[Cerita Pendek] Karena Aku (Tak) Cinta

tak cintaKami duduk berhadapan di kursi ruang makan. Aku dan istriku – mungkin sebentar lagi akan jadi mantan istri – saling memandang dengan perasaan masing-masing yang terlalu rumit untuk dijabarkan. Wajah lembutnya masih sama seperti sebelum kami memulai pertengkaran. Tenang, tapi seperti memendam begitu banyak derita batin. Ah, bertengkar lagi dan lagi dan lagi. Begitu banyak sebab untuk bertengkar. Bahkan hal yang teramat sepele. Seperti sore tadi.

“Mas! Apa salahnya sih, sehabis mandi handuk dijemur di luar? Ini malah dibiarkan saja di atas kasur. Jorok banget sih?” Rini mengomel.

“Rin! Hal kecil begini saja kau permasalahkan. Apa sih susahnya juga buatmu untuk ambil handuk ini dan jemur di luar?” Aku yang sedang bingung sebab terancam dipecat oleh bos di kantor menyahut sengit. Suaraku meninggi.

“Mas! Aku bukan pembantumu! Kau kan bisa kerjakan sendiri!” Ucapan Rini semakin menyulut emosiku.

“Aku sedang banyak pikiran. Kau bukannya membantu, malah tambah bikin aku pusing!”

“Memang aku, kan? Selalu saja aku yang kau salahkan. Kerjaanmu di kantor yang bikin kau pusing, tapi di rumah, aku yang kena getahnya? Maumu apa, Mas Don? Aku jadi sansakmu? Jadi kambing hitammu? Begitu?” Omelan Rini kian panjang.

Aku malas mendebat. Bergegas kuselesaikan mengancing kemejaku, dan menuju pintu ke luar kamar. Rini menarik kemejaku.

“Rini! Jangan bikin aku marah! Kau mau bertengkar lagi, hah?” Emosiku meninggi lagi.

“Kau yang selalu lari kalau kita sedang bicara, Mas Don.”

“Apa!? Aku?”

“Ya!” tantang Rini. “Kau selalu menghindar. Tak jantan. Kau pengecut!”

PLAKKK.

Rini terhuyung sejenak. Pipinya memerah bekas tamparanku. Matanya kini penuh kemarahan. Sama seperti mataku saat ini. Beraninya ia bicara seperti itu padaku!

“Jadi, cuma ini yang bisa kau lakukan buat istrimu? Apa janjimu dulu sebelum kita kawin, hah? Kau akan menjagaku. Mencukupi semua kebutuhanku. Masih ingat?” Suara Rini meninggi. Kepedihan terdengar begitu jelas dari nada bicaranya.

Aku diam. Kata-kata Rini benar. Aku pernah berjanji kepadanya. Akan menjaganya. Akan….

“Aku rela minggat dari rumah. Ayah dulu tak setujui hubungan kita karena dia mendengar banyak kabar miring tentangmu, Mas. Kamu yang playboy, kamu yang kurang bertanggung jawab. Tapi aku tak percaya semuanya, karena aku cinta sama kamu, Mas. Aku tak pernah menyesali kita tinggal di rumah sederhana seperti ini. Hidup seadanya. Aku mau memahami semua keterbatasan kita. ” Rini diam mengatur napas yang terengah oleh emosi.

Aku menanti kalimat berikutnya. Aku tahu jika disela, repetan Rini akan semakin panjang.

“Tapi kenapa sekarang kau berubah, Mas? Kau makin tak peduli padaku. Pulang selalu malam, tak mesra. Ah, kau memang tak pernah mesra. Tapi kali ini kurasa kau sudah terlalu. Kau punya perempuan lain?” Tuduh Rini langsung.

Aku terkesiap. Apa ini yang dinamakan naluri perempuan?

“Benar kau punya perempuan lain?” Cecar Rini lagi. Matanya menusukku. Menuduh.

“Tidak! Kau jangan menuduhku, Rin! Aku tak punya perempuan lain.”

“JANGAN BOHONG!! Aku lihat sms-sms mesramu dengan….namanya Sitta. Ya, kan? Namanya Sitta, kan? JAWAB MAS!”

“BUKAN!” Aku sungguh marah sekarang. Pertama, Rini berani membentakku. Kedua, dia melanggar privasiku. Mengintip isi ponsel adalah sesuatu yang tak bisa kutolerir, bahkan bila dilakukan oleh istriku sendiri.

“Kau selalu tak menghargaiku, Rini! Kau sering sekali meremehkanku sebab aku cuma pegawai rendahan. Iya! Gajiku kecil! Aku belum bisa membuat hidupmu sama seperti saat tinggal di rumah ayahmu yang kaya itu.” Aku menatap matanya langsung. Matanya menantangku. Aku merasa makin jengkel.

“Aku tak punya hubungan apapun dengan Sitta. Menurutku itu sms yang masih wajar. Dan aku hanya sekedar menanggapi. Tak ada maksud lebih.” Elakku sambil terus menatap matanya. Sial! Dia masih tetap memandangku, kali ini bibirnya tersenyum sinis.

“Ah, lelaki. Bisa saja mengelak. Kalau ketahuan, paling-paling marah.” Kepalanya berpaling. Kini ia membelakangiku. “Seperti yang kau lakukan saat ini,” sambungnya.

Darahku mendidih. Tanganku sempat terangkat hendak menamparnya, tapi niat itu kuurungkan. Tamparan tadi sungguh kusesali, tak mau kuulangi.

Hening sejenak hadir di antara kami. Hanya desah napas yang terdengar. Semakin lama semakin hening. Kami berdua sedang berusaha menghilangkan amarah yang membubung di kepala. Mencoba berpikir dengan jernih.

“Aku tak tahan lagi, Mas.” Suara lirih Rini mengoyak keheningan. Aku terkesiap. Benarkah?

“Aku ingin kita pisah. Sudah terlalu sakit hatiku, Mas. Aku tak mau terus menerus tertekan batin. Mumpung kita belum punya anak. Kasihan dia nanti seandainya kita terus memaksa mempertahankan perkawinan ini.”

“Rini, dengarkan aku. Jangan terburu nafsu. Kita bisa evaluasi lagi kesalahan-kesalahan yang mungkin kita lakukan. Perkawinan ini masih bisa kita selamatkan.” Entahlah. Aku tak tahu apakah kalimat tadi datang dari hatiku sendiri atau karena dorongan gengsi. Diceraikan istri? Ugh!

“Oh, ya? Bagaimana caranya?”

Aku kebingungan.

********

Di sinilah kami sekarang. Duduk berhadapan. Entah mendapat ilham dari mana, Rini mengusulkan agar kami membuat semacam daftar. Kami lelah bersuara. Mungkin lewat tulisan, maksud hati bisa tersampaikan. Selembar kertas ada di hadapan masing-masing kami. Setiap lembar sudah kami bagi dua bagian. Di bagian kiri tertulis : Alasan Mengapa Tetap Harus Bersama. Dan di bagian kanan tertulis : Alasan Mengapa Mesti Berpisah. Tadi kami sudah menulisnya di tempat terpisah. Aku memilih teras dan Rini di kamar.

“Aku siap sekarang, Mas,” suara Rini membuka percakapan. “Kemarikan kertasmu, biar aku baca. Aku harap yang kau tulis itu jujur dari dalam hatimu.”

Kuulurkan kertasku, Rini menyambutnya. Tanganku masih menggantung di udara, meminta kertas milik Rini. Tapi tanganku tetap kosong, Rini tak memberikan kertasnya padaku.

“Rin?” protesku. Ia hanya berujar ‘ssst’. Matanya mulai menelusuri tulisanku. Bibirnya mulai membaca.

Di daftarku, aku menulis 7 alasan untuk mempertahankan perkawinan dan 3 alasan sebaliknya. Aku tuliskan apa saja yang kusukai dari Rini seperti ; ia pintar memasak, ia cantik, pintar, dll. Alasan untuk menyudahi perkawinan ini sembarangan saja kutulis, di antaranya ; aku sering tak nyaman kalau ia berbicara tentangku di depan orang lain, ia sering membuatku minder, ia terlalu cerewet.

Bibir Rini selesai membaca tulisanku. Ada senyum pedih di situ. Matanya merebak. Gemetar diraihnya kertas yang sudah ditulisinya tadi.

“Kau tahu, Mas? Kuharap tadi kau bisa jujur dengan perasaanmu sendiri. Alasan-alasan yang kau kemukakan ini sungguh dangkal. Sekarang aku malah semakin yakin untuk mengakhiri semuanya.”

“Kenapa, Rin? Kenapa masih juga ingin kita pisah?” gugatku.

“Kau melupakan satu hal terpenting yang mesti ada dalam sebuah perkawinan. Hal yang sangat ingin aku lihat , minimal kau tuliskan, tapi ternyata tak juga aku dapatkan.” Rini mengangsurkan kertasnya. Kosong!

“Apa maksudnya ini, Rin? Mengapa kertas ini kosong sama sekali?”

“Sebab itu yang sekarang kurasa, Mas. Perasaanmu buatku itu kosong. Kau tahu kenapa?” Ia diam sejenak. Hatiku berdebar. Akankah Rini menyebutkan satu hal yang selama ini tak mampu aku sampaikan? Ia sudah tahu selama ini?

“Karena kau tak cinta aku. Tak pernah cinta.”

Aku kalah telak.

********

Iklan

12 thoughts on “[Cerita Pendek] Karena Aku (Tak) Cinta

  1. dian farida berkata:

    Wahaha, berasa pernah mengalami ini, mksdny pas adegan marah krn handuk digeletakin gitu aja.dasar cowo..haha. Kalo bertengkar mo coba metode buat daftar ah..

    • riga berkata:

      makasih Mas… Ntar yah. semua cerita yang masih mungkin dilanjutkan, bakal aku lanjutin kok. Cuma ya itu mesti ada gambaran cerita lengkap berikutnya. Biar nyambung dan masuk akal. Thanks udah mampir yah πŸ™‚

  2. riga berkata:

    Tidak ada kdrt -kecuali tamparan tadi- yg ada adalah kekosongan cinta. Hambar. Maksud ‘(tak)’ ya untuk menggambarkan bahwa si doni mengaku cinta, padahal sebenarnya berbeda. Anyway, thanks udah selalu baca tulisan abg.. πŸ™‚

  3. The world in my hand berkata:

    Ada KDRTny,, jdi selama ini si don, atau doni itu gak mencintai rini??? kasian sekali Rini..Trusss mksudny Tanda Kurung utk kata “Tak” itu apa bg??? πŸ˜€ πŸ˜€
    but anyway makin pinter aja lah abang awak ini nulis cerita ya,.,. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s