[Cerita Pendek] Memiliki Kehilangan

kehilangan 2Memiliki Kehilangan

Tak mampu melepasnya, walau sudah tak ada. Hatimu tetap merasa, masih memilikinya. Rasa kehilangan, hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya.”

Sore itu lagu dari band kenamaan negeri ini mengalun syahdu dari pemutar musik mobil milik kantor. Aku dan dua orang teman hendak berkunjung ke rumah salah satu teman kami, yang menjadi korban jatuhnya pesawat di daerah Bahorok beberapa waktu silam.

Kami berdiam diri sampai ketika mobil memasuki halaman sebuah rumah sederhana. Tampak ada sedikit kesibukan di rumah bercat coklat itu. Ada seorang lelaki yang sedang menggelar tikar di beranda samping rumah. Kumatikan pemutar musik, lalu beranjak turun.

“Assalamualaikum,” sapa kami berbarengan.

“Waalaikumsalam,” lelaki itu menjawab salam kami. Berbarengan dengan keluarnya seorang lelaki berumur sekitar 50 tahun. Ia mempersilahkan kami masuk, lalu duduk di hamparan tikar di ruang tamu. Tampaknya perabotan telah dipindahkan ke belakang rumah.

Sesudah memperkenalkan diri – ini pertama kalinya aku dan seorang teman datang, sementara salah satu dari kami sudah pernah datang sebelumnya- aku langsung menyatakan belasungkawa.

“Ibu mana, pak?”

Lelaki itu menunjuk ke arah sebuah kamar.

“Ibu sedang diobati di dalam. Bu…”panggilnya”, ini ada tamu temannya Yusni. Yusni adalah nama teman kami yang beserta kedua anaknya termasuk dalam korban kejadian tragis itu.

Si Ibu keluar kamar dan menyalami kami bertiga. Terlihat raut kelelahan di wajahnya. Matanya sayu memandang kami. Entah sedalam apa kehancuran yang ada di dalam jiwanya. Sementara si Bapak terlihat lebih tegar.

Lalu aku menyampaikan maksud kedatangan kami sore ini.

“Begini Pak, kami selain bersilaturrahmi, juga bermaksud menyampaikan amanat dari teman-teman Yusni di Langsa. Ini ada titipan dari mereka.”

Kuangsurkan sebuah amplop putih berisi sejumlah uang. Lelaki itu menerimanya sambil mengucapkan terimakasih.

“Saya salut dengan teman-temannya Yusni. Entah dari mana saja yang datang kemari. Bahkan direkturnya langsung menelepon saya.”

Mungkin yang dimaksud dengan direktur adalah Kepala Kantor Wilayah.

Lalu kami berdiam diri sejenak. Berusaha mencari-cari bahan obrolan yang sekiranya tidak membangkitkan kembali kenangan atas peristiwa itu. Sungguh pun ada teman yang menitipkan pertanyaan seputar almarhumah, seperti tentang bagaimana kondisi jenazah saat diterima keluarga, bagaimana kondisi anak-anaknya, kurasa pada saat itu sungguh sangat tidak pantas untuk ditanyakan.

“Oh ya, kebetulan malam ini adalah peringatan malam ke -40 Yusni. Kalau bisa datang, ya, sesudah Isya.”

Aku memandang kedua temanku.

“Maaf, Pak. Kebetulan juga travel kami berangkat malam ini sesudah shalat Isya. Mungkin kami tidak bisa menghadiri. Anggaplah kedatangan kami sore ini sebagai tanda silaturrahmi.”

Suami istri itu mengangguk.

“Apa kabar Nanda, pak? Saya dengar dia masuk rumah sakit?”

Nanda adalah suami almarhumah. Menurut kabar, dia masuk rumah sakit di Medan karena mengalami kelelahan. Entahlah kelelahan macam apa yang dia alami. Tapi membayangkan kehilangan yang dia alami, sungguh aku tak mampu. Kehilangan istri dan dua buah hati pada waktu yang sama, dengan cara yang tragis pula, pastilah amat mengguncangkan. Aku teringat bundaku, yang seperti kehilangan semangat hidup selama berminggu-minggu setelah meninggalnya ayah secara mendadak akibat serangan jantung. Kehilangan yang tak disangka-sangka.

“Nanda memang sempat masuk rumah sakit,”lelaki itu menjawab. “Tapi sekarang sudah kembali ke sini, kok. Dia ada di belakang. Mau bertemu dengan dia?”

“Terimakasih, tapi lebih baik tidak, Pak. Ini sudah sore, kami harus segera kembali ke kantor.”

Aku mengajukan alasan, padahal yang sebenarnya adalah aku tidak ingin melihat kesedihan lagi. Cukuplah kusaksikan duka yang memancar dari empat bola mata ayah dan ibu Yusni, jangan ditambah lagi. Teringat aku saat pertamakali bertemu Nanda, lelaki yang periang. Senang mengobrol. Seperti apa dia sekarang, aku sungguh tak ingin melihat.

Kami lalu pamit. Sembari bersalaman, kulihat mata si Ibu berkaca-kaca. Ah…

Sesampai di mobil, pemutar musik menyala otomatis. Kudengarkan Letto kembali bernyanyi.

“…Pernahkah kau mengira, kalau dia kan sirna. Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa. Rasa kehilangan….”

Kumatikan pemutar musik dan mengambil sehelai tisu.

Iklan

2 thoughts on “[Cerita Pendek] Memiliki Kehilangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s