[Cerita Pendek] Karena Kau Anakku

memeluk anakSudut Kamar, 14 Januari 2011

Kau tahu, Nak, ada banyak ungkapan tentang cinta pertama. Yang paling terkenal tentunya ungkapan “Cinta Pada Pandangan Pertama”. Tapi cinta pertama yang Ayah alami dengan Ibumu –tentu saja, siapa lagi? – sedikit berbeda, Nak. Cinta Ayah pada Ibumu bisa dikatakan sebagai “Cinta Pada Pendengaran Pertama”. Agak aneh menurutmu? Baiklah Ayah ceritakan sedikit ya. Suatu sore, ketika melewati masjid kampus, telinga Ayah menangkap sebuah suara merdu yang sedang mengaji. Sungguh, suara itu seperti embun yang menyegarkan jiwa. Ayah tepekur lama di tempat Ayah berdiri. Tergerak hati Ayah untuk melihat ke dalam masjid, siapa pemilik suara indah itu. Tapi, Ayah tak bisa melihat siapa yang sedang mengaji, sebab Ibumu tentu sedang berada di bagian shalat perempuan, terhalang tirai. Pun tak lama kemudian Ayah tersadar setelah sebuah pesan singkat mampir di ponsel Ayah, pesan dari Dosen agar Ayah segera menemuinya. Tapi yang jelas, suara merdu itu terus membayangi benak.

Beberapa hari berlalu tak terasa. Setiap hari Ayah melewati masjid kampus, tapi suara merdu itu belum terdengar lagi. Akhirnya Ayah melupakan rasa penasaran Ayah tentang pemilik suara bagai embun pagi itu. Ayah sibuk dengan kegiatan-kegiatan di kampus. Lalu, tanpa Ayah sadari, sebenarnya Ayah dan Ibumu sudah sering bertemu. Kami berkenalan saat rapat perdana mempersiapkan penyelenggaraan sebuah kegiatan sosial di kampus tempat kami berdua menimba ilmu. Agak aneh rasanya, kami yang selama ini kuliah di tempat yang sama selama bertahun-tahun tapi tak saling mengenal satu sama lain. Ada banyak alasan yang masuk akal, misalnya, karena jurusan kami berbeda, karena aktivitas kami juga berbeda, atau karena hobi yang sama sekali bertolak belakang. Kau tahu apa hobi ibumu dulu, Nak? Naik gunung! Ya, itu hobi utama ibumu dulu. Dia perempuan paling “perkasa” yang pernah Ayah kenal. Ha ha ha, kau tahu, Nak, ibumu selalu cemberut tiap kali Ayah bilang dia adalah perempuan perkasa. Bagaimana tidak, Ibumu tidak suka dengan hal-hal yang ribet, semua harus serba simpel, wajahnya tanpa riasan sama sekali, bahkan cara berjalannya pun mirip laki-laki.

Sebentar, mungkin kau akan bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah tahu tentang kebiasaan Ibumu padahal kami baru bertemu di acara kampus itu? Biar Ayah jelaskan, Nak. Ayah tahu dari teman-teman dekat Ayah, Om Benny dan pacarnya, Tante Endah. Nanti akan Ayah kenalkan kau pada mereka. Tante Endah ini adalah teman kos Ibumu dulu, sedangkan Om Benny sahabat Ayah sejak SMA. Entah mengapa, mereka semangat sekali menyuruh Ayah mendekati Ibumu. Padahal mereka tahu, Ayah dan Ibumu itu berbeda sekali dalam banyak hal. Ibumu senang beraktivitas di luar ruangan. Naik gunung, arung jeram, masuk hutan. Sedang Ayah lebih tertarik dengan kegiatan di dalam ruangan seperti mengikuti organisasi kemahasiswaan, ikut di berbagai lomba, menulis untuk majalah kampus, dan sebagainya. Dan lagi, sebagian pikiran Ayah masih tertuju pada si pemilik suara bagai embun yang Ayah dengar waktu itu. Akhirnya Ayah mengerti mengapa Om Benny dan Tante Endah menjodoh-jodohkan kami. Mereka mungkin melihat kami punya kesamaan, sama-sama tertarik pada kegiatan sosial dan sama-sama sedang tak punya pasangan.

Acara kampus yang tadi Ayah sebut adalah acara penggalangan dana untuk anak-anak terlantar di seputaran kampus kami. Ayah bertindak sebagai ketua panitia dan Ibumu sekretarisnya. Mengurusi berbagai hal seputar kegiatan itulah yang menyebabkan kami jadi semakin dekat. Semakin sering bertemu, semakin kagum Ayah pada Ibumu. Di luar tampilannya yang cuek, ternyata Ibumu sangat tinggi jiwa sosialnya. Ia begitu peduli pada orang-orang miskin. Ia akan bersedia membantu apapun untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan. Dan yang paling membuat Ayah terperangah adalah pada saat diadakan pembacaan ayat Al-Qur’an. Tepat sebelum acara dimulai, teman Ayah yang bertugas membacakan ayat Al-Qur’an mendadak sakit. Ayah kebingungan mencari pengganti. Beberapa orang yang Ayah tanya, mengaku tidak bisa mengaji dengan baik. Kepala Ayah pusing. Tidak mungkin bagian acara ini dihilangkan. Tapi di tengah kebingungan itu, Ibumu mengajukan diri untuk menggantikan teman Ayah tadi. Berbekal pinjaman kerudung dan baju gamis dari seorang teman, dengan tanpa keraguan Ibumu melangkah naik ke panggung. Tenang ia bersimpuh di tempat yang telah disiapkan, dan mulai mengaji. Lalu telinga Ayah menangkap sebuah suara yang sangat Ayah kenal. Suara bagai embun milik seorang perempuan di masjid kampus! Ternyata perempuan itu adalah Ibumu, Nak! Kau tahu, Ayah makin cinta pada Ibumu.

Hmmm…sudah sore, Ayah terlalu asyik menulis surat untukmu Nak. Sekarang waktunya menjemput Ibumu dari rumah Nenek. Nanti Ayah tuliskan lagi cerita untukmu.

******************

Sudut Kamar, 19 Januari 2011.

Sampai di mana cerita Ayah sebelumnya ya? Oh, iya, sampai Ayah menyadari bahwa Ibumu adalah si pemilik suara bagai embun. Baiklah, akan Ayah lanjutkan kisah ini. Acara penggalangan dana malam itu sukses besar. Kami berhasil mengumpulkan sejumlah bantuan berupa uang, makanan, pakaian dan lain-lain. Ayah, Ibumu, dan teman-teman merayakannya dengan sebuah syukuran sederhana di rumah seorang teman. Kau tahu, Nak, setelah sekian lama menahan diri, akhirnya pada malam itu juga Ayah memberanikan diri untuk menyatakan cinta pada Ibumu. Sungguh, saat itu dada Ayah rasanya berdebar-debar tak karuan. Rasanya wajah Ayah jadi merah seperti kepiting rebus. Ha ha ha, mungkin kau akan tertawa juga mendengar cerita Ayah ini ya, Nak. Tapi sungguh, itu lebih mendebarkan ketimbang saat menunggu pengumuman lomba, menantikan persetujuan sponsor acara, atau saat menghadapi dosen penguji skripsi sekalipun. Dan saat Ibumu mengangguk, kebahagiaan yang Ayah rasakan saat itu jauh melebihi rasa bahagia ketika memenangkan lomba apapun.

Enam bulan setelah pernyataan cinta Ayah, Ayah melamar Ibumu. Ayah ingat sekali kejadian malam itu, pada saat menghadap kakekmu untuk melamar, tangan Ayah gemetaran. Ayah kumpulkan semua keberanian, Ayah susun kalimat terbaik untuk meyakinkan kakekmu. Tapi kau tahu apa yang terjadi saat kami duduk berhadapan, Nak? Lidah Ayah kaku. Keringat dingin membasahi punggung. Grogi, Nak. Grogi. Ha ha ha. Syukurlah kakekmu orang yang pengertian. Ia bertanya apakah tujuan Ayah malam itu adalah untuk melamar Ibumu? Ayah mengangguk cepat. Ia tersenyum. Melihat senyum kakekmu, rasanya beban Ayah langsung hilang. Kalimat lamaran Ayah ucapkan dengan lancar. Dan kakekmu menyetujui. Syukurlaaah.

Dua bulan setelah acara lamaran, kami menikah. Ayah masih ingat hari itu, Nak. Ibumu adalah pengantin tercantik yang pernah ayah lihat. Ibumu terlihat begitu anggun meski hanya memakai baju pengantin sederhana  berwarna putih gading, warna kesukaannya. Kerudung yang ia pakai juga berwarna senada. Dan senyum di wajah ibumu, Nak, sungguh membuat Ayah bahagia melihatnya. Di balik ketangguhan ibumu, tersimpan jiwa yang halus. Ia menitikkan airmata ketika melihat Ayah menjabat tangan kakekmu dan kami mulai mengucapkan ijab kabul. Airmatanya kian deras saat penghulu dan saksi-saksi mengesahkan pernikahan kami. Tanpa perlu kata-kata, semua orang tahu kalau kami bahagia. Segera setelah itu, Ayah raih tangan Ibumu dan mencium dahinya. Lalu Ibumu mencium tangan Ayah. Ah, airmata Ayahpun ikut terbit di pelupuk mata bila mengenang saat-saat itu.

Sebenarnya Ayah ingin segera bercerita tentang kebahagiaan kami menyambut kehadiranmu di rahim Ibumu, tapi Ayah harus pergi. Lain waktu akan Ayah ceritakan, ya.

**************************

Sudut Kamar, 20 Januari 2011

Cerita tentang awal hadirmu sedikit lucu, Nak. Kau tahu, kehadiranmu melengkapi kebahagiaan kami berdua. Kau adalah keajaiban kecil yang Tuhan titipkan di rahim Ibumu untuk kami. Hanya berselang sebulan setelah acara pernikahan kami yang sederhana itu, suatu pagi Ayah memergoki Ibumu sedang duduk di beranda depan rumah kita yang sederhana ini dengan dahi berkerut seolah menahan sakit. Ketika Ayah tanya, Ibumu menjawab kalau kepalanya pusing dan perutnya mual sejak tadi. Ayah berpikir mungkin Ibumu masuk angin sebab malam sebelumnya ia makan terlalu banyak durian. Sedikit menggoda, Ayah bilang padanya, “Tuh, kan, sudah dibilangin jangan makan banyak-banyak, masih aja duriannya dimakan.” Lalu Ibumu menjawab, “Lebih baik begitu, daripada ditinggal, nanti semua abang yang makan.” Ha ha ha. Kami berdua memang penggemar berat durian, Nak. Malam sebelumnya, Kakekmu mengirim lima buah durian berukuran besar, hasil dari kebun di kampung. Wah, kami langsung berpesta. Setelah meminum obat, Ibumu tidur sejenak. Tapi tak lama kemudian, ia muntah-muntah. Hati Ayah sempat berdesir. Mungkinkah Ibumu sedang hamil? Ibumu tak menjawab saat itu. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu Ayah sambil memejamkan mata. Ayah pijat dahinya sampai ia tertidur. Tapi tak lama kemudian Ibumu terbangun dan mulai muntah.

Sore itu juga Ayah bawa Ibumu ke tempat praktik dokter di ujung gang. Ketika dokter memastikan   bahwa Ibumu hamil, hati Ayah seolah melambung ke langit ke delapan. Ha ha ha, mungkin kau akan tertawa saat membaca kalimat Ayah barusan. Langit ke delapan? Padahal yang kita tahu cuma ada tujuh lapis langit, bukan? Ah, jangan pedulikan hal ini, Nak. Itu hanya ekspresi kegembiraan seorang calon Ayah. Yang pasti, kami berdua bahagia menyambut kehadiranmu, Nak. Kaulah permata hati kami.

Kau tahu, Nak, sejak itu hampir setiap hari Ayah mengajakmu bicara. Tentu, Ayah tahu bahwa pada bulan-bulan pertama kehamilan, Tuhan belum tiupkan roh ke dalam tubuhmu. Mungkin kau pun belum bisa merasakan apa-apa. Tapi Ayah tak peduli, Nak. Ayah sungguh senang menantikan kehadiranmu. Ibumu? Tentu saja ia juga senang. Hanya saja ia tak terlalu menunjukkan kegembiraannya seperti Ayah. Kau tahu kan, dia itu perempuan tangguh. Ha ha ha. Ssst, berjanjilah pada Ayah kelak kau tak akan bilang padanya mengenai hal ini.

*********************

Sudut Kamar, 16 Februari 2011

Kau tahu alasan Ayah menulis surat seperti ini buatmu, Nak? Padahal saat ini kau belum lahir, buat apa sebuah surat? Ayah punya alasan sederhana tentang itu, Nak. Ayah ingin mengabadikan segala hal tentangmu. Semuanya. Segala cerita akan Ayah tuliskan, dalam lembar-lembar buku harian. Lalu pada saat yang tepat, akan Ayah hadiahkan semua buku itu – ya, Ayah yakin pada saat itu jumlah buku tentangmu sudah cukup banyak- untukmu. Anggaplah sebagai tanda kasih seorang Ayah pada anak kesayangannya. Meski saat ini kau belum hadir, kau sudah menjadi kesayangan kami, Nak. Mungkin saat ini cerita Ayah sudah sedikit terlambat. Ayah mulai menulis surat ini ketika kau berusia empat bulan dalam kandungan Ibumu. Dan sekarang kau sudah berusia lima bulan dalam kandungan.

Memasuki bulan kelima ini, Ibumu bilang pada Ayah kalau kau mulai bergerak-gerak di dalam perutnya. Ayah semakin gembira mendengar ucapan Ibumu. Jika Ibumu bilang kamu sedang aktif bergerak, maka Ayah akan menempelkan tangan Ayah di perut Ibumu, lalu dengan sabar menunggu kau menendang. Dan ketika kau benar-benar menendang, Ayah dan Ibumu akan terpekik gembira, lalu kami akan tertawa bersama. Sejak itu, sebelum berangkat bekerja dan sepulang bekerja, Ayah semakin sering memegang perut Ibumu lalu mengajakmu bicara. Ayah bicara tentang apa saja. Tentang pekerjaan Ayah, kejadian sehari-hari, juga tentang harapan kami kepadamu.

Oh iya, mungkin Ayah belum pernah bercerita bahwa Ayah bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang hukum. Kau tahu, Nak, Ayah bekerja membela kepentingan banyak rakyat kecil, memberi mereka pengetahuan mengenai hukum, mendampingi kasus mereka, melobi pemerintah dan semua hal yang berkaitan dengan itu. Sedangkan Ibumu memilih untuk berwirausaha di rumah. Ibumu membuka usaha jahitan. Kau tentu tak menyangka, Nak, Ibumu yang dari luar terlihat perkasa – entah sudah berapa kali Ayah menyebut Ibumu dengan kata “perkasa”, jika ia tahu ia pasti akan mencubit pinggang Ayah sampai Ayah meringis minta ampun- ternyata pintar menjahit! Ia bisa mengerjakan banyak jahitan. Membuat gorden, taplak meja, baju perempuan, laki-laki ataupun sarung bantal. Dan jika kau bisa melihat sekarang, Nak, ia sedang membuatkanmu sebuah baju. Meski belum jadi seratus persen, tapi Ayah yakin baju itu sangat indah.

*********************

Sudut Kamar, 04 April 2011

Sekarang bulan ketujuh engkau bergelung di rahim Ibumu yang hangat, Nak. Maafkan Ayah, sudah jarang mengajakmu bicara, atau menulis surat untukmu. Pekerjaan Ayah sungguh banyak belakangan ini, Nak. Ada sebuah kasus hukum yang menyita waktu dan tenaga Ayah. Kau tahu, seorang nenek yang Ayah yakin seumuran dengan Nenekmu dituduh mencuri sepasang sendal milik majikannya. Lalu majikannya yang tak berperasaan itu melaporkan nenek itu ke polisi, yang kemudian segera menangkap perempuan tua yang malang itu. Padahal berapalah harga sepasang sandal, kan? Jadi, lembaga tempat Ayah bekerja menugaskan Ayah untuk mendampingi nenek itu selama persidangan dan memastikan ia mendapatkan pembelaan yang layak. Syukurlah, Nak, majelis hakim masih memiliki hati nurani. Meski menyetujui bahwa nenek itu telah melakukan pencurian, hakim tidak menghukumnya. Nenek itu dibebaskan dari hukuman dan dikembalikan ke rumahnya. Sungguh melegakan, Nak. Ah, kenapa Ayah jadi bicara seperti ini kepadamu ya? Ha ha ha.

Selain kasus yang menyita perhatian itu, entah mengapa belakangan ini Ayah merasa kurang sehat, Nak. Kepala Ayah sering terasa sakit, seperti ditusuk oleh ratusan jarum. Sesekali Ayah seperti orang yang tidak berdaya menghadapi sakit ini, lalu Ayah hanya bisa berbaring setelah menelan obat pereda sakit kepala yang diberikan Ibumu. Jika sakitnya sedikit mereda, berkat pijatan lembut tangan Ibumu, Ayah akan jatuh tertidur.

Bulan ini juga kami akan mengadakan acara tujuh bulanan untukmu, Nak. Upacara adat ini sebagai tanda syukur kami atas kehadiranmu. Juga harapan agar kelak engkau lahir dengan selamat tanpa kurang sesuatu apapun. Meski teknologi sudah memungkinkan bagi kami untuk mengetahui jenis kelaminmu, tapi Ayah juga Ibumu memilih untuk membiarkan hal itu. Kami ingin kau lahir dan memberi kejutan bagi kami. Bagi kami, tak masalah kelak kau terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, sama saja, asalkan kau lahir selamat tak kurang sesuatupun.

Oh ya, semalam Ayah dan Ibumu  sedikit berbeda pendapat. Sebelumnya, masing-masing dari kami sudah menyiapkan sepasang nama –lelaki dan perempuan- untukmu, Ayah memilih nama Safir jika kau laki-laki, dan Safira jika kau perempuan. Sedangkan Ibumu memilihkan nama Arya dan Alya, tapi kami tak bisa mencapai kesepakatan nama apa yang kelak akan kami berikan untukmu. Jadi kami mengambil sebuah keputusan yang tak biasa. Kami akan menyerahkan hal ini padamu. Mana nama yang kau pilih, yang kami tandai dengan sebuah gerakan di perut Ibumu, maka nama itulah yang kelak akan kau pakai.Nah, tadi malam kami sepakat untuk membacakan masing-masing nama pilihan untukmu. Dan kau tahu bagian yang lucu dari hal ini, Nak? Sudah empat nama kami bacakan, tapi tak sekalipun kau bergerak. Mungkin kau tak suka dengan nama pilihan kami, karena itu kami memutuskan untuk mencari nama baru saja untukmu. Lalu Ayah dan Ibumu kembali berdamai. Ha ha ha.

************************

Sudut Kamar, 1 Mei 2011

Ini sudah bulan kedelapan, Nak. Jika Tuhan mengizinkan, bulan depan kau akan lahir. Kami semakin tak sabar menantikan kehadiranmu. Beberapa keperluanmu sudah kami siapkan. Bahkan Ayah sudah mulai membaca buku mengenai cara merawat bayi. Sekarang ini rasanya Ayah sudah tahu persis bagaimana cara menggendong bayi, menidurkannya, atau menggantikan popok. Sudah Ayah hapalkan semuanya. Ha ha ha. Tapi di tengah rasa gembira menyambut kehadiranmu, kepala Ayah juga semakin sering sakit, Nak. Nyeri serupa tusukan jarum itu kian kerap datang. Banyak kegiatan yang terpaksa Ayah tunda atau dibatalkan sama sekali. Kadang saat menulis surat untukmu, nyeri itu datang, lalu Ayah harus berhenti menulis.

Sudah lama Ibumu memaksa Ayah untuk memeriksakan diri ke dokter. Tapi selain karena kesibukan, Ayah juga takut seandainya tengah terjadi sesuatu pada diri Ayah. Akhirnya setelah dipaksa oleh Ibumu, Ayah pergi ke dokter. Setelah diperiksa dengan teliti, dokter menyimpulkan bahwa ada kanker di bagian belakang kepala Ayah. Ya, Tuhan! Kanker, Nak! Ayah sungguh kaget dan cemas. Dokter menyarankan agar Ayah segera dioperasi untuk mengangkat kanker itu sebelum menjalar ke bagian kepala yang lain. Ayah takut, Nak. Takut sekali. Bukan, bukan takut karena akan dioperasi. Ayah takut jika tidak punya kesempatan untuk melihatmu tumbuh besar, melihat tangis dan tawamu, mendengar ocehanmu, dan semua tentangmu. Ayah juga menyesal, mengapa tidak datang ke dokter lebih cepat. Mungkin penyakit ini jadi lebih cepat pula disembuhkan. Pada saat seperti ini, Ibumu selalu ada memberi semangat untuk Ayah. Ia menguatkan mental Ayah untuk segera dioperasi. Demi bisa melihatmu lahir, memeluk tubuh mungilmu yang harum, mengecup keningmu yang halus, akhirnya Ayah putuskan untuk mengikuti saran dokter ; operasi.

**************

Sudut Kamar, 16 Mei 2011.

Lusa adalah waktu yang ditetapkan oleh tim dokter untuk operasi. Selama menunggu waktu pelaksanaan operasi, Ayah diminta dokter untuk menyiapkan diri, mengurangi sebanyak mungkin perasaan stres, menghentikan penggunaan obat-obatan apapun, dan banyak berdoa. Semua akan Ayah lakukan agar Ayah bisa segera sembuh dan menyaksikan kelahiranmu, Nak. Kau ingat kalimat yang Ayah tuliskan di awal? Tentang Cinta Pada Pendengaran Pertama? Ayah punya keyakinan, kalau Ayah juga akan mengalami hal yang sama denganmu kelak. Bukan, bukan berarti saat ini Ayah belum mencintaimu. Ayah sungguh mencintaimu, Nak. Tapi pada saat melihat langsung kehadiranmu, Ayah bayangkan bahwa Ayah sedang mengalami lagi satu cinta pertama. Cinta yang akan langsung meluap bersamaan dengan lengkingan tangisan pertamamu, Nak. Ah, iya, Ayah akan menyebutnya Cinta Pada Tangisan Pertama. Cinta seorang Ayah pada anaknya. Kau tahu, Nak. Saat ini Ayah sedang tersenyum sendiri membayangkan saat kelahiranmu nanti. Meski sakit dan nyeri di belakang kepala Ayah ini belum juga hilang, malah makin menjadi. Kepala Ayah……………….

*************************

Sudut Kamar, 25 Agustus 2011.

Sayangku, saat kau membaca bagian surat ini, tentu kau akan menyadari sesuatu yang berbeda. Kau tentu tahu, bahwa ini bukan lagi tulisan tangan Ayahmu, tetapi aku Ibumu. Sayangku, Ayahmu belum sempat menyelesaikan cerita terakhirnya. Sebenarnya, dia tak akan punya kesempatan lagi. Dia sudah pergi, Sayang.

Andai kau mengerti tentang arti kehilangan, mungkin saat ini matamu juga akan penuh airmata, Sayang. Saat menulis ini, Ibu tengah menangis. Sungguh, menggerakkan pena untuk merangkai kata-kata adalah hal tersulit yang Ibu rasakan saat ini. Ibu bahkan berpikir kalau Ibu tak akan sanggup. Tapi Ibu teringat sebuah kalimat dalam surat Ayahmu, tentang menjadikan cerita ini sebagai hadiah buatmu kelak, tentang menuliskan kenangan, tentang rasa cinta orang tua pada anaknya. Sebab itu Ibu memaksakan diri melanjutkan kisah, yang terjadi selama ini, dimulai dari kejadian malam itu.

Malam pada tanggal 16 Mei 2011 itu Ibu sedang tertidur. Ya, Ibu tahu kalau Ayahmu sedang menulis sesuatu meski dia tidak memberitahukan apa yang sedang ditulisnya. Sebelum lelap tertidur, Ibu sudah mengingatkan Ayahmu agar tidak tidur terlalu malam. Dua hari lagi dia akan dioperasi dan dokter sudah memberi perintah agar Ayahmu cukup istirahat dan tidak bekerja dulu. Ayahmu hanya mengiyakan ucapan Ibu. Rasanya baru sejenak Ibu tidur ketika terdengar suara sebuah benda berat jatuh. Dengan mata terpicing Ibu lihat sesuatu di lantai. Ayahmu. Ibu histeris, Sayang. Ibu segera bangkit dari ranjang dengan susah payah. Segenap kekuatan Ibu keluarkan untuk membalikkan tubuh Ayahmu yang tertelungkup. Ayahmu pingsan. Matanya setengah terbuka, tapi dia tidak menanggapi panggilan Ibu. Mulutnya berkedut, menyiratkan rasa sakit yang teramat menyiksa. Dalam keadaan panik Ibu segera menelpon ke rumah Kakek. Setelah Kakek memastikan dia akan segera datang, Ibu kembali pada Ayahmu. Ibu genggam tangannya, Ibu ajak dia bicara. Tapi Ayahmu tak mengatakan apa-apa. Ibu hanya bisa menangis, Sayang.

Setengah jam yang terasa lama. Kakek dan Nenek serta Om Benny dan Tante Endah akhirnya sampai ke rumah. Pasti Kakek yang menghubungi mereka. Kakek dan Om Benny mengangkat tubuh Ayahmu ke mobil. Nenek dan Tante Endah memapah Ibu yang tiba-tiba merasa sangat lemas. Ibu sangat takut, Nak. Takut kehilangan Ayahmu. Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, Ibu berusaha tegar. Kalimat-kalimat penghiburan tak henti-hentinya diucapkan oleh Nenek dan Tante Endah. Doa-doa kami panjatkan semoga Allah berikan kesembuhan bagi Ayahmu.

Di Rumah Sakit, para dokter yang telah dihubungi Om Benny sebelumnya sudah bersiap-siap. Sigap mereka mendorong sebuah brankar dan membawa tubuh Ayahmu ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Sementara kami berlima dengan wajah cemas menunggu di luar. Detik berlalu bagai menit. Menit bergerak seperti jam. Lambat tak terkira. Rasa tak sabar kami menunggu. Ketika seorang dokter keluar dari ruangan, serempak kami bangkit. Tanpa perlu ditanya, ia menjelaskan. Kata Dokter, Ayahmu sudah sadar dan saat ini dalam kondisi baik. Sungguh lega hati kami mendengarnya. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama. Dokter mengatakan kalau operasi Ayahmu akan dipercepat menjadi besok pagi. Tak ada waktu untuk menunda, kata Dokter. Kami hanya bisa terpaku dan menuruti kata-kata dokter.

Setelah diperbolehkan dokter, kami segera menjenguk Ayahmu, Sayang. Dia terbaring lemah di atas ranjang berseprai putih. Jarum infus tertancap di nadi tangannya. Napas Ayahmu pelan, seolah menarik napaspun memerlukan perjuangan sendiri. Ia menoleh ke arah kami datang. Ia tersenyum pada kami, Sayang. Kami sampaikan kembali padanya kata-kata dokter. Ia mengangguk pelan. Lalu kami semua terdiam. Ayahmu menggenggam tangan Ibu erat sekali, Sayang. Matanya menatap Ibu dalam-dalam. Bibirnya bergetar seperti hendak menyampaikan sesuatu. Tapi tak ada kata yang terucap. Tapi entah kenapa, Ibu mengerti. Itu adalah isyarat perpisahan. Ayahmu pamit pada Ibu, Sayang.

********************

Sudut Kamar, 02 September 2011.

Butuh waktu bagi Ibu untuk menulis lagi. Melanjutkan kalimat terakhir Ibu di surat seminggu lalu. Sebab jangankan untuk menuliskannya, mengingat apa yang terjadi malam itu saja sudah membuat mata Ibu basah. Ibu ingin tertawa melihat betapa kontras antara tulisan Ayahmu tentang Ibu dan keadaan Ibu sekarang. Ayahmu bilang Ibu adalah perempuan perkasa. Tangguh dalam banyak hal. Tapi jika kau bisa lihat keadaan Ibu sekarang, Ibu adalah perempuan rapuh yang berusaha tegar menghadapi kenyataan yang sedang tidak berpihak pada Ibu. Sebuah pengalaman hidup yang Ibu harap bisa menguatkan diri Ibu.

Jadi, Sayang, esok paginya segala persiapan untuk operasi telah beres. Ayahmu akan mulai dioperasi 2 jam lagi. Sebelum operasi dilaksanakan, Dokter memberi kami waktu untuk berbicara berdua. Kakek, Nenek, Om Benny dan Tante Endah satu-persatu keluar dari ruangan. Ayahmu mengatakan pada Ibu betapa ia mencintai Ibu, juga kamu yang ada di dalam perut Ibu. Ibupun mengatakan hal yang sama. Tangan kami bergenggaman, mata yang saling menatap. Lalu tangan Ayahmu bergerak mengusap rambut Ibu. Sungguh, perasaan Ibu campur aduk saat itu. Antara harapan, ketakutan, kepasrahan berbaur satu. Semua akhirnya Ibu serahkan pada Allah sebagai pemilik kehidupan.

Satu jam sebelum operasi, Ibu pamit pada Ayahmu hendak ke kamar mandi. Lalu terjadilah sesuatu yang tak pernah Ibu harapkan sebelumnya. Ibu jatuh di kamar mandi. Sakit sekali rasanya, Sayang. Sakiiit! Ibu hanya terduduk diam selama beberapa waktu, berharap sakit itu akan mereda. Tapi justru semakin lama terasa kian menyiksa. Ibu berteriak meminta bantuan siapa saja yang ada di dekat kamar mandi. Syukurlah, seorang perawat mendengar teriakan Ibu dan memberi bantuan. Dengan tergesa, suster membawa sebuah kursi roda dan mendudukkan Ibu di atasnya. Rasa sakit itu semakin menjadi, Sayang. Engkau ingin segera lahir!

Kepanikan baru melanda. Satu jam lagi Ayahmu akan mulai dioperasi dan sekarang Ibu akan melahirkan! Sungguh di dasar hati Ibu ingin sekali didampingi Ayahmu saat melahirkan. Tapi apa itu mungkin? Kami semua kebingungan. Apa yang mesti kami lakukan? Apakah Ayahmu harus diberitahu sekarang? Jika diberitahu, apakah hal ini tidak akan mengganggu pikirannya? Jika tidak diberitahu, bagaimana jika…ayahmu tidak selamat? Atau bagaimana jika Ibu yang tak selamat? Akhirnya Kakekmu mengambil pilihan, Sayang. Ayahmu akan diberitahu sekarang. Dan yang kami khawatirkan terjadi. Ayahmu meminta Dokter menunda operasi kankernya karena ingin mendampingi Ibu melahirkan. Semula Dokter menolak, dengan alasan semua hal telah dipersiapkan. Penundaan karena alasan apapun dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi Ayahmu. Ayahmu ngotot, bahkan menolak dioperasi jika tidak diizinkan mendampingi Ibu. Akhirnya Dokter mengalah. Ayahmu didudukkan di kursi roda, dengan selang infus di pangkuan didorong menuju ruang bersalin.

Di dalam ruang bersalin, Ibu berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkanmu, Sayang. Rasa sakit yang tak terkira Ibu rasakan. Tapi ketika melihat ayahmu hadir, rasanya Ibu seperti mendapat tambahan kekuatan baru. Ayahmu menggenggam erat tangan Ibu, berusaha mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Akhirnya kau lahir dengan selamat, Sayang. Bayi paling cantik yang pernah Ibu dan Ayahmu lihat. Kau menangis amat nyaring seperti ingin menegaskan kehadiranmu di dunia ini. Seketika wajah Ayahmu menyiratkan kelegaan yang amat sangat. Ia tersenyum lebar. Tangannya terangkat dan berdoa.  Ibu menatap wajah Ayahmu dengan rasa cinta yang dalam, begitupun Ayahmu. Sungguh kami sangat bersyukur pada Allah.

Rupanya ujian Allah belum selesai, Sayang. Belum sempat kau dibersihkan oleh suster yang mendampingi proses kelahiranmu, tiba-tiba rasa sakit menyerang Ayahmu. Dia tertunduk di kursi roda, mengernyit kesakitan. Dia terpaksa membatalkan niatnya untuk menggendongmu. Dokter sigap mendorong Ayahmu keluar dari ruang bersalin menuju kamar operasi. Ibu hanya bisa menangis di ranjang, berdoa dalam isak, sementara para suster membersihkan tubuh kita berdua.

Beberapa saat kemudian Kakek, Nenek, Om Benny dan Tante Endah diperbolehkan masuk ke ruangan. Mereka semua mengagumi dirimu, Sayang. Wajahmu seperti perpaduan sempurna antara wajah Ibu dan Ayahmu. Alis mata lebat, hidung mancung kau dapat dari Ayahmu. Sementara dagu oval, mata bulat dan dua lesung pipi kau dapat dari Ibu. Sejenak kami seperti lupa dengan Ayahmu yang sedang dioperasi. Entah berapa lama kami berbicara tentangmu, seperti menghindari pertanyaan tentang Ayahmu. Bukan, bukan kami tak peduli, tapi kami ingin menyambut kehadiranmu dengan kegembiraan. Bukan dengan tangis atau cerita sedih.

Tuhan tak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan. Orang yang disayangi Tuhan akan selalu diuji. Ya, Ibu percaya dua kalimat itu, Sayang. Seorang Dokter memasuki ruangan, lalu memberi isyarat pada Kakek untuk keluar mengikutinya. Perasaan Ibu mengatakan sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang buruk. Tapi Ibu tak ingin mendahului. Perasaan Ibu terbukti benar. Tak lama kemudian Kakek masuk kembali dengan raut wajah sedih. Matanya menolak menatap Ibu. Ia terpekur menghadap lantai. Ibu mulai terisak, Sayang. Ibu tahu, kalau Ayahmu sudah tiada. Sebagian jiwa Ibu rasanya terbang pergi dari tubuh ini. Ya, Kakekmu tak perlu berbicara pun sepatah kata. Nenek dan Tante Endah serempak memeluk Ibu. Tangisan mereka berpadu dengan tangisan Ibu, lalu lengkinganmu, Sayang. Mungkin kaupun menyadari pekatnya aroma duka yang menggantung di ruangan ini.

Dokter masuk mengucapkan betapa mereka menyesal tidak bisa menyelamatkan Ayahmu. Mereka telah berusaha, tapi Tuhan menentukan lain. Ya, Ibu tak menyalahkan mereka. Mereka memang telah mengeluarkan semua kemampuan. Tapi Tuhanlah pemilik segala ketentuan. Dengan menguatkan diri, Ibu minta diantar ke ruang operasi. Sambil menggendongmu, Ibu didorong oleh Tante Endah ke sebuah ruangan. Kakek, Nenek, dan Om Benny mengiringi di belakang.  Di dalam ruang berwarna serba putih Ayahmu telah dibaringkan. Luka bekas operasi telah ditutup, bajunya telah diganti. Kau tahu, Sayang, wajah Ayahmu tetap terlihat tampan dalam keadaan seperti itu. Sekuat tenaga Ibu menahan isak tangis, tapi justru kau yang kembali menangis. Entah karena apa. Lalu seperti ada sesuatu yang mendorong Ibu meletakkan kau di samping Ayahmu. Seperti ada tangan gaib yang membelaimu, kaupun berhenti menangis, Sayang. Seolah keberadaan Ayahmu mampu menenangkanmu. Airmata Ibu kembali mengalir. Kali ini tanpa suara. Entahlah apa yang sedang Ibu rasa saat itu. Kebahagiaan melihat kalian ‘berkumpul’ berdua, atau duka melihat betapa pertemuan segera berakhir meski nyaris hanya sekejap terjadi. Bahagia di atas duka? Atau duka berbalut bahagia? Entahlah, yang jelas pipi Ibu basah air mata.

**************

Saat ini sudah larut malam, Sayang. Tapi Ibu merasa cerita ini mesti segera diselesaikan. Agar kelak jika Ibu menulis lagi, cerita yang akan Ibu goreskan adalah cerita bahagia, bukan duka. Ibu menulis kisah ini selagi kau tertidur. Semoga kau mimpi indah ya, Sayang.

Hidup memang harus terus berjalan, Sayang. Kau adalah tanda cinta yang dititipkan Ayahmu untuk Ibu jaga dan  rawat sebaik-baiknya. Awalnya semua terasa berat. Hidup kadang terasa sangat sepi tanpa Ayahmu. Meski sekarang Kakek dan Nenekmu selalu mendampingi, tetap saja ada celah kosong di hati Ibu. Namun semakin berganti hari, kehadiranmu mampu mengisi celah di hati Ibu. Kau, permata hati. Kau Ibu namai Safira Ramadhani. Safira itu nama yang diusulkan Ayahmu malam itu, sedangkan Ramadhani adalah gabungan nama kami berdua : Ramadhan dan Rani. Semoga kau suka dengan nama itu ya, Sayang.

Oh ya, sekarang kita tinggal di rumah Kakek. Ibu sangat berterimakasih atas pengorbanan mereka berdua untuk kita. Jika Ibu sedang kelelahan, Nenekmu akan membuaimu hingga tertidur, dan terkadang Kakekmu yang akan menggantikan popok. Mereka berdua orang-orang yang tulus. Rumah kita Ibu biarkan tanpa penghuni. Rencananya akan Ibu jual dan menetap di rumah Kakek. Jadi, dua minggu lalu ketika Ibu datang ke rumah kita untuk mengambil barang-barang pribadi milik Ibu dan Ayahmu, Ibu menemukan surat-surat untukmu. Ibu berjanji akan meneruskan tulisan-tulisan itu, dengan cerita-cerita bahagia tentangmu, tentang kita. Lalu kelak suatu masa akan Ibu hadiahkan cerita-cerita itu semua untukmu. Ibupun berharap kelak cerita-cerita itu akan membawa kebahagiaan untukmu, Sayang. Ya, Ibu menginginkan kebahagiaan untukmu. Karena kau anakku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s