang. Suasana kian riuh oleh teriakan-teriakan dari polisi yang menghalau kerumunan, petugas medis yang berusaha memindahkan tubuh yang tergencet, dan ucapan-ucapan kerumunan yang berdengung seperti lebah.

Sekilas kutangkap bayangan sesosok tubuh yang penuh darah diangkat dari motor dan dibaringkan ke atas brankar. Tubuh itu segera ditutup dengan kain putih dan didorong menuju ambulans. Saat kaki brankar dinaikkan, tangan korban terkulai menjuntai keluar dari kain penutup. Hatiku tercekat. Tangan itu dibalut jaket. Warna biru muda! Kepalaku mendadak pusing. Tadi Abid bilang dia akan datang dengan memakai jaket biru muda. Apakah itu dia? Sungguh aku tak berani menduga.

Kukeluarkan ponsel dan menekan nomor Abid. Nihil. Suara operator memberitahukan kalau nomor Abid sedang tidak bisa dihubungi atau berada di luar jangkauan. Kuputuskan untuk kembali ke kafe.

Shinta menyambutku di depan pintu.

“Eh, kok mukamu pucat gitu? Minum dulu gih.” Aku menurut.

Shinta kembali bicara. “Tadi pas kamu keluar ada cowok ganteng nyariin kamu. Dia bilang udah janjian sama kamu.”

Aku menoleh. “Siapa namanya?”

“Dia nggak bilang sih. Dia cuma nitip ini nih.” Shinta mengangsurkan sehelai post-it yang dilipat jadi dua. “Tapi aneh ya, pergi dan datangnya kayak hantu gitu. Tiba-tiba ada, eh tiba-tiba juga hilang gitu aja. ”  Tak kuhiraukan kalimat Shinta yang terakhir. Kubuka perlahan kertas berwana biru muda itu. Hanya ada sebaris kalimat yang tertera.

“Sudah aku bilang kan, aku pasti datang.”

~ Abid

Kepalaku mendadak pusing.

Iklan

6 thoughts on “[Cerita Pendek] Aku Pasti Datang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s