[Cerita Pendek] Aku (Pernah) Hamil!

hamil

Berita di koran pagi ini membuat Karin bergidik.

“Sesosok mayat bayi yang diperkirakan berusia beberapa hari ditemukan warga di dalam kardus mi instan. Mayat bayi ini masih dipenuhi darah dan tali pusar yang melilit tubuhnya. Bayi malang berjenis kelamin lelaki itu diyakini sebagai hasil perselingkuhan yang tidak diinginkan. Warga yang melihat jasad bayi….”

Karin mengelus pelan perutnya yang membuncit. Ia tak ingat pasti berapa usia kehamilannya  ini. Pastilah ada di kisaran 5 atau 6 bulan. Perkiraan dokter dan perkiraannya tak sejalan. Ia pun tak ingat lagi kapan terakhir kali mendapat haid. Ah, tak masalah, yang penting anak dalam perutku ini sehat. Karin tersenyum manis.

“Kamu akan jadi anak ke-tiga Mama, Sayang,” elusnya mesra. Tak ada reaksi dari dalam perut buncit itu.  “Ah, barangkali si junior sedang tidur,” pikir Karin.

“Mama sedang baca apa?” terdengar suara dari belakang.

Karin menoleh. Kean, suaminya, sudah berpakaian rapi, di sampingnya sudah berdiri pula dua anak mereka. Kiara yang manis duduk di kelas 2 SMP, tampak semakin manis dengan baju putih biru, dan jaket imut berwarna biru muda kesukaannya. Rambut indah sebahu miliknya dibiarkan tergerai. Ia mulai terlihat dewasa. Sedangkan Kieran, lelaki kecil yang masih duduk di kelas 3 SD dengan seragam putih merah rapi dan mata yang masih tampak mengantuk langsung duduk di meja makan dan mulai menyuapkan sesendok nasi goreng buatan Karin.

“Baca koran, Pa. Ini ada berita tentang bayi yang dibuang. Mama jadi sedih bacanya. Jadi ingat si calon bayi ini,” lagi-lagi Karin mengusap lagi perut membusungnya.

Sejenak mata suami dan ke dua anak Karin  beradu. Tiga mulut yang seperti memendam suara. Hening sekejap.

“Ah, Mama. Jangan baca yang begituan deh. Nanti malah kepikiran terus,” suara Kean memecah senyap. Kiara dan Kieran menatap mata papa mereka, yang segera memberi kode “sudah, lanjutkan saja sarapannya”.

“Iya, Pa. Tadi ga sengaja kebaca.”

Karin mengalihkan pandangannya ke halaman hiburan. Berita perihal seorang satpol pp nan cantik bernama Nurul Habibah membuatnya sedikit tersenyum.

“Cantik,” gumamnya. “Kalau anak di perutku ini perempuan, semoga bisa secantik dia. Asal nggak jadi satpol aja. Masak cantik-cantik kerjanya ngejar-ngejar orang?” Merasa geli dengan pemikirannya sendiri, Karin terkikik kecil. Dia lalu melipat koran dan bangkit perlahan menuju meja makan. Menyendokkan nasi goreng ke piring suaminya. Menambahkan potongan ikan sambal ke piring Kiara dan Kieran.

“Makan yang banyak, yah.”

“Iya, Ma.” balas Kean, Kiara dan Kieran nyaris berbarengan.

Mereka tersenyum dengan mulut penuh. Hati Karin pun terasa penuh kebahagiaan.

Selesai sarapan, mereka bertiga bergegas berangkat  setelah sebelumnya menciumi pipi Karin. Di ambang pintu Karin melambai.

**********

Karin kembali duduk di sofa sambil mengawasi si Bibi yang sedang membereskan meja makan. Pembantu rumah tangga ini sebenarnya masih terhitung kerabat Kean, dan baru 4 bulan bekerja di rumah mereka. Kean memintanya untuk membantu mengurus rumah sebab Karin sering mengeluh, merasakan kehamilan kali ini sedikit berat. Usia Karin saat ini memasuki angka 37  tahun, usia yang mulai rawan untuk hamil.

“Bi Dira, sini deh sebentar. Aku mau tanya sesuatu,” Karin melambaikan tangan.

“Ya, Karin. Sebentar ya, sedikit lagi saya selesai membersihkan meja ini.” Sebelumnya Bi Dira selalu memanggil Karin dengan sebutan ‘Ibu’. Tapi karena Bi Dira dan Kean masih terhitung saudara,  Karin meminta ia memanggil nama saja.

“Sini, Bi. Duduk dekat aku. Coba deh pegang perutku. Terasa ada yang bergerak ga?”

Karin meraih tangan Bi Dira yang telah duduk di samping, menangkupkannya di atas puncak perut. Sekilas ada rona aneh di wajah Bi Dira. Ia berdeham pelan.

“Ada yang bergerak, Rin,” lalu matanya beralih dari wajah Karin.

“Wah, pasti jagoanku ini sudah bangun ya, Bi,” wajah Karin berseri tak menyadari perubahan raut muka Bi Dira. “Seperti apa ya wajahnya kelak? Mirip aku atau Mas Kean ya?”

Bi Dira hanya diam.

“Bi, aku sudah punya usulan nama lho! Kalau perempuan, aku mau kasih nama Kinar. Kalau lelaki aku namai…..hm…kok aku lupa ya, Bi. Apa ya? Atau Bibi punya usul nama?”

“Rin, Bibi mau lanjutkan kerjaan dulu ya. Cucian masih numpuk di belakang.”

Karin sedikit terheran melihat sikap Bi Dira yang terasa terburu-buru dan menghindari pertanyaannya. Tapi ya sudahlah. Barangkali memang benar dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Sehabis mencuci, dia harus berbelanja lalu memasak buat kami sekeluarga.

“Ah, untung Bi Dira orangnya cekatan dan rajin” Karin membatin.

Karin mengangkat tubuhnya dari sofa empuk. Sejenak ia termenung. Sebulan lalu rasanya sangat berat buatnya untuk sekedar mengangkat tubuh setelah duduk di sofa, tapi kenapa kali ini ringan-ringan saja ya? Tapi barangkali ini karena aku sudah terbiasa. Kembali pikiran Karin terasa riang.

Perlahan ia melangkah menuju teras depan. Ada taman kecil penuh bunga yang ia dan Kean bentuk sejak pertama memiliki rumah ini, sekitar 7 tahun silam. Di tengah taman kuntum mawar sudah mulai bermekaran. Melati di ujung taman menyebarkan wangi sampai ke pintu rumah. Di sudut dekat pagar, ada sebatang kembang kertas dengan tiga macam warna hasil cangkokan Kean sebulan lalu. Beberapa tangkainya terlihat mengering. Ke sana lah kaki Karin menuju.

*******

Sejenak Bi Dira mengintip dari pintu pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu. Dengan langkah perlahan sambil tetap mengawasi pintu depan, ia menuju meja kecil tempat telepon rumah diletakkan.

Dipencetnya beberapa tombol yang telah ia hapal dengan baik. Ketika di ujung sana terdengar suara salam, ia langsung berbicara.

“Karin bicara hal yang sama lagi, Kean. Bibi khawatir dengan keadaannya. Sudah dua bulan dia begini terus. Kau harus bawa dia ke dokter, atau psikiater, atau ke mana lah. Jangan terus dibiarkan.”

Bi Dira diam sejenak mendengarkan. Sesekali mengangguk. Kemudian ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, buru-buru ia menutup telepon.

“Karin datang. Sudah dulu ya, Kean.”

Tepat ketika tubuh Karin memasuki ambang pintu, Bi Dira telah berjalan sedikit menjauhi meja telepon. Ia songsong keponakan jauhnya itu.

“Kamu ga merasa capek, Rin?” Yang ditanya menggeleng.

“Ya sudah. Bibi mau belanja sebentar. Itu cucian sedang direndam pelembut. Sehabis belanja, Bibi langsung jemur. Bibi pamit ya. Baik-baik di rumah.”

Karin mengangguk sambil mengulas senyum. Ah, untung ada Bi Dira.

*******

Sepulang dari kantor, Kean melajukan mobilnya menuju tempat praktik Ramadhan, seorang psikiater muda teman kuliahnya dulu. Meski berbeda fakultas – Kean kuliah di Fakultas Ekonomi dan Ramadhan di Fakultas Kedokteran- tapi karena tergabung dalam sebuah organisasi ekstra kampus dan sering melakukan kegiatan bersama, mereka jadi akrab. Setelah menyelesaikan kuliah, Kean mulai membangun karir sementara Ramadhan melanjutkan S2 spesialiasi Ilmu Kedokteran Jiwa, dan lulus lima tahun kemudian.

Dalam pertemuan terakhir mereka, Kean sempat menceritakan kejadian yang dialami istrinya. Ramadhan pernah menyarankan Kean untuk membawa Karin ke tempat praktiknya untuk konsultasi langsung. Kean belum berhasil mengajak Karin sebab istrinya itu selalu menolak karena merasa tak ada yang salah dengan dirinya.

Mobil perlahan memasuki halaman sebuah rumah bergaya lama yang terlihat apik. Ramadhan membuka praktiknya di paviliun sebelah kanan rumah. Sebuah tempat yang terlihat mungil namun juga tampak nyaman. Kean membaca sekilas tulisan yang tertera di plang yang tertancap di depan paviliun : dr. Ramadhan Marai, SpKj. Psikiater.

Saat mobil Kean memasuki halaman, seorang lelaki berusia awal tiga puluh bergegas ke luar dari sebuah kamar di bagian belakang paviliun. Ia tidak mengenakan seragam putih layaknya dokter, hanya kemeja kotak lengan pendek dan celana jeans. Sore itu ia sengaja mengosongkan jadwal konsultasi untuk Kean. Senyumnya mengembang menyambut kedatangan sahabat lamanya.

“Kean! Apa kabarmu, Kawan?” sebuah pelukan hangat ia berikan.

Kean membalas sambil menepuk-nepuk bahu Ramadhan. “Kabarku baik, Dhan.”

Ramadhan mengajak tamunya untuk masuk. Kean mengamati sejenak ruangan praktik Ramadhan. Ruangan berukuran 3 x 4 meter bercat krem bergaya minimalis itu nampak nyaman. Hanya ada sofa mungil yang tampak empuk tempat pasien berbaring, sebuah meja buffet kecil tempat meletakkan majalah,  dua buah kursi dengan sandaran tangan dan meja kecil serta lemari jangkung di sudut ruangan tempat Ramadhan meletakkan berbagai koleksi bukunya. Di dinding ada beberapa lukisan abstrak. Tak ada jam dinding di ruangan ini. Kean pernah membaca tentang ini. Katanya agar pasien tidak merasa terburu-buru waktu. Hmm, ruangan yang lega, pikir Kean.

“Duduk, Kean. Mau minum apa nih?” Kean duduk di salah satu kursi.

“Ah, tak usahlah. Merepotkan saja.” Ia menggeleng.

Ramadhan mengibaskan tangannya, lalu beranjak ke ruang dalam. Tak lama kemudian ia kembali dengan dua botol air mineral di tangannya. “Demi kesehatan,” ia tersenyum lebar. Kean ikut tersenyum. Mereka berbasa-basi sejenak, menanyakan kabar keluarga dan pekerjaan masing-masing. Setelah dirasa cukup, Kean langsung menyampaikan maksud kedatangannya.

“Dhan, kamu masih ingat kan kejadian yang menimpa Karin tiga bulan lalu?” Ramadhan mengangguk. Bersiap mendengarkan. “Kondisi Karin tampaknya semakin parah. Kejiwaannya yang kumaksud. Sekarang dia semakin mantap dalam dunianya. Berpura-pura semua tak pernah terjadi. Aku –kami semua khawatir padanya.”

“Aku yakin kalian semua sayang pada Karin. Menghadapi seseorang yang memiliki pengalaman traumatis, kita semua memang harus sabar, Kean. Menurutku, Karin sudah melewati tahapan depresi berat. Peristiwa yang menimpa dirinya mengakibatkan ia merasakan kehilangan yang teramat dalam. Pada masa awal depresi, gejala yang umum dirasakan antara lain adalah rasa sedih, cemas atau hampa yang terus menerus, rasa putus asa, rasa bersalah, kehilangan minat, sulit berkonsentrasi, insomnia, gampang tersinggung, dan lain lain. Apa Karin masih mengalami hal-hal yang barusan aku sebutkan, Kean?”

Kean menggeleng. “Karin tampak normal sekarang. Kecuali….” ia menggantung kalimatnya.

Ramadhan mendesah. “Aku mengerti. Karin memang bisa saja tampak normal dari luar. Padahal di dalam jiwanya, ia tengah terluka sangat parah. Setelah tahap depresi terlewati, artinya ia kini ada dalam tahap delusi. Delusi atau disebut juga dengan Waham merupakan keyakinan palsu yang timbul tanpa stimulus luar yang cukup. Ciri-ciri penderita adalah tidak realistis, tidak logis, egosentris, diyakini kebenarannya oleh penderita, dan tidak dapat dikoreksi.”

Kean tertunduk, wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat dalam. “Apa yang harus kulakukan, Dhan? Aku tak bisa biarkan Karin terus-terusan seperti itu,” keluhnya pahit.

Ramadhan menepuk bahu Kean. “Cobalah pelan-pelan menunjukkan kenyataan sebenarnya pada Karin. Pasti ia tak akan langsung menerima, tapi tetap harus sabar mencoba.”

Mereka terus berbincang hingga maghrib menjelang. Ramadhan mengajukan beberapa saran. Mereka membahas segala kemungkinan. Ketika melirik jam di tangannya, Kean berseru, “Astaga! Sudah lewat jam enam. Aku mesti pulang, aku tak mau Karin gelisah.”

Ramadhan tersenyum maklum. “Ya, tolong sampaikan salamku padanya, ya. Dan hati-hati di jalan.”

Kean melambai sambil masuk ke dalam mobil yang segera menderu melaju di jalanan.

*********

Seusai makan malam, Karin mengatakan kalau dia sedikit lelah dan ingin berbaring sebentar di kamar. Kean menemani anak-anaknya belajar di ruang tengah. Bi Dira sedang merapikan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka.

Pukul sepuluh malam, anak-anak telah masuk ke kamarnya masing-masing, Kean melirik ke arah pintu kamar. Sejak tadi Karin belum keluar. Kean melangkah menuju kamar dan mengintip ke dalam. Di atas ranjang tampak tubuh Karin sedang tidur memunggungi Kean. Kean menutup pintu dan kembali ke ruang tengah. Dahinya berkerut. Ia teringat percakapannya dengan Ramadhan sore tadi.

“Aku harus lakukan sesuatu,” benaknya kembali menimbang-nimbang. “Ini mungkin tak akan langsung menyadarkannya, tapi setidaknya aku harus mencoba lagi,” ia bertekad.

Kean beranjak menuju lemari besar di sudut ruangan, menarik laci terbawah dan mengambil sebuah amplop berisi foto. Foto-foto itu tak akan pernah dimasukkan ke dalam album, tak akan pernah, tapi Kean juga tak ingin membuangnya. Ia tak pernah memperlihatkannya ke pada siapapun, apalagi pada Karin. Tapi demi sebuah rencana yang sejak tadi sore ia diskusikan dengan Ramadhan, satu-persatu foto itu ia susun dalam album keluarga mereka.

Setelah selesai, Kean beranjak ke dapur, ke sebuah lemari kecil tempat ia menyimpan bundelan koran lama. Ia ambil sebuah bundel tebal koran. Dipilahnya berdasarkan bulan terbit. Tiga bulan lalu. Sejenak ia baca sebuah artikel di sudut kiri bawah halaman depan, “Perampok Bersenjata Beraksi. Sebuah rumah digasak. Seorang ibu hamil….”

“Kean? Sedang apa kamu?” sebuah suara menghentikan Kean dari bacaannya. Ia mendongak mendapati Bi Dira sedang memandanginya dari pintu penghubung ruang tengah dan dapur. Ia menghela napas lega. Untung bukan Karin.

“Aku sedang menyortir berita, Bi. Aku…..,” Kean memberi isyarat pada Bi Dira agar mendekat. Di telinga Bi Dira, ia membisikkan rencananya.

Bi Dira mengangguk penuh harap. Bisiknya pelan, “Semoga berhasil, Kean. Semoga Karin segera sadar dari dunianya sekarang.”

“Terimakasih, Bi. Sekarang boleh tolong aku?”

Berdua mereka memilih-milih berita yang akan mereka gunting. Peristiwa tiga bulan lalu cukup menghebohkan kota ini. Perampokan. Apalagi perampok yang mendatangi rumah Kean adalah perampok sadis yang sudah lama dicari polisi. Mereka tak segan melukai bahkan membunuh korbannya. Mungkin karena saat itu Karin sedang hamil, sehingga mereka tidak menyakitinya. Tidak secara langsung.

Ada beberapa potongan kertas yang berhasil mereka kumpulkan. Guntingan berita itu berasal dari beberapa koran, baik koran daerah maupun nasional.

Kean berkata, “Bi, tolong ambil album foto paling besar yang ada di ruang tengah ya.” Tanpa suara Bi Dira bangkit berdiri.

Kean melanjutkan pekerjaannya. Sebentar kemudian dia menyadari ada seseorang berdiri di pintu penghubung. Tanpa mengangkat kepala ia berkata, “Bi, ngapain berdiri di situ terus?” Tak ada jawaban. Kean mendongak. Ekspresi terkejut memenuhi wajahnya.

“Mama!”

“Sedang apa, Pa? Malam-malam begini ada di dapur. Lalu koran-koran itu?” Karin menoleh ke belakang. Ia melihat Bi Dira dengan sebuah album di tangannya, memandang Karin dengan wajah serba salah. “Bibi juga ngapain malam-malam begini di sini? Itu album buat apa?” Karin kembali menoleh ke pada Kean, matanya tak berkedip menuntut jawaban.

Kean menghela napas. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Malam ini ia harus mencoba, sekarang adalah saat yang paling tepat. Ia berdeham. Diam sejenak memikirkan kalimat apa yang akan ia ucapkan.

“Ma, aku rasa sudah saatnya kamu menerima kenyataan. Bahwa…”

“Kenyataan apa, Pa?” Karin memotong cepat.

“Kenyataan bahwa apa yang kamu anggap masih kamu miliki sebenarnya sudah lama hilang. Bayi dalam kandunganmu. Dulu.” Kean diam menunggu reaksi Karin.

Karin menatap tak mengerti. “Dulu? Lalu perut buncitku ini isinya apa? Bantal?”

Kean mengeluh pahit. Karin masih juga menolak untuk sadar. “Kemarilah, “ tangan Kean melambai. Karin mendekat perlahan. Di belakang, Bi Dira menatap dengan pandangan prihatin.

“Lihat ini.” Kean menyerahkan sebuah guntingan koran. Karin menatap mata suaminya, yang memberikan isyarat mantap, “Bacalah”. Tangan Karin terulur, bibirnya mulai bergerak membaca berita.

“Perampok Sadis Menyatroni Rumah Seorang Pengusaha. Perampok yang berjumlah lima orang menyandera seorang perempuan hamil bernama Karin, istri seorang pengusaha bernama Kean. Perampokan di siang bolong itu terjadi ketika rumah dalam keadaan sepi dan hanya ada Karin menjaga rumah. ….. Setelah terjadi negosiasi dengan polisi, perampok bersedia melepaskan sanderanya. Tapi tiba-tiba terdengar letusan. Seorang polisi yang ceroboh menembakkan pistol ke arah perampok. Kawanan perampok yang juga bersenjata api menjadi panik dan menembak membabi buta. Akibatnya seorang polisi terluka parah di bagian bahunya, dan ke lima perampok tewas tertembak. Salah satunya tertembak di bagian kepala dan jatuh menimpa tubuh Karin yang sedang hamil enam bulan. Akibatnya….”

Kepala Karin menoleh ke arah Kean yang mengamati tak berkedip. Bibir Karin bergetar. Ia raih satu lagi guntingan koran.

…..korban yang sedang hamil enam bulan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tetapi sayang, bayi dalam kandungannya yang seharusnya merupakan calon anak pertama mereka tak dapat diselamatkan. Korban mengalami…..”

Pa? Ini aku?” tatapan mata Karin penuh kebingungan. Ada foto dirinya sedang terbaring di atas brankar dalam keadaan lemah. Kean mengangguk. “Ini aku, Pa?” Karin mengulangi pertanyaannya. Matanya merebak. Bibirnya gemetar.

Enggak, Pa! Itu bukan aku! Anakku belum mati!” Karin tiba-tiba histeris. Kean terkesiap, Bi Dira bergegas mendekat.

Karin menuding, “Kamu, Pa, ” ia menoleh ke arah Bi Dira, “Bibi juga! Kalian pasti yang merencanakan semua ini, kan? Kalian mau bilang kalau anakku sudah mati? ENGGAK! Anakku belum mati! Belum mati!”

“Karin! Sadar Karin! Kamu mesti coba ikhlaskan semua yang terjadi!” Bi Dira mendekat, mencoba mendekap tubuh Karin yang sedikit limbung. Album yang sejak tadi dipegangnya jatuh ke lantai. Kean berdiri di samping mereka. Berjaga-jaga.

Tiba-tiba tubuh Karin mengejang. Ia meronta keras dalam pelukan Bi Dira. “Kean! Cepat pegangi Karin!” Kean sigap melompat ke depan, mencoba menenangkan Karin.

Karin menjerit. “Lepaskan! Kalian jahat! Kalian bilang anakku sudah mati. Ini anakku! Anak pertama yang akan lahir dari rahimku. 10 tahun aku menunggunya datang, dan sekarang kalian bilang dia sudah mati?”

Entah mendapat tenaga dari mana, Karin berhasil melepaskan diri dari dekapan Bi Dira dan  Kean. Sekarang posisi mereka berhadapan. Pandangan Karin nyalang. Menantang. Rambutnya acak-acakan. Baju daster yang dipakainya telah kusut di sana-sini. Saat ia hendak berlari ke menuju pintu, sesuatu jatuh dari balik bajunya. Karin tertegun dan mengurungkan niatnya untuk lari. Ditatapnya benda yang barusan terjatuh. Lalu sebuah kesadaran menghantam benaknya. Itu perut palsu! Rupanya saat dalam dekapan Bi Dira tadi, ikatan benda bulat mirip perut ibu hamil itu terlepas. Lalu jatuh begitu saja. Entah siapa yang dahulu memberikan perut palsu itu padanya. Karin selalu memakai benda itu ke mana pun ia pergi. Karin terduduk lemas, tangannya meraih benda dari karet itu dan menatap tanpa kedip. Matanya beralih pada album foto yang tadi jatuh, tepat di bagian foto-foto yang baru saja disusun Kean. Tadinya Kean berniat akan memperlihatkannya pada Karin setelah foto-foto bahagia keluarga mereka, perlahan agar jiwa Karin tidak terlalu terguncang.

Jemari Karin menelusuri beberapa foto. Ada foto rumah mereka yang dilingkari pita kuning, foto dirinya dalam brankar di sebuah lorong rumah sakit, lalu….foto janin yang nyaris sempurna diletakkan di atas selimut tebal! Ini bayiku? Batin Karin mendadak hancur. Kenapa bisa begini? Aku menjaga bayi ini seperti menjaga nyawaku. Kenapa ia pergi? Kenapa  Tuhan mengambilnya? Batin Karin berperang. Karin meratap pilu.

“Ya, Tuhan… anakku, kenapa kau pergi, Nak?” Karin meremas rambutnya. Tangisnya kian memilukan.

Kean dan Bi Dira  hanya mampu menatap dengan hati hancur. Bi Dira terisak.

Kean mendekat, “Ma, kamu harus kuat. Ini semua sudah kehendak Tuhan. Kita harus terima. Ya, Ma?” Kean membujuk.

Karin mengangkat kepalanya. Matanya sembab penuh airmata. “Pa…”

Kean merangkul tubuh istrinya. Berdua mereka bertangisan dalam pedih yang menggigit. Bi Dira tersedu di depan mereka. Meski sedih, sedikit kelegaan bahkan mungkin kebahagiaan, terselip di hatinya. Setidaknya sekarang Karin sudah mau menerima kenyataan.

Karin mengangkat wajahnya. Tangisnya telah berhenti. Ia mencoba menarik napas panjang. Menenangkan jiwanya yang tadi terguncang kenyataan. Kini ada seulas senyum tipis di bibirnya. Senyum kepasrahan akan takdir. Matanya beradu dengan mata Kean, yang juga tersenyum. Sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas di benak Karin.

“Anak kita, Pa.. dia…”

“Anak kita lelaki, Ma. Tampan.”

******

Iklan

2 thoughts on “[Cerita Pendek] Aku (Pernah) Hamil!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s