[Cerita Pendek] Perempuan Perempuan Pasar

Kamar sempit berukuran 2 x 3 meter itu masih gelap. Hanya ada setitik bara merah di sudut kamar, obat nyamuk yang masih menyisakan sedikit lingkaran hijaunya. Anah, membuka matanya. Perlahan ia bangun dan duduk di kasur sambil meregangkan tubuh gempalnya. Anah menoleh ke sebelah. Mak Uyun masih meringkuk pulas. Anah menggoyang-goyang tubuh Mak Uyun perlahan. “Mak, bangun! Hari ini ke pasar tak?”

Tubuh ringkih dengan kulit mengisut yang terbaring meringkuk di atas kasur butut itu masih diam. Anah menghela napas. Pasti Mak Uyun benar-benar kelelahan, pikirnya. Anah  mengucek matanya berusaha mengusir kantuk yang masih melekat.

“Oaheemmm…”

Anah menguap lebar, berjalan ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar. Udara sejuk segera menyerbu kulit. Segar, gumam Anah. Di langit masih ada sepotong bulan menyinari alam, memberi sedikit pencahayaan buat kamar yang gelap. Anah melirik sekilas ke arah jam dinding tanpa kaca yang tergantung di atas pintu kamar. Pukul 3.30 pagi. Anah menguap lagi lalu menggaruk-garuk punggungnya yang gatal. Duh, pasti masih ada kutu busuk yang bersarang di kasurku. Esok sore akan aku periksa lagi, janji Anah dalam hati. Anah keluar dari kamar, menuju kamar sebelah kirinya yang ditempati oleh Tati dan Nana.

Pintu kamar yang tak terkunci di dorong perlahan oleh Anah. Kamar itu sedikit terang, lampu pijar 5 watt membantu mata Anah mengenali seisi kamar. Kasur Tati ada di sebelah kanan, dan Nana di sebelah kiri. Anah bergegas membangunkan keduanya.

“Tati! Nana! Ayok cepat bangun! Udah setengah empat! Nanti tak kebagian jatah pulak kita.”

Tati dan Nana tersentak berbarengan. Sigap keduanya duduk dari tidurnya.

“Hah! Jam berapa, Nah?” tanya Nana.

“Jam setengah empat. Dah, cepat kalian bangun. Aku mau tahajud dulu.” Anah keluar dari kamar Nana dan Tati, menuju kamar mandi yang terletak di luar rumah mereka. Rumah petak dengan dua kamar, dapur kecil dan ruang tamu. Mereka sengaja mengontrak beramai-ramai untuk menghemat ongkos. Anah menyapukan air dingin ke sekujur wajah. Seketika kesegaran menyerbu segenap indra. Anah diam sejenak, meresapi kesejukan yang ia rasakan. Setelah itu Anah melanjutkan wudhunya.

Ketika Anah masuk ke dalam kamar, Mak Uyun sudah bangun. Perempuan tua berusia menjelang enam puluh tahun itu duduk menyandar ke dinding. Anah menyalakan lampu. Ia terkesiap melihat Mak Uyun tengah menangis.

“Mak! Kenapa, Mak? Sakit?” Anah meletakkan kembali mukena yang sudah dipegangnya. Mak Uyun menggeleng.

“Kangen kampung.”

Hati Anah mencelos mendengar ucapan Mak Uyun. Kangen kampung? Siapa sih di antara kami berempat – Aku, Tati, Nana, dan Mak Uyun- yang tidak kangen dengan kampung? Kami semua kangen ingin pulang ke kampung, hidup tenang bersama anak cucu, menikmati masa tua. Tapi jalan hidup telah membawa kami semua ke mari. Bukan hidup seperti ini yang ada dalam bayangan kami semua. Bangun sepagi ini dan  bergegas menuju pasar, menunggu pedagang menurunkan aneka dagangan mereka seperti sayuran, rempah-rempah, beras, buah-buahan, atau apa saja.  Setelah mobil-mobil pik-ap itu tiba, pemilik dagangan akan memberi mereka perintah ini itu.  Entah untuk memindah-mindahkan karung – bagi yang fisiknya masih kuat-, membersihkan akar dan daun bawang, memetik tangkai cabai, menyiangi sayuran, atau membersihkan buah. Tidak ada yang pilih-pilih kerjaan. Sekali waktu ada pedagang hasil laut yang meminta mereka membersihkan kerang-kerang yang baru saja dipanen. Itu pun mereka lakukan tanpa mengeluh. Bau menyengat dari kerang tak lagi mengganggu penciuman. Aroma pedas dari cabai yang dipetik tangkainya atau bawang yang disiangi daun dan akarnya tak lagi memerihkan mata. Semua sudah kebal karena telah bertahun-tahun mengerjakan hal-hal semacam itu.

Anah menyeka air mata di pipi Mak Uyun, lalu melakukan hal yang serupa untuk pipinya sendiri. Ia memilih kata-kata yang tepat untuk menghibur wanita tua yang telah dianggapnya sebagai ibu kandung.

“Mak, sabar lah Mak. Mak kumpulin duit yang banyak, nantik Anah bantuin sebisanya.”

“Seberapa banyak?” Mak Uyun bertanya tanpa memandang Anah. Pertanyaan yang menyesakkan. Mak Uyun tahu, jumlah uang yang diperlukan untuk pulang kampung sangat banyak. Ia harus menaiki kapal laut menyeberang selat Sunda, lalu melanjutkan perjalanan sekian jam menuju kampungnya di pelosok tanah Minang. Ia pun tidak tahu apakah fisiknya masih sanggup.

“Gak tahu aku, Mak. Banyak memang. Tapi Mak tak boleh putus asa. Ya, Mak?”

“Mungkin sampai mati aku bakalan di sini terus, ya.”

“Mak….”

“Memang di kampung nggak ada siapa-siapa, tapi paling nggak dekat sama kuburan orang tua. Bisa sering-sering ziarah. Ah, rumahku kayak apa ya sekarang? 15 tahun ditinggal mungkin sekarang makin buruk keadaannya.”

Mak Uyun terus berbicara, Anah hanya bisa diam mendengarkan.

“Ah, aku kok malah jadi sedih begini ya, Nah? Ya, sudah. Kamu shalat gih. Abis itu aku pinjam mukenamu ya. Mukenaku masih basah kena hujan semalam gara-gara lupa diangkat.” Mak Uyun bangkit dan ke luar dari kamar. Anah mendesah. Ia memakai mukena,  menghamparkan sajadah, lalu mulai shalat.

*****

Tepat pukul empat pagi, Anah, Mak Uyun, Tati dan Nana telah siap berangkat menuju Pasar Induk Jati. Letak pasar itu memang tidak terlalu jauh, sekitar dua kilometer dari rumah petak mereka. Jalan menuju pasar memang sudah mulai ramai dengan angkot dan  tukang ojek yang saling berebut penumpang, namun mereka selalu berjalan kaki untuk menghemat ongkos. Sambil berjalan mereka bertukar cerita, bercanda, saling memberi kabar keluarga masing-masing di kampung. Persahabatan yang telah mereka mulai sejak sekitar lima tahun silam sudah semakin erat.

Tati mencolek pinggang Mak Uyun. “Mak, masih sanggup jalan kan?”

“Masih. Biar tua begini, aku masih kuat kok.” Mak Uyun menegakkan tubuhnya, berusaha tampak gagah. Justru tingkahnya itu membuat ke tiga temannya tertawa.

“Hahaha, Mak malah keliatan kayak robot kalo jalannya gitu, ” kata Nana.

“Mak, kami punya rencana buat Mak.” Nana menghentikan ucapannya, lalu melirik dua teman di sebelahnya. Yang dilirik melirik sambil tersenyum.

“Eh, rencana apaan?” Mata Mak Uyun membesar.

“Gini, Mak. Mak tahu si Dimo satpam pasar itu kan? Yang badannya besar dan baik hati itu?” Mak Uyun mengangguk.

“Dia baru beli motor, Mak.”

“Lalu, apa hubungannya sama aku?” Wajah Mak Uyun menyiratkan kebingungan.

“Karena dia sudah punya motor, jadi sepeda yang bisa dia pakai, mau dia jual. Murah, Mak. Cuma seratus ribu aja. Bisa Mak pakai kalo ke pasar atau tempat lain. Ya bisa juga buat kita pakai rame-rame kan?”

“Ah, mana punya aku duit buat beli sepeda.” Wajah Mak Uyun memuram. Anah, Tati dan Nana saling berpandangan sambil tersenyum.

“Kami lah yang belikan, Mak. Kalok dibagi tiga, tak terlalu mahal lah. Apalagi setelah si Dimo tahu sepeda itu mau kami kasih ke Mak dia mau nurunin harganya jadi tujuh lima aja. Baik ya dia, Mak.”

Mata Mak Uyun kembali membasah. Anah, Tati dan Nana bukan sekedar teman serumah, bekerja di pasar yang sama, tapi juga sudah seperti anak-anaknya. Serak suara yang keluar dari mulut Mak Uyun. “Kalian selalu baik sama aku. Aku cuma bisa bilang makasih. Biar Gusti Allah yang balas kebaikan kalian semua.”

Nana tertawa kecil sambil merangkul bahu kurus Mak Uyun. “Iya, Mak. Kami semua dah anggap Mak kayak Mak kami sendiri. Mak kan tahu, emak kami semua dah pada almarhumah, dah pada meninggal.”

Tiba-tiba Anah menepuk jidatnya. “Eh tapi Mak, lupa kami tanyak sama Mak.” Semua mata tertuju padanya. Sambil tersenyum nakal, Anah berujar, “Mak bisa naek sepeda kan?”

Hahahahaha……tawa empat perempuan membuncah. Pagi kian rekah. Sebentar lagi, tempat mereka mengais rejeki akan terlihat.

*****

“Mak, tunggu di sini ya. Biar aku yang datangin pik-ap itu.” Anah yang bertubuh gempal meminta Mak Uyun untuk duduk di emperan sebuah toko baju anak. Mak Uyun menurut. Ia memandangi Anah yang sedang berbicara dengan pemilik barang dagangan. Sayup sayup ia mendengar ke duanya saling tawar menawar.

“Bang Jon, tambahin lah. Udah lama kali upahnya tak naik-naik. Seratus-dua ratus pun jadi lah.” Anah menatap lelaki dengan kepala separuh botak dan berperut buncit. Yang ditatap sejenak berpikir.

Anah melihat kesempatan untuk merayu. “Iya lah, Bang. Tambah lah sikit. Tak kasian abang liat kami udah tua-tua macam gini? Kami jamin lah, Bang, kami ini kerjanya rapi dan bersih.”

Lelaki pemilih barang dagangan menghela napas. “Ya udah, aku tambah seratus lima puluh. Tapi cuma buat ongkos bersihin bawang merah dan bawang putih. Upah petik tangkai cabe aku tambah cepek aja.”

Lelaki itu segera mengangkat jarinya, tepat ketika Anah membuka mulut hendak menawar. “Kalau kau gak mau, ya udah aku cari orang lain aja.”

Anah nyengir. “Ya lah, Bang. Kami mau. Jadi, upah petik cabe enam ratus sekilo dan upah bersihin bawang jadi seribu tujuh ratus kan?”

“Iya!”

“Jangan marah lah, Bang. Kan cuma mau mastiin aja.” Anah kembali nyengir melihat lelaki itu sedikit manyun.

“Yoyon! Bantuin Kak Anah ini pindahkan karung dari mobil.” Si lelaki berteriak memanggil sopir sekaligus pesuruhnya. “Turunkan semuanya di depan toko. Lima karung cabe dan tiga karung bawang kasihkan ke Kak Anah sama Mak Uyun di situ. Kalo udah beres, kamu buka toko lalu pulang ke rumah. Aku mau tidur dulu di mushalla.” Ia melenggang ke mushalla yang terletak hanya beberapa belas meter dari tokonya.

Anah dan Yoyon mengangkat satu demi satu karung rempah-rempah itu ke depan toko, tepat di hadapan Mak Uyun yang sejak tadi menunggu.

“Mak, ini jatah kita hari ini. Alhamdulillah, kayaknya lumayan banyak duit yang bisa kita bawa pulang nanti.” Mak Uyun tersenyum. “Kamu belum subuhan kan? Shalat gih. Nanti gantian kita. Sudah hampir jam lima.” Anah mengangguk, bergegas menuju mushalla pasar.

******

Mak Uyun sibuk membersihkan bawang merah yang menumpuk di depannya. Satu per satu bawang merah itu ia potong bagian akar dan daunnya. Sedangkan cabe ia bersihkan dari dedaunan atau kotoran yang masih menempel, lalu membuang bagian tangkainnya. Harga cabe dan bawang merah yang telah dibersihkan lebih tinggi ketimbang yang belum. Setelah satu jam bekerja, punggungnya terasa pegal. Mak Uyun memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak ke depan pasar. Setelah berpesan pada Anah, ia melangkah perlahan. Lima puluh meter di depannya ia melihat Siti, salah satu pemulung di pasar sedang memilah-milah sayuran yang dibuang pedagang karena dianggap kurang baik. Mak Uyun mendekat.

“Dapat banyak, Ti?” Mak Uyun menegur.

Siti menoleh ke belakang. “Eh, ada Mak Uyun. Dapat juga Mak. Yang ini masih bagus. Buang dikit daun yang coklat udah bisa dimasak deh.” Sambil bicara Siti mengacungkan seikat pakis.

Mak Uyun tersenyum. “Anakmu yang paling kecil, si Jaja itu udah sembuh dari demamnya?”

“Udah, Mak. Alhamdulillah, udah dibawa ke mantri. Tadi juga udah masuk sekolah lagi.” Siti menyahut tanpa menoleh. Mak Uyun tak merasa tersinggung. Siti harus bekerja dengan cepat. Sebab sekitar jam tujuh petugas kebersihan akan datang dengan truk sampah dan mengangkut semua sampah yang sudah dibuang.

“Aku balik dulu ya, Ti.”

“Iya, Mak.” Siti menoleh sebentar, tersenyum lalu kembali mengais sampah.

Setelah lima menit berkeliling sambil menyapa orang-orang yang bekerja di pasar, Mak Uyun memutuskan kembali ke tempat tadi bekerja. Sebelum sampai, ia berbelok ke kanan menuju bagian belakang pasar, hendak menuntaskan hajat yang mulai terasa. “Biar ntar nggak perlu ke toilet lagi,” pikir Mak Uyun. Kakinya ia langkahkan perlahan. Jalan menuju toilet masih sepi. Sepagi ini biasanya penjaga toilet belum datang. Deretan toko di kiri dan kanan adalah toko-toko penjual baju yang baru buka sekitar pukul delapan pagi. Sebagian lagi masih kosong karena belum ada penyewa. Tiba-tiba sebersit perasaan tak enak muncul di hatinya. Sepertinya ia melihat bayangan seseorang saat menoleh ke belakang. Kuduk Mak Uyun meremang. Terdengar suara berdesir dari balik tumpukan peti kayu di belakangnya. Tanpa menoleh Mak Uyun mempercepat langkah. Tapi tiba-tiba sebuah tangan hinggap di bahunya. Lalu sebuah benda tajam terasa menekan pinggang kurus Mak Uyun. Wajah Mak Uyun memucat.

“Serahin duitnya, Mak.” Sebuah suara berat terdengar mengancam.

Tubuh Mak Uyun gemetar. “Duit? Duit apa?”

“Jangan pura-pura! Aku tahu Mak pegang duit!” Lelaki dengan suara yang dibuat berat itu menggertak.

“Jangan! Jangan apa-apain saya.” Lelaki itu hanya menggeram.

Mak Uyun terus memohon dengan suara memelas. Pikirannya kalut. Dari mana lelaki ini tahu dia punya uang? Pasti dia melihat saat seorang pekerja di pasar menyerahkan uang tarikan arisan pasar. Tidak banyak, cuma lima ratus ribu. Tapi uang itu sangat berarti buat Mak Uyun. Terlintas pikiran untuk mencoba kabur, tapi pasti dia akan kalah cepat. Selain itu benda tajam yang makin ditekan di pinggangnya membuat ia tidak berani bergerak. Kulit pinggangnya terasa perih.

“Awas! Jangan coba-coba teriak.” Lelaki itu kembali mengancam.

Mak Uyun menyerah. Lebih baik selamatkan nyawa, pikirnya. Perlahan diraihnya dompet kecil dari balik lipatan kain di pinggangnya, dan menyodorkan benda kecil itu pada si penodong. Lelaki itu merenggut dompet dengan kasar, mendorong tubuh ringkih Mak Uyun lalu tergesa berlari menjauh. Tubuh Mak Uyun terasa lemas. Ia terduduk tanpa daya di atas jalan semen. Ia diam tak mampu bicara.

Entah berapa menit ia diam seperti patung, sampai sebuah suara menyentakkan kesadarannya. “Mak!”

Anah!

“Mak! Ngapain duduk di situ? Mak dari mana aja? Anah carik ke sana ke mari tak ketemu. Rupanya di sini.”

“Anah…”

Anah menyadari sesuatu telah terjadi. Bergegas ia mendekati Mak Uyun yang masih terduduk memunggunginya. Anah terkesiap.

“Mak, pinggang Mak berdarah! Mak jatuh?”

“Anah….” Begitu Anah duduk di sampingnya, Mak Uyun langsung memeluk tubuh gempal itu dan menangis tersedu-sedu.

“Eh..eh…Mak kenapa nangis? Bilang sama aku Mak? Mak sakit?” Wajah Anah tampak cemas.

“Aku ditodong, Nah. Uangku diambil semuanya.” Mak Uyun kembali menangis.

“Astaghfirullah. Ya Allah! Kok ada orang yang tega kayak gitu sama Mak! Kalok aku tangkap orangnya, habis nanti kuhajar dia!” Mata Anah merah, sungguh ia marah pada penodong yang tega menyakiti orang tua yang dia sayangi. Tangan Anah mengepal. Lalu ia peluk erat tubuh tua itu, membiarkan Mak Uyun menangis.

“Anah, bantu aku bangun. Habis itu tolong antarin aku pulang, ya. Aku mau di rumah saja.” Suara Mak Uyun terdengar letih. Kejadian ini sungguh mengejutkannya. Ini pertama kalinya ia jadi korban kejahatan di pasar.

“Iya, Mak.” Anah memegang pinggang Mak Uyun dengan hati-hati. Sesekali Mak Uyun meringis ketika luka di pinggangnya menyebabkan rasa nyeri. Anah menatap Mak Uyun dengan pandangan iba.

Di persimpangan toko, mereka berpapasan dengan Dimo. Mendadak Anah gusar.

“Heh, Dimo! Macam mana kerja kalian mengamankan pasar ini, ha! Tidur aja kerja kalian, ya? Tak tau kalian ada tukang todong keliaran di sini. Kau liat Mak Uyun. Udah ditodong dan diambil duitnya, luka pulak pinggangnya kenak pisau.”

Dimo gelagapan. “Eh, ada apa nih Kak? Kok baru ketemu udah marah-marah?”

“Eh, macam mana pulak aku tak marah? Tiap hari kau kutip itu yang namanya uang keamanan. Tapi jaga keamanan kau tak bisa. Mana itu kawan kau si Juki, ha? Belum datang dia, kan? Masih tidur di rumahnya, kan? Nah, macam itu lah kerja kalian.”

“Tapi, Kak….”

“Alah, udah jangan banyak cakap kau. Kerja aja yang bagus. Awas kalok masih ada kejadian macam gini lagi.”

“Anah…pinggangku sakit. Ayo, kita cepat pulang.” Mak Uyun kembali meringis.

“Kak, biar kubantu gendong Mak Uyun ke pos satpam. Ada obat merah di sana.”

“Tak usah! Aku pun sanggup gendong Mak Uyun. Kami mau pulang aja!” Anah menukas sengit. Mak Uyun memejamkan mata menahan sakit.

“Mak, tahan sikit ya. Di depan nantik kita naik becak, langsung ke rumah mantri itu. Mudah-mudahan ada dia di rumah.” Anah berkata lembut. Melihat Dimo hanya berdiri mematung di tempatnya, Anah kembali meradang.

“Heh, kau Dimo! Bikin diri kau berguna sikit! Panggilkan becak! Tak kau lihat Mak Uyun udah kesakitan kayak gini, hah?”

Dimo bergegas berlari ke depan pasar, tak berani menentang Anah yang sedang marah. Tak sampai semenit, sebuah becak menghampiri Anah dan Mak Uyun. Dimo mengiringi di belakang.

Sebelum becak berlalu, Anah menitipkan pesan. “Tolong kau carik si Tati dan Nana. Ceritain kejadiannya dan bilang kalok kami pulang duluan. Abis itu, kau temui Bang Jon yang tokonya dekat mushalla itu, mintakan izin buat kami. Aku yakin bisa dia ngerti.”

Dimo mengangguk. Menatap dengan pandangan bersalah pada becak yang perlahan meninggalkan areal pasar.

***********

Mak Uyun duduk melamun di ruang tamu sempit di rumah petaknya. Ini hari ke tiga ia tidak ke pasar. Kejadian penodongan masih membekas di pikirannya. Uang yang hilang telah ia ikhlaskan, tapi keberaniannya masih belum muncul.

“Ah…..” Mak Uyun mendesah pelan. Di luar sana senja telah hadir. Menyemburatkan kegelapan ke seluruh penjuru langit. Sedikit sisa cahaya matahari sudah tak mampu menerangi ruangan kecil tempat Mak Uyun duduk. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju saklar lampu.

Klik.

Ruangan kini benderang. Sebentar lagi Anah, Tati dan Nana akan pulang. Mak Uyun menuju pintu depan. Matanya memicing. Ada beberapa sosok dari kejauhan yang berjalan ke arah rumah. Siapa mereka? Semakin dekat, semakin jelas sosok-sosok itu. Anah, Tati, Nana, Dimo dan….Juki? Mau apa mereka ke mari, Mak Uyun membatin. Kelima sosok itu telah sampai di teras rumah.

“Assalamualaikum,” seru mereka hampir berbarengan. Mereka masuk dan duduk di kursi rotan di ruang tamu.

“Alaikumsalam,” jawab Mak Uyun. “Eh, ada apa ini kalian rame-rame ke mari? Loh, itu si Juki kok mukanya berdarah? Abis jatuh ya Juki?”

Juki hanya diam.

“Heh, Juki! Ngomong kau sekarang! Jangan diam aja, kuhantam kau nantik.” Anah membentak garang. Mak Uyun menatap penuh keheranan. Juki mengkerut di kursinya.

“Juki!” Suara Dimo menggelegar. Mak Uyun terkesiap. “Kalian ini kenapa sih? Kok marah-marah sama Juki? Emang dia salah apa?”

“Juki ini Mak yang tempo hari menodong dan melukai pinggang Mak!” Suara Tati dan Nana yang geram terdengar nyaris berbarengan. Tatapan mata mereka seakan ingin menerkam Juki. Mak Uyun membelalak tak percaya. Anak muda ini?

“Maakk…..” mendadak Juki menghambur ke hadapan Mak Uyun lalu memeluk erat kaki perempuan tua itu. “Maafin Juki, Mak. Maafin Juki. Juki terpaksa, Mak. Juki butuh uang.” Juki tersedu sambil terus memeluk kaki Mak Uyun. Mak Uyun masih terdiam tak percaya.

“Juki perlu duit buat biaya melahirkan istri Juki, Mak. Juki udah pinjam sana-sini tak nggak dapat juga duitnya. Juki terpaksa, Mak. Juki minta maaf.” Juki terus tersedu.

Dimo bersuara, “Jadi, Mak. Aku nggak sengaja mergokin dia lagi buang dompet, Mak. Aku curiga, itu kan dompet perempuan. Jadi kuambil dompet itu, ku kasih lihat kak Anah. Kak Anah bilang itu dompet punya Mak.”

“Lalu kami datangi si Juki ini di rumahnya, Mak. Kami paksa dia ngaku. Eh, nggak mau ngaku dia, Mak. Kak Anah jadi kesal, ditonjoknya muka si Juki ini sampe berdarah hidungnya.” Tati menjelaskan dengan semangat.

“Trus kami seret dia ke mari, Mak. Biar ngaku di depan Mak. Trus kita bawa ke polisi.” Kali ini Nana yang bersuara.

Juki tersentak. “Ampun, Mak. Jangan lapor ke polisi, Mak. Kasian anak dan istriku kalau aku sampai masuk penjara. Tolonglah Mak..” Kini Juki menangis.

“Alaaah, waktu menodong kau pasti tak cengeng macam gini, kan?”

Juki tak menjawab, hanya isaknya yang terdengar.

Mak Uyun menarik napas panjang. Ia tatap wajah Juki yang memelas, lalu wajah teman-temannya yang masih tampak marah. Ia tersenyum. “Aku sudah ikhlas dengan kejadian waktu itu. Aku sudah maafkan kamu.”

“Mak!” suara-suara bernada protes sontak terdengar.

“Ssst…sudah-sudah. Buat apa menyimpan dendam, nggak guna kan? Juki udah minta maaf. Luka di pinggangku juga udah hampir sembuh. Kalau kita bawa dia ke kantor polisi trus di penjara, nanti siapa yang cari duit buat istri dan anaknya yang baru lahir?” Mereka semua terdiam.

Akhirnya Nana menjawab, “Yah, paling nggak minta dia kembaliin duit Mak itu dong.”

Juki menimpali, “Iya, Mak. Pasti aku ganti. Tapi nyicil ya Mak?” Mak Uyun mengangguk. Juki tersenyum lega.

Melihat teman-temannya masih kurang puas, Mak Uyun hanya berujar singkat. “Mudah-mudahan niat baik aku ini diberi ganjaran sama Allah, aku bisa pulang kampung.”

Serempak Nana, Tati dan Anah saling memandang, lalu berseru, “Amiiiin.”

“Eh, Juki, anakmu laki-laki apa perempuan?” tanya Mak Uyun.

“Perempuan, Mak.”

“Ooo…”

“Mak, nama Mak sebenarnya siapa ya?”

“Yunita. Kenapa, Juki?”

“Aku mau namain anak perempuanku dengan nama Mak. Boleh, Mak?”

Mak Uyun tersenyum lebar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s