[Ulasan Buku] Peneliti Harta : Suka Duka Ksatria Pajak

Peneliti Harta oleh Tommy Tindo

Seberapa jauh kamu tahu tentang kami pegawai pajak, atau lebih khususnya seorang Account Representative (AR) sebagai ujung tombak pengamanan penerimaan lebih dari 70% APBN di negara tercinta Indonesia? Apakah kamu tahu apa saja yang harus kami lakukan untuk menuntaskan segala tugas yang dibebankan negara di pundak kami? Apa saja tantangan yang kami hadapi dalam pelaksanaannya?

Hal-hal inilah yang coba dijelaskan oleh Tommy Tindo, seorang AR yang bekerja di sebuah kantor pajak yang berlokasi di kota kecil di Sumatera Utara. Tommy seolah sedang mengilas balik pengalaman-pengalamannya selama menjalankan tugas. Dan sesuai dengan judul novel itu sendiri, Tommy memfokuskan penceritaannya pada usaha seorang AR bernama Hardiman yang mengabdi di Kantor Pelayanan Pajak Dolok Masihul,  untuk meneliti harta milik seorang pengusaha kaya raya yang patut diduga melapor dan membayar pajak terhutang dengan tidak semestinya. Bernard M Simbolon, demikian nama salah satu Wajib Pajak terkaya di Sumatera Utara, melaporkan pajak terhutangnya demikian kecil -penulis tidak menyebutkan jumlahnya. Hal ini membuat Hardiman mengirimkan surat himbauan kepada Bernard M Simbolon (kemudian disingkat menjadi BM Simbolon) untuk meningkatkan setoran pajaknya menjadi 60 juta. Sayang sekali, usahanya ini mendapat rintangan dari atasannya, seorang Kepala Seksi bernama Mariani, yang diduga erat punya hubungan khusus dengan Landi, seorang wanita yang menjadi ‘penghubung’ antara BM Simbolon dengan Kantor Pajak. Tapi lagi-lagi penulis tidak menjelaskan lebih lanjut seperti apa sebenarnya hubungan antara Mariani dan Landi. Penulis membiarkan pembaca menebak-nebak apa yang sebenarnya pernah terjadi antara keduanya.

Dalam usaha yang seolah tak kenal lelah, Hardiman mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan. Dimulai dari tanggapan stereotipe masyarakat yang seolah anti mendengar kata “Pegawai Pajak” – yup, ‘big thanks’ to Gayus-, ancaman verbal, sampai pengeroyokan yang berakhir di rumah sakit. Sampai disini, Hardiman masih sanggup bertahan. Ia bertekad melanjutkan usahanya mengetahui kekayaan sebenarnya dari BM Simbolon. Masih ada orang-orang yang mendukung kegigihannya seperti teman-teman sepekerjaan: Dhimas, Kak Diana, dan Ibu Kepala Kantor, dan tentu saja dukungan dari keluarga. Apalagi kemudian ia mendapat bantuan dari seseorang bernama A Huat yang menyediakan begitu banyak data berharga mengenai kekayaan sebenarnya dari BM Simbolon. Tapi yang patut menjadi catatan bagi penulis, siapa A Huat ini? Dari mana asalnya? Apa latar belakangnya membeberkan data milik BM Simbolon? Dari mana ia tahu tentang Hardiman? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang semestinya disediakan pula jawabannya untuk pembaca. Atau lagi-lagi pembaca harus mereka-reka sendiri jawabannya?

Tanpa disangka sebelumnya, data-data yang didapat dari A Huat ternyata menyebabkan nyawa Hardiman terancam. Setelah mengalami sebuah peristiwa traumatis, Hardiman akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir sebelumnya. Apa itu? Sebaiknya anda baca sendiri novel ini.

Catatan bagi karya perdana Tommy Tindo ini adalah ia bercerita dengan gaya bahasa sehari-hari. Tidak cuma dalam dialog, tetapi juga saat menjelaskan sesuatu hal bagi pembaca. Bagi beberapa orang mungkin gaya bahasa ini akan lebih mendekatkan mereka pada cerita, seperti penulis sedang berbicara secara langsung pada pembaca. Sebagian lagi mungkin akan merasa sedikit terganggu dengan kata-kata yang tidak baku atau kalimat yang ‘seenaknya’. Ini bisa jadi kelemahan, atau justru kekuatan cerita. Semua terserah pada selera masing-masing. Selain itu, kelebihan pada novel ini adalah ia fokus bercerita dari sudut pandang Hardiman. Semua hal yang diceritakan berdasarkan apa yang didengar, dilihat atau diingat olehnya. Tidak ada sub-plot lain dalam novel ini. Dan jangan harapkan adanya kisah cinta ya. Tidak ada ‘kesempatan’ sama sekali untuk itu.

Pada akhirnya Tommy Tindo seperti ingin menegaskan pada pembaca, bahwa pekerjaan seorang Pegawai Pajak khususnya Account Representative sama sekali tidak ringan. Rintangan yang dihadapi bahkan sampai mengancam keselamatan jiwa. Tommy juga ingin masyarakat lebih bijak dalam menyikapi fenomena “Gayus”, bahwa tentu saja ada ‘orang yang tak jujur’ di sebuah instansi bernama Kementerian Keuangan, tapi sikap menggeneralisir, menganggap bahwa semua orang pajak seperti Gayus sama sekali tidak bijak. Tommy juga sekalian menyentil sikap sebagian masyarakat yang demikian lantang bersuara mengecam kasus Gayus bahkan sampai menganjurkan untuk tidak membayar pajak padahal mereka tidak mengerti sama sekali duduk perkaranya. Dan yang lebih parah, sebagian besar dari mereka sama sekali tidak (pernah) membayar pajak. Lucu bukan?

-riga sanjaya, 13 agustus 2012-

Iklan

6 thoughts on “[Ulasan Buku] Peneliti Harta : Suka Duka Ksatria Pajak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s