Lelaki Pemanggil Hujan

hujan

Angin sore tiba-tiba menampar keras daun jendela kamarku. Bingkainya terhempas menghantam dinding. Sesekali terdengar suara guruh di angkasa. Aku tersentak dari keasyikan menelepon kekasihku dari atas kasur yang nyaman. Aku merasa sedikit keheranan, kenapa cuaca yang tadinya nyaman mendadak berangin kencang seolah akan turun hujan. Lagi pula bukankah sekarang masih musim kemarau? Kutepis rasa heran yang bergayut di kepala. Bergegas dan berjalan ke arah jendela setelah sebelumnya menutup sambungan telepon.

Sesaat sebelum daun jendela kukaitkan, sudut mataku menangkap adanya sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku. Daun jendela tidak jadi kukaitkan. Ada sedikit celah kusisakan untuk mengintip. Aku menanti dengan sabar sampai si pengemudi mobil ke luar. Semenit yang terasa lama. Si pengemudi rupanya tidak sedang terburu-buru. Ia duduk santai dalam posisi menyandar. Lalu ia membuka pintu, dan muncullah seorang lelaki yang pernah kukagumi. Itu dia! Lelaki pemanggil hujan!

Renfal. Aku mengenalnya sejak masih duduk di kelas satu Sekolah Dasar Negeri Desa Karya. Desa Karya adalah kampung halaman ayah dan ibu. Di desa itu aku lahir dan menghabiskan masa kecil, sebelum akhirnya kami pindah ke kota saat aku duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Renfal. Nama yang membekas di hati, terutama sejak aku melihat sendiri betapa hebat lelaki itu. Betapa seluruh desa menghormatinya, padahal kala itu ia masih sangat muda.

Lima belas tahun lalu, Desa Karya pernah dilanda kekeringan yang berkepanjangan. Penduduk gelisah melihat betapa keringnya desa mereka. Rerumputan dan tetumbuhan meranggas. Sumur kian hari kian dalam. Sungai semakin dangkal. Penduduk harus sangat berhemat dalam menggunakan air. Beberapa dari mereka berinisiatif untuk mencari air di bukit yang berada di ujung desa. Tapi mereka tak selalu beruntung. Lalu datanglah Renfal.

Ia seorang lelaki 18 tahun anak Uwak Darmin, salah satu orang kaya di desa. Penduduk mengenalnya sebagai pemuda pendiam, walaupun temannya cukup banyak. Entah karena ayahnya disegani atau karena sifatnya yang ramah dan wajahnya yang menyenangkan. Sejak tamat Sekolah Menengah Pertama di desa, Renfal dikirim ayahnya ke kota untuk melanjutkan pendidikan. Dan ia baru kembali ki desa ini beberapa minggu yang lalu setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas.

Siang yang terik. Sebagian besar penduduk memilih berdiam diri di dalam rumah mereka. Di angkasa, matahari seolah tak kekurangan energi untuk memanggang kami di bawahnya. Sesekali hawa panas menerbangkan debu yang memerihkan mata. Tapi cuaca sepanas itu tak menyurutkan niat Renfal. Ia berjalan dengan mantap, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek warna hitam, memakai ikat kepala yang juga berwarna hitam, dan sebuah gendang kecil ia peluk dengan tangan kirinya. Sapaan dari beberapa orang yang melintas ia balas dengan senyum, tanpa bicara sepatah katapun.

“Mau ke mana, Ren?”

Renfal hanya tersenyum sekilas. Langkahnya ia percepat menuju sebuah lapangan kecil yang biasa dipergunakan warga untuk bermain bola, atau jika ada hajatan atau acara adat. Ia berhenti tepat di tengah lapangan. Menatap sejenak pada langit, lalu membungkuk seolah ingin memberi hormat. Setelah itu matanya memejam. Berkonsentrasi atau sedang berdoa, aku tak tahu. Hanya bibirnya yang tampak berkomat-kamit. Lalu ia duduk bersila. Memukul gendang kecil yang tadi ia bawa dengan ritme teratur. Suara gendang yang nyaring menarik perhatian orang-orang. Satu persatu kepala terjulur dari jendela rumah, mencari tahu keributan apa yang sedang terjadi.

Renfal tak peduli. Ia terus menabuh. Tiba-tiba ia bangkit, lalu mulai menari. Aku memandang keheranan dari jendela kamarku, tepat menghadap tempat Renfal sekarang sedang menari. Renfal menari dengan mata terpejam. Gerakannya tak beraturan. Kadang ia mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi, kadang tangannya ia letakkan tak bergerak di samping tubuhnya. Hanya kedua kakinya yang terus bergerak, kadang melompat, kadang hanya berputar-putar di satu titik. Saat itu ia seperti berada dalam dunianya sendiri, tak peduli sekitarnya mulai ramai orang-orang berkumpul menontoninya.

“Sst, panggil ayahnya ke mari. Anaknya kesurupan,” ia tertawa.

“Ah, sebentar lagi ayahnya pasti tahu sendiri,” balas temannya.

Renfal terus menari. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Orang-orang yang menonton semakin ramai. Sibuk berbisik sana sini.

“Ini pasti tarian pemanggil hujan. Tarian Suku Masai dari Afrika, “ tebak seorang ibu. Tangannya tak berhenti mengipas.

“Ah, sok tahu kamu,” perempuan di sebelahnya membantah.

“Yee, dibilangin ga mau percaya,” ibu itu bersungut. Mengalihkan perhatiannya kembali pada Renfal.

“Reeeen….mau nari berapa lama lagi nih? Kok belum hujan juga?” suara seorang lelaki dengan nada mengejek. Beberapa orang di dekatnya tertawa. Sebagian hanya tersenyum. “Sudah tamat SMA kok ya masih aja percaya yang beginian sih? “ lelaki itu melanjutkan.

“Iya, nih si Renfal. Sudah hampir tahun dua ribu nih. Millenium, gitu,” seseorang menimpali.

Renfal tiba-tiba menghentikan tariannya. Ia pandangi orang-orang di sekitarnya. Pandangan meremehkan, geli, bingung, dan kasihan terpancar dari mata-mata penduduk. Renfal mengalihkan pandangannya ke tanah. Dengan gerakan lambat ia kenakan kembali sandalnya, lalu dengan kepala tertunduk ia berjalan ke arah ia datang. Bisik-bisik mengiringi setiap langkahnya.

“Ssst, jangan-jangan dia sedang patah hati,” seorang ibu berbisik.

“Atau gara-gara pengen kawin tapi ga dibolehin sama ayahnya!” timpal perempuan lain di sebelahnya. Tawa mereka meledak mengiringi langkah kaki Renfal. Di ujung jalan seorang lelaki tua berjalan tergesa. Wajahnya dipenuhi ekspresi yang bercampur aduk, antara marah, kesal, malu dan penasaran. Dari jauh ia berteriak, “Renfal! Apa yang kamu perbuat, ha? Sudah gila ya? Menari seperti kesetanan di siang bolong begini. Apa sih yang ada di kepalamu itu?” Renfal tetap menunduk, membiarkan tangannya digamit pulang oleh ayahnya. “Apa? Dorongan hati? Apa pula maksudmu?” dari kejauhan masih terdengar omelannya.

Di angkasa, matahari tak sedikitpun kehilangan keperkasaannya. Hawa panas masih ada. Kerumunan orang-orang berangsur-angsur surut. Hanya senyum yang masih tersisa di bibir-bibir mereka. Aku memandangi kejadian ini dari jendela kamarku. Tak beranjak sedikitpun sampai ibu mengingatkanku untuk segera tidur siang. Kejadian tadi sungguh membekas di ingatanku.

Semesta seolah tengah melakukan sebuah permainan. Dan kali ini ia bermain bersama seorang anak manusia bernama Renfal. Siang tadi matahari begitu terik memanggang, tapi malam ini, cuaca berubah drastis. Seusai maghrib, langit dipenuhi kilatan cahaya yang menyilaukan. Guruh bersahutan, angin berkesiur membawa hawa dingin ke sana ke mari. Lalu hujan paling deras yang pernah kuingat turun membasahi desa. Wajah-wajah terkejut ada di hampir semua rumah. Benarkah ini karena tarian Renfal siang tadi?

Dalam semalam –istilah yang sungguh sesuai- Renfal berubah dari sekedar seorang anak muda putra salah satu orang kaya di kampung, menjadi orang paling terkenal se-Desa Karya. Ketika pagi itu ia muncul di lapangan yang sama untuk bermain bola bersama beberapa teman, penduduk ramai mengerubunginya. Seorang bapak tua dengan mata basah mengelus rambut Renfal. Serak suaranya ketika bicara, “Terimakasih, Nak. Desa kita tidak lagi kekeringan. Tanah sudah basah, sumur telah penuh. Terimakasih.”

Seorang ibu menghambur memeluk tubuh kurus Renfal. “Kamu pasti punya keistimewaan, Nak. Ibu percaya itu, kamu disayangi oleh alam, oleh semesta ini.” Ia juga mengusap rambut Renfal dengan penuh sayang. Penduduk lain memandangin adegan ini dengan penuh syukur.

Dan entah ada hubungan apa antara Renfal dan hujan, kini setiap kali ia pulang ke desa saat libur dari kuliahnya, atau saat ada keperluan yang mendesak, hujan selalu mengguyur desa kami. Kami tak akan heran jika pada suatu sore saat hujan deras melihat sesosok tubuh dengan payung berjalan menuju sebuah rumah dengan pekarangan luas di tengah desa. Itu pasti Renfal. Selalu begitu. Hujan dan Renfal.

Ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, aku mulai mencari-cari apapun yang berhubungan dengan ritual-ritual pemanggilan hujan. Saat itu, sekolahku mendapat bantuan seperangkat komputer yang terhubung dengan jaringan internet, sehingga sangat memudahkanku mencari informasi.

Aku telah mengetahui beberapa macam ritual pemanggilan hujan yang ada di Indonesia.  Ada ritual Ojhung yang berkembang di sejumlah daerah di Jawa Timur, khususnya daerah-daerah pesisir dan wilayah yang masyarakatnya mempunyai latar etnis Madura. Ada kesenian rakyat bernama Sintren yang tersebar luas di daerah Pantura (Pantai Utara), sebagian perbatasan Subang, Indramayu, Cirebon, sampai Brebes. Lalu dalam tradisi masyarakat Banyumas, ada ritual Cowongan yang dilakukan tiap malam Jumat, dimulai pada malam Jumat Kliwon, dan dilaksanakan dalam hitungan ganjil, sekali, tiga kali dan seterusnya sampai turun hujan.

Di sebuah kampung di Solok, Sumatera Barat, tepatnya di Negeri Salayo, masih terdapat sebuah tradisi meminta hujan dengan perantara nenek moyang yang disebut Basimbua yang artinya saling menyiram air. Sementara itu di antara bulan Oktober dan Desember di sebuah desa bernama Seraya dilaksanakan ritual pemanggilan hujan bernama Gebug Ende. Sebuah ritual bernama Peresean di Lombok ternyata mirip dengan Gebug Ende. Ritual Peresean ini meminta syarat tetesan darah para petarung. Semakin banyak darah menetes, kemungkinan hujan turun akan semakin besar. Di Lombok Utara, khususnya di wilayah kecamatan Bayan, ada ritual memanggil hujan dengan meniup Suling Dewa, suling dari bambu pilihan yang akan dimainkan oleh keturunan langsung dari sesepuh Bayan.

Tapi dari semua ritual dan tarian pemanggil hujan yang telah kuketahui, tak ada satupun yang serupa dengan apa yang pernah dilakukan Renfal. Mungkin karena aku belum sempat mencari lebih jauh, karena selain penggunaan internet di sekolah yang mesti bergantian dan waktunya terbatas, saat itu ayah dan ibu memutuskan kami akan pindah rumah.

“Kenapa kita mesti pindah, Yah? Sekolah Yumi kan belum selesai,” protesku. Ayah hanya menjawab pelan, “Di kota nanti sekolah kamu akan lebih bagus, Yumi. Kamu juga bisa dapat teman-teman baru di sana.”

Ibu datang dari pintu depan, “Yah, ada tamu. Pak Darmin dan anaknya, Renfal,” ibu sedikit mengedip sambil tersenyum, mungkin masih teringat peristiwa beberapa tahun lalu, lalu seperti menyadari sesuatu, senyum itu segera hilang secepat ia datang. Ayah menghela napas, merapikan sarung dan beranjak ke pintu depan. Di ruang depan mereka berempat berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, kadang kudengar suara ayah seolah menahan marah. Suara Pak Darmin yang berat kadang terdengar meninggi. Tak kudengar sekalipun suara Renfal. Setelah setengah jam, kedua tamu itu pulang. Ketika kudengar langkah kaki mereka telah menjauh, aku bergegas ke ruang tamu. Kulihat wajah mereka kuyu dan tak bersemangat.

“Ayah, Ibu, ada apa?” aku mendekat ke kursi tempat ayah duduk. Menanti jawaban. Tapi mereka hanya diam. “Sudah, rapikan saja barang-barangmu, Yumi,” suara Ibu memecah sunyi. Esoknya kami pindah ke kota.

Suara ketukan di pintu menyadarkan aku dari lamunan masa kecil. “Masuk aja, Bu.” Aku yakin itu Ibu, dari cara mengetuknya yang hanya dua kali lalu diam dan akan ia ulangi dua kali sampai ada jawaban. Ibu masuk dengan wajah sedih. Tanpa berkata apa-apa ia membawaku ke ruang tamu. Di sana ayah duduk dengan wajah tertunduk. Di depannya tegak seorang lelaki berusia pertengahan tiga puluh, gagah tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merasa aneh.

“Kamu pasti Ayumi. Kamu sudah secantik ini sekarang, yah,” ia berdiri, matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah, lalu mengedip genit. Aku terperangah. Renfal pemuda pemalu yang kukenal di masa kecil dulu sekarang berubah drastis. Seketika rasa simpati dan kagum yang sempat kurasa menguap begitu saja. Ia mengulurkan tangan, yang kusambut enggan, sekadar sopan-santun. Ia kembali cengar-cengir.

“Wah, Pak Bun, kalau saya tahu Ayumi sudah secantik ini, saya pasti akan datang dari dulu,” matanya tak lepas dari wajahku, “sayang ayah tak sempat melihat calon menantunya ini.” Aku tersengat. Apa-apaan orang ini seenaknya saja menyebut aku calon menantu ayahnya, yang berarti aku adalah calon istrinya. “Yah, Bu, kenapa Mas Renfal ini ngomong begitu?” suaraku menuntut penjelasan. Mereka hanya terdiam.

Renfal buka suara, “Ayumi, kamu tahu tidak kalau kau sudah dijodohkan denganku sejak kau masih kecil?” lagi-lagi aku tersengat. Maksudnya? Renfal melanjutkan,” Lebih dari 15 tahun lalu, ayahmu meminjam uang dari ayahku untuk modal usahanya. Lalu ia bangkrut. Saat itu ayahmu bilang akan segera membayar, tapi nyatanya tidak. Kau ingat malam sebelum kepindahan kalian ke kota, saat kami datang menagih hutang? Ayahku menawarkan agar kita dinikahkan saat kau sudah dewasa, dan hutang ayahmu dianggap lunas. Ayahmu tidak menjawab, jadi ayahku menganggap itu artinya iya. Lalu kalian pindah dari desa. Entah sudah berapa kota kalian tinggali. Untung saja aku bisa melacak keberadaan kalian. Dan sekarang aku datang menagih janji. Tenang saja, aku sudah tidak menikah, bercerai maksudku. Kau tak akan jadi yang ‘kedua’,” Renfal tertawa kecil. “Dan lagi aku sudah menyukaimu sejak kecil dulu,” ia mengedip genit.

“Ayah! Ibu! Benar apa yang dia bilang? Kenapa aku yang dikorbankan, Yah, Bu? Apa salahku?” mendadak emosi memenuhi dadaku. “Lalu bagaimana dengan Mas Yayan? Aku dan dia sudah berencana akan tunangan tahun depan!” isakku tertahan. Kedua orangtuaku hanya terdiam. Ibu terisak.

“Mas Renfal, tolong jangan memaksa seperti ini. Kami akan mengumpulkan uang. Kami pasti akan bayar,” aku memohon. Renfal hanya menggeleng. “Tidak, Ayumi. Hutang kalian sudah terlalu lama tak dibayar. Dan lihat, sudah berapa lama kalian menghindar? Berpindah-pindah kota ke sana ke mari. Aku sudah tidak mau menunggu lagi. Atau kau mau melihat ayahmu masuk penjara, rumah ini aku sita, lalu kalian tinggal di kolong jembatan?” matanya nyalang memandangiku.

Aku menangis, meraung meratapi malangnya nasib. Sama seperti langit di atas sana yang mulai menurunkan hujan, semakin lama semakin lebat. Renfal, lelaki ini telah memanggil hujan, di langit dan di dalam hatiku.

Iklan

2 thoughts on “Lelaki Pemanggil Hujan

    • riga berkata:

      hehehe..cerita perjodohan udah kurang laku yah? Baiklah….*memikirkan cerita bersetting di luar angkasa pada tahun 2130 tentang seorang eh…seekor..aduh,…alien betina nan cantik yang dipaksa kawin dengan alien jantan gara-gara orangtuanya punya utang…….*terdiam*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s