[Cerita Pendek] Seandainya Kita Tak Pernah Bertemu

seandainya 2

“Ssst..lihat tuh Mbak Emma. Pasti mau bikin hal yang sama kayak kemarin-kemarin.”

“Iya, yah. Kasihan juga ngelihat dia kayak gitu terus. Sejak pindah ke mari, kelakuannya makin aneh. Banyak yang ngeliat dia ngomong sendiri di kuburan. Aku dengar sih, gara-gara kejadian di tempat asalnya dulu.”

“Kejadian apa sih?”

“Kau belum pernah dengar?”

“Kalau aku tahu, pastilah aku enggak nanya ke kamu.”

“Jadi, yang kudengar itu ceritanya seperti ini….”

**********

Kubereskan barang-barang yang menumpuk di depan toko kelontong. Seorang pekerja membantuku mengangkati kardus-kardus ke dalam toko. Senja telah jatuh ke ufuk barat. Sia-sia jemari cahaya mencakari langit, berusaha mempertahankan sinarnya di seluruh alam. Kegelapan perlahan mengambil alih kekuasaan. Huft, ini kotak air mineral terakhir yang mesti diangkat.

“Dudi, tolong yang ini letakkan di bagian paling luar. Berat. Biar besok tidak terlalu repot memindahkannya.” Dudi pekerja kami mengangguk.

“Sudah semua, Mbak. Saya pulang dulu ya.” Aku mengiyakan. Dudi beranjak menuju sepeda motor yang ia parkir di sebelah kiri toko, menyalakan mesin dan segera berlalu. Tepat ketika aku akan menutup pintu toko, seseorang tiba di depanku.

“Maaf, Mas. Kami sudah mau tutup. Sebentar lagi maghrib.”

“Sebentar saja ya, Mbak. Perlu banget nih.”

Kualihkan pandangan ke belakang. Ayah menatapku  sambil menggeleng. Aku tahu maksudnya. Ayah seolah berkata, ” Biarkan dia masuk, Emma. Mungkin dia akan jadi pelanggan tetap toko kita.” Hufft…aku mengalah. Memberikan ruang bagi lelaki itu untuk masuk. Kututup seluruh pintu toko, hanya menyisakan sebuah celah untuk lelaki itu keluar nanti.

Lelaki itu rupanya tak memerlukan waktu lama. Dalam lima menit, beberapa barang telah ia pilih dan ia bawa ke meja kasir. Saat aku akan masuk ke bagian dalam toko kami yang sekaligus merupakan rumah tinggal, ayah memanggil.

“Emma, tolong layani Mas ini. Ayah perlu ke kamar mandi sekarang. Tinggal membayar saja, kok.”

“Iya, Yah.” Kulangkahkan kaki menuju meja kasir. Sebuah senyuman kusiapkan. Tidak susah. Senyuman standar semacam ini sudah kulatih setiap hari. Selelah apapun keadaanku, aku harus ramah kepada pembeli.

“Sudah semuanya, Mas?” Senyum lagi.

“Iya, Mbak Emma.” Senyum juga.

Harus kuakui, lelaki ini punya senyum yang manis. Senyuman ramah yang bisa membuat orang lain secara refleks balas tersenyum.

“Namaku Herman, Mbak. Aku tinggal di kosan Pak Jali di seberang komplesk pertokoan ini. Baru tadi masuk. Belum sempat belanja macam-macam.” Lelaki itu mengenalkan diri. Siapa yang nanya sih?

Kulirik lagi belanjaan yang sekarang sedang kuhitung. Mi instan, air mineral, biskuit, obat nyamuk, minuman energi, rokok…hmm…aku kurang suka dengan lelaki perokok. Eh, apa urusannya aku kalau dia merokok? Kenal juga enggak.

“Jadi, nanti masak mi instannya gimana, Mas?” Duh, kenapa aku jadi sok perhatian seperti ini ya? Pasti karena senyum ramah itu.

“Nanti beli nasi bungkus di depan jalan sana. Kalau tengah malam lapar, tinggal pinjam kompornya Pak Jali untuk masak mi instan.”

Ayah kembali ke meja kasir. Sambil memasukkan barang-barang belanjaan ke plastik, dengan santai Ayah nyeletuk, “Gimana kalau nanti malam makan bareng dengan kami, Herman?”

Aku dan Herman berbarengan menatap Ayah. Wajah Herman terlihat sumringah. Anak kos seperti dia pasti tidak akan melewatkan tawaran makan gratis semacam ini. Ah, sifat ramah Ayah memang sudah terkenal ke mana-mana. Ia tidak segan menawari orang yang baru ia kenal untuk sekedar makan bersama, atau cuma duduk-duduk untuk mengobrol. Kurasa sebagian sifat itu menurun padaku.

“Makasih, Pak. Makasih banget. Maklum anak kos.” Ia tertawa kecil. Aku larut dalam tawa itu. Lebih indah dari senyumannya. Aduh! Kenapa sampai berpikiran seperti itu Emma? Ingin rasanya aku menepuk kepalaku sendiri.

“Jam delapan kami tunggu, ya. Ketuk aja pintu samping toko ini. Makan sederhana aja gak apa-apa kan?”

“Ah, tak apa-apa, Pak. Saya sudah diajak makan bareng aja sudah mesti bersyukur. Ah, saya harus pulang sekarang. Mungkin Bapak dan Mbak Emma hendak shalat dahulu.”

Kami melambaikan tangan. Ayah menuju pintu depan ruko, menyelotnya perlahan. Aku menyalakan lampu.

******

Makan malam berlangsung akrab. Kami berempat duduk di meja makan sederhana, Herman duduk di sebelahku, berhadapan dengan Ayah dan Ibu. Di depan kami terhidang menu sederhana buatan Ibu. Hanya ada nasi hangat dengan lauk sayur lodeh, ikan goreng, tempe goreng, dan sambal terasi.

“Ayo, tambah lagi nasinya Nak Herman,” kata Ibu menyilakan.

“Duh, perut saya sudah penuh nih, Bu. Masakan ibu enak bener. Saya sampai nambah segini banyak.” Kami tertawa melihat wajah Herman yang berpeluh begitu banyak. Sebentar-sebentar tangannya bergerak menyeka peluh, tapi mulutnya tak berhenti mengunyah.

“Asalmu dari mana Nak Herman?” tanya Ibu.

“Dari Lampung, Bu. Orangtua sudah nggak ada dua-duanya. Makanya saya pilih merantau ke Jakarta ini. Ada sih saudara Papa di Bintaro namanya Om Billy, tapi rumahnya terlalu jauh dari tempat kerja saya di Kuningan. Jadi saya pilih nge-kos saja.”

“Kerjanya apa?” Kali ini Ayah yang bertanya.

“Asisten Manajer di perusahaan ekspor-impor meubel, Pak. Baru mulai bekerja, belum berpengalaman.” Ah, sikap rendah hati. Aku berujar dalam hati.

Kami bertiga mengangguk-angguk. Hening sejenak. Masing-masing sibuk mengunyah.

“Sudah punya pacar?” Ayah bertanya santai. Aku menahan napas. Memasang wajah acuh, padahal telingaku siap mendengarkan jawaban.

“Belum, Pak. ” Oh,syukurlah. Emma! Aku mengumpat dalam hati.

“Oh, Emma juga belum punya tuh.” Ayah menyahut cuek.

“Ayah! Apa-apaan siih?” Mukaku merah padam. Wajah Mas Herman juga sedikit memerah. Tapi cuma sekejap, dia bisa menguasai dirinya. Ia tertawa kecil. “Wah, cocok kalau begitu.”

Mukaku kian merah padam. Maksudnya apa sih?

“Eh..sudah..sudah. Ayo selesaikan makannya.” Suara Ibu menyelamatkan aku dari salah tingkah. Syukurlah.

Makan malam selesai dalam waktu setengah jam. Aku membantu Ibu membereskan meja makan dan mencuci piring. Ayah mengajak Herman mengobrol di ruang tamu. Dari dapur bisa kudengar mereka berdua mengobrol dengan seru. Sebentar kudengar mereka membicarakan masalah politik, lalu beralih ke topik olahraga. Sekarang masalah hobi.

“Hobi mancing juga? Wah, kamu harus ikut Bapak sesekali mancing di danau dekat perbatasan kota. Di sana tempatnya tenang. Pasti dapat ikan.”

“Aku mau, Pak. Kapan saja aku bisa, asal bukan hari kerja.”

“Wah, kalau seperti itu sih namanya bukan kapan saja dong.”

Mereka berdua terbahak.

Aku melirik Ibu yang tampak tersenyum. Sejenak Ibu seperti merenung. Ah, aku tahu arti tatapan itu.

“Ibu jadi ingat Mas Edi-mu. Kalau masih hidup, pasti usianya sepantaran Herman.” Ibu mengeluarkan isi hatinya. Persis sama dengan yang tadi kupikirkan. “Ayahmu pasti juga merasakan hal yang sama.”

Kami melanjutkan pekerjaan dengan pikiran masing-masing.

*******

“Emma, tadi Ayahmu minta aku menjemput kamu belanja. Perutnya tiba-tiba sakit. Ibumu juga sedang repot memasak. Kamu sekarang ada di mana?”

Kubaca lagi pesan singkat dari Mas Herman. Semakin lama keluarga kami semakin dekat dengan lelaki ini. Aku merasa Ayah sepertinya sudah menganggap dia sebagai pengganti Mas Edi yang meninggal 10 tahun lalu. Kepercayaan Ayah semakin besar. Sudah sering Mas Herman diundang sekadar makan malam, atau menemani Ayah memancing. Sesekali ia menemani Ibu berbelanja keperluan sehari-hari. Cuma untuk belanja keperluan toko saja yang masih ditangani langsung oleh Ayah.

Dan sekarang ia ditugasi Ayah untuk menjemputku. Baiklah. Akupun tidak merasa keberatan. Jujur saja, aku senang ditemani dia. Ada rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan. Kubalas pesan itu. “Aku di lantai dasar, Mas. Tunggu di parkiran aja.” Send.

Dari pintu ke luar pasar bisa langsung kukenali sosoknya. Tidak terlalu jangkung, tapi berisi.  Namun yang membuat dia mudah dikenali adalah jaket cokelat tua dengan garis-garis merah tua di tiap pinggirnya. Norak. Aku tersenyum sendiri mengingat saat aku mengatakan hal itu padanya.

“Bukan norak, Emma! Cuma beda selera aja.”

“Yee, sekali norak tetap norak tau.” Aku tertawa menghindari cubitannya.

“Kok masih dipakai sih? Hadiah dari mantan pacar ya?” Aku tahu Mas Herman sedang tidak dekat dengan perempuan manapun. Dia sendiri yang mengatakannya.

“Bukan. Ini hadiah ulang tahun dari almarhumah Mama. Tepat sebelum sebulan beliau wafat.” Mata itu menerawang.

“Maaf, Mas.” Aku terdiam. Dia juga. Ada keheningan yang tak mengenakkan.

“Ya sudahlah. Kejadiannya sudah lama berlalu kok.” Lalu senyum memikat itu kembali mengembang. Ramah dan hangat di hatiku. Lama-lama kusadari, ada sesuatu yang beda di hatiku setiap berdekatan dengannya. Cinta? Entahlah. Kalaupun iya, masak harus aku duluan yang bilang ‘sih?

“Emma! Kok malah melamun? Ayo, belanjaannya kasih ke aku.” Entah sudah berapa lama ia ada di depanku. Aku tersipu. pasti aku kelihatan seperti orang bodoh tadi.

Mas Herman menggandeng tanganku. Sebelah tangan lain menenteng belanjaan. Berdua kami menuju parkiran motor.

“Eh, sebelum pulang kita mampir di warung depan pasar, yuk. Siang-siang gini pasti enak banget minum es kelapa.”

“Boleh, Mas. Akupun ngerasa haus banget.”

“Oke. Pegangan yah. Kita berangkat.”

Kulingkarkan tanganku di pinggangnya. Ia tertawa senang. Aku tersipu.

*****

Warung siang ini terlihat ramai. Apalagi masakan di warung milik Pak Bayu memang sudah terkenal lezatnya. Beberapa calon pembeli terlihat sedang antri. Untung kami datang sedikit lebih cepat, masih mendapat tempat duduk lesehan di bagian dalam warung.

Di depan kami ada dua gelas es kelapa yang menerbitkan air liur. Potongan kelapa muda dengan perasan jeruk nipis terasa menyegarkan. Aku menyeruputnya sambil berdecak. Nikmaaat.

“Emma…aku boleh ngomong sesuatu nggak?” Tumben mau ngomong aja pake minta izin segala.

“Ya ngomong aja lah, Mas.”

“Aku suka kamu. Mau nggak jadi istriku?”

UHUKKK…..

Air kelapa yang sedang kuseruput terlontar ke luar. Aku tersedak hebat. Sebagian air membasahi wajah dan bajuku. Wajahku pasti merah padam. Apalagi kulihat sebagian besar pengunjung melihat ke arah kami. Buru-buru kuambil tisu dan melap wajah dan bajuku. Ini lamaran ya?

“Mas! Ini maksudnya apa sih? Ih, jadi malu diliatin banyak orang.” Aku menunduk. Rasanya tatapan ingin tahu dari orang di sekitarku semakin banyak.

“Aku serius, Emma. Umurku sudah cukup. Aku nggak nyari pacar, tapi istri. Kerjaanku sudah cukup kurasa untuk berumah tangga. Jadi gimana?”

“Duh…mesti sekarang ya dijawabnya? Gak boleh minta waktu dulu?” Kupelototi Mas Herman. Ini kok kayak sedang nagih hutang ya?

“Maaf..iya..maaf. Jadi kapan mau dijawab? Besok?” Ya, ampun! Buru-buru amat sih? Emang ada apa sih?

“Aku takut aja enggak sempat.” Binar mata itu meredup. Maksudnya?

“Ah, bukan apa-apa kok. Ya udah, kalau udah ada jawabannya kasih tahu aku yah.” Senyum itu mengembang lagi.

“Ohh…”

“Pulang, yuk.”

Aku mengangguk. Kami pulang dalam diam. Batin kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

******

Minggu sore, empat hari setelah Mas Herman secara tiba-tiba memintaku jadi istrinya, aku memutuskan mendatangi kosannya. Sebenarnya aku sudah mengirim pesan tadi pagi, memintanya datang ke rumah. Tak ada balasan. Kucoba menelepon, tapi tak diangkat. Mungkinkah dia pergi ke luar rumah tanpa membawa hp?

Kakiku sudah sampai di depan paviliun kecil di ujung kanan kosan milik Wak Jali. Sebelum mengetuk pintu, sekali lagi kucoba memantapkan hati. Semalam aku sudah menanyakan hal ini pada Ayah dan Ibu. Mereka mendukung.

“Ibu yakin dia anak yang baik, Emma. Sikapnya selalu sopan. Ibu yakin kalau dia bisa menjagamu. Menyayangimu sepenuhnya.”

Aku menoleh ke arah Ayah. Ia berdeham pelan.

“Pada prinsipnya, asal kamu bahagia, maka Ayah akan bahagia. Tapi, kamu harus jujur pada Nak Herman, Emma.”

Ibu menatapku dengan pandangan haru. Aku tahu ia juga berpendapat yang sama seperti Ayah.

“Tidak baik jika sebuah hubungan sepenting ini dimulai dengan sebuah kebohongan. Kamu harus katakan seperti apa kondisimu yang sebenarnya. Jika ia menerimamu apa adanya, berarti ia memang mencintaimu.”

Suara gemerisik dari arah samping menyadarkan aku dari lamunan. Wak Jali dengan sarung selutut dan baju kaus longgar ke luar dari rumahnya. Di tangannya tergenggam sebatang sapu lidi. Ia melihatku sambil tersenyum.

“Cari Herman ya Emma?” Sapanya ramah.

“Iya, Wak. Sudah Emma sms dan telepon tapi nggak ada balasan. Apa dia ke luar rumah ya Wak?”

“Sepertinya enggak. Coba kamu intip ke dalam. Kalau motornya ada, artinya dia nggak ke mana-mana. Dari tadi pagi uwak enggak dengar ada suara motor.”

Kuikuti saran Wak Jali. Kaca nako kuungkit sedikit. Ada tirai tipis yang menutupi jendela. Kusibak kain itu, mataku menjelajahi ruang tamu kecil paviliun. Motor Mas Herman ada di sudut kanan. Artinya memang dia tidak ke mana-mana. Lalu mataku langsung terpaku pada satu sosok di lorong samping kamarnya. Mas Herman!

“Waaak! Mas Herman! Tolong, Wak!” Jeritku histeris. Wak Jali yang baru mulai menyapu terkesiap. Bergegas dia hampiri aku. Sesudah mengintip ke dalam ruangan, ia memutuskan untuk mengambil kunci cadangan. Aku masih terpaku. Merasa ngeri dengan bayanganku sendiri. Kepalaku terasa berat. Aku pingsan.

*****

Kami semua berkumpul di ruang tengah rumahku. Aku, Ayah, Ibu, Mas Herman dan Wak Jali. Mata-mata mereka memandang penuh rasa iba pada kami berdua yang terduduk lemas di kursi. Sejenak tak ada yang bersuara. Hanya ada kesunyian dan desah napas.

“Bagaimana keadaan sekarang, Emma, Herman?” Suara Ayah memecah kebisuan.

Aku memegang kepalaku. Pusing itu sudah jauh berkurang. “Sudah baikan, Yah.”

Wak Jali bersuara,” Kalau kau Herman? Kenapa kau bisa sampai pingsan begitu? Kau belum makan? Atau kau sedang sakit?”

Mas Herman diam. Tangannya bergerak ke arah kepala. Meremas rambutnya sendiri.

“Sudah, Jali. Jangan ditanya dulu. Barangkali masih sakit kepalanya.” Ibu menengahi.

“Aku enggak memaksa, kok Marni. Cuma bertanya.” Wak Jali membela diri.

“Ya sudah. Kita tunggu sakit kepalanya Herman reda dulu.” Suara Ayah.

“Pak, Bu, Wak Jali, boleh saya bicara berdua saja dengan Emma? Tolong.” Mata yang biasanya memancarkan keramahan kini tampak sayu. Aku mau tak mau berpikir, apa yang akan disampaikan Mas Herman? Kenapa yang lain tidak boleh tahu?

Tapi nampaknya ketiga orang tua itu cukup mengerti. Pelan tanpa suara, mereka beranjak dari kursi masing-masing. “Kami ada di teras belakang. Panggil saja kalau ada yang mau disampaikan. Ayo, Bu, Jali.”

Kini hanya ada kami berdua di ruangan berukuran tiga kali empat meter dengan cat biru dan perabot seperlunya. Ruangan terasa hening. Tak ada yang mencoba bicara lebih dulu. Kenapa seolah-olah sesuatu yang besar telah terjadi?

“Emma…”

“Ya, Mas..”

“Kamu masih ingat perkataanku beberapa hari lalu? Tentang permintaanku menjadikanmu sebagai istriku?”
Aku mengangguk.

“Aku menarik kembali kata-kata itu, Emma.” Suara Mas Herman tercekat. Aku seperti mendengar suara petir tepat di sebelah telingaku. Menarik kata-kata itu justru di saat aku akan mengiyakannya?

“Apa maksudmu, Mas? Kamu mau mempermainkanku, ya? Tega kamu, Mas.”

“Emma…tolong..percaya aku. Ini demi kebaikanmu. Kebaikanku juga. Kita berdua.”

“Tolong jelaskan, Mas. Jelaskan!”

“Aku nggak bisa, Emma. Aku…”

“Jelaskan!”

Mas Herman menatap mataku. Mata teduh itu terlihat begitu menderita. Aku tak tega memelototinya. Pasti ada sesuatu yang teramat berat untuk dikatakan.

“Aku tidak ingin membuatmu menderita, Emma. Cukup aku saja.”

“Mas…”suaraku melunak. “Tolong jelaskan apa yang sedang terjadi. Supaya aku mengerti, supaya aku bisa memahami alasan kamu mengatakan hal-hal ini. Tolong aku, Mas. Aku mohon.” Kuraih tangannya, menggenggam dengan erat. Ada bulir bening di sudut mata teduhnya.

“Vonis dokter, Emma…”

“Maksudnya?”

Mas Herman menarik sebuah amplop dari saku celananya. Mengangsurkannya padaku. Nama sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta tercetak di bagian depan. Kutarik sehelai kertas dari dalamnya. Istilah-istilah yang tak kumengerti sama sekali. Aku menatap Mas Herman, meminta penjelasan.

“Langsung saja ke bagian kesimpulan, Emma.”

Kubaca bagian bawah dari kertas itu. Leukemia Mielositik Kronis. Leukemia? Kanker darah? Ya Tuhan!

Mataku basah. Kutatap wajah Mas Herman. Mata itu juga basah. Sekuat tenaga Mas Herman berusaha menahan tangis. Aku tak sanggup lagi menahan kesedihan. Terisak kupeluk tubuhnya. Kesedihan ini begitu menekan. Kenyataan hadir saat aku merasa kebahagiaan akan segera datang. Di antara isak, aku masih bisa mendengar Mas Herman menjelaskan kondisinya.

“Hasil tes laboratorium itu aku ambil kemarin sore. Tapi baru tadi pagi aku berani membacanya. Aku diliputi ketakutan, Emma. Bagaimana jika hasilnya memang aku punya penyakit parah? Tapi, lebih cepat aku tahu, tentu akan lebih baik kan?”

Aku mengangguk. Meskipun aku tahu Mas Herman tidak membutuhkan jawaban atas pertanyaannya.

“Pagi tadi aku baca hasil laboratorium. Dan aku positif terkena Leukemia Mielositik Kronis. Itu adalah jenis leukemia yang menyerang sel mieloid. Jangan tanya aku apa sel mieloid itu. Penderita jenis leukemia ini punya harapan hidup lebih dari setahun. Berapa lama? Entah. Pemeriksaan di laboratorium aku lakukan setelah seringkali mengalami nyeri tulang dan persendian,nyeri di perut, dan perdarahan di jaringan kulit. Kau lihat tanganku ini, Emma?”

Kuperhatikan bagian lengan yang ditunjukkan Mas Herman. Tampak ruam merah di bawah jaringan kulit. Bentuknya melebar, seperti lebam. Kualihkan pandanganku ke wajahnya. Aku masih belum mampu bicara.

“Belakangan ini aku makin mudah sakit. Sel darah putih yang mestinya jadi pelindung tubuhku malah berbalik menyerang. Sudah beberapa kali aku izin dari kantor karena kondisi tubuhku sangat lemas. Tapi tentu saja aku tak ingin kamu tahu, Emma. ”

Kutarik napas dalam-dalam. “Lalu kenapa waktu itu kamu minta aku jadi istrimu, Mas?”

Mas Herman menunduk. “Maafkan keegoisanku, Emma. Saat itu aku berpikir kalau aku tidak terkena penyakit parah. Aku berpikir, yah sebenarnya berharap jika hasil lab menunjukkan kalau aku hanya terkena penyakit biasa. Ya, aku mencintaimu. Maaf, jika permintaanku waktu itu mengagetkanmu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan ingin memilikimu, Emma. Aku mencintaimu.”

Aku terisak. Airmata berhamburan lagi dari mataku.

“Emma…emma…jangan menangis lagi. Jangan, Sayang.” Jemari Mas Herman mengusap airmataku. Aku masih terisak.

“Mas, aku juga punya pengakuan. Aku juga punya penyakit parah. Gagal ginjal.”

“Emma? Benarkah?” Wajah Mas Herman tampak terkejut. Matanya membulat. Mulutnya sampai separuh terbuka.

“Iya. Gagal ginjal. Belum tahap kronis. Menurut dokter, fungsi ginjalku masih di atas 50% jadi masih dimungkinkan untuk tidak dilakukan cuci darah. Awalnya aku masih lakukan cuci darah itu, Mas. Tapi keluarga kami tidak mampu jika aku harus sering-sering cuci darah. Biayanya mahal. Sebab itu aku harus menjaga kondisi tubuhku, mematuhi semua nasihat dokter, termasuk menjaga asupan cairan. Tapi kadang aku bandel, masih juga minum lebih banyak dari seharusnya. Seperti saat-saat kita minum es kelapa dulu. Aku cuma ingin menikmati kebersamaan denganmu.”

Mas Herman memandangku dengan tatapan cinta.

“Dan ya, Mas.. aku mau jadi istrimu. Itupun jika kamu masih menginginkan aku.”

“Tapi penyakitku ini, Emma. Mungkin umurku tidak akan lama. Aku tidak ingin kamu menjadi janda. Hidupmu mungkin lebih panjang dariku. Mungkin kamu akan temukan calon suami yang lebih baik, yang nggak punya penyakit parah seperti aku.”

Kutangkupkan kedua tanganku di wajahnya. “Aku ingin jadi istrimu, Mas. Meskipun cuma setahun. Meski cuma sebulan. Atau seminggu. Walaupun tentu aku berharap bisa bersama kamu sampai kita jadi kakek nenek, tapi aku sadar, mungkin kesempatan seperti itu nggak akan kita dapatkan. Tapi aku ingin jadi istrimu.”

Mas Herman meraih tanganku dari wajahnya, menciumi jemariku penuh haru.

“Terimakasih, Sayang. Terimakasih.” Wajahnya berbinar. Wajahku memendarkan bahagia.

“Ayo, kita beritahukan kabar bahagia ini pada orangtuamu, Emma.” Mas Herman bangkit, mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum. Aku menyambut dengan senyum lebar. Siap melangkah menuju pintu.

“Eh, sebentar Emma.”

“Ya, Mas?”

Mas Herman menyapukan ujung jemarinya ke arah bawah mataku. “Mau kasih kabar gembira kok masih ada airmatanya?” Ia tersenyum. Ah, iya. Harusnya tak ada airmata, kan?

Kubuka pintu ke arah teras belakang. Serempak tiga wajah menatap kami dengan tatapan ingin tahu.

“Ayah, Ibu, Wak Jali, kami punya kabar bahagia untuk kalian.” Aku dan Mas Herman tersenyum.

*****

“Jadi, akhirnya mereka menikah? Wah, berakhir bahagia rupanya.”

“Ugh, kau ini sok tahu banget sih? Belum lagi aku selesai cerita.”

“Eh, iya ya. Kalau semua berakhir bahagia, kenapa Mbak Emma itu kayak gini keadaannya?’

“Makanya dengerin dulu kalau orang sedang ngomong. Nyela mulu sih.”

“Iya, iya. Jadi, gimana lanjutannya?”

*****

Hari pernikahan kami semakin dekat. Minggu depan akan jadi hari bahagia bagi kami berdua. Sembilan puluh persen persiapan pesta telah rampung. Meski banyak urusan yang mesti disiapkan, Ayah dan Ibu tidak mengizinkan kami berdua untuk ikut menyiapkan segala keperluan.

“Kalian harus menjaga kondisi badan. Jangan sampai capek.” Ayah bicara sambil meneliti daftar keperluan perlengkapan pesta. Pulpen di jarinya memberi tanda centang pada kolom-kolom yang telah ia susun.

“Betul itu kata Ayahmu, Emma. Kita punya banyak saudara yang bersedia membantu. Keluarga Nak Herman yang di Bintaro sebagian juga sudah datang. Kita tidak akan kekurangan tenaga.” Ibu menimpali sambil menghitung belanjaan keperluan dapur.

Aku melirik Mas Herman yang duduk di sebelah Ayah. Ia hanya tersenyum manis. Tangannya memberi isyarat. “Kemari.”

Aku duduk di sebelah Mas Herman. Ayah bangkit dari duduknya, berjalan ke arah luar. Beberapa pekerja teman-temannya Dudi, pekerja di toko kami telah datang untuk memotong dahan pohon yang tumbuh di samping toko kami. Tenda yang akan didirikan tidak boleh terhalang dahan.

“Aku punya permintaan khusus padamu, Emma.”

“Loh, minta apa Mas? Ada detil pernikahan yang ingin kamu ubah?” Kami akan melaksanakan pernikahan tanpa upacara adat. Pagi hari akan diadakan akad nikah di mesjid terdekat, lalu siang hingga sore akan diadakan resepsi. Sengaja kami tidak menyewa gedung, karena lahan di depan toko cukup luas, selain ingin menghemat biaya tentunya.

“Seandainya terjadi sesuatu padaku nanti…”

“Mas!”

“Dengarkan aku dulu, Sayang. Umur bukan kita yang menentukan, kan? Aku hanya ingin menyiapkan segalanya aja kok. Buat kamu.” Ia tersenyum. Senyum ramah yang sudah memikatku sejak pertama kali jumpa.

“Iya, Mas. Mau bilang apa tadi?”

“Seandainya terjadi sesuatu padaku nanti, “Mas Herman mengulangi kata-katanya,” aku ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu.”

“Aku tahu, Mas. Aku juga begitu.”

“Satu lagi. Aku sudah buat surat wasiat untukmu. Suratnya kutitipkan pada Om Billy.” Ia mengedip nakal.

“Eh, surat wasiat? Hayo, kamu mau wariskan apa buatku, Mas? Bukit berlian? Atau lautan emas?” Aku tertawa geli.

“Ishh, mana punya aku yang seperti itu. Pokoknya aku yakin, itu akan sangat berguna buatmu, Emma.” Ia menatapku dengan penuh kasih.

“Iya, Mas. Aku percaya.” Kubalas tatapan itu dengan mesra. Hati kami semakin bertaut tak terpisahkan.

*****

Hari besar yang mendebarkan itu pun tiba. Pukul tujuh kami semua telah siap menuju mesjid terdekat. Jaraknya hanya 500 meter dari toko. Dua buah sedan telah siap untuk mengantar rombongan. Aku dengan kebaya putih dan sanggul sederhana telah duduk manis di jok tengah. Mas Herman tampak gagah memakai baju koko warna putih dan celana kain hitam, peci hitam di kepala. Kami siap menjadi sepasang suami istri. Ayah, Ibu, Wak Jali dan Om Billy ada di sedan lain.

“Yuk, berangkat Pak. Tadi penghulu sudah telepon, dia sedang dalam perjalanan,” ajak Mas Herman pada supir.

“Iya, Pak.” Supir menyalakan mesin, memindahkan persneling dan menekan pedal gas. Mobil melaju perlahan. Sedan yang dinaiki Ayah mengikuti di belakang. Rombongan lain dengan mengendarai sepeda motor beriringan menyusul.

Sesampainya di mesjid, kami segera mengatur posisi duduk. Ayah dan Mas Herman duduk berhadapan. Di belakang Ayah duduk seorang penghulu, dengan dua orang saksi di sebelah kanan dan kirinya. Aku, Ibu dan beberapa tetangga duduk di sebelah kiri belakang Mas Herman, sementara di barisan depan kami, duduk Wak Jali dan keluarga Om Billy. Hatiku deg-degan menantikan saat-saat Mas Herman mengucapkan ijab-qabul, dan para saksi menyatakan “Sah”.

Ayah menjabat tangan kanan Mas Herman dengan erat. Tatapan matanya lurus ke mata Mas Herman. Seolah ingin mencari ketegasan. Mas Herman balik menatap dengan teguh. Tatapan mata itu seolah bicara, “Aku siap.” Ayah mulai mengucapkan ijab. “Saya nikahkan anak saya Emma Suryani kepada engkau dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan dibayar tunai.”

Mas Herman sigap menyahut. “Saya terima nikahnya Emma Suryani binti Razak Sadeli dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan dibayar tunai.”

Penghulu menoleh ke arah para saksi. “Sah?”

Saksi-saksi serempak menyahut, “Sah!”

Koor “Alhamdulillah” memenuhi seisi mesjid. Hatiku lega luar biasa. Kini kami resmi sebagai sepasang suami istri. Aku tak bisa berhenti tersenyum. Semua orang di dalam mesjid tersenyum. Sekarang saatnya aku menyambut suamiku. Mas Herman berdiri di depanku. Wajahnya memendar bahagia. Aku mengambil tangannya dan mencium dengan penuh rasa syukur. Tangan suamiku! Mas Herman lalu meraih tanganku mendekat, dan mencium dahiku. Ciuman pertama kami. Begitu syahdu, begitu haru. Kugigit bibir agar airmata tidak jatuh.

Setelah urusan di mesjid selesai, kami menaiki mobil terpisah. Aku segera dibawa ke rumah untuk berganti baju. Mas Herman juga akan berganti baju di rumah Wak Jali yang bersedia rumahnya dijadikan sebagai tempat rombongan pengantin pria berkumpul. Sebelum kami berpisah, Mas Herman mendekati mobil yang kunaiki bersama Ibu dan Ayah.

“Hai, istriku. Mas pulang dulu ya. Sebentar lagi kita akan segera bersanding di pelaminan. Oh, iya hampir saja lupa. Aku mencintaimu.” Duh, manisnya. “Aku juga mencintaimu, Mas.” Aku tersenyum. Sedan mulai berjalan perlahan menjauhi pelataran mesjid.

*****

“Ayah, coba ditelpon Omnya Nak Herman. Bilangin, segera bergegas ke mari. Sebelum tamu-tamu datang, kita akan bikin foto keluarga.” Ibu menyuruh Ayah sambil membetulkan gaun pengantinku yang sedikit terlipat. Gaun berwarna putih gading yang sederhana. Riasan wajahku pun sederhana, dengan rambut yang disanggul. Tanpa sasakan.

Ayah mengeluarkan ponsel dan mulai memencet tombol. “Tak diangkat, Bu. Mungkin sedang sibuk. Atau dalam perjalanan ke mari. Jadi tidak kedengaran.”

“Ya sudah, Yah. Sebentar lagi ditelpon lagi ya.”

Sebuah lagu merdu milik Le Ann Rimes mengalun dari ponselku. Kulirik layar ponsel. Om Billy?

Kutekan tombol ‘on’. “Ya, Om? Sedang dalam perjalanan ke mari ya?”

Suara di seberang tak langsung menyahut. Terdengar desahan panjang yang berat. Batinku mendadak tak enak. Ibu mengalihkan perhatiannya dari gaunku. Ikut memperhatikan aku.

“Om?”

“Emma, Herman…dia…”

Kabar dari Om Billy menusuk jantungku. Mas Hermanku! Meninggal? Aku jatuh pingsan.

*****

Aku terbangun dalam keadaan teramat letih. Ketika kubuka mata, kuperhatikan keadaan sekitar. Aku dibaringkan di atas ranjang kamar Ibu dan Ayah. Ibu duduk di sampingku, membelai-belai rambutku dengan penuh kasih sayang. Ayah menatapku penuh duka. Matanya merah dan basah. Aku menatapnya. Ia memalingkan wajah.

“Bu, Mas Herman mana?” Hanya dia yang pertama kali kuingat.

“Herman sudah tenang bersama Allah, Sayang. Allah lebih sayang padanya ketimbang kita.” Ibu berkata dengan suara lembut. Tangannya kini mengusap-usap dahiku.

“Bu..” Aku tak lagi sanggup berbicara. Kesedihan kembali menyeruak ke dalam jantungku. Menekan jiwaku. Ingin rasanya aku berteriak mengeluarkan beban ini. Suamiku meninggal di hari pernikahan kami. Aku menjadi seorang  janda, di hari yang sama dengan aku menjadi seorang istri. Ironis sekali.

“Tadi Om Billy menyerahkan sebuah surat untukmu. Surat dari Herman. Bacalah, Sayang.” Ibu menyerahkan sepucuk surat bersampul putih. Tulisan tangan Mas Herman tertera di depannya.

Buat Emmaku sayang.

Aku tak tahu, kapan pada akhirnya surat ini akan sampai ke tanganmu. Tapi aku yakin dalam waktu yang tidak terlalu lama. Emma, aku mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah merasakan hal itu. Tapi, surat ini bukan tentang kenangan saat kita bertemu.

Seperti yang sudah kamu tahu, penyakitku sudah sangat parah. Kondisi tubuhku sudah berada di tahap akhir. Tinggal menunggu waktu. Tapi ginjalku sehat, Sayang. Aku sudah memeriksakan diri ke dokter. Ginjalku sehat dan bisa didonorkan pada yang memerlukan. Dan itu adalah kamu, Sayang. Aku ingin mendonorkan ginjalku untuk orang yang sangat kusayangi. Aku ingin kau terus hidup. Melanjutkan cita-citamu. Atau apa saja yang ingin kamu lakukan. Tanpa perlu dibebani dengan segala macam obat, dibebani kekhawatiran, dan semua hal yang bikin kamu cemas.

Prosedur dan segala urusan medis akan diurus oleh Om Billy. Jika prosedur transplantasi ginjal sudah bisa dilakukan, Om Billy yang akan menanggung biayanya. Meskipun kelak aku tak ada lagi di dunia, sebagian dariku akan selalu ada dalam dirimu.

Jaga dirimu baik-baik ya Sayang. Dan ingatlah selalu : Aku mencintaimu.

Peluk dan Cium

Hermansyah.

Aku serahkan kembali surat itu pada Ibu. Kembali melanjutkan tangis. Ibu mengambil surat itu dan menyimpannya di meja kecil di sebelah ranjang. “Jenazah sekarang sedang ditangani dokter. Mereka sedang…” Ayah tidak sempat melanjutkan ucapannya sebab Ibu keburu memotong.

“Ayah, Emma tidak perlu tahu hal-hal semacam itu. Biarkan dia tenang dahulu.” Ibu kembali mengelus rambutku. Ayah mengangguk. Aku tak lagi memperhatikan perkataan mereka. Aku menangis dalam diam. Mungkin deraian airmata akan sedikit melarutkan luka kehilangan ini. Kehilangan seseorang yang sangat disayangi. Tepat di hari bahagia. Entah berapa lama rasa kehilangan ini akan memudar. Aku tak mampu mengira.

******

“Heh! Kok malah nangis?”

“Ceritanya menyedihkan, tau! Sini, minta tisunya satu.”

“Yah, pokoknya gitu deh. Udah setahun sejak suaminya meninggal, tapi kayaknya Mbak Emma ini masih belum bisa lupa.”

“Eh, transplantasi ginjalnya berhasil?”

“Ya, iyalah. Tuh, makanya sampai sekarang Mbak Emma masih kelihatan sehat. Untung saja semua berjalan lancar ya.”

“Apanya?”

“Ishh..telmi amat sih! Ya operasinya. Ya proses penyembuhannya. Ya semuanya.”

“Oh, iya ya. Trus kenapa dia pindah ke mari?”

“Sesuai permintaan keluarga, jenazah suaminya dikuburkan di kampungnya. Ya di Lampung sini. Katanya kepindahannya ini biar gampang menengok kuburan suaminya.”

“Eh, eh…Mbak Emma ke mari tuh. Udah, udah ntar ketahuan kita lagi ngomongin dia.”

“Bubar..bubarr..”

****

Aku tahu ibu-ibu di depan warung itu sedang membicarakan aku. Aku tak peduli. Aku juga tak kenal mereka. Hanya saja sebagai tetangga aku harus selalu bersikap ramah. Apalagi aku pendatang. Kulewati warung itu dengan langkah santai.

“Siang, Ibu-Ibu.” Sapaku sekenanya.

“Siang, Mbak Emma.” Balas mereka. Tepat ketika seorang Ibu membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, aku raih headset dan menyumpalkannya ke telinga. Si Ibu membatalkan niatnya. Sebuah lagu milik Le Ann Rimes mengalun perlahan. Lagu yang selalu mengingatkanku pada Mas Herman.

I probably wouldn’t be this way
I probably wouldn’t hurt so bad
I never pictured every minute without you in it
Oh You left so fast
Sometimes I see you standing there
Sometimes it’s like I’m losing touch
Sometimes I feel that I’m so lucky to have had the chance to love this much
God gave me a moment’s grace
‘Cause if I’d never seen your face
I probably wouldn’t be this way

Kakiku terus melangkah. Bibirku bersenandung. Pikiranku mengembara. Jauh…bersama kenangan Mas Herman.

Iklan

8 thoughts on “[Cerita Pendek] Seandainya Kita Tak Pernah Bertemu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s