[Cerita Pendek] Permainan Hati

permainan hatiJadi di sinilah mereka berdua sekarang. Seorang lelaki dan perempuan. Duduk berhadapan di sebuah kafe kecil di luar sebuah plaza ternama ibukota. Seperti janji yang terucap enam bulan lalu.

“Kau kelihatan semakin cantik, Day,” puji si lelaki. Wanita yang dipuji hanya tersenyum tipis, tapi cukup untuk menggetarkan hati. Senyum itu, masih seperti dulu.

“Kau juga terlihat tampan, Romi. Seperti biasanya.”

Basa-basi ini rupanya tak berlangsung lama. Dayana, wanita muda berusia 23 tahun dengan rambut berombak dan kulit sewarna coklat susu, langsung bicara to the point.

“Jadi, bagaimana hasil pencarianmu selama enam bulan ini? Ketemu yang kamu cari?”

Romi, lelaki berwajah teduh, berusia 25 tahun mendesah pelan.

“Kulihat kau datang sendiri, Romi. Tidak bawa gandengan?”

“Day..”

“Kamu gagal?”

“Aku..”

“Baiklah. Aku mengerti. Aku tak akan memaksa kamu untuk menjelaskan apa apa, Romi. ”

“Tapi kau juga datang sendirian, kan Day? Tidak bawa pacar, kan?”

Seorang waiter memutuskan dialog mereka. Dayana tersenyum manis dan menyebutkan pesanan. Ice cappuccino dan seporsi waffel. Waiter memandang Romi, menanti.

“Saya pesan yang sama, Mbak. Terimakasih.”

Waiter berlalu. Dayana memandang Romi dalam-dalam. Ah, lelaki ini masih memancarkan pesona yang sama. Senyuman hangat yang sama. Tatapan yang sama. Semua masih sama kecuali status. Entah seperti apa status mereka sekarang. Mungkin sebentar lagi mereka akan sama-sama tahu. Ini pertemuan pertama mereka setelah enam bulan. Enam bulan lalu….

*********

Dayana mendesah. Lagi-lagi mereka bertengkar. Masalah yang sama lagi.

“Aku tidak suka, Day!”

“Romi! Kenapa sih emosi gitu? Ingat, Rom, kita ini sudah hampir tunangan. Kita bukan lagi anak abege yang bisa seenaknya memutuskan hubungan kalau ada sesuatu yang enggak sesuai.”

Romi diam. Emosinya masih tinggi.

“Kukatakan sekali lagi, Day. Aku tidak suka diatur-atur harus melakukan ini atau itu. Memilih ini atau itu. Aku ini manusia dewasa, bisa menentukan apa yang ingin aku lakukan atau tidak ingin aku lakukan. Pilihan seharusnya ada padaku.”

“Tapi aku hanya ingin membantumu, Romi. Aku hanya ingin mempermudah urusanmu. Seperti tadi, aku memilihkan karpet baru untuk apartemenmu dengan motif leopard karena aku yakin kamu suka. Kamu suka, kan?”

“Day, ini bukan soal suka atau tidak. Ya! Aku memang suka motif itu. Tapi aku tidak suka caramu yang seolah-olah serbatahu tentang aku. Kamu semakin mendominasiku, Day!”

“Mendominasi bagaimana sih? Kalau semua yang aku lakukan memang salah menurutmu, kenapa tidak kau tolak saja semua hal itu? Kenapa tadi di toko itu kamu tidak protes?”

“Day! Aku cuma tidak mau membuatmu tersinggung, apalagi di depan orang lain. Aku sudah protes, ingat? Tapi kau mengabaikanku. Lama-lama kau seperti ibuku saja.”

Dayana menegakkan kepalanya. Tersinggung. Bukan, bukan karena disamakan dengan ibunya Romi. Ibunya Romi wanita yang baik. Hanya saja cara Romi mengatakan hal itu, dengan mimik yang seolah jijik, menyulut emosi Dayana.

“Oh, jadi aku ini terlalu pengatur, ya? Apa-apa yang aku buat untuk kamu itu salah ya? Semua salah menurut kamu? Lalu mana yang benar, Rom? Pasti ga ada kan?”

Romi terdiam. Meski bibirnya terkatup, kemarahan masih menguasai pikirannya. Dayana menatap Romi tajam. Sebuah pikiran melintas di benaknya.

“Kita sepertinya perlu waktu untuk sendiri-sendiri dulu, Rom.”

Romi terkesiap. Putus? Romi ingin menyanggah, tapi memutuskan untuk diam saja.

Seolah mengerti jalan pikiran Romi, Dayana menyambung ucapannya.

“Bukan, bukan putus. Kita jalan sendiri-sendiri selama enam bulan. Dalam jangka waktu itu aku memberikanmu kebebasan untuk mencari wanita lain yang menurutmu lebih baik dari aku. Mungkin juga aku akan melakukan hal yang sama.”

Enam bulan? Apa sih yang ada dalam pikiran Dayana?

“Selama ini kamu selalu mengatakan kalau aku terlalu pengatur, memperlakukanmu seperti anak kecil, menyuruhmu melakukan ini dan itu, kan? Mungkin dalam waktu enam bulan kamu akan menemukan seorang wanita yang paling mengerti kamu dibanding aku. Dan jika kamu berhasil, aku bersedia membatalkan rencana pertunangan kita.”

Hati Dayana berdesir. Benarkah tindakannya ini? Ia cukup yakin jika dia lah orang yang paling mengerti dan paling tepat buat Romi. Pacaran selama lebih dari 2 tahun ia rasa cukup untuk menyelami seluk- beluk benak Romi. Tapi, benarkah tak akan ada wanita lain yang sanggup berbuat hal yang sama? Tantangan telanjur terucap, Dayana bergeming.

“Dan itu berarti kalau aku juga punya hak yang sama sepertimu,” sambung Dayana.

Kali ini Romi bersuara, “Hak apa maksudmu, Day?”

“Mencari lelaki lain yang lebih baik darimu, Rom. Aku yakin banyak lelaki sebaik kamu di luar sana. Lebih baik, malah.”

Ego Romi tersulut.

“Oke! Aku terima, Day! Enam bulan sejak hari ini, kita akan bertemu di kafe biasa, dengan pasangan masing-masing. Akan aku buktikan, aku bisa mendapatkan wanita yang lebih baik.”

Romi menyambar kunci mobil yang ia letakkan di meja tamu. Dengan langkah gegas keluar dari apartemen Dayana. Tanpa pamit.

Dayana terpaku menatap punggung Romi yang menjauh. Perlahan ia menutup pintu. Mata Dayana basah. Tubuhnya merosot bersandar di pintu. Benarkah tindakannya ini?

*****

“Apa? Kalian putus?” Mata Bella membelalak. “Karena marahan gara-gara pilih-memilih barang aja sampai segininya? Ck….”

“Bukan putus, Bell! Cuma….” Dayana sejenak seperti mencari kata yang paling tepat untuk menggambarkan status hubungannya dengan Romi. “…sedang break aja.” Break? Apa pula maksudnya itu? Batin Dayana mengeluh.

“Tapi, Day, kalo ntar Romi ketemu cewek lain gimana? Kalo ternyata mereka saling suka? Kamu udah pikirin hal ini baik-baik?”

Dayana terdiam.

“Saranku, Day, telpon dia sekarang. Minta maaf, dan tarik semua kata-kata yang udah kamu ucapkan.” Bella menyodorkan ponselnya. Dayana hanya diam. Minta maaf?

“Kamu ga mau? Gengsi? Ya udah, biar aku aja yang telpon Romi.”

Jemari Bella memencet-mencet tombol ponsel mencari nama Romi di phonebook. Belum sempat ia menekan tombol ‘call’ , tangan Dayana keburu merebut ponsel di tangan Bella.

Please, Bell. Biarin dulu kayak gini. Aku dan Romi sama-sama sedang jenuh. Kurasa ada baiknya jika kami berjauhan sementara waktu.”

“Day! Kamu jangan main-main kayak gini deh. Jangan sampai nantinya menyesal. Kalian kan udah mau tunangan. Apa ga sayang kalo ntar ada apa-apa?”

“Bella…please…” Mata Dayana memohon.

“Baiklah, Day. Kuharap kamu tahu apa yang kamu lakukan ini.” Bella mengalah. “Dasar keras kepala,” gumam Bella.

“Apa, Bell?”

“Ah, enggak. Aku cuma mau nanya, ntar malam kita mau jalan ke mana?”

“Oooh….Hmmm..ke mana ya enaknya?”

“Ke…..eh..bentar, ada yang nelpon neh.”

Bella menatap layar ponsel, mengenali nama yang terpampang di situ. Hm..ada apa sih, siang-siang gini nelpon?

Bella mendengarkan sejenak. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Menutup ponsel, kembali menghadapi Dayana.

“Hm..kita nonton aja yuk. Ada film bagus main ntar malam. Filmnya Tom Cruise, kamu pasti suka.”

“Ok…”

******

“Apa? Kalian putus? Serius kamu, Rom?”

“Iya, Zack. Yah, belakangan ini Dayana semakin sering mengatur-atur aku. Emangnya aku anak kecil apa?”

“Trus gimana? Rencana pertunangan kalian dibatalkan?”

Romi terdiam.

“Romi? Haloo?”

“Ah, ini semua ide Dayana. Aku tunggu aja dia mencabut semua kalimatnya ini. Dasar cewek keras kepala.”

“Ya udah deh. Trus, ada rencana ke mana nih kita ntar malam?”

“Di rumah aja, Zack.”

Whatt? Kayak cewek pingitan abis putus cinta gitu? Ikut aku aja nanti malam ke kafe temenku yang aku bilang kemarin itu. Makanannya enak, ada live music, plus cewek-cewek cakep. Buat penyegaranlah. Gimana?” Zack melirik Romi, mengangkat sebelah alisnya dan mengedip. Romi tertawa.

“Baiklah. Eh, mau ke mana? Buru-buru amat.”

“Lupa, ada janji nganterin Mama ke dokter. Cabut dulu yah.”

Romi mengangkat tangannya.

Di luar apartemen, Zack langsung mengeluarkan ponselnya, memencet tombol dan menunggu. Sesaat setelah seseorang di ujung sana mengangkat telepon, Zack langsung berbicara. “Aku punya kabar bagus. Ini saatnya menjalankan rencana. Aku segera ke tempatmu.”

Klik.

*****

Bella gusar meraih ponsel imut pink-nya dari dalam tas. Iiiih, ga sabaran amat sih ini orang. Nelpon mulu!

Dipencetnya tombol ‘ok’ dan tanpa menunggu lagi ia langsung menyemprot. “Iya! Bentar! Lima menit lagi aku nyampe. Mall ini kan luas, tau!”

Dasar cowok!

Dari jarak 25 meter Bella sudah mengenali sosok lelaki yang duduk di meja luar sebuah kafe. Bella berjalan tergesa menghampiri.

“Hai, Zack. Tumben kamu datang janjiannya tepat waktu. Biasanya telat mulu.” Bella duduk di hadapan Zack, menoleh ke arah waiter yang sigap mendatangi mereka. “Orange juice, aja mbak. Terimakasih.”

“Ini masalah penting, Bell. Kamu harus tahu.”

“Tentang apa? Tentang Romi dan Dayana yang sedang ‘break‘?”

“Eh, kamu udah tahu duluan? Dayana yang cerita?”

“Iya lah. Siapa lagi? Jadi gimana nih?

“Kita tahu akhirnya hal ini akan terjadi juga,” Zack buru-buru menambahkan ketika melihat raut muka Bella sedikit berubah, “ walau jelas tidak kita harapkan. Kamu masih ingat perjanjian yang kita buat beberapa bulan lalu? Aku akan berusaha keras. Dan kamu, Bell….kamu pasti akan kalah. Dan kamu harus….”

“Iya..iya. Ga usah diulangi lagi. Aku masih ingat semuanya.”

Orange juice pesanan Bella datang. Sejenak pembicaraan terhenti. Namun segera setelah si waiter berlalu, pembicaraan berlanjut dengan lebih intens. Sesekali terdengar gelak tawa di antara keduanya.

*******

Hening yang terasa menyiksa. Meski suasana di sekitar kafe cukup ramai, tetap saja kesunyian di antara mereka terasa mencekik.

“Sekarang bagaimana dengan hubungan kita, Romi?” Dayana memecah kebisuan. Romi yang sejak tadi hanya tertunduk menekuri minumannya mengangkat wajah.

“Aku mau kita balikan, Day.”

“Kenapa, Romi? Karena kamu masih cinta aku, atau karena kamu tidak bisa menemukan wanita yang lebih baik dari aku?”

“Bukan begitu, Day..” Romi menyanggah, namun cepat menyadari kesalahannya. Raut wajah Dayana telanjur mengeras.

“Bukan begitu apa maksudnya? Gini deh Romi. Kita saling terbuka aja. Selama enam bulan ini, apa kamu pernah dekat dengan wanita lain? Setelah kamu cerita, aku juga akan cerita,” Dayana memberikan usul.

“Sebenarnya,” Romi mulai berbicara,” sebulan pertama kita break aku masih ga bisa lupain kamu, Day. Bukan…bukan maksudnya setelah itu aku bisa lupa. Tapi, di bulan ke dua, aku kenal dengan seorang wanita yang sering datang ke kafe temannya Zack. Namanya Diana.”

Romi menghentikan ceritanya, sekedar untuk mengamati raut muka Dayana. Tak ada perubahan berarti di situ. Dayana cukup tegar mendengar cerita calon -mantan calon- tunangannya mencari cinta baru.

“Awalnya kami mulai dekat. Zack yang mengenalkan kami. Lalu tak lama Bella pun mulai akrab juga dengan Diana. Tapi di bulan ke tiga, entahlah, aku tak mengerti, Diana mulai terasa menjauh. Sudah jarang datang ke kafe, dan sering beralasan sibuk jika kuhubungi. Ya, sudah sampai di situ aja.”

“Ada yang lain lagi selain Diana?” Suara Dayana terdengar tenang. Tatapan matanya pun seolah tak menyiratkan cemburu. Ada seberkas rasa bersalah di sana.

“Ya. Ada. Ini tak mengganggumu jika aku ceritakan juga?”

“Oh, tenang saja Romi. Lebih baik kalau aku tahu sekarang, kan?” Dayana tersenyum tipis.

“Ok. Yang ke dua namanya Ratih. Tak ada yang istimewa dari cerita tentang dia. Hanya saja ada kesamaan antara dia dan Diana. Menghilang perlahan, tepat setelah dia mulai akrab dengan Zack dan Bella.”

“Aneh.” Gumam Dayana. “Aku merasa ada kesamaan antara ceritamu dengan ceritaku.”

“Maksudnya apa, Day?”

“Ya, mirip. Aku juga sempat dekat dengan seorang pria. Tak usahlah aku ceritakan tentang latar belakang dia. Pokoknya, setelah aku mengenalkan dia dengan Zack dan Bella, mereka menjadi akrab, lalu pria itu mundur teratur. Bukan, bukan tak ada kabar sama sekali. Tapi dia menghindari pergi berduaan, tidak pernah lagi telepon atau sms mesra. Seperti teman biasa saja.”

Keduanya terdiam lagi. Sama-sama mengaduk minuman di gelas yang tinggal separuh.

“Day…”

“Ya?”

“Kita balikan aja yuk. Sejujurnya, aku kangen banget sama kamu. Kangen perhatian kamu, kangen dicerewetin sama kamu. Kangen semua-semuanya. Maaf selama ini aku terlalu mentingin ego aku.”

Romi berbicara pelan sambil meraih tangan Dayana. Dayana tak menolak. Mata mereka beradu. Percikan cinta memendar lagi.

“Romi, aku sayang kamu. Maafin aku juga ya, yang terbawa emosi dan mengucapkan hal bodoh tentang mencari pengganti itu. Aku…”

Ucapan Dayana terhenti ketika jemari Romi mampir di bibir.

“Ssssstt….sayang, udah kita lupain aja semua ini. Kita lanjutkan lagi hubungan kita. Setuju, kan?”

Mata Dayana berbinar. Bibirnya mengurai senyum paling indah yang pernah dilihat Romi. Dua hati kembali terajut.

“Eh, ngomong-ngomong Day, kurasa Zack dan Bella itu cocok yah. Masing-masing belum pada punya pasangan, kan?”

“Wah, ide bagus tuh. Kita comblangin aja yuk.”

Keduanya tersenyum. Romi berpindah tempat duduk ke sebelah Dayana. Merangkul bahu Dayana dengan mesra. Yang dirangkul balas merebahkan kepala di bahu Romi.

********

Di kafe sebelah, dua pasang mata tak henti menatap pasangan yang tengah berbahagia itu.

“Nah, Bell, yang kita harapkan akhirnya terjadi juga. Mereka sudah balikan sekarang. Sekarang tinggal urusan kita berdua.”

“Iya, Zack. Aku senang melihat mereka berdua bahagia.” Bella menyusut air mata yang tiba-tiba merebak.

“Eh..eh..udah ah, jangan mellow gitu. Urusan kita sekarang gimana nih? Aku udah lakukan yang kamu minta, ngebantuin kamu menyingkirkan…, ” Zack memberi tanda dengan dua jarinya, ” setiap yang mencoba mendekati mereka berdua, dan aku..eh..kita sukses kan?”

“Iya, kita sukses. Sukses besar. Nah, sekarang kamu laksanakan deh niat kamu ke aku.”

“Asyiiikkk.” Zack berseru sedikit kencang. Buru-buru ia menutup mulutnya, tidak ingin memancing perhatian pengunjung kafe lainnya.

“Ehem…,” Zack berdeham membersihkan tenggorokannya, ” Bella yang manis, mau kah kamu jadi pacarku?”

Bella tersipu malu. Mengangguk pelan.

“Kamu udah membuktikan ke aku, Zack, kalau kamu ga cuma sayang ke aku, tapi juga peduli sama orang yang aku sayang. Aku mau jadi pacar kamu.”

Yess! Hati Zack bersorak.

“Huh, kenapa sih, padahal sama-sama suka, tapi buat nerima pernyataan cinta aja meski pake syarat? Berat dan lama, pula!” gumam Zack. Untung Bella tak mendengar.

“Sekarang, Bell, kita jalan aja yuk. Ga perlu ngawasin mereka berdua lagi, kan?”

Bella bangkit dari kursinya, menyambut uluran tangan Zack. Berdua mereka keluar dari kafe dengan hati senang.

“Eh, Bell, ada yang masih pengen aku tanyain neh. Beneran itu si Dayana adik kamu? Kok bisa sih? Dayana tahu hal ini?”

“Ish, udah ga usah dibahas. Ntar aku minta putus neh!” Bella pura-pura mengancam.

“Whoaaaa, jangan dong! Masak baru jadian udah putus sihh?”

“Makanya jangan cerewet!”

***********

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s