[Cerita Pendek] Calon Pengantin

calon pengantinDi luar suasana masih riuh. Deras bunyi hujan tak juga menyurutkan kebisingan. Kasak-kusuk di semua sudut rumah. Pesta perkawinan ini dipastikan batal.

Laila mengintip ke luar dari balik kain jendela kamar. Beberapa orang berbicara cukup keras hingga sampai ke telinganya.

“Kasihan yah calon pengantin perempuannya, ditinggalkan seperti ini pada hari pernikahannya.”

“Iya, Mbak. Ah, aku tak bisa membayangkan seperti apa hancurnya hati si Laila.”

Lalu seperti menyadari bahwa suara mereka cukup keras untuk terdengar sampai ke dalam kamar, dua wanita itu mengecilkan volume suara mereka, sambil terus berkasak-kusuk.

Laila merapikan lagi kain jendela. Ia sudah cukup lama mengurung diri di kamar. Ia masih mengenakan kebaya satin warna gading, dengan sanggul menghiasi kepala. Riasannya mulai pudar akibat air mata yang mengalir. Maskaranya sudah luntur. Tapi ia sama sekali tak peduli. Satu-satunya hal yang ia pedulikan adalah : Di mana Mas Haryo sekarang berada?

Pesta perkawinan ini sedianya akan dimulai dengan akad dan dilanjutkan dengan pesta sederhana di kediaman orang tua Laila. Penghulu sudah hadir sejak pukul 7 pagi meski akad tadinya akan dilangsungkan pada pukul 8 pagi. Dan sekarang pukul 12 siang.

“Laila, kamu yang tabah ya sayang. Ayahmu dan teman-temannya sedang berusaha mencari calon suamimu itu.”

Sepasang tangan memegang pundak Laila dari belakang. Itu pasti Mbah.

“Iya, Mbah. Laila akan coba untuk tidak menangis.”

Memang, saat ini Laila sudah tak mampu menangis. Ia pasrah dengan nasib. Ia hanya bisa merenungi kisah cintanya dengan Haryo. Sudah dua tahun mereka merajut kasih. Sempat putus sebab Laila pernah tergoda untuk mendua ketika Haryo harus menjalani Kuliah Kerja Nyata selama 6 bulan di sebuah desa terpencil. Kesepian membuat Laila goyah dan membiarkan lelaki lain mendekatinya. Haryo sempat marah besar dan bersumpah akan membalas perlakuan Laila. Tapi kemudian mereka berbaikan, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Harusnya mereka menikah hari ini, tapi kenyataannya…..

“Mas, aku akui aku pernah mengkhianatimu, meninggalkanmu, tapi kemudian aku menyadari kesalahan. Aku ingin kembali padamu, dan kamu memaafkanku. Tapi mengapa sekarang kamu yang meninggalkan aku?  Mengapa di hari pernikahan kita?” batin Laila meratap.

Tangan Laila meraih sebingkai foto yang ada di atas meja riasnya. Wajah tampan Haryo yang sedang tersenyum. Senyuman yang sangat Laila rindukan. Terutama saat ini.

“Mas, kumohon, apapun yang terjadi padamu, segeralah datang. Aku menunggumu.”

Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara berisik yang lebih kencang. Ada jerit tertahan. Ada sedan yang dipendam. Si Mbah keluar dari kamar untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi. Tak lama ia kembali masuk ke dalam kamar. Wajahnya murung, matanya memerah.

“Mbah, ada apa?”

“Sayang, kamu harus menguatkan diri. Kadang apa yang kita rencanakan tak seperti yang Tuhan inginkan.”

“Mbah, Laila nggak mengerti.”

“Haryo sudah datang. Tapi….”

Belum sempat si Mbah menyelesaikan kalimatnya, Laila sudah keburu ke luar kamar. Batin Laila berdebar kencang. Apa Mas Haryo mendapat kecelakaan? Apa dia baik-baik saja? Ataukah…..

Pertanyaan yang mengerumuni benak Laila segera mendapat jawaban. Di ruang depan, tampak beberapa orang sedang mengerumuni sesuatu yang dibaringkan di atas tikar.

“Mas Haryo terluka!” desis batin Laila.

Tangan Laila berusaha menyibak kerumunan. Orang-orang yang menyadari kehadiran Laila, tanpa diperintah langsung memberikan jalan. Hingga pemandangan memilukan itu menyergap mata Laila bulat-bulat.

Pemandangan tubuh Haryo yang telah menjadi mayat!

Wajah Laila memucat. Pening hebat seketika menyergap. Sebelum pingsan ia sempat mendengar gumaman pelan orang-orang. Tentang jembatan yang tiba-tiba  roboh, tentang banjir yang menghanyutkan tubuh orang-orang, tentang mayat-mayat yang belum juga ditemukan.

Dunia Laila menghitam.

*******

Iklan

3 thoughts on “[Cerita Pendek] Calon Pengantin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s