[Cerita Pendek] Membunuh Cinta

Ruangan luas milik sebuah restoran cepat saji ternama yang berdiri di sisi jalan utama kota metropolitan ini tidak penuh, bisa disebut sedikit lengang malah. Mungkin karena sekarang telah masuk waktu maghrib. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Satu ada di sebelah kiri meja yang kutempati, dua meja lagi ada di seberang mejaku, terletak tepat di sebelah kanan pintu masuk. Tak ada obrolan ramai yang mengganggu telinga. Semua tampak asyik menyantap pesanan masing-masing.

Di depanku terletak sepiring ayam goreng, soda dalam gelas styrofoam berukuran sedang, serta satu piring lain tempat aku menumpukkan saus serta sambal. Kelihatannya lezat, tapi aku sama sekali tak punya selera untuk menyantapnya. Kulirik jam di dinding restoran, 18.15. Hem, sudah lima belas menit lewat dari waktu yang dia janjikan. Kemana sih dia? Kualihkan pandanganku ke arah jalan raya. Kulihat sepasang lelaki dan perempuan berjalan ke arah restoran ini. Sial! Itu kan Nana temanku dan pacarnya! Jika mereka benar-benar ke mari, buyar sudah rencanaku. Mereka tak boleh tahu kalau aku sedang menunggu dia. Sial! Sial! Mereka benar-benar menuju ke mari! Gugup kuraih sebuah majalah dari dalam tas kerja. Menutupi wajah sebisanya. Sepuluh detik….dua puluh…tiga puluh. Aku mengintip dari balik majalah. Hei, mereka tidak ke mari rupanya. Di kejauhan kulihat Nana menggandeng pacarnya menuju deretan toko pakaian. Syukurlah.

Kukipasi tubuhku yang kini berkeringat. Ketiak dan tengkukku rasanya mulai basah. Kulirik pendingin udara yang terletak tepat di dinding sebelahku. Kertas kecil yang dikaitkan di salah satu bilah pendingin udara melambai-lambai. Kuangkat tangan ke arah dinding, mencoba merengkuh udara dingin yang dipancarkan. Dingin. Tapi tidak cukup untuk meredakan kegugupanku. Aku masih terus berkeringat. Huh.

Sambil terus mengipasi tubuh, kuingat lagi kata-kata Nana sahabat terdekatku setahun lalu.

“Jadi kalian putus? Baguslah!”

“Na…please. Aku curhat kok malah dimarah-marahin?”

“Apa? Nggak boleh? Memang aku ini temen dekat kamu, tapi nggak berarti aku akan diam aja ngeliat kamu terus-terusan ngelakuin kesalahan.”

“Na…aku sedang sedih. Kamu sama sekali nggak ngasih simpati ke aku.’

“Eh, dengar ya. Aku peduli sama kamu. Aku mau kamu itu dapetin yang terbaik. Kalo kamu masih jalan dengan dia, kamu malah cuma ngancurin hidup kamu pelan-pelan, juga hidup orang lain. Jadi menurutku,  kamu putus sama dia adalah jalan yang paling baik.” Nana mengomel panjang. Dia berkacak pinggang, matanya membundar, bibirnya meruncing. Khas gaya Nana jika sedang menceramahiku.

“Yang harus kamu lakuin sekarang adalah lanjutin hidup. Jangan lagi ketemu dengan dia. Cari saja pacar baru.” Nana melanjutkan omelannya. Sebelum bibir itu sempat bersuara lagi, aku menyela.

“Sudah ah, Na. Aku mau pulang aja. Bye.” Aku beranjak meninggalkan rumahnya. Nana menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ah, Nana. Seandainya kamu tahu jika saat ini aku justru sedang menunggu dia, mungkin kamu akan mencak-mencak. Mungkin kamu akan langsung marah, mengomel kalau aku adalah orang yang bebal, paling susah dinasehatin. Dan kalaupun aku mengelak, mencoba menyembunyikan hal ini darimu, kamu pasti akan tahu. Aku benar-benar nggak bisa berbohong di depanmu. Jadi, tidak bertemu denganmu adalah hal yang paling baik untuk saat ini. Kurasa.

Kulirik lagi jam -kali ini yang melilit di pergelangan tangan kiriku. 18.25. Sialan kamu! Kamu sudah membuat aku menunggu begini lama. Lihat, dua orang di sebelahku yang mungkin pasangan suami istri sudah selesai dengan makanannya. Mereka sedang mengobrol dengan santai. Sesekali si lelaki melirik ke arahku. Lalu pandangan matanya beralih ke piring yang sejak tadi tak kusentuh. Huh! Apa liat-liat? Aku melotot. Ia hanya tersenyum kecut lalu kembali mengobrol dengan ‘istrinya’. Kuambil ponsel dari saku, mengetikkan sebuah pesan singkat. “Kamu di mana? Sudah setengah jam aku menunggu.” Send. Ponsel kuletakkan di atas meja. Tak sampai semenit, benda itu bergetar. SMS. “Aku sudah dekat nih. Tunggu ya.” Huh! Kebiasaan burukmu suka ngaret masih belum hilang. Kutekan angka 5 -speed dial-   dan menunggu. Terdengar suara klik. Tanpa salam aku langsung mengomel. “Lelet amat sih! Kebiasaan!” Tanpa menunggu jawaban, ponsel kumatikan.

Huh!

Lelaki di sebelah melirik lagi. Ah, aku malas menanggapi. Kubuka daftar lagu di ponsel, memilih-milih lagu. Sebuah judul lagu menarik perhatianku. Hm…sudah lama rasanya tidak mendengar lagu ini. Kucolokkan earphone lalu mengatur volume. Kutekan tombol play dan suara nyaring milik Melanie C melantunkan Immune mengalun pelan. Hmm, lagunya enak. Kuputuskan untuk memutar lagu ini berulang-ulang. Kupejamkan mata, meresapi lirik lagu.

If you see me and I look away, Please don’t ask me
There’s nothing to say about the way that I feel
It’s hard to conceal when it’s in my eyes
If I tell you that I’m doin’ fine, Please believe me
It may be a lie but I’ve got to move on
I’ve got to be strong
Now what else can I do?

Perlahan, suara Mel C membuai indera pendengaranku. Batinku merintih. Lagu ini seolah mengejekku. Setahun lamanya aku berpura-pura kuat. Menyangkal habis-habisan perasaan. Mencoba bertahan pada satu keputusan yang kubuat sendiri, karena aku sudah tak tahan dengan rasa bersalah yang semakin menekan. Aku yakin saat ini mataku telah membasah. Aku tak peduli. Alunan lagu semakin dalam menyusup ke relung. Memerihkan hati. What else can i do?

Sebuah tepukan lembut mendarat di pipiku. Aku tergeragap, mengucek mata. Berusaha memfokuskan pandangan pada satu sosok yang tegak berdiri di depanku. Cinta! Apa yang kau lakukan di sini? Kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Sepi. Tak ada siapapun. Apa orang di sampingku sudah pulang?  Kemana semua orang?

“Cinta, sejak kapan kamu di sini?”

“Sejak tadi. Aku mengamatimu saat tertidur. Ah, jangan bingung begitu. Aku pernah bilang kalau kita itu selalu terhubung, kan? Aku bisa merasakan keberadaanmu. ” Suara lembut itu, wajah indah itu.

Aku menegakkan punggung. Menatap lebih saksama. Cinta tampak demikian indah. Sejenak aku hanyut dalam masa lalu. Wajah itu sering sekali kubelai, kuciumi mesra. Aku ingin melakukan hal-hal sederhana seperti itu. Aku ingin, Cinta!

Cinta mengulurkan tangan halusnya. Aku menyambut dengan bahagia.

“Katakan padaku, apakah kamu masih menginginkanku?” Cinta bertanya dengan lembut. Pandangan matanya tertuju lurus pada mataku, mata bening itu seolah menyedotku dalam pusaran kenangan.

Aku menelan ludah. Cinta seperti membaca pikiranku. Bagaimana mungkin aku tak menginginkanmu. Setahun lebih sejak kita berpisah, tak seharipun aku lewati tanpa nama dan wajahmu melintas di benak. Sungguh, aku masih menyimpan rasa itu.

“Aku menginginkanmu. Sangat.” Akhirnya kalimat itu meluncur pelan dari bibirku.

Cinta tersenyum begitu indah. Ah, pastilah Tuhan sedang bersuka hati ketika menciptakan sebuah makhluk bernama Cinta. Demikian murni. Indah. Aku tak punya kata lain untuk menggambarkan dirinya. Cinta meraih tanganku tangan kiriku, menggenggam dengan hangat sebelum menarikku ke dalam pelukannya yang lebih hangat. Harum tubuhnya membuaiku. Menelusup hidung, menggetarkan saraf. Aku ingin terus begini, selamanya. Jarum jam berhenti berdetak. Waktu seolah tak punya kuasa apapun saat ini. Tubuh kami melayang demikian tinggi. Tinggi sekali  seolah menentang gravitasi. Aku tersenyum bahagia menatap wajah Cinta di depanku. Kami melayang kian tinggi. Lalu kanvas langit merekah. Hujan kelopak mawar.  Tanganku meraih kelopak-kelopak itu. Menjemputnya ke depan wajahku. Aku memejamkan mata, menghirup harum yang menyerbu penciuman. Lalu kubuka mata. Memperhatikan lebih saksama pada kelopak-kelopak merah, putih dan biru di tanganku. Ada sesuatu tergurat di tiap kelopak. Sebuah gambar?

“Cinta, lihat. Ada gambar terlukis di tiap kelopak mawar. Kau kenal siapa mereka?” kutunjukkan gambar di balik kelopak mawar. Sebuah gambar keluarga kecil. Ada ayah dan ibu yang tertawa bahagia mengapit seorang bocah lucu yang tersenyum lebar.

Cinta memperhatikan sejenak. “Aku kenal mereka, tapi aku tak peduli. Aku lebih peduli pada kita.”

Kuperhatikan lebih lekat siluet itu. Lalu sebuah kilas ingatan menyentakkanku. Ini foto mereka! Mendadak kanvas langit tertutup erat. Hujan kelopak mawar menghilang. Aku terhempas lagi ke bumi.

“Benar, kan Cinta? Ini foto keluargamu kan?”  Keraguan kembali menyelimuti hatiku. Bisakah aku memiliki Cinta selamanya? Akankah aku bahagia di atas ketidaktahuan mereka. Mereka pasti belum tahu apa yang terjadi sampai saat ini.

“Jangan pedulikan mereka. Kita lebih penting. Atau jika kau ragu, kita rahasiakan saja semuanya. Dan mereka akan tetap bahagia tanpa perlu tahu yang sebenarnya.” Cinta memaksaku.

“Kau egois, Cinta!” pikiran warasku mengecam. “Kau memilih mengkhianati mereka demi kebahagiaanmu? Kau sungguh egois!”

“Bukan cuma kebahagiaanku, tapi juga kebahagiaan kita.”

“Tapi tetap saja ini salah, Cinta!”

“Apakah ada salah dan benar dalam hal cinta?” Aku tak bisa menjawab. Cinta membelai rambutku.

Wajah Cinta masih tetap indah. Senyum manisnya terus mengembang. Membujuk.

“Coba kau pikirkan lagi, apa yang akan terjadi jika kita beritahukan tentang kita pada mereka? Mereka pasti tidak akan setuju. Mereka akan memisahkan kita. Apa kau mau kita berpisah?” Mata itu menusukku.

Cinta melanjutkan. “Bukankah semua kita berhak untuk bahagia? Bukankah kita harus memperjuangkan kebahagiaan kita sendiri?”

“Tapi tidak dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain, Cinta!” Aku meradang.

Cinta tetap tersenyum dengan indah. “Kita sudah terlalu lama berkorban. Sekarang saatnya meraih kebahagiaan. Semua yang terjadi dulu dengan dia, aku anggap sebuah kesalahan. Dan bersamamu aku ingin memperbaikinya.”

“Tidak! Aku tidak bisa Cinta. Dulu aku memilih untuk berpisah karena aku tidak ingin ada hati yang terluka karena kita. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi.”

“Dengarkan aku,….”

Ucapan Cinta segera kupotong. “Tidak! Kali ini aku tidak akan mendengarkanmu. Cukup, Cinta. Cukup!”

Mataku melirik meja di sebelah. Sebuah pisau yang tergeletak entah sejak kapan berkilat mengerikan. Semua harus berakhir. Sekarang! Kuraih benda berkilat itu, dingin, membunuh.

“Pergilah, Cinta. Semua sudah berakhir. Jangan lagi kita ulangi.”

“Kau tak akan sanggup.”

“Aku sanggup! Berhenti! Jangan mendekat! Atau…”

“Atau apa?” Mata itu tersenyum jenaka.

“Atau aku terpaksa…”

“Membunuhku?”

Cinta tidak kelihatan takut sedikitpun. Wajahnya tetap indah. Suaranya membujuk. “Kau tak akan tega membunuhku, kan? Kau akan menderita tanpa aku. Hidupmu akan hampa selamanya.” Cinta melangkah mendekat. Wajahnya tetap indah. Senyumnya merekah.

“Jangan mendekat, Cinta. Aku bisa nekat!”

Cinta tetap tersenyum. Wajahnya tetap indah. Kakinya terus melangkah.

Aku kalap. Tubuhku menyerbu ke depan. Pisau berkilat terhunus di tanganku. Semua ini harus berakhir. Harus, Cinta. Meski aku akan menderita selamanya.

Jleb….

Cinta tak mengaduh. Wajahnya tak menampakkan kesakitan sedikitpun. Wajah itu tetap indah. Hanya luka di perutnya yang terus mengalirkan darah. Lalu Cinta rubuh ke lantai. Darah terus mengalir. Merah, lengket. Mataku gelap.

Sebuah tepukan, kali ini agak keras, mendarat di pundakku. Aku tergeragap. Kupalingkan wajah ke arah kiri. Ada dua orang duduk di sebelahku. Siapa mereka? Kualihkan pandangan kembali ke kanan. Tak ada tubuh Cinta di situ. Kemana dia? Belum sempurna pikiranku mencerna sudah kudengar suara rendah bernada menyindir dari seorang perempuan di meja sebelah.

“Kalau mau tidur, di rumah aja. Pake teriak-teriak lagi tidurnya. Huh, mengganggu orang lain saja.”

Si lelaki yang rupanya tak kalah nyinyir menimpali, “Jangan-jangan mabuk soda tuh, Ma. Tangannya tadi gerak sana sini gak keruan. Liat aja, saosnya sampe berceceran di meja. Untung piringnya gak sampe jatuh.”

Keduanya terkikik geli lalu beranjak pergi. Aku tak peduli. Cuma mimpi? Kulihat earphone-ku sudah terlepas dari telinga. Kuedarkan pandangan. Di seberang sana tiga meja telah terisi, sementara di sebelah kiri dan kananku kini kosong. Di atas mejaku sepotong ayam sudah tergeletak di atas meja, sebagian saos tumpah di atas meja, lantai dan sebagian mengenai bajuku. Di dekat meja kasir, seorang waiter bersiap mendatangi mejaku. Aku memberi isyarat, “Tak usah. Biar kubereskan sendiri.”

Setelah selesai membereskan ‘kekacauan kecil’ di mejaku, earphone kembali kucolokkan ke lubang telinga. Mel C kembali menyanyi dengan penuh perasaan.

Cause I’ve been
Wanting waiting hoping praying
Oh I feel like I’m suffocating
There’s nothing left to lose

Sejenak suara Mel C terhenti untuk memberi kesempatan sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. “Aku sudah sampai. Sedang nyari tempat parkir. Kamu masih di situ kan?”

Kubalas pesan itu. Lalu menunggu. Pikiranku kalut. Ini pertemuan kami yang pertama setelah lebih dari setahun berpisah. Masih adakah rasa itu? Ingatanku melayang, tentang Cinta. Ah…

“Ah, di situ rupanya kamu.” Sebuah suara renyah menyapa telingaku. Tanpa perlu menoleh, aku sudah tahu. Itu suara kamu. Suara yang selama ini begitu aku rindu. Tapi…

“Apa kabar,” dia menyapa lalu duduk tepat di depanku. “Aku kangen.” Ah, begitu tanpa basa-basi. Dia masih seperti yang dulu. Tapi..

Kulepaskan earphone. “Aku baik.” Aku mengatur nada suaraku sedatar mungkin.

Aku menatap wajah tampan di depanku. Sedikit lebih coklat dari yang masih kuingat. Bekas cukuran di sekitar rahangnya menambah kesan jantan.

“Hm,…kau sepertinya tidak terlalu senang ketemu aku. Iya, begitu? Kesal karena aku telat?”

Aku membuang pandangan ke luar restoran. Pada lalu-lintas yang semakin malam semakin ramai. Klakson bersahutan, pejalan kaki yang berseliweran. Haruskah kujawab pertanyaannya?

“Ayolah, jangan ngambek gitu. Makin ngegemesin tau.” Tangannya terulur hendak menjawil pipiku. Aku mengelak. Ia terkesiap. Matanya seakan bertanya. “Mengapa”?

Aku diam. Bayangan Cinta melintas lagi, kelopak mawar, wajah-wajah mereka. Bayangan kebahagiaanku bersamanya berbaur kebahagiaan mereka yang tak tahu apa-apa, pengkhianatan kami, semuanya tumpang tindih di kepala. Sebuah suara dari dalam hatiku berbisik, “Semua mesti diakhiri. Sebelum terlambat, dan tak ada waktu untuk memperbaiki.” Tanpa sadar aku mengangguk pelan.

Kuhela napas panjang sebelum mulai berbicara. Kukumpulkan keberanianku. “Aku rasa ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Tolong jangan hubungi aku lagi. Aku juga tidak akan menghubungimu lagi. Semua sudah berakhir, sejak setahun lalu.”

Dahimu mengernyit. “Berakhir? Apa maksudmu? Bukannya kita justru baru akan memulainya lagi? Lalu apa artinya semua telepon juga sms mesra itu?”

“Anggap saja itu kesalahanku. Setahun lalu kita berpisah karena aku menyadari kau sudah ada yang memiliki. Sekarangpun dia masih memilikimu. Lalu apalagi yang masih jadi milik kita?”

“Kita masih punya cinta! Cinta yang kita akan memberi kita kekuatan.”

Aku bangkit dari kursi. Memasukkan ponsel ke dalam tas. Menatap wajah itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Tidak! Tidak ada lagi cinta. Dia sudah mati kubunuh.”

“Ra! Tunggu!”

Aku tak peduli, terus berlalu meninggalkannya. Meninggalkan tatap mata heran. Berlari menyongsong hiruk pikuk malam. Sebuah bus yang melintas langsung kuberhentikan. Aku tak peduli ke mana tujuan bus ini. Yang aku inginkan saat ini adalah menjauh dari kesumpekan hati. Earphone kembali aku colokkan ke lubang telinga. Masih suara yang sama. Melantunkan bait terakhir dari lagu Immune.

If all that I have is the sweetest denial
If all I can give is the rest of my life
Then I’m over pretending
That I can survive without you
Thought I was stronger than love
But I guess that nobody’s immune

Iklan

5 thoughts on “[Cerita Pendek] Membunuh Cinta

  1. tomspice berkata:

    bagus sih ga, tapi nanggung. tulisan ini kayak yeraning, minta ditulis lebih panjang. jadinya kalo cuma kau tulis seperti ini, gak berbekas sama sekali di hati pembaca. kw cuma ingin menimbulkan kesan extraordinary atas bagian abstrak dari flash fiction ini, tapi kurang memorable. plis write a long feature.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s