[Cerita Pendek] Kesempatan Kedua

Sherly melangkahkan kakinya perlahan memasuki kafe kecil di sudut lantai dua sebuah mal di Medan. Interior kafe merupakan perpaduan antara keanggunan alam dan cita rasa modern. Penggunaan material bambu untuk kursi duduk dan meja, serta lampu-lampu metal yang tergantung rendah, berpadu dengan sempurna. Dinding kafe dihiasi sulur tanaman yang memberi kesan hijau. Sherly sangat menyukai ketenangan yang ditawarkan kafe ini. Letaknya yang bersebelahan dengan sebuah toko buku semakin menambah suasana damai. Sesuatu yang sangat dibutuhkannya saat ini.

Sherly memandang arloji bertatah emas di pergelangan tangan kirinya. Terbaca di situ pukul 17.00. “Ah, aku terlalu cepat. Masih 30 menit lagi sebelum waktu yang dijanjikan. Pasti Gary masih dalam perjalanan pulang dari kantornya,” gumam batin Sherly. Wanita cantik semampai berkulit putih itu meletakkan tas Chanel-nya di samping kursi yang ia duduki. Rambut panjang berombaknya ia sibakkan, menampakkan tengkuk jenjang. Seorang pelayan lelaki datang menghampiri, membawa daftar menu. Sherly hanya memesan orange juice. Ia tidak ingin makan duluan. Pelayan tersenyum sopan sambil berlalu.

Tak menunggu lama, orange juice yang ia pesan datang. Sherly mengucapkan terima kasih, lalu mulai menyeruput perlahan. Cairan dingin dengan paduan rasa manis dan sedikit asam menyentuh bibir mungilnya, lalu meluncur mulus ke kerongkongan. Sherly mendecak puas.

Sebuah suara teredam keluar dari tas di sampingnya. Ada telepon! Barangkali itu Gary. Bergegas Sherly mengambil ponselnya lalu menekan tombol ‘Ok”.

“Kau sudah sampai di kafe itu, Sher?” suara seorang laki-laki terdengar samar.

“Sudah, Gary. Baru 5 menit kok.”

“Ah, maafkan aku, Sher. Agak sedikit macet di sini. Ada kecelakaan. Aku khawatir akan tiba di sana sedikit lebih lama dari waktu yang kita sepakati.”

“Ah..tak perlu khawatir. Aku tetap menunggu, kok.”

Suara di seberang telepon terdengar lega.

“Baiklah, Sher. Jika sudah dekat nanti aku hubungi lagi. Dah, Sherly.”

Sherly menutup ponselnya. Meletakkannya di samping gelas minuman. Ia tersenyum sendiri  membayangkan wajah Gary saat meminta maaf. Pasti wajah tampan dengan rambut ikal itu tampak sangat menggemaskan. Ia suka sekali mimik wajah Gary, dengan alis tebal dan bibir penuh yang sedikit dimanyunkan. Tampak seperti kanak-kanak yang manja. Wajah Sherly tampak bahagia.

Sambil mengaduk minuman di atas meja, Sherly mengingat-ingat kembali awal ia mengenal Gary. Sebenarnya ini adalah pertemuan pertama mereka. Setelah sebulan saling mengenal lewat dunia maya, lewat percakapan yang intens, akhirnya mereka memutuskan untuk…apa itu istilah anak muda untuk saling bertemu…hmm..kopi darat. Ya, mereka akhirnya setuju untuk kopi darat. Sherly dan Gary bertemu di sebuah chatroom Yahoo Messenger. Sejak awal, sikap hangat Gary membuat Sherly merasa nyaman. Gary yang humoris, seorang staf manager di sebuah perusahaan penerbitan. Lajang 27 tahun yang senang berkebun. Berkebun?

Mata Sherly tampak membulat saat Gary mengatakan hal itu padanya dalam sebuah kesempatan chatting mereka.

“Kamu serius, Gary? Berkebun? Sherly yang tampak geli, berusaha menutupi microphone yang disematkan di rambutnya. Berusaha meredam suara tawa. Usaha yang sia-sia sebab Gary tentu dapat melihat hal itu melalui webcam.

“Hei, apa salahnya coba? Kamu tahu, aku punya cita-cita membeli tanah yang luas di daerah Berastagi sana. Menanam sayuran apa saja. Wortel, sawi, tomat atau cabai. Lalu aku akan jadi pemasok sayur-sayuran ke mal-mal besar di Medan. Ikut mensejahterakan petani. Bagus, kan?”

Tapi Sherly telanjur merasa geli. Tawa yang ditahannya sejak tadi meledak. Gary pura-pura manyun. Tawa Sherly kian kencang. Tiba-tiba layar kosong tanpa wajah Gary.

Sherly menghentikan tawanya. Gary ngambek?

“Gary? Kau masih di situ? Ayolah. Jangan ngambek. Ih, masak udah gede pake ngambek.”

Layar masih lengang.

“Baiklaah. Aku minta maaf, Gary. Kupikir ide menjadi petani tak ada salahnya. Toh itu salah satu pekerjaan mulia, kan?”

Wajah Gary muncul di layar. Tampangnya cemberut. Bagi Sherly, wajah itu sungguh menggemaskan. Ingin rasanya ia mencubit pipi mulus itu, atau mengacak-acak rambutnya.

“Ayo, dong. Terima permintaan maafku, Gary. Pliiiiisss..” Sherly menangkupkan kedua tangannya di atas kepala dengan ekspresi wajah menunjukkan penyesalan yang mendalam. Tak urung Gary tertawa.

“Baiklah, baiklah. Kau kumaafkan.”

Sherly tersenyum.

“Ehm, Sher. Kayaknya kita kenal udah cukup dekat yah. Aku ngerasa nyaman dengan kamu. Kita ketemuan, yuk.”

Sherly terdiam sejenak. Matanya tampak berpikir. Apa yang harus ia katakan pada Gary. Kalau sebenarnya ia….

Suara sebuah lagu yang tengah hits kembali mengalun dari ponsel di meja. Telepon lagi. Apa Gary sudah sampai sekarang? Bukankah ini terlalu cepat? Di liriknya nama pemanggil di layar. Andre! Tak biasanya dia menelepon jam segini. Dengan agak malas, Sherly menekan tombol ‘On”.

“Kamu di mana, Sayang?” Suara di seberang terdengar datar.

Ah, pertanyaan basa-basi, gumam batin Sherly. Tak urung ia menjawab. “Aku barengan temen kuliahku dulu. Ketemuan. Kebetulan si Noni baru balik dari Singapura.”

“Kok sepi gitu?” suara di sana bertanya. Nadanya sedikit curiga.

“Yah, belum pada datang. Aku kecepetan sih.” Sherly segera mencari jawaban. Aku harus hati-hati menjawab.

“Nanti kamu pulang jam berapa?”

“Sebelum jam sepuluh aku sudah di rumah, Mas. Kamu sendiri akan pulang jam berapa?”

“Aku ada pertemuan dengan klien. Aku usahakan sampai di rumah sebelum jam dua belas.”

Lalu ada jeda yang panjang.

“Sher….”

“Hmm..”

“Aku tahu hubungan kita akhir-akhir ini sedang tidak baik. Aku bisa merasa kalau, ah aku tak ingin mengatakan ini sebenarnya, aku bisa merasa kalau kau mulai bosan dengan pernikahan kita ini. Kita sudah jarang sekali berkomunikasi. Kamu ingat kapan terakhir kali kita ngobrol? Atau kapan terakhir kali kita bercinta?”

Sherly hanya diam mendengarkan. Ekspresinya kosong.

“Aku juga minta maaf. Pasti sikapku belakangan ini membuatmu jengkel. Pasti karena perhatianku ke kamu makin berkurang, kan? Kita makin sering bertengkar. Dan ujung-ujungnya yang kita pertengkarkan adalah hal yang sama : Anak. Ya, kan Sher?” Andre menghentikan ucapannya. Menunggu reaksi Sherly.

“Iya, Mas. Kita semakin jauh. Sudah 5 tahun menikah, tapi kita belum juga punya anak. Aku stress, Mas! Terus menerus ditanyai oleh keluargaku dan keluargamu. Bahkan Ibumu sering sekali menyindirku. Aku dituduh mandul! Kau tentu tahu hal itu.”

“Bahwa kau mandul?”

“Mas! Seenaknya saja kau menuduhku mandul. Lalu kamu? Bagaimana kalau kamu yang mandul? Kenapa kamu tidak pernah mau memeriksakan diri ke dokter?”

Andre terdiam di seberang sana. Emosi Sherly semakin meninggi. Sekuat tenaga ia menekan suaranya agar tidak menarik perhatian pengunjung kafe lainnya.

“Aku menantangmu, Mas. Kita akan pergi ke dokter bersama-sama. Kita buktikan siapa yang sebenarnya mandul!”

Andre mendesah. Setelah hening sejenak, suaranya kembali terdengar. Nadanya membujuk, tenang seperti air. Sama sekali tak terpancing dengan ucapan Sherly barusan.

“Aku setuju, Sayang. Aku dan kamu akan periksa sama-sama. Jika kita berdua sehat-sehat saja, berarti memang Tuhan belum mempercayakan kita untuk memiliki anak. Dan seandainya – oh, aku tak pernah berharap ini terjadi- salah satu dari kita yang mandul, maka itu terserah kamu. Jika aku yang mandul, kau boleh pergi dariku. Tapi jika kau yang mandul, aku akan tetap mencintaimu, Sher.”

Pelupuk mata Sherly merebak. Diambilnya tisu di atas meja, dan menyeka butiran bening yang siap jatuh ke pipinya. Hati Sherly terbuka. Ucapan Andre -suaminya- barusan telah meluluhkan sikapnya. Rupanya cinta di dadanya masih sama seperti dulu. Ia pun menyadari, inilah saat kritis dalam sebuah perkawinan. Dalam sebuah artikel di majalah wanita yang pernah dibacanya, disebutkan bahwa 5 tahun pertama adalah saat-saat yang kritis. Dibutuhkan perjuangan lebih untuk mempertahankan sebuah ikatan perkawinan. Perjuangan itu terasa kian berat dengan kenyataan bahwa sampai saat ini mereka belum memiliki anak. Anak yang dapat mempererat ikatan di antara keduanya.

“Sher…” suara Andre kembali terdengar. “Kau masih mendengarkanku, kan?”

Setelah menyusut matanya sekali lagi, Sherly kembali berbicara.

“Ya, Mas. Aku mendengarkan. Kita akan jaga pernikahan kita baik-baik, kan Mas? Masalah anak adalah karunia dari Tuhan. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha, selebihnya Tuhan yang menentukan. Oh, iya. Aku akan batalkan saja ikut pertemuan dengan teman-teman ini. Aku mau pulang cepat. Kau tahu, Mas, aku mau masak masakan kesukaanmu. Sudah lama rasanya aku tak memasakkanmu gulai ikan kakap. Bibi baru belanja tadi pagi, kurasa bahan-bahannya lengkap semua.”

Suara Sherly terdengar bersemangat. Matanya berbinar. Ia merasa bahagia, sebuah harapan membina hidup bahagia terlihat lagi di wajahnya.

“Aku pulang sekarang, Mas. Aku mau masak buatmu. Kuharap kau bisa pulang lebih cepat, ya Mas.”

“Iya, Sayang. Aku usahakan jam sepuluh sudah di rumah.”

Sherly diliputi rasa bahagia. Tiba-tiba ia teringat Gary. “Ah, maafkan aku Gary.”

Jemari Sherly meraih ponselnya, mengetikkan sebuah pesan untuk Gary. “Kuharap Gary bisa mengerti,” gumamnya.

Setelah membayar minumannya, Sherly menyambar tas dan bergegas ke luar kafe. Dengan langkah bersemangat, menuruni eskalator, menuju pintu ke luar. Tak disadarinya sejak tadi sepasang mata di lantai atas mengawasi gerak-geriknya.

Tiba-tiba perhatiannya teralih. Sebuah suara perempuan terdengar begitu dekat di telinganya.

“Baaaaaang! Ngapain sih dari tadi nelpon mulu? Nelpon pacarnya ya? Gitu ya?” suara perempuan ini terdengar merajuk.

Si lelaki terlihat sedikit gugup. “Nyaris saja,” batinnya menggerutu.

“Tenang Sayang. Tadi nelpon rekan lama kok. Maklum, sudah lama tak kontak.”

Dirangkulnya perempuan muda yang dilihat dari wajahnya seperti seorang anak SMA, dengan pakaian casual. “Yuk, kita makan. Itu semua kesukaan kamu, kan? Masak udah dipesan tapi ga dimakan? Sayang, lho.”

Perempuan muda itu tersenyum sedikit. Bujukan lelaki itu membuatnya senang. Kembali mereka duduk di sebuah restoran cepat saji di lantai tiga. Sepiring spaghetti dan beberapa potong ayam crispy tampak di meja. Belum lagi sebuah pitcher berisi minuman soda. Meja itu tampak sedikit penuh.

“Lho, kok abang cuma minum sama makan kentang goreng aja? Makan juga dong ayam dan spaghettinya. Katanya sayang sama makanan.”

Lelaki tadi melirik ke arah pintu ke luar tempat tadi Sherly berjalan. Tidak terlihat lagi wanita itu di situ. “Aman,” bisiknya.

“Eh, abang bilang apa barusan?”

“Ah, ga bilang apa-apa kok. Eh, iya sayang, abang makan dikit aja yah. Kebetulan Ibu abang datang ke rumah dan masakin abang makanan kesukaan. Ga enak kalo ga dimakan ntar.”

“Emang dimasakin makanan apa, bang? Kok kayaknya enak bener?”

“Gulai ikan kakap.”

**** tamat****

Iklan

11 thoughts on “[Cerita Pendek] Kesempatan Kedua

  1. dian farida berkata:

    Kok aku deg2an ya baca cerita ini. Ada tuh novel “test pack”, bagus deh. Kalau aku byginny Gary mundur begitu tau udh nikah.eh tapi dia mergokin Andre yg suka main perempuan.terus Gary bingung deh mesti gimana, disatu sisi ga pingin ikut campur urusan rmh tangga orang, tapi di sisi lain dia msh suka sm Sherly dan merasa sherly g pantas diperlakukan sprti itu. Jadi..jadi..terserah yg nulis aja deh:)

  2. tommy berkata:

    sebenernya alurnya udah bagus ga… tapi deskripsi karaktermu kurang spesifik, kayak sherly yg gak digambarkan dengan jelas bagaimana rupanya… cuma cantik semampai aja…. trus malah kau lebih spesifik mendeskripsikan si gary.. heeemmm…

    • riga berkata:

      idenya boleh juga. Ntar Gary yang makin cinta bakalan berantem sama Andre yang udah sadar. Tinggal Sherly yang bingung memilih. Aiiiih, ceritanya bocor duluan. Hehe

    • riga berkata:

      Gary kan ga tau kalo Sherly udah nikah. Jika dia tahu, entah dia akan lanjutkan hubungan dengan Sherly atau malah mundur, masih belum diputuskan. Jika ada sekuelnya, kira-kira bagusnya gimana, dek? 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s