[Cerita Pendek] Menghapus Dendam (Rahasia Di Balik Tambur 2)

bagian 1 Rahasia di Balik Tambur klik DI SINI

menghapus dendam

Pengeras suara dari sebuah surau tak jauh dari rumah Kong Salim mulai melantunkan suara merdu seorang qari dari sebuah pita kaset. Senja kian merah, di ufuk barat matahari seolah putus asa menjulurkan lengan cahayanya ke seluruh paras langit. Kong Salim memandangi punggung si pembawa pesan yang kian menjauh. Hatinya kini tenang, beban yang selama ini ia tanggung telah lepas. Setidaknya lelaki muda tadi percaya padanya.

“Ah….”

Kong Salim mendesah pelan. Melangkah santai menuju surau di ujung gang yang mulai mengumandangkan azan. Menunaikan tugasnya sebagai seorang hamba.

********

Selesai shalat, Kong Salim bergegas pulang dari surau. Beberapa sapaan warga ia balas hanya dengan senyuman. Di depan rumahnya ia tercenung mengamati keadaan sejenak. Yang pertama menarik perhatiannya adalah sebuah mobil yang parkir tak jauh dari pagar rumahnya. Hanya sedikit bagian belakang mobil yang terlihat. Barangkali pemiliknya sedang shalat di surau, dan memanfaatkan tanah kosong itu untuk parkir sebab jalan menuju surau lumayan sempit untuk parkir. Kepala Kong Salim beralih melihat rumahnya. Keadaan rumah masih gelap. Pasti Mamat lupa lagi menyalakan lampu.

“Mamaaatt…”

Sepi tak ada jawaban. Ah, ia ingat. Tadi seusai shalat maghrib ia melihat Mamat dan teman-temannya sedang berkumpul di sekitar Ustad Jali. Pasti mereka akan mengikuti kajian keislaman, seperti yang selalu Mamat ikuti selama dua bulan ini. Baiklah, ia sendiri yang harus menyalakan lampu-lampu.

Kong Salim berjalan pelan menuju halaman depan rumahnya. Sejenak darahnya berdesir. Di semak tanaman di pojok rumahnya terdengar suara gemerisik. Kong Salim diam tak bergerak. Mengamati lebih saksama sesemakan itu. Tapi tak ada lagi suara yang terdengar. Hening. Meski perasaannya sedikit tak enak, Kong Salim mengabaikan kata hatinya untuk memeriksa sesemakan itu. Ah, paling hanya tikus atau kucing yang bersembunyi di sana.

Tangan Kong Salim meraih pegangan pintu dan langsung membukanya. Ia memang mengunci rumahnya hanya saat tidur atau saat bepergian. Ia percaya dengan keamanan di lingkungan rumahnya. Sesudah menutup kembali pintu di belakangnya, tangan Kong Salim meraba-raba dinding di sebelah kiri pintu, mencari saklar. Sebelum ia sempat menekan saklar, sesosok bayangan bergerak cepat menghampirinya dari balik tirai pintu kamar depan. Refleks, Kong Salim berbalik.

“Heiiii….”

Kong Salim tak sempat melanjutkan perkataannya. Sosok bayangan tadi telah menghantamkan kepalan tangannya ke bagian belakang kepala Kong Salim. Kong Salim mengaduh pelan sebelum perlahan kesadaran meninggalkannya. Hanya benak Kong Salim yang masih sempat berpikir, “Apa salahku?”

Lalu kegelapan  yang sebenar-benarnya gelap menyelimuti diri Kong Salim.

Sejenak si penyerang mengawasi korbannya. Sesudah mengatur napas, ia angkat perlahan tubuh Kong Salim. Dengan gerakan ringan, ia bopong tubuh kurus itu dan keluar perlahan dari rumah. Di luar rumah, keadaan masih sepi. Orang-orang yang mengaji di surau belum lagi pulang. Dan yang sudah pulang masih betah di dalam rumah.

“Bagus!” Sosok misterius itu bergumam sambil berjalan cepat dan tetap mengawasi sekitar. Langkahnya terhenti di samping mobil yang diparkir di tanah kosong dekat rumah Kong Salim. Tangan kirinya merogoh saku dan mengeluarkan kunci. Pintu mobil terbuka, tubuh Kong Salim diletakkan di jok belakang. Sosok itu bergegas menuju kursi pengemudi, dan mobil itu segera menjauhi rumah Kong Salim.

Dalam perjalanannya, mobil yang membawa tubuh Kong Salim berhenti di sebuah minimarket. Tepat saat Kong Salim mulai mendapatkan kembali kesadarannya, si penyerang kembali dan menyekap mulut Kong Salim dengan plakban. Dengan cekatan ia juga membebatkan plakban hitam itu ke kedua tangan dan kaki Kong Salim. Tak lupa mata Kong Salim ditutupnya dengan sapu tangan.

“Sabar aja sebentar, Pak. Jangan berteriak ya. Nanti saya lempar kamu ke jembatan. Biar ditabrak orang. Mau?”

Suara itu pelan dan datar, tapi terdengar penuh ancaman. Batin Kong Salim menciut. Ia tak mengerti, apa maunya orang ini. Ia tak punya harta, tak punya simpanan. Ia juga bukan saudara seseorang yang terkenal yang mungkin akan mau menebusnya dengan harga mahal. Ia tak punya semua itu. Lalu apa tujuan orang ini? Kong Salim pasrah. Biar takdir yang akan menentukan nasibku. Benak Kong Salim mendaras doa-doa. Lalu sebuah kesadaran menghantam. Suara itu! Pak Mardi? Tapi, apa benar? Kenapa?

Sementara kepala Kong Salim dipenuhi pertanyaan, laju mobil perlahan berkurang. Terdengar suara gerbang yang terbuka otomatis, mobil melaju masuk, lalu suara gerbang yang tertutup. Penculik Kong Salim membuka pintu belakang, memotong bebat plakban di kaki dan menarik paksa tubuh kurus Kong Salim ke luar.

“Masuk, Pak. Saya akan pertemukan kamu dengan seseorang yang istimewa.”

Kong Salim menurut. Perlahan kakinya menjejak undakan. Pelan ia angkat kakinya satu persatu. Matanya masih tertutup sapu tangan. Ia tidak punya kesempatan mengenali tempat ini. Si Penculik mengunci pintu di belakang mereka, dan mendorong Kong Salim maju ke depan. Semenit yang terasa lama.

Si Penculik membuka pintu sebuah kamar dan mendorong Kong Salim masuk. Setelah mereka berdua berada di dalam, si Penculik melepaskan ikatan sapu tangan di mata Kong Salim. Sejenak, Kong Salim mengerdipkan matanya, membiasakan diri dengan cahaya yang tiba-tiba menyergap. Ketika matanya telah terang, tampaklah di hadapannya sosok yang tak pernah ia duga akan ditemuinya lagi.

“Maya!”

Di depannya, terbaring lemah sesosok kurus wanita tua berbalut daster berwarna biru. Rambutnya memutih nyaris di semua bagian kepala. Dada wanita itu turun naik dengan perlahan, tak kentara. Seolah hanya menghirup sedikit udara untuk memperpanjang umur. Hati Kong Salim terenyuh. Lalu ia teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah si Penculik.

“Pak Mardi! Apa maksud semua ini?”

Pak Mardi yang sedang memandangi ibunya hanya menoleh sekilas. Bibirnya mendesis tajam.

“Ini pembalasan, Pak. Dendam seorang anak pada lelaki yang telah melukai hati ibunya.”

“Apa salahku, Pak Mardi?”

“Oh, kamu masih bertanya apa salahmu? Yah, kamu memang selalu merasa tak bersalah, ya kan? Baik, jika kamu mau penjelasan, akan aku jelaskan, Pak Salim. Atau lengkapnya Pak Mulyadi Salim.”

Kong Salim terperanjat. Tubuhnya mundur selangkah. Lelaki ini tahu? Dari mana ia tahu?

“Oh, saya sejak semula memang sudah curiga kamu menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tak punya bukti apa-apa. Aku beruntung mendapat jawaban secara tidak sengaja. Masih ingat pengantar paket yang datang ke rumahmu tepat setelah aku pergi?”

Kong Salim tak menjawab. Hanya matanya yang tak berkedip.

“Ya, kami bertemu di warung kopi. Ia bilang baru saja mengantar paket ke rumah dengan halaman luas. Tentu saja aku tahu kalau yang dimaksud pasti rumahmu. Iseng kutanya siapa nama penerima paket itu. Lalu ia bilang nama penerimanya adalah Mulyadi Salim. Namamu!”

Mendadak Pak Mardi berbalik ke arah Kong Salim dan menuding dengan tatapan mata benci. Kong Salim tak kuasa menentang mata itu. Ia berpaling ke arah Maya.

“Lalu ide itu muncul begitu saja. Menculikmu! Membawamu ke hadapan ibuku, memaksamu meminta maaf.”

“Tapi..tapi kau bilang Maya sudah…”

“Aku berbohong. Aku berbohong kepadamu agar aku bisa meraih simpatimu. Aku berbohong sejak awal. Tak mungkin ‘kan kalau saat itu kubilang aku mencari seorang lelaki yang menghamili seorang gadis lalu pergi begitu saja? Sepertinya kau sudah tahu dari mana aku mendapatkan keahlian untuk berbohong, kan?

Mata Pak Mardi memandang lurus ke mata Kong Salim. Bibirnya tersenyum mengejek.

“Ya! Aku dapatkan darimu, Pak Salim. Atau mesti kupanggil kau ‘Ayah’?”

Kong Salim tersentak. Ayah?

“Ah, tak perlu lah terkejut begitu. Iya, aku anakmu Pak Salim. Anak yang kau tinggalkan begitu saja di perut ibunya yang masih belia. Yang tak pernah kau beri nafkah apa-apa. Tak ada kabar berita. Bahkan tega mengatakan dirinya sudah meninggal hanya agar lepas dari tanggung jawab. Ayah macam apa kau?”

Pak Mardi terus berbicara sambil telunjuknya menuding dada Kong Salim.

Mata Kong Salim memerah. Hatinya panas. Ia ingin membantah, tapi tak punya kesempatan. Pak Mardi terus menyudutkannya. Mencercanya.

“Kau tahu apa yang terjadi seterusnya? Apa yang terjadi pada ibuku dan aku? Ha! Kau tahu?”

Kong Salim tetap diam. Matanya melirik ke arah Maya yang masih saja terbaring lemah di ranjang. Seperti apa kondisinya sekarang?

“Kami menderita!”

Pak Mardi menekan suaranya penuh kemarahan. Ia tidak ingin mengganggu tidur ibunya, sekaligus sangat sulit menahan amarah.

“Kakek marah besar ketika tahu ibu hamil. Kakek memaksa ibu menikah dengan lelaki dari desanya yang dia pilih. Lelaki itu tahu kalau ibu sedang hamil, tapi bersedia menikahi ibu karena tergiur harta yang dijanjikan kakek. Tapi dia jelas tidak mencintai ibu, meskipun saat itu selalu bersikap baik. Ketika kakek meninggal, sikapnya mulai kasar. Sering menyakiti ibu, juga aku. Hingga ibu memutuskan untuk kabur. Untung saja lelaki itu tidak mencari ibu. Dia cukup senang bisa memiliki rumah dan harta milik kakek.”

Pak Mardi membalikkan tubuhnya. Menatap penuh sayang pada wanita di ranjang. Tangannya terulur membelai rambut perak di kepala ibunya. Wajah itu membias senyum sekilas. Pak Mardi juga tersenyum. Lalu pandangannya beralih ke arah Kong Salim yang masih diam di pojok ruangan.

“Ibu bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan kami berdua. Susah payah ia membesarkan aku, dan tak pernah lagi menikah. Ia bilang cintanya hanya pada satu orang. Kau!”

Suara itu begitu sinis. Mengejek, merendahkan. Kong Salim merasa ia juga harus bicara. Setidaknya untuk membela diri.

“Mardi, aku tak bermaksud membela diri. Tapi aku juga menderita. Kau tahu berapa umurku saat itu? 18 tahun. Aku hanya remaja yang belum bisa apa-apa. Aku hanya bisa menurut apa kata orang tuaku. Saat ayahku mengirim aku ke Kalimantan, aku tidak tahu kalau Maya sedang hamil. Yah, kami memang kebablasan saat itu. Aku akui itu juga salahku.”

Kong Salim menghentikan sejenak ucapannya. Ia meneliti wajah Pak Mardi dengan saksama. Tak ada perubahan air muka di situ. Hanya sepasang mata yang menatap lurus.

“Lanjutkan,” kata Pak Mardi dingin.

Kong Salim meneguk ludah dan melanjutkan pembelaannya.

“Aku sudah berusaha mengirim surat ke ibumu. Tapi tak pernah ada balasan. Kucari tahu kabar keberadaannya tapi tak ada yang tahu. Rupanya kakekmu memindahkannya ke desa kelahirannya. Awalnya aku hancur karena aku mencintai ibumu. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan hiduku. Hingga sekarang seperti yang kau lihat.”

Wajah Pak Mardi melunak. Mereka berdua sama-sama menderita. Ibunya dan Kong Salim. Waktu puluhan tahun semestinya bisa menghapus dendam di antara mereka. Lalu keheningan menyelimuti ruangan itu. Hanya desah napas ketiganya yang terdengar.

“Uhukk….”

Serempak dua kepala menoleh ke ranjang. Wanita tua itu terbatuk. Ia berusaha duduk. Pak Mardi segera menghampiri dan membantu ibunya duduk. Setelah batuknya reda, barulah ia menyadari kehadiran orang lain di kamar.

“Siapa itu, Ardi? Mana kacamata Ibu?”

Mardi melihat ke sekeliling ranjang, dan menemukan kaca mata ibunya terselip di bawah bantal. Ia menyodorkannya ke pada ibunya.

“Ka…kamu…kamu Mas Mulyadi?” wajah Maya terlihat keheranan. “Apa yang kau lakukan di sini? Oh, Ardi, kamu sudah berhasil menemukan dia!” Rona gembira menyelimuti wajah Maya.

Pak Mardi mengangguk.

Kong Salim berjalan mendekat. Meraih kursi di sudut ranjang dan duduk tepat di depan Maya. Tangannya meraih tangan Maya dalam genggaman. Maya tak menolak.

“Maya, aku minta maaf. Aku minta maaf atas segala hal yang sudah terjadi. Kamu menderita begitu lama, dan akulah penyebabnya. Aku minta maaf.”

“Ah, Mas Mul. Tak ada yang perlu dimaafkan. Aku sudah ikhlas dengan apapun yang telah terjadi.”

Bibir Maya tersenyum. Kong Salim memandang wajah itu dengan tatapan penuh terima kasih.

“Kau sakit apa, Maya?”

“Ah, sakit biasa. Sakit orang yang sudah tua. Tapi yah, kadang-kadang aku mulai bicara ngawur tentang kematian. Lalu timbul keinginanku untuk bertemu denganmu. Mungkin itu yang membuat Ardi jadi khawatir dan berusaha sangat keras untuk mencarimu. Dan yah, petunjuk yang kupunya cuma foto lama itu.”

Lalu ada hening menyapa. Maya tampaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi tak menemukan kalimat yang tepat.

“Mas Mul, Ardi itu…dia itu…”

“Iya aku mengerti, Maya. Aku tak meminta pengakuan apapun dari kalian. Mengetahui kamu mau memaafkan aku saja sudah sangat melegakan.”

“Ardi…apa kamu mau maafin Mas Mul?”

Pak Mardi hanya memandang sejenak. Lalu pandangan ia alihkan ke langit-langit kamar. Tak ada jawaban apapun meluncur dari bibirnya.

“Sudah, Maya. Aku tidak ingin kamu memaksa dia memaafkan aku. Aku cukup bahagia dengan pertemuan kita ini.”

Kong Salim memandang Maya lagi. Pandangan mereka bertemu. Lihatlah mereka berdua kini. Dua orang tua yang pernah saling cinta, dipisahkan takdir, dan akhirnya bertemu lagi.

“Jadi, Mas Mul, tolong ceritakan padaku tentang orkes tanjidor Kalijodo itu. Seperti apa ya keadaannya sekarang? Si Aseng, si Ijat, dan…aduh…siapa lagi ya namanya, gimana kabar mereka?”

Kong Salim menjawab rentetan pertanyaan Maya dengan wajah berseri. Pak Mardi berjalan perlahan menuju pintu, membukanya tanpa bersuara, dan sebelum menutup pintu, sempat ia perhatikan wajah bahagia ibunya. Ia pun tersenyum. Sambil bersandar pada daun pintu, bibirnya bergumam.

“Aku memaafkanmu…………….Ayah.”

**********

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s