[Cerita Pendek] Warisan Luka

lukaPagi baru saja lahir. Semburat cahaya matahari mengintip dari sela-sela daun dan dahan pohon mangga di depan sebuah rumah sederhana bercat biru muda. Cericit dan kepak merpati terdengar dari kandang mungil yang dijunjung tinggi oleh sebuah tonggak di dekat pagar samping rumah. Penghuni rumah itu, seorang perempuan muda dan ibunya telah bangun bahkan sejak sebelum ayam jantan berkokok. Setelah menunaikan ibadah, mereka bergegas melakukan tugas sehari-hari. Si gadis yang berusia awal 20-an tampak sigap menyapu seisi rumah, sementara si ibu tetap tampak gesit mengganti gorden di ruang tamu meskipun usianya sudah menjelang 50 tahun.

“Bu, boleh nanti aku petik beberapa batang mawar dari taman di depan? Kurasa harumnya bisa membuat ruangan ini jadi lebih nyaman.” Aisha bertanya sambil terus mengepel lantai ruang tamu.

“Tentu, Aish. Tamu harus kita buat senyaman mungkin, bukan? Ia tersenyum

“Iya, Bu. Kuharap mereka betah di rumah kita.”

Aisha tentu berharap tamu mereka akan terkesan saat datang ke rumah mereka. Ini adalah kedatangan pertama papa dan mama Mas Zein. Kesan baik harus mereka dapatkan saat berada di sini. Ini penting buat kelancaran hubungan mereka.

“Jam berapa nanti malam mereka akan datang, Aish?”

Aisha mendongak, kemudian berdiri untuk membetulkan ikatan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Tubuh semampainya hanya dibalut kaus longgar dan celana jins pendek.

“Jam 7.00, Bu.”

“Ah, iya. Lupa!” Ibu menepuk dahi. “Nanti kita akan masak menu yang disukai mereka..apa namanya itu? Duh, lupa lagi!”

Aisha tertawa perlahan. “Gurame asam manis, Bu.”

“Ya ya ya. Itu dia. Nah, cepat lah kita bersihkan rumah ini, lalu kita belanja ke pasar.”

Aisha tak menyahut, hanya tangannya yang bekerja lebih cepat.

*******

“Aish! Jangan melamun, nanti ikannya gosong!” Suara ibu terdengar dari pintu kamar mandi tempat ia sedang mencuci sayur. Aisha tergeragap, bergegas membalik gurame di wajan. Syukurlah tidak hangus. Aisha menghela napas lega.

Saat melamun tadi, Aisha sedang mengilas balik kisah awal percintaannya dan Zein. Awal pertemuan mereka adalah saat orientasi mahasiswa baru di sebuah kampus ternama. Aisha adalah mahasiswa baru dan Zein adalah kakak kelas yang mengospek. Tak ada perasaan istimewa saat itu. Tapi seiring berlalu waktu, terlibat dalam organisasi kemahasiswaan yang sama, mulai tumbuh rasa suka. Ketika Zein menyampaikan perasaannya, serta merta Aisha menerima. Hampir setahun mereka pacaran, merasa sehati dan tak ingin terpisahkan lagi. Sudah beberapa kali Zein bertamu ke rumah Aisha, begitu pun sebaliknya. Papa dan mama Zein menerima dengan tangan terbuka kehadiran Aisha di rumah mereka. Tapi baru kali ini kedua keluarga akan bertemu. Sungguh Aisha sedikit gugup membayangkan kejadian nanti malam. Semoga saja orang tua Zein dan ibunya akan segera akrab. Ah, ayah. Andai saat ini kau masih ada, pasti aku tak segugup ini. Diam-diam Aisha berdoa ayahnya masih ada untuk menemaninya.

Terdengar suara meletik dari wajan. Sigap Aisha mengangkat gurame yang sudah kecoklatan sempurna. Bergegas pula ia mengerjakan masakan berikutnya.

********

“Assalamualaikum.” Terdengar salam dari pintu. Aisha dan ibunya bergegas bangkit dari sofa dan membuka pintu.

Di pintu, berdiri dua orang lelaki dan seorang wanita. Zein dan orang tuanya. Papa Zein berperawakan sedang, masih tampak gagah di usianya yang menjelang 50. Rambutnya yang mulai dihiasi uban menambah wibawa. Sementara Mama Zein masih tampak cantik di usia 45. Wajahnya yang lembut dengan rambut panjang sebahu menambah kecantikannya. Sementara Zein dengan kemeja lengan pendeknya terlihat ceria sekaligus sedikit gugup.

Ketika Ibu Aisha menyambut mereka, suasana tampak sedikit aneh. Tiga orang tua itu seperti terkejut melihat satu sama lain. Namun menyadari adanya anak-anak mereka, segera mereka menguasai diri dan bersikap sewajarnya. Zein dan Aisha pun tak menyadari kecanggungan yang sempat tercipta tadi.

“Pak Rudi dan Bu Nindy, selamat datang di rumah sederhana kami. Semoga kalian betah.” Ibu Aisha menyambut tamu-tamunya.

“Terimakasih atas undangannya, Bu Mila.”

“Lho, papa dan mama udah kenal dengan ibunya Aisha, ya?” Zein bersuara.

“Ya, Zein. Kami sudah kenal sejak dulu. Ya, kan Pa?” Bu Nindy menoleh ke arah suaminya. Yang ditatap tergeragap sekejap, lalu menyahut. “Ya, sudah lama sekali.”

“Ayo, Pak, Bu. Kita langsung makan saja. Pasti sudah pada lapar, kan?” Aisha mengajak mereka semua ke ruang makan.

“Mari, Pak. Mari, Bu. Yuk Nak Zein. ” Bu Mila berjalan mendahului tamu-tamunya.

Di ruang makan suasana sedikit kaku. Hanya Zein dan Aisha yang aktif berbicara.Ketiga orang tua itu hanya menimpali sesekali apa yang diucapkan Zein dan Aisha.

Selesai menyantap menu malam itu, kelima orang itu pindah ke ruang tamu. Pak Rudi dan istrinya duduk berhadapan dengan Zein dan Aisha, sementara Bu Mila duduk di kursi sebelah kanan Zein. Sepiring biskuit dan segelas teh di hadapan masing-masing mereka. Setelah duduk santai, Zein mengerling penuh arti pada Aisha. Aisha balas mengedip. Zein bersiap untuk mengatakan sesuatu.

“Pa, Ma, juga Bu Mila,” Zein berkata,” Saya dan Aisha sudah saling mengenal cukup lama. Kami juga sudah berpacaran hampir setahun. Kami berdua merasa cocok, dan ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan.”

“Uhuukkkk…”

“Bu! ” Aisha bergegas mengambilkan gelas teh untuk ibunya.Bu Mila meneguk perlahan, menghabiskannya hingga tandas. Setelah napasnya tenang, ia mulai berbicara.

“Saya pikir agak terlalu cepat kalau berpikir soal pernikahan, nak Zein. Belum setahun kalian berpacaran. Saya kira masih perlu waktu lagi buat mereka untuk saling kenal.”

“Yah, saya juga berpikir seperti itu.” Pak Rudi menimpali. Bu Nindy pun mengangguk.

“Tapi, Ma…Pa.. Kenapa tidak? Kami saling mencintai. Saya juga sudah punya pekerjaan meski belum lulus kuliah.” Zein memprotes. Aisha hanya diam, wajahnya tampak sangat sedih.

“Zein! Kali ini dengarkan kami! Kalian belum cukup dewasa untuk menikah.” Bu Nindy menjawab. Wajah cantiknya menegang. Pak Rudi juga kelihatan tegang. Wajah Aisha dan Zein mendadak tersaput mendung.

Sebuah lagu mengalun dari ponsel milik pak Rudi. Suara itu berhasil memecah keheningan tak menyenangkan yang menggantung di ruang makan itu. Pak Rudi meminta izin untuk menerima telepon, lalu bangkit dari kursinya dan menuju teras. Semenit kemudian ia kembali lagi.

“Maaf, Bu Mila, nak Aisha. Kami mesti pamit sekarang. Telepon tadi dari mertua saya. Tampaknya ada sedikit masalah di rumah.”

“Silakan, Pak Rudi.” Bu Mila menyahut singkat. Acara malam itu berlangsung lebih singkat dari yang mereka rencanakan. Tak ada pula obrolan santai. Tak ada suasana akrab.

*********

Aisha melambaikan tangan sekali lagi, lalu menutup pintu pagar perlahan. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam rumah. Di sofa, ibunya duduk dengan santai. Seolah tak terjadi sesuatu pun.

“Bu….” panggil Aisha pelan. Yang dipanggil hanya menoleh sedikit. “Ya?”

“Kenapa ibu tidak setuju kami menikah?”

“TIDAK! Ibu tidak setuju!” Mendadak suara Bu Mila meninggi. Aisha terhenyak kaget. Dia sungguh tidak mengerti.

“Bu! Kenapa ibu mendadak marah begitu? Apa salahnya kalau kami menikah? Mas Zein walaupun belum lulus kuliah, tapi dia sudah punya kerjaan. Aku juga yakin pernikahan ini tidak akan mengganggu kuliahku.  Ibu dulu tidak keberatan. Kenapa sekarang berbeda?”

“AISHA! Dengar baik-baik ya! Ibu tidak suka kamu menikah dengan Zein! Dia…dia orang Batak!”

“Bu! Aku tak percaya ini. Sekarang sudah tahun 2012! Dan ibu masih memasalahkan perbedaan seperti ini? Apa salahnya aku yang orang Jawa ini menikah dengan Mas Zein yang orang Batak?”

Telanjur! pikir Bu Mila .Tadi aku asal bicara saja. Kenapa pula alasan itu yang kuucapkan? Aku harusnya mencari alasan lain yang lebih masuk akal.

“Adat mereka jauh beda dengan kita, Aish. Kau tidak akan sanggup mengikuti adat mereka yang banyak macamnya itu.”

“Tapi, Bu. Adat kita juga banyak. Sama saja seperti adat mereka. Lagi pula aku dan Mas Zein sudah menyepakati bahwa kami akan hidup dengan cara biasa-biasa aja, tidak terlalu mengikuti adat.”

“Oh, ya? Lalu anak kalian nanti bagaimana? Akan kalian didik seperti apa?”

“Bu! Kenapa jadi melantur seperti ini? Aku tidak percaya ibu melarang kami menikah dengan alasan sekuno itu. Dan lagi bukannya ibu sejak dulu sudah tahu kalau Mas Zein orang Batak?”

“Aku berubah pikiran. Sudah! Jangan membantah lagi! Kalau kau masih ingin kuakui sebagai anak, ikuti apa kataku.”

Aisha terduduk diam di sofa. Jemarinya meremas-remas rambut hitam lebatnya. Wajah cantiknya kini muram. Air mata menggenang di pelupuknya, menanti waktu untuk jatuh. Aisha menengadah. Dadanya terasa sesak. Bu Bardi bangkit tanpa bicara, langsung menuju kamarnya. Ruangan itu hening. Hanya suara kepak merpati ditingkahi desir angin. Hati Aisha semakin sunyi.

********

Di dalam mobil yang menjauhi rumah Bu Mila, tiga orang sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pak Rudi duduk di samping Zein yang sedang menyetir, sedangkan Bu Nindy duduk di belakang, diam menatap ke luar jendela. Keheningan ini begitu menyiksa. Zein akhirnya tak tahan ingin bicara. Harus kubujuk mereka, bisik hatinya.

“Pa..Ma. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kalian tidak merestui kami?”

Semenit tak ada jawaban. Zein terus menatap keduanya. Tak ada jawaban.

“Ma! Pa! Tolong beritahu alasan kalian? Jangan diamkan aku seperti ini.”

“Pokoknya Mama dan Papa tidak setuju! Titik!”

“Apa yang salah dengan mereka? Karena mereka orang biasa? Bukan orang kaya seperti kita? Aku yakin bukan itu alasannya kan?”

Pak Rudi dan Bu Nindy diam tak menjawab. Zein yang gemas memukulkan tangannya ke setir. Hatinya kacau.

********

Sudah seminggu rumah sederhana itu kelihatan sunyi. Dua oang penghuninya kini seakan saling bermusuhan. Tak ada percakapan di antara mereka berdua. Saat makan malam, saat di mana biasanya mereka ada di rumah, mereka hanya diam mengunyah makanan. Sepertinya tak ada yang berniat memecah kebekuan.

Sudah dua hari ini Aisha sakit. Tubuhnya panas dan menggigil. Kelelahan dalam jiwanya memperburuk kondisinya. Bu Mila melihat tubuh putrinya yang terbaring itu dengan perasaan nyeri. Ia seakan melihat lagi keadaan dirinya 25 tahun lalu. Ia merasa sungguh tak berdaya saat itu. Mengapa ia mesti melakukan hal yang sama pada putrinya? Batin Bu Mila berperang dengan egonya. Aku harus mengalah. Aku harus lakukan sesuatu. Bu Mila bergegas, ia sudah tahu akan berbuat apa.

*********

Di kediaman Pak Rudi dan Bu Nindy, pasangan suami istri itu sedang duduk santai di teras depan rumah mereka. Sore itu tampak tenang. Sinar matahari mulai lemah, tak lagi menyengat. Secangkir kopi dan segelas teh ada di meja kecil di hadapan mereka.

Mendadak Bu Nindy menunjuk ke arah gerbang. “Pa, lihat siapa yang datang!”

Di pintu gerbang, tampak Bu Mila yang berjalan ke arah rumah setelah dipersilakan masuk oleh satpam. Wajahnya tampak keras. Tekadnya terlihat nyata.

“Bu Mila, ada perlu apa datang ke mari?” sambut Bu Nindy. Nada suaranya menyiratkan ketidaksukaan. Pak Rudi segera menengahi. Sebagai tuan rumah yang baik, ia harus menyambut tamunya.

“Ah, selamat datang Bu Mila. Silakan masuk.”

“Saya rasa sebaiknya kita bicara di sini saja, Pak Rudi. Di dalam atau di sini toh sama saja.” Bu Mila menjawab.

Setelah dipersilakan duduk, Bu Mila langsung menyampaikan isi hatinya.

“Apakah kita masih bermusuhan? Sudah seperempat abad kita menyimpan bara dendam di hati. Mau sampai kapan? Apa yang terjadi pada kita dahulu, sudah saatnya kita lupakan. Demi anak-anak kita!”

Pak Rudi dan Bu Nindy hanya diam. Bu Mila melanjutkan bicaranya.

“Kalian tahu, seharusnya aku yang sangat terluka. Dan marah. Terutama padamu, Rudi. Sekian lama kita berhubungan, tapi ketika berhadapan dengan orang tuamu, kau tidak berani memperjuangkan cinta kita. Kau pengecut!”

Bu Nindy langsung menimpali. “Bu Mila! Buat apa lagi mengungkit masa lalu! Mas Rudi dulu juga terpaksa menuruti orang tuanya.”

Pak Rudi masih diam.

“Ya, aku dulu sangat sakit hati pada Rudi. Juga padamu, yang kuanggap merebutnya–”

“Aku tidak merebutnya darimu, Bu Mila,” Bu Nindy membantah. “Aku membantunya melewati masa-masa sulit setelah pisah denganmu.”

“Ya, Bu Nindy. Aku sadari hal itu. Dulu aku dan Rudi dipisahkan orang tua kami karena alasan sepele : Kami berbeda suku. Sekarang apakah hal serupa akan kita timpakan pada mereka?”

Ketiganya diam. Menyadari bahwa tak sepantasnya hal yang sangat menyakitkan yang pernah mereka alami dulu, mereka balaskan pada anak-anak mereka. Zein dan Aisha saling mencintai. Memisahkan mereka karena alasan luka lama, sungguh tidak berbudi. Usia mereka sudah sama-sama tua, seharusnya mereka semakin bijaksana.

Pak Rudi akhirnya bersuara, memecah keheningan.

“Mila, Nindy, sebagai orang tua mestinya kita mendukung niat baik anak-anak kita. Tidak mengedepankan ego kita masing-masing. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita juga, kan?” Ia berhenti sejenak. Menatap Bu Mila dan istrinya. Yang ditatap mengangguk. Sudah waktunya dendam diakhiri.

“Bisakah kalian datang ke rumahku sore ini juga? Aisha sedang sakit. Pikirannya sangat terbebani dengan masalah ini. Penjelasan dan juga restu dari kalian mungkin akan sangat membantu menyembuhkan dia.”

Pak Rudi dan Bu Nindy mengangguk.

*******

Rumah itu sepi. Tiga orang tua itu memasuki rumah perlahan, langsung menuju kamar Aisha. Tapi kamar itu kosong. Ke mana Aisha? Apakah ke kamar mandi? Bergegas Bu Mila memeriksa. Tapi kamar mandi pun kosong. Dicari ke sekitar rumah, Aisha tetap tak ada. Bu Mila kembali ke kamar Aisha, melihat Bu Nindy yang sedang duduk di tepi ranjang Aisha, memegang selembar kertas. Wajah Bu Nindy murung. Diangsurkannya kertas itu ke pada Bu Mila. Kertas itu hanya berisi satu baris kalimat. “Aku pergi bersama mas Zein, Bu. Terimakasih untuk semuanya.” Bu Mila terduduk lemas.

“Aishaaaaaaaaaaa!” teriaknya sebelum pingsan.

*****tamat*****

Iklan

5 thoughts on “[Cerita Pendek] Warisan Luka

    • riga berkata:

      ttg cerita ini, aku belum punya bayangan akan melanjutkan seperti apa, Mas. Mudah2an ada inspirasi seperti apa ntar. Thanks yah… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s