[Cerita Hati] Si Pemijat Tunanetra

pemijat tunanetraJika  ada yang bertanya kepada saya tentang siapa yang paling berjasa dalam memberikan pendidikan terbaik kepada saya, tentu jawaban saya adalah kedua orang tua saya. Mereka berdua yang memberikan dasar-dasar pengetahuan tentang kehidupan sejak saya masih bayi sampai saat ini. Mereka yang hampir selalu ada di sisi saya dalam banyak peristiwa. Memberikan nasehat terbaik, bimbingan, dan bantuan. Mereka adalah orang-orang utama bagi saya.

Kemudian saya akan menyebutkan nama-nama guru di sekolah yang mengajarkan begitu banyak pengetahuan, mulai dari guru-guru di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum, sampai dosen di perguruan tinggi. Mereka adalah orang-orang yang saya kagumi. Banyak sekali ilmu yang mereka berikan untuk saya. Saya sangat menghormati dan menghargai jasa mereka.

Lalu apakah tulisan berikut ini tentang mereka?

Bukan.

Dengan tidak mengurangi sedikitpun rasa hormat saya pada mereka, orang-orang hebat di dalam hidup saya, izinkanlah saya bercerita tentang orang lain dalam hidup saya yang memberikan –katakanlah– semacam pencerahan. Ada banyak orang yang meski hadir sekelebat tapi meninggalkan kesan yang dalam di benak saya. Orang-orang ini kadang sudah saya kenal sebelumnya, tapi seringkali hanya orang asing yang saya temui dalam satu atau dua kesempatan.

Orang yang akan saya ceritakan ini adalah seorang pemijat tunanetra.  Seorang lelaki berusia awal empat puluh. Namanya Pak Jamaluddin. Awalnya saya hanya mendengar namanya saja, yaitu ketika saya mengalami kecelakaan kecil, terjatuh akibat kecerobohan dalam mengendarai sepeda motor. Tangan kiri terasa kebas dan ada luka baret akibat menahan bobot tubuh ketika jatuh.

Seorang tetangga menyarankan agar tangan dan juga tubuh saya dipijat, untuk menghindari kemungkinan buruk di masa yang akan datang. Ia menyebutkan sebuah nama : Pak Jamaluddin, tinggal di kampung sebelah tempat saya tinggal. Tetangga memberitahu kalau Pak Jamal -nama panggilannya- ini adalah pemijat tunanetra bersertifikasi.

Bersertifikasi? Wah, boleh juga nih. Dalam hati saya berjanji, akan menemui beliau jika esok pagi tangan saya belum sembuh juga. Alhamdulillah, esok harinya tangan saya baik-baik saja. Saya pun batal menemui Pak Jamaluddin.

Sebulan kemudian, kembali saya mengalami kecelakaan kecil, lagi-lagi akibat kecerobohan saya sendiri. Dasar nasib! Kali ini korbannya adalah kaki sebelah kanan yang harus lebam membiru akibat terbentur dinding batu saat saya terperosok di sebuah parit. Mau tak mau, tanpa harus diberitahu lagi, saya mendatangi alamat Pak Jamaluddin. Sepulang dari kantor saya segera berangkat.

Di rumah Pak Jamaluddin yang sederhana ini, saya diterima seorang perempuan dengan pakaian sederhana yang kemudian memanggil seorang bocah lelaki untuk memanggil ayahnya. Bocah itu berlalu ke dalam rumah sementara saya menunggu di ruang tengah yang sederhana, menonton sebuah tayangan televisi. Setelah menunggu beberapa saat, Pak Jamal menemui saya. Ia keluar dari ruang belakang, meraba dinding, mencabut sebuah colokan listrik, kemudian menuju ke arah saya.

“Siapa yang mau pijat?” tanyanya ramah.

“Saya, Pak,” kata saya sambil meraih tangannya untuk bersalaman.

“Waktunya nanggung nih. Sebentar lagi maghrib, nanti malam saja kembali, ya?”

Saat itu saya langsung melirik jam di dinding, pukul 17.30. Kalau saya hitung-hitung ‘sih masih ada waktu lebih kurang 1 jam untuk pijat sebelum waktu maghrib datang. Tapi Pak Jamal meminta saya datang nanti malam pukul 19.00. Semula saya pikir, “Ah, cuma pijat kok. Enggak bakal makan waktu terlalu lama. Biasanya setengah jam juga selesai.”

Tapi kemudian saya menyadari satu hal, mengingat kondisi Pak Jamal, tentu ia akan membutuhkan waktu lebih untuk melakukan hal-hal sederhana yang biasa saya dilakukan. Urusan ke kamar kecil untuk mandi ataupun wudhu bisa makan waktu lebih lama. Mungkin dia juga terbiasa shalat di mesjid dekat rumah, sehingga untuk berjalan ke sana juga memerlukan waktu.

Ketika sampai pada pemikiran ini, mau tak mau saya merasa kagum. Ia lebih mementingkan ibadahnya ketimbang pekerjaan mencari uang. Padahal seperti saya katakan tadi, bisa saja ia memijat saya selama setengah jam, lalu selesai dengan alasan sudah masuk waktu maghrib. Toh ini pertama kalinya saya datang.

“Baik, Pak. Jam tujuh nanti saya ke mari lagi,” saya mengalah.

Pak Jamal hanya mengangguk ketika saya menyalaminya sekali lagi.

Pukul 7 malam saya kembali lagi menemuinya. Ia tengah duduk di ruang tengah sambil merokok dengan santai.

“Assalamualaikum, Pak. Saya yang datang tadi sore untuk pijat.”

“Alaikumsalam. Iya, tunggu sebentar ya. Masuk aja terus ke dalam.” Ia menunjuk ke sebuah ruangan dengan sebuah tempat tidur kecil. “Itu ada sarung, pakai aja.”

Saya lihat sebuah sarung tersampir di gantungan baju di sebelah tempat tidur. Kelihatan agak dekil –hehehe– mungkin sudah ada yang mempergunakan sebelumnya.

“Enggak apa-apa, Pak. Saya sudah bawa celana pendek dari rumah.” Saya langsung membuka baju dan mengganti celana.

Beberapa saat kemudian Pak Jamal masuk ke ruangan kecil itu, menghidupkan lampu – ia sangat hapal letak saklar, colokan listrik, botol minyak, dan barang-barang lain di ruangan itu. Sempat terpikir dalam benak saya, seandainya ia salah meraba dan kesetrum. Hiiiii. Langsung saya tepis pikiran itu.

Saya menceritakan dengan singkat kejadian yang menimpa saya kemarin. Ia mengangguk sambil mendengarkan. Awalnya saya ingin dipijat pada bagian kaki saja, tapi kemudian saya berubah pikiran dan meminta dipijat seluruh tubuh.

“Sekalian menyegarkan badan, mana tahu tangan saya ada yang keseleo atau salah urat.” Begitu pikir saya.

Pak Jamal meraba tungkai kaki saya. Saya jelaskan bahwa di bagian tulang kering ada luka baret dan tepat di sebelah kanannya terdapat bagian yang lebam. Pak Jamal meraba-raba sebentar daerah itu lalu berkomentar, “Iya, uratnya terasa tegang.” Ia mengambil minyak gosok dari dinding di belakangnya lalu memerintahkan saya untuk tengkurap. Kaki adalah bagian tubuh pertama yang ia pijat.

Sambil memijat, ia mengajukan beberapa pertanyaan. Pertanyaan standar saja, seperti nama, kerja di mana, asal dari mana, dan lain-lain. Saya jawab semua yang ia tanyakan sambil sesekali balik bertanya.

“Udah berapa lama Pak kayak begini?”

Seketika saya menyadari betapa ambigunya pertanyaan saya. Saya khawatir Pak Jamal salah mengartikan lalu tersinggung. Yang saya maksudkan adalah sudah berapa lama menjalani profesi sebagai pemijat. Saya memutar leher untuk melihat reaksinya.

“Ohh, sudah sejak tahun 2005.”

Syukurlah ia tak salah mengartikan pertanyaan ambigu saya. Aku menghela napas lega. Pak Jamal lalu bercerita tentang kondisinya. Ia tunanetra sejak lahir. Saya bisa menebak dengan cara melihat dari kelopak matanya yang selalu terpejam. Ia jelaskan juga secara singkat bagaimana masa kecilnya, sekolahnya – sekolah luar biasa – juga masa remajanya. Ia bercerita dengan nada biasa saja, seolah-olah yang dialami olehnya adalah hal biasa yang dialami orang lain.

“Ini mijatnya belajar di mana, Pak?”

“Di Bireun.”

Bireun adalah ibukota Kabupaten Bireun yang merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara.

“Tahun 2002 ada orang dari pemerintah – Dinas Sosial – yang datang ke mari untuk mendata para tunanetra dan memberikan tawaran belajar pijat. Saya ikut saja. Tahun 2005 selesai belajar dan diberi sertifikat. Saya sempat buka praktik di Bireun selama dua tahun, lalu kembali lagi ke mari. Pulang kampung.” Ia menjelaskan sambil tersenyum. Tangannya terus memijat seluruh tubuh saya.

“Trus keluarga gimana, Pak?”

“Waktu saya di Bireun, ya mereka tetap tinggal di sini. Sesekali saya pulang kampung atau mereka yang datang ke sana. Sambil belajar, kami menerima panggilan jika ada yang ingin pijat. Penghasilan dari pijat itu saya tabung dan kirim ke istri.”

Sampailah saya ke bagian yang menarik, tentang keluarganya. Saya tahu dari beberapa orang bahwa Pak Jamal ini adalah pemijat yang sifatnya ‘terbuka’ dan bersedia menjawab banyak pertanyaan tanpa curiga. Tapi saya juga tidak ingin dicap sebagai pasien kurang ajar yang terlalu banyak tanya. Saya pun mulai lagi bertanya.

“Anaknya sudah berapa orang, Pak?”

“Tiga orang. Yang tadi sore manggil saya, itu anak yang ke dua. Anak pertama saya perempuan, baru saja tamat SD. Masih nunggu pengumuman kelulusan. Yang paling kecil lelaki, baru setahun umurnya.”

Saya diam mendengarkan.

“Ngawasin anak-anak jaman sekarang itu susah. Lihat tuh anak-anak, kalau sudah di rumah, maunya nonton tv melulu. Saya enggak kasih anak-anak nonton tv terus. Nanti jadi bodoh karena keasyikan terus lupa belajar, apalagi kalau yang ditonton sinetron, atau acara-acara gosip. Mana ada ilmunya!”

Saya tersenyum membenarkan dalam hati. Pak Jamal diam. Saya rasa ia memberikan kesempatan untuk kembali bertanya.

“Dulu ketemu sama istri gimana ceritanya, Pak?” Ini dia pertanyaan ‘utama’ saya. Dan saya harus menoleh untuk melihat ekspresinya. Sama seperti tadi, ia hanya tersenyum.

“Dijodohin. Orang tua saya bilang dia anaknya baik. Sudah, buat saya itu sudah cukup, dan juga yang paling penting. Saya kan enggak mungkin minta yang macam-macam. Dia waktu itu mau sama saya aja sudah syukur.” Ia tertawa. Mengoleskan minyak gosok ke punggung saya dan melanjutkan pijatannya.

“Yah, satu-dua kali ada juga lah saya dengar orang yang iseng ngomongin kami. Ada yang bilang, “Kok mau-maunya ya sama si Jamal? Apa enggak ada lelaki lain yang bisa dinikahin?” Saya sih cuek aja. Memang keadaan saya sudah seperti ini sejak lahir. Saya enggak marah kok. Malah kalau istri terpancing emosinya, saya yang tenangkan. Saya bilang, “Sudah, enggak usah diambil hati. Nanti juga dia sadar sendiri.”

Tak sadar, saya melirik ke luar jendela yang tak bertirai, hanya batang-batang kayu persegi sebagai ‘hiasan’, menatap pada seorang perempuan sederhana berkulit hitam dan rambut yang dipotong pendek. Perempuan ini sedang ngobrol dengan perempuan lain yang tadi saya lihat datang dari rumah sebelah. Tepat sebelum perempuan itu – istri Pak Jamal – menoleh ke arah saya, saya mengalihkan pandangan.

“Kamu sudah menikah?”

“Sudah, Pak.”

“Istri enggak dibawa ke mari?”

“Pekerjaannya enggak memungkinkan untuk pindah, Pak. Kami satu instansi, dan enggak boleh bekerja di kantor yang sama. Makanya dia tetap di sana, kota kami. Ada keluarga saya dan keluarga orangtuanya, jadi kalau perlu apa-apa ada yang bantuin,” saya bercerita sedikit. “Saya sering pulang kok,” Penegasan.

“Saya punya ipar yang kondisinya mirip sama kalian. Sama-sama kerja. Istrinya ini seorang guru dan si suami pegawai negeri di sini.”

“Lho, bukannya kalau guru, apalagi perempuan, gampang minta pindah dengan alasan ikut suami ya, Pak?” saya menyela sok tahu.

“Itulah masalahnya, dia tidak mau. Akibatnya ya si suami mesti pulang sekali sebulan. Kan repot urusannya kalau begitu. Saya sudah bilang, kamu sebagai kepala keluarga mesti tegas. Bilang sama istrimu, “Saya kepala keluarga, kamu harus ikut saya ke mana saya tugas.”

Saya hanya diam tak menanggapi. Menurut saya situasi dan kondisi tiap-tiap orang berbeda. Dan tindakan yang diambil tiap orang pun bisa berbeda.

Pak Jamal melanjutkan, “Sayang ‘kan anak-anaknya. Suaminya juga, habis ongkos buat di jalan. Ongkos angkutan, makan di jalan, oleh-oleh. Berapalah gaji pegawai negeri, kan?” Ia menoleh ke arah saya, seolah meminta dukungan.

Saya mengangguk, yang segera saya ralat. “Iya, Pak.”

“Lihat seperti saya ini. Meski hidup sederhana, tinggal di rumah papan, makan secukupnya, yang penting ngumpul, hati juga tenang.”

Untuk hal yang ini memang tak bisa dibantah.

Nyaris dua jam ia memijat. Sambil memijat ia terus bercerita. Nadanya riang seolah tanpa beban. Kadang saya menatapnya saat tengah berbicara. Sekedar mencari kesesuaian antara nada ceria itu dengan raut wajahnya. Yang saya dapati selalu sama, raut wajah dan nada bicara sama. Ceria. Seolah apa yang datang dari dalam hatinya, itu pula yang ia sampaikan.

Saya bisa menyimpulkan bahwa ia cukup bahagia dengan hidupnya, dengan keterbatasan yang ada tak menjadikan ia  terpuruk, malah menjadikannya kuat. Ia punya keluarga dengan tiga anak yang ia bimbing sebaik mungkin sesuai kemampuannya. Pekerjaannya untuk keluarga. Apapun yang ia lakukan, niatnya untuk keluarga.

“Nah, sudah selesai.”

Pak Jamal mengemasi botol minyak gosok dan meletakkannya kembali di dinding belakang. Kemudian dia mencabut colokan lampu dan membiarkan ruangan agak remang, meninggalkan saya yang segera berganti baju. Setelah selesai, saya menghampiri Pak Jamal yang sedang berdiri di ruang tengah, seolah menunggu. Saya raih tangannya dan menyelipkan sejumlah uang.

“Terimakasih, Pak. Buat pijatnya, juga cerita-ceritanya.”

“Iya, sama-sama.”

“Saya pamit, Pak. Assalamualaikum.”

“Alaikumsalam.”

Sambil berjalan ke luar rumah, saya melihat si bocah lelaki tadi sore datang menghampiri ayahnya sambil menggendong bayi lelaki yang tampak lucu. Pak Jamal menggendong si bayi, menggumamkan beberapa kalimat. Si bayi tertawa. Saya tersenyum pada istri Pak Jamal di luar rumah dan segera berlalu.

*******

Iklan

4 thoughts on “[Cerita Hati] Si Pemijat Tunanetra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s