[Cerita Hati] Berbagi Kebahagiaan

sedekah

Pelajaran yang mencerahkan jiwa ternyata ada dimana-mana. Kota kecil, kota besar. Di dalam gedung bertingkat, atau emperan toko. Dan beberapa malam lalu Sang Hidup berkenan memperlihatkan sebuah contoh kecil.

Malam itu aku bersama beberapa teman sedang duduk di warung pinggir jalan, memesan makanan kesukaaan masing-masing. Kami mengobrol santai, suasana terasa akrab. Selagi kami berbicara, dan makanan disiapkan, lewatlah beberapa kali peminta-minta. Ada yang datang sendiri, ada yang ditemani, entah anak entah saudara, dan bisa juga entah siapa. Mereka berkeliling menghampiri beberapa meja yang ada. Beberapa pengunjung ringan hati mengulurkan seribu-dua ribu untuk masing-masing mereka. Beberapa lagi hanya melambaikan tangan.

Makanan kami pun datang. Masing-masing menikmati pesanan sambil terus mengobrol. Dan ternyata peminta-peminta yang menghampiri tiap meja juga tak berhenti. Sebagian masih ringan hati memberi uang. Tapi yang cuek semakin banyak, mungkin mulai bosan dengan ‘gangguan’ yang mengusik acara makan malam mereka. Lalu seorang pemuda yang tergolong ganteng datang menghampiri sebuah meja. Jika melihat sekilas, tak ada yang kurang darinya. Perawakan agak besar, wajah bersih, pakaian pun layak. Tapi ketika melihat ia berjalan, melihat caranya tertawa, dan berbicara, barulah terlihat jelas berbeda. Meski dianugerahi fisik sempurna, Allah tak memberinya anugrah berupa kecerdasan yang mencukupi. Singkatnya ia terlihat seperti seorang bocah yang memiliki keterbelakangan.

Namun melihat ia tersenyum, entah mengapa bibirku ikut tersenyum. Tingkahnya polos, menyenangkan. Ketika seorang perempuan mengajaknya berbicara, dan kemudian mengulurkan uang, tak henti bibirnya berceloteh entah apa. Senyumnya terus mengembang. Lalu ia beranjak menjauh, menuju meja berikutnya. Aku kembali menekuri piringku.

Setelah menghabiskan makanan, aku melihat seorang pengemis tua dengan -barangkali- anaknya , datang meminta-minta. Pengunjung warung yang mungkin sudah semakin bosan diminta-mintai, semakin bersikap acuh. Berkali-kali tangan mengibas, berkali-kali mereka bergegas berjalan ke lain meja. Dan semua itu tak lepas dari pandangan si pemuda. Lalu hatiku tersentuh ketika menyaksikan perlahan -dengan langkah yang agak menyeret- pemuda itu mendatangi si pengemis tua dan ‘anaknya’, menarik selembar uang dari genggaman tangannya dengan gerakan yang lucu dan mengulurkan uang itu sambil tersenyum. Lalu ia bergumam entah apa. Senyum tak lepas dari bibir dan wajahnya.

Mereka bertiga tersenyum. Aku juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s