[Cerita Pendek] Rahasia di Balik Tambur

tambur

sumber

“Koooong….”
Suara melengking milik seorang remaja pria bertubuh kurus menyeruak di antara suara tambur, tiupan klarinet dan terompet serta kecrekan yang berpadu harmonis melagukan irama Jali-Jali. Sore itu sekumpulan lelaki sedang berlatih bersama di ruangan depan rumah tua milik Kong Salim. Tetapi lelaki-lelaki tua itu seperti tak merasa terganggu, masih asyik melanjutkan permainan mereka. Lagu itu masih berlanjut hingga beberapa menit kemudian hingga seorang lelaki yang memegang klarinet di sudut ruangan mengangkat tangannya tanda selesai. Serentak semua suara alat musik berhenti.

“Ada apa, Mamat?” tanya lelaki berumur sekitar 50 tahun itu sambil mengelus klarinet. Pandangannya ia arahkan ke bagian dalam alat musik itu. Meneliti lubang kecil di ujung bawah tempat menghembuskan udara, membersihkan dengan saksama. Mamat sejak tadi hanya berdiri di depan pintu.

“Ada tamu, Kong. Kayaknya orang kaya. Dia…” Belum sempat Mamat menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara terdengar dari arah belakang.

“Assalamualaikum, Pak Salim. Kita ketemu lagi, ya.”

Kong Salim memandangi lelaki yang mengucap salam. Lelaki tampan berumur sekitar 30 tahun. Penampilannya rapi dengan rambut yang  tersisir rapi, kemeja biru nyaris licin sempurna dan  wangi parfum menggelitik indra penciuman. Hidung Mamat kembang kempis ketika lelaki itu melewatinya, cengirannya merekah. Lelaki itu melangkah ke depan dan mengulurkan tangannya.

Kong Salim bangkit dari duduknya, mengebaskan celana kain yang dipakainya. Tubuhnya masih tampak gagah meski hanya memakai kaos putih. Kong Salim menyambut uluran tangan lelaki itu.

“Alaikumsalam, Pak Mardi. Iya, kita ketemu lagi. Apa tujuan bapak ke mari masih sama?”

Kong Salim enggan berbasa-basi. Ia tidak suka lelaki di hadapannya ini sejak pertemuan pertama mereka bulan lalu. Ketika lelaki ini menyatakan niatnya membeli semua alat musik orkes tanjidornya. Juga wajah lelaki ini membuat perasaannya sedikit ‘terganggu’. Ia masih belum bisa menemukan alasannya.

Kong Salim memberi isyarat kepada enam lelaki tua yang tadi bermain musik bersamanya. Sejak tadi mereka hanya diam tanpa suara. Kong Salim sepertinya juga tak berniat mempekenalkan mereka pada lelaki yang baru datang itu. Mereka bergegas membereskan peralatan yang tadi dimainkan, menyusunnya di dalam peti yang tergeletak di sudut ruangan belakang, lalu keluar dari rumah. Pak Mardi membalas senyum sopan mereka dengan lambaian tangan.

“Mat, bikinkan teh dua.”

Bocah tanggung berkulit sawo matang itu mengangguk dan berlalu ke belakang rumah.

“Silakan duduk, Pak.” Sebagai tuan rumah yang mesti berlaku sopan pada tamu, Kong Salim menekan rasa tak sukanya. Ia akan mempertahankan sikapnya, sama seperti bulan lalu. Pak Mardi duduk perlahan di kursi yang terbuat dari rotan. Terdengar suara berkerenyit ketika ia menumpukan bokongnya.

“Niat saya masih sama, Pak Salim. Saya berniat membeli alat-alat tanjidor bapak. Saya tahu saat ini orkes tanjidor bapak sudah amat jarang menerima tawaran. Saya juga tahu bapak dan juga teman-teman bapak sekarang ini sedang dalam masalah keuangan. Saya yakin tawaran saya ini cukup membantu. Saya akan naikkan tawaran saya menjadi 20 juta.”

“Saya tidak berniat menjual orkes musik saya ini, Pak Mardi. Sama sekali tidak ada niat. Memang benar sudah lama kami tidak mendapat order, tapi itu bukan masalah buat kami. Sudah biasa.”

Pak Mardi terdiam sejenak. Semula ia berharap dengan menaikkan tawarannya, Kong Salim akan berpikir ulang. Tapi ternyata ia salah. Sebelum sempat Pak Mardi berbicara, Kong Salim sudah bertanya lagi.

“Sebenarnya apa tujuan bapak membeli orkes ini? Bapak ingin melestarikan kebudayaan? Kok saya nggak yakin ya? Emang kalo udah bapak beli, siapa yang bakal mainin? Atau bapak cuma sekedar kolektor yang ingin menambah koleksi?”

Pak Mardi tergeragap mendapat berondongan pertanyaan dari Kong Salim. Sejenak ia menimbang-nimbang apakah ia akan jujur saja menjawab. Pak Mardi menghela napas panjang. Sepertinya lelaki di depannya ini tak akan percaya dengan apa yang akan dia katakana, tapi ia pikir lebih baik jujur saja. Mungkin berhasil.

Belum sempat ia menjawab, dari pintu belakang terlihat Mamat berjalan mendekat. Di tangannya ada nampan kayu dengan dua gelas teh yang masih mengepulkan uap. Mamat meletakkan dua gelas di depan masing-masing lelaki. Kakinya bergeser ke kursi di samping Kong Salim, tapi pelototan Kong Salim menghentikan langkahnya. Salah tingkah, akhirnya Mamat memilih masuk lagi ke dalam rumah. Kong Salim menyilahkan tamunya untuk minum. Pak Mardi mengangguk tanpa menyentuh gelas minumannya.

“Pak Salim, saya tidak tahu apakah bapak akan memercayai alasan yang akan saya ungkapkan ini. Alasan ini sangat pribadi. Alasan sebenarnya saya berniat membeli orkes milik bapak adalah untuk memenuhi amanat terakhir almarhumah ibu saya. Dia meninggal enam bulan lalu.”

Kong Salim diam mendengarkan. Sikapnya yang tadi keras, terlihat sedikit mengendur. Jelas ia tertarik mendengar kalimat Pak Mardi barusan yang berbeda sama sekali dengan apa yang ia bayangkan selama ini.

Sejenak tak ada yang berbicara di antara keduanya. Tangan mereka mengangkat gelas yang  masih mengepulkan uap panas, menyeruput sedikit isinya.

“Ibu saya, “lanjut Pak Mardi”, meninggal akibat kanker ganas di lehernya. Sebelum ia kehilangan kesadaran akibat koma, ia sempat menyampaikan wasiat. Semula saya tak mengerti apa yang ibu saya maksudkan. Ia hanya berpesan “ tanjidor, surat, rahasia, maaf”. Hanya kata-kata itu yang terus ia ulangi.”

Pak Mardi mengehela napas, mengusir bayangan tubuh kurus kering ibunya yang menatap dengan pandangan teramat sayu. Matanya menerawang. Di depannya Kong Salim terdiam, berusaha menebak apa yang dimaksud dengan kata-kata “tanjidor, surat, rahasia kamu dan maaf” itu.

“Sebulan setelah meninggalnya ibu, saya masih belum bisa menebak apa yang ia maksudkan. Saya gelisah karena belum juga berhasil melaksanakan wasiat terakhir beliau. Sampai suatu hari secara tak sengaja saya menemukan petunjuk. Sebuah foto lama dari album keluarga yang sama sekali tak saya perhatikan sebelumnya. Ini fotonya.”

Pak Mardi merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah foto hitam putih, mengulurkannya pada Kong Salim. Pak Mardi mengamati perubahan air muka Kong Salim ketika menatap foto itu. Wajah itu terkesiap. Keterkejutan tampak nyata.

“I..ini ibumu? Maya?”

Telunjuk Kong Salim tertuju pada sosok seorang remaja puteri yang sedang duduk di depan sebuah orkes tanjidor lengkap dengan alat musik masing-masing. Ia duduk bersama beberapa remaja perempuan lainnya. Wajahnya cantik dalam balutan kebaya polos. Demikian lugu sekaligus memesona. Terbaca sebuah nama di bagian atas foto itu, “Orkes Tanjidor Kalijodo” Sebuah tanggal tertera di bagian bawah foto : Djakarta, 16 Mai 1977.

“Pak Salim kenal ibu saya? Di mana?”

Seketika wajah Pak Mardi memancarkan harapan. Sebuah petunjuk lagi. Semakin dekat ia dengan jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya selama enam bulan belakangan ini.

Kong Salim menghela napas panjang. Matanya mengerjap, menerawang mengais ingatan masa lampau. Benaknya berperang. Lelaki muda di hadapannya ini berhak tahu. Tapi Kong Salim merasa tak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya.

“Awal bertemu kamu, saya sangat terkejut. Wajah kamu mirip sekali dengan Maya. Tapi tentu saja saat itu saya tidak punya kesempatan untuk bertanya lebih lanjut. Saya marah saat itu dengan kamu yang tiba-tiba mendatangi saya dan bilang ingin membeli orkes saya.”

“Jadi? Hubungannya dengan ibu saya?”

Kong Salim terdiam sejenak. Sepertinya menimbang-nimbang. Akhirnya setelah menghelas napas panjang, ia mulai berbicara.

“Ceritanya sudah lama sekali. Lebih dari 30 tahun yang lalu. Dulu orkes ini milik majikan saya. Saat itu saya dipercaya memainkan kecrekan. Lama kelamaan peranan saya meningkat sampai akhirnya orkes ini dipercayakan kepada saya untuk meneruskannya sebab anak majikan saya tidak berminat mengurusnya. Maya adalah anak dari kampung sebelah. Maya sangat menyukai orkes tanjidor ini. Ia selalu datang ketika kami sedang latihan. Kadang sendirian, kadang bersama teman-temannya. Umur Maya sekitar 16 tahun saat itu. Kadang ia ikut pula rombongan kami ketika sedang pentas, entah di acara pernikahan atau pada saat ada keramaian. Tapi saya rasa alasan sebenarnya ia selalu ikut bukan cuma karena menyukai orkes tanjidor ini, melainkan karena ia menyukai Mulyadi, anak salah satu pemain klarinet yang juga selalu datang setiap orkes ini mengadakan latihan atau pentas. Saya rasa wajar saja kalau mereka saling menyukai dan pacaran.”

Kong Salim menghentikan sejenak kalimatnya. Meneliti raut wajah Pak Mardi. Yang ditatap sepertinya mempercayai cerita itu. Baiklah, aku lanjutkan saja. Kong Salim membatin.

“Tapi beberapa bulan kemudian saya pernah menemukan Maya sedang duduk sendirian di ruangan tempat latihan. Ketika saya tanya, ia bilang tak sedang menunggu siapa-siapa. Meskipun wajahnya saat itu terlihat sedikit pucat dan gelisah, saya tak punya pikiran apa-apa. Saya biarkan ia di situ, sementara saya keluar untuk bekerja. Ketika saya kembali beberapa waktu kemudian, Maya sudah tak di situ lagi. Padahal saat itu saya baru teringat untuk menyampaikan pesan bahwa Mulyadi sudah pergi merantau ke Kalimantan. Tapi akhirnya saya berpikir, pastilah Mulyadi sudah menyampaikan hal itu pada Maya. Sejak itu saya tak pernah melihat atau mendengar kabar dari Maya. Hanya ada selentingan yang saya dengar, seminggu kemudian dia menikah dan dibawa suaminya ke Sumatera. Cuma itu yang saya tahu.”

Kong Salim menghentikan kisahnya. Tenggorokannya terasa kering. Ternyata sulit sekali menyampaikan kisah ini, keluh batinnya. Perlahan tangannya meraih gelas teh, dan meneguk habis isinya. Pak Mardi hanya terdiam. Ternyata teka-teka ini belum menemukan jawabannya.

“Pak Mulyadi ini, apa bapak tahu di mana dia sekarang?”

Kong Salim berpikir sebentar.

“Setahu saya dia sudah meninggal setahun lalu di Kalimantan. Dia terlalu banyak merokok. Paru-parunya tak kuat. Oh ya, saya lupa bertanya tadi. Kenapa kamu berpikir orkes tanjidor saya ini ada hubungannya dengan pesan ibu kamu?”

“Oh! Sebenarnya saya hanya menebak saja. Saya berpikir akan menemukan jawaban atas wasiat ibu di sini. Sebab nama orkes milik bapak yang tertera di foto. Saya menduga ada petunjuk yang ditinggalkan ibu saya di antara alat musik tanjidor milik bapak. Itu lah sebabnya saya terus mencoba meski bapak sudah menolak saya saat itu.”

Kong Salim tertawa kecil. Ia menggelengkan kepalanya sedikit.

“Begitu rupanya. Semacam surat rahasia yang ditinggalkan, begitu? Atau pesan yang diguratkan saat ia menunggu waktu itu? Bisa saja. Tapi saya minta maaf tidak bisa membantu Pak Mardi menemukan jawaban atas wasiat ibu anda. Saya rutin memeriksa alat-alat musik milik saya, dan tak ada sebuah pesan rahasia apapun yang ada di tiap bagiannya. Semuanya tampak wajar. Dan saya tegaskan sekali lagi, saya tidak berniat menjual orkes saya. Ini sudah seperti belahan jiwa saya.”

“Saya mengerti pak. Saya hanya merasa lelah mencari jawaban ini. Mungkin sudah saatnya saya berhenti mencari. Mungkin wasiat ibu bukan sesuatu yang benar-benar penting.”

Sejenak mereka berbincang tentang hal-hal remeh. Persoalan pembelian orkes tanjidor dan misteri wasiat sejenak terlupakan. Kong Salim sudah jauh lebih ramah sekarang. Sesekali terdengar tawanya.

Mendadak dari ruangan di belakang terdengar suara benda jatuh. Kong Salim segera berdiri.

“Sebentar, Pak Mardi. Saya lihat dulu apa yang terjadi di belakang. Jangan-jangan si Mamat bikin ulah lagi. Mamaaaaat!” bergegas Kong Mardi berjalan menuju ruang belakang. Di sana ia lihat Mamat cengar-cengir. Di tangannya ada sebuah tambur, tampaknya benda itu lah yang tadi jatuh dan menimbulkan suara berisik.

“Ga sengaja, Kong. Tadi Mamat pengen bersihin aja, tapi eh ada kucing lewat. Mamat kaget, lepas deh tamburnya. Maaf, ya Kong.”

Kong Salim masih terlihat sedikit kesal saat mengambil tambur tadi dari tangan Mamat. Usia tambur itu sudah tua. Tapi ia tak berniat menggantinya, sebab bunyi yang dihasilkan kulit kambing yang dijadikan membran sudah sangat khas. Menggantinya dengan kulit baru hanya akan merusak harmoni yang sudah tercipta selama ini.

Sejenak ditelitinya alat musik serupa bedug kecil itu. Ada sedikit rompal di bagian tempat tambur itu jatuh. Tapi selebihnya tambur itu baik-baik saja. Tapi apa itu yang sedikit terbuka di bagian dalam tambur? Semula Kong Salim mengira ada jahitan kulit kambing yang terlepas. Ia membawa tambur itu ke depan rumah tempat Pak Mardi sedang menunggu, setelah sebelumnya melotot galak ke arah Mamat. Mamat hanya tersenyum kikuk.

“Ada yang rusak, Pak?” Tanya Pak Mardi memperhatikan tambur di tangan Kong Salim.

“Sepertinya tidak ada. Cuma ada sedikit bagian dalam yang sobek atau jahitannya lepas. Pasti akibat benturan tadi. Saya rekatkan saja dengan lem nanti.”

Tangan Kong Salim masih terus mengelus-elus bagian dalam tambur. Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah. Ujung jarinya menyentuh sesuatu di bagian dalam tambur. Dibalikkannya tambur itu, meneliti lebih saksama. Ia melihat ada sesuatu menyembul dari bagian dalam kulit kambing yang terbuka. Bagian dalam tambur itu ditempeli kulit tambahan dan di antar dua kulit itu lah sebuah benda diselipkan. Ia tarik benda itu dengan perlahan. Sebuah kertas yang dilipat kecil. Ternyata Maya memang meninggalkan sebuah pesan. Batin Kong Salim tercekat. Sebisa mungkin ia bersikap wajar di hadapan Pak Mardi, padahal dadanya tiba-tiba berdebar kencang.

“Lihat, Pak Mardi. Mungkin ini sebuah surat.” Kong Salim mengatur nada suaranya sewajar mungkin.

Perhatian Pak Mardi seketika tertuju pada kertas di tangan Kong Salim. Dadanya berdebar keras. Mungkinkah ini merupakan jawaban dari wasiat ibu?

Kong Salim membuka kertas itu dengan amat hati-hati. Kertas itu sudah menguning dan terlihat demikian rapuh. Tapi ternyata kertas itu cukup kuat. Kong Salim berhasil membuka lipatan kertas tanpa merobeknya sedikitpun. Sejenak ia membaca tulisan yang tertera di kertas. Wajahnya pias. Gemetar tangannya saat kertas itu ia sodorkan ke arah Pak Mardi yang sejak tadi memperhatikan.

“Surat dari Maya untuk Mulyadi. Bacalah.”

Tangan Pak Mardi sedikit gemetar menerima kertas yang usianya lebih tua ketimbang dirinya. Emosi yang melanda dirinya membuat ia tak memperhatikan perubahan ekspresi dan nada suara Kong Salim. Perhatiannya penuh tertuju pada kertas tua itu. Perlahan matanya menekuri kata demi kata yang tergurat. Tanpa sadar matanya merebak. Di depannya Kong Salim menatap penuh pengertian. Pak Mardi terlihat sedikit terguncang. Tapi tak lama ia sudah bisa menguasai dirinya.

“Terimakasih banyak, Pak Salim. Sekarang saya mengerti siapa saya sebenarnya saat ini. Saya pun tidak merasa benci pada Pak Mulyadi itu. Bagaimanapun dia sudah meninggal. Dan apapun yang sudah terjadi, saya tetap sayang dan hormat pada ibu saya. Cinta saya tak berkurang sedikitpun.”

Kong Salim tersenyum bijak. Menepuk-nepuk pundak Pak Mardi. Kelegaan juga meliputi dirinya.

“Saya pamit, Pak Salim. Saya harap lain waktu kita bisa bertemu lagi. Oh, saya juga mendoakan semoga orkes tanjidor bapak dapat tawaran tampil lagi di banyak tempat. Amiin.”

Kong Salim ikut mengaminkan.

“Mari saya antar Pak Mardi ke depan.”

Senja telah beranjak jatuh. Di luar rumah gelap mulai membayang. Sesekali desau angin bertiup menerbangkan daun daun dari pohon mangga di halaman. Dua lelaki itu melangkah di halaman rumah Kong Salim yang lumayan luas. Mobil Pak Mardi diparkir di luar pagar sebab di halaman sedang ada tumpukan bahan-bahan material. Keduanya tampak berbincang akrab. Sesekali Kong Salim menepuk pundak Pak Mardi. Setelah menutup pintu mobil, Pak Mardi mengucapkan salam lalu melambaikan tangan. Kong Salim membalas dengan senyuman lebar. Mobil melaju perlahan di jalan yang mulai sepi.

Baru saja mobil itu mulai berjalan menjauh, sebuah sepeda motor mendekat. Petugas pengantar barang dari sebuah perusahaan ternama mendekati Kong Salim.

“Selamat sore, Pak. Saya membawa sebuah paket untuk pemilik orkes tanjidor di sini. Apakah nama bapak..” sejenak petugas itu mencoba meneliti nama yang tertulis dalam catatannya. Kong Salim langsung menimpali.

“Ya, benar saya pemilik orkes tanjidor ini.”

Petugas itu terlihat lega.

“Silakan, pak diterima barangnya. Mohon tandatangani bukti penerimaan barang ini disertai nama.”

Kong Salim menorehkan tandatangannya, lalu menuliskan dua kata namanya. Petugas itu menerima kertas yang disodorkan Kong Salim, menelitinya sejenak, lalu tersenyum.

“Terimakasih, Pak Mulyadi Salim.”

bagian dua Rahasia di Balik Tambur (Menghapus Dendam) klik DI SINI


Iklan

One thought on “[Cerita Pendek] Rahasia di Balik Tambur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s