[Cerita 17] Tragedi

pisau

sumber

Cahaya senja belum lagi jatuh sempurna di pelataran sebuah rumah sakit bercat biru muda. Tampak kesibukan yang biasa, orang-orang berlalu lalang atau mengobrol. Paramedis yang hilir mudik membawa pasien yang terduduk di kursi roda. Keluarga pasien mengantri untuk membeli obat. Ketenangan senja pecah ketika sebuah mobil bercat hitam memasuki halaman rumah sakit dengan tergesa. Lalu rem ditarik dengan keras hingga ban-ban berdecit keras seolah memprotes. Beberapa pasang mata menatap dengan rasa ingin tahu.  Setelah menyadari  tak ada hal luar biasa yang sedang terjadi, kepala mereka beralih kembali pada  hal-hal yang tadi sedang mereka lakukan.

Dari dalam mobil, beberapa orang keluar dengan tergesa. Seorang lelaki tampan usia 30-an dengan wajah cemas keluar sambil menggendong balita perempuan yang menangis keras. Kaki kanan bocah itu dibebat kain yang telah memerah dirembesi darah. Dari pintu depan sebelah kanan, keluar seorang lelaki muda yang berwajah mirip lelaki pertama tadi. Wajahnya pun terlihat cemas.  Bergegas mereka menuju ruang gawat darurat yang berada di sebelah kanan rumah sakit.

Seorang  dokter sigap menemui mereka. Sejenak ia mengamati keadaan bocah malang yang masih terus menangis kesakitan, namun suaranya mulai lemah dan wajahnya memucat. Tampaknya ia telah banyak kehilangan darah.
“Ikuti saya, Pak.” Kata lelaki muda berjas putih yang berjalan sigap dengan langkah-langkah panjang menuju sebuah ruangan bercat biru muda. “Silakan baringkan anaknya di ranjang, Pak.”

“Biar kubantu, Mas Randi.” Lelaki muda itu bersuara, menawarkan bantuan. Yang dipanggil Randi hanya mengangguk sekilas, lalu berusaha membaringkan putrinya perlahan seakan tidak ingin menambah rasa sakitnya. Lelaki muda tadi membantu meluruskan kaki si bocah.

Dokter membuka bebatan di kaki si bocah dengan perlahan. Terdengar jeritan dari bibir mungil itu. “Tahan sebentar ya Manis, biar om Dokter liat lukanya,” ia berusaha membujuk. “Dokter….” Randi membaca sekilas nama yang tertera di baju putih itu,” Dokter Bayu, gimana kondisi luka di kaki Maya anak saya?”

“Tampaknya lukanya cukup dalam, Pak Randi. Saya harus menjahitnya. Lalu akan kita beri dia transfusi darah untuk mengganti darah yang keluar. Boleh saya tahu apa penyebab luka ini?” Tanya dokter sambil mengenakan sarung tangan karet, lalu membersihkan kaki Maya dengan larutan aseptik. Maya kembali menjerit.

“Ini akibat kelalaian kami, Dok. Tadi sore saya biarkan anak saya bermain di kebun belakang. Sudah saya peringatkan istri saya untuk mengawasinya sementara saya mengganti pipa air di depan rumah. Tapi anak kami yang bungsu buang air, sehingga istri saya mesti mengganti popoknya. Saat itulah Maya terjatuh dan kaki kanannya terkena pecahan beling.”

Dokter Bayu hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Matanya melirik ke arah perawat yang sigap datang dengan membawa nampan berisi peralatan untuk menjahit luka. Sambil melepas sarung tangan yang tadi dipakai membersihkan luka dan  mengenakan sarung tangan yang baru, Dokter Bayu berbicara kepada Randi. “Silakan tunggu di luar Pak. Saya akan menjahit lukanya. Maya akan saya bius lokal saja.”

Ketika Randi dan lelaki muda tadi akan beranjak keluar, Maya menjerit keras. Rupanya ia takut akan ditinggalkan. Randi menatap mata anaknya lalu berpaling pada lelaki muda tadi.

“Rian, kau pulang saja lah dulu. Jemput Mbak Mitha di rumah. Katakan padanya tak usah khawatir. Maya baik-baik saja. Setelah semua urusan di rumah beres, baru kalian kemari. Oh, ya bilang juga pada Mbak Mitha agar Riyo dititipkan saja pada orangtua Mitha. Tak baik buat bayi berada di rumah sakit.”

Rian mengangguk. Menghampiri Maya sebentar, mengecup keningnya penuh sayang dan menjanjikan akan segera kembali. Perlahan ia meninggalkan ruang gawat darurat. Randi kembali menemani Maya yang sedang mendapat penanganan dari dokter Bayu. Pandangan penuh kasih ia berikan, suaranya membujuk. Maya terlihat lebih tenang.

Setelah selesai menjahit luka, dokter Bayu mengoleskan desinfektan di sekitar jahitan, menutup jahitan dengan kassa steril dan merekatkan plester.

“Sekarang Maya akan saya pindahkan ke kamar perawatan untuk mendapatkan transfusi darah.” dokter Bayu menjelaskan tanpa diminta. Randi hanya mengangguk-angguk. Bersama seorang perawat, Randi dan dokter Bayu bergegas menuju ruang perawatan.
******

Randi duduk diam di depan ruang perawatan. Maya sudah tertidur di dalam setelah kelelahan sebab terus-terusan menangis. Untuk mengusir bosan sembari menunggu Rian dan Mitha istrinya datang, Randi berjalan-jalan di bagian depan unit gawat darurat. Ia berencana menuju kantin yang berada tepat di sebelah UGD. Tepat di depan UGD tampak ada kesibukan baru. Seorang gadis dengan rambut acak-acakan dan pakaian robek di sana-sini tampak berbaring di brankar yang didorong seorang perawat. Di belakang mereka seorang wanita separuh baya menangis tersedu. Di sebelahnya berjalan tegap dua orang polisi. Lalu ada beberapa orang lain yang ikut mengiringi. Randi hanya berdiri diam, membiarkan rombongan itu melewati dirinya.

Lalu terjadilah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tepat ketika brankar yang memuat tubuh gadis itu sejajar dengan dirinya, si gadis mendadak berpaling ke arah Randi. Sorot matanya tiba-tiba nyalang, tampak terluka dan menyiratkan dendam yang dalam. Tanpa bisa dicegah, gadis itu berteriak histeris.

“Itu diaaa….itu dia orangnyaaa….Aaaaaahh….itu diaaa….”

Randi terkesiap. Sejenak ia seperti orang bingung. “Itu dia?” Apa maksudnya? Serempak seluruh mata tertuju pada Randi yang masih tak mengerti apa yang terjadi. Rombongan itu terpaku di tengah lorong. Gadis tadi kini meraung-raung sambil terus menunjuk ke arah Randi. Diantara raungan dan kata-kata tak jelas yang dilontarkan, Randi menangkap satu kata : Pemerkosa. Apa!? Aku? Kenal saja tidak!

Polisi-polisi itu terlihat berbicara dengan si gadis yang masih saja menunjuk ke arah Randi. Lalu wanita setengah baya yang menemaninya terlihat menangis. Matanya menatap Randi dengan pandangan yang sulit diartikan. Wanita tadi seakan hendak menghambur ke arah Randi jika tidak ditahan oleh orang-orang yang mengiringi. Dua polisi tadi bergerak mendekat ke arah Randi berdiri. Raut wajah mereka tampak tenang. Tak seperti wajah Randi yang kelihatan tegang. Ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi dan ingin segera berlalu dari tempat itu.

“Selamat malam, Bapak. Bapak kenal dengan gadis tadi?” Polisi yang kelihatan lebih tua langsung memulai percakapan. Randi menggeleng.

“Tidak kenal, Pak. Baru kali ini saya bertemu dia. Sebenarnya apa yang terjadi padanya, Pak?”

“Gadis itu diculik dan diperkosa. Baru tadi sore dia ditemukan keluarganya di belakang sebuah bangunan kosong. Dia trauma. Dan sama sekali tidak bisa mengenali pemerkosanya. Hanya satu yang masih bisa dia kenali. Bau parfum. Dan bau parfum anda sama dengan bau parfum si pemerkosa. Anda mengerti maksud saya?”

“Tapi saya bukan pemerkosa! Saya tidak kenal dia. Saya tidak pernah ketemu dia sebelumnya. Apalagi memerkosa!”

“Tenang, Pak. Kami tidak menuduh. Tapi kami harus memastikan benar-benar kasus ini. Di tubuh gadis itu ditemukan bercak sperma si pemerkosa. Saya harap anda mau bekerjasama dalam hal ini.”

Randi menatap dengan pandangan tak mengerti. Kerjasama?

“Kami bermaksud mengadakan tes DNA dari sperma yang ada di tubuh korban, dan membandingkannya dengan sperma milik anda. Proses ini umumnya memakan waktu sampai dengan dua minggu, tapi kami tahu bahwa rumah sakit ini memiliki alat yang lebih canggih sehingga saya yakin dalam tiga empat hari kita akan tahu hasilnya.” Polisi itu berhenti sejenak dan memperhatikan raut wajah Randi.

Randi masih diam.

“Dan lagi, mengapa mesti takut jika anda yakin tidak bersalah, bukan?” Kalimat terakhir Polisi itu menyentakkan kepala Randi. Ya! Mengapa mesti takut?

“Baik, Pak. Saya setuju. Saya tidak mau  dituduh sebagai pemerkosa. Dan saya bersedia membuktikannya.” ucap Randi tegas.

Polisi itu mengangguk puas.

“Biar saya yang atur semuanya. Mari kita temui direktur rumah sakit ini. Kita bisa minta bantuan beliau untuk menyiapkan satu tim forensik untuk menyelesaikan kasus ini. ”

Berdua mereka melangkah pelan menuju ruangan direktur. Pemeriksaan akan dilakukan secepatnya, hari ini juga jika mungkin.

************

Randi tengah duduk di sebuah kursi panjang, di seberang ranjang Maya. Di sana, Mitha  dan Rian sedang bercerita kepada Maya. Cerita lucu tampaknya, sebab Maya terlihat tertawa riang. Sepertinya sudah tak terlalu merasakan sakit di kakinya. Rian tampak memerhatikan kedua perempuan itu sambil sesekali tersenyum. Mitha dan Rian tiba sekitar 30 menit setelah proses pemeriksaan dan pengambilan sperma Randi selesai dilakukan. Proses pengambilan dilakukan dengan cara masturbasi. Agak susah untuk masturbasi dalam keadaan seperti itu. Tapi itu lebih baik ketimbang mesti diambil dengan disedot dari testis. Randi memilih merahasiakan kejadian tadi dari Mitha dan juga Rian.

Rian menyudahi candaannya, lalu berjalan mendekati Randi. Adik kandung Randi yang tak kalah tampan ini bertubuh atletis berkat kegemarannya fitness. Ditambah dengan kulitnya yang berwarna putih, rambut ikal dan senyum yang menggoda, Rian selalu jadi rebutan perempuan. Sudah 7 tahun dia tinggal bersama Randi sejak Randi masih bujangan hingga sekarang sudah menikah dan memiliki dua anak. Rian meninggalkan kampung halamannya, sebuah kota kecil di Sumatera untuk kuliah. Semua biaya menjadi tanggungan Randi yang sudah mendapat pekerjaan baik sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan penerbitan besar di Jakarta.

“Gimana kerjaan kamu, Yan?” Randi membuka suara.

“Baik, Mas. Minggu depan masa training-ku berakhir. Kepala bagian sudah memberitahu, kerjaku memuaskan dan akan segera diangkat.”

“Baguslah. Sudah beritahu Ibu di kampung?”

“Nanti saja lah, Mas. Kalau sudah benar-benar diangkat. Sekalian jadi kejutan.”

Randi tak mengomentari lagi.

“Mas.” terdengar sebuah suara merdu. Randi menoleh. Ia melihat Mitha berjalan ke arah mereka. Mitha, perempuan cantik berusia jelang 30. Langsing semampai, berkulit putih dengan rambut lurus panjang yang sangat disukai Randi. Pertemuan pertama mereka sekitar 5 tahun lalu di sebuah seminar memercikkan api asmara. Di awali dengan perkenalan singkat, bertukar nomor ponsel, lalu obrolan-obrolan panjang yang menyenangkan. Merasa cocok, mereka sepakat untuk pacaran. Hanya setahun pacaran, mereka memutuskan menikah. Setahun kemudian Maya lahir, dan Riyo menyusul enam bulan lalu. Keluarga mereka terasa lengkap. Agar lebih konsentrasi mengurus rumah dan anak-anak, Randi meminta Mitha untuk berhenti bekerja. Mitha menyanggupi

“Kondisi Maya sudah tidak apa-apa Mas. Kata dokter besok sudah boleh kita bawa pulang. Nanti obatnya sambil jalan aja.” kata Mitha sambil menyentuh bahu Randi.

“Iya, Mas. Kasihan kalau Maya terus-terusan di sini. Gak enak. Dia pun udah kangen sama Riyo, pengen main sama-sama lagi,” Rian menimpali.

Randi hanya mengangguk menyetujui. Tersenyum tipis. Sedikit lega sebab Maya sudah bisa dibawa pulang besok. Tapi masih ada kejadian tadi masih mengganggu pikirannya. “Hmm….nanti saja aku beritahu mereka kalau urusan ini sudah beres. Toh, tak akan terjadi apa-apa. Gadis korban itu pasti sangat terguncang sehingga tidak tahu apa yang dia lakukan, menuduh orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya.” bisik hati Randi.

“Iya, besok kita pulang.” ujar Randi menutup pembicaraan.

*********
Randi mengendarai mobilnya, menuju rumah sambil terus meremas-remas rambutnya. Ia menyetir pelan, tidak ingin menambah masalah dengan mengebut. Kepalanya terasa demikian nyeri, berdenyut menyakitkan. Seribu duri serasa menusuki kepalanya. Ia merasa mual, sangat mual. Selain itu dadanya terasa sakit. Seperti ada beban berton-ton menindih dadanya. Perih. Matanya terasa berair. Apakah aku harus menangis? Gumamnya lirih. Ia lihat lagi tangan kanannya,  ada amplop yang diberikan dokter rumah sakit tempat ia melakukan pemeriksaan sperma beberapa hari yang lalu. Tadi pagi dokter meneleponnya dan ia sengaja meminta izin pulang lebih cepat dari kantor. Dengan perasaan berdebar ia temui dokter dari tim forensik yang melakukan pemeriksaan DNA dari spermanya dan sperma di tubuh korban.

Di ruangan bersuhu sejuk dengan interior apik, Randi duduk di kursi di depan dokter. Bersiap mendengarkan.

“Selamat, Pak. Anda tidak terbukti memperkosa gadis itu. Kami telah melakukan pemeriksaan, dan DNA sperma anda terbukti tidak sama dengan sperma yang kami temukan di tubuh korban. Terimakasih atas kerjasamanya. Saya telah menyampaikan hasil pemeriksaan ini ke pihak kepolisian. Mereka mengerti. Dan menyampaikan salam buat anda.”

Randi menghela napas teramat lega. Gembira. Lepas sudah beban yang ia rasakan beberapa hari terakhir.

“Terimakasih, Pak. Saya sangat menghargai bantuan Bapak. Oh ya, boleh saya minta salinan hasil pemeriksaan? Buat jaga-jaga saja.”

Dokter mengulurkan kertas hasil pemeriksaan. Randi menerima kertas putih itu dengan hati riang. Membaca sekilas hasil pemeriksaan. Beberapa istilah ia mengerti. Sebagian lain terdengar asing di penglihatannya. Volume, Warna, Viskositas, Koagulum, Aqlutinasi, Lekosit… Apa artinya itu? Ia ingin bertanya pada dokter, namun kemudian berpikir, Ah, tak penting dengan semua istilah itu. Yang penting dokter menyatakan dia tidak bersalah. Mata Randi langsung menuju bagian kesimpulan. Azoospermia? Bibir Randi mengucap kata itu lagi, lalu matanya memandang dokter, meminta penjelasan. Dokter mendesah pelan, mengatur napasnya, lalu bicara dengan hati-hati.

“Sebelumnya saya minta maaf jika penyampaian saya ini membuat anda gelisah. Saya menyampaikan hal ini dalam kapasitas saya sebagai dokter yang wajib memberitahukan apa yang diinginkan pasien, dalam hal ini anda sebagai pihak yang berkepentingan.”

Mendadak ruangan terasa gerah buat Randi. Firasatnya bekerja. Sesuatu yang buruk-kah yang akan disampaikan dokter?

“Jadi begini, Pak. Azoospermia berarti cairan sperma tidak mengandung sel spermatozoa yang diperlukan untuk membuahi sel telur wanita. Sperma yang dikeluarkan hanya berupa cairan kelenjar kelamin saja, tanpa sel spermatozoa. Karena tidak ada sel spermatozoa, tak akan terjadi pembuahan dan kehamilan. Artinya, pria yang mengalami azoospermia tidak dapat menghamili, sekaligus tidak akan mempunyai anak.”

Mata Randi mengabur. Kepalanya mendadak terasa pening. Dokter melanjutkan penjelasannya.

“Ada dua kemungkinan mengapa pria mengalami azoospermia. Pertama, mungkin karena kerusakan pada testis (buah pelir) sebagai “pabrik” sel spermatozoa. Kedua, mungkin karena terjadi sumbatan pada saluran keluar sperma, padahal produksinya ada. Dengan pemeriksaan fisik didukung pemeriksaan hormon, dapat ditentukan kemungkinan mana yang menjadi penyebab azoospermia. Apa Bapak ingin kami melakukan pemeriksaan lanjutan?”

Randi tak sanggup lagi berpikir. Seribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Kalau aku mandul, lalu…Maya? Riyo? Mereka? Mitha? Kenapa bisa? Siapa? Mitha selingkuh? Benarkah? Tega! Dengan siapa? Mitha selalu berada di rumah dan keluar hanya ketika bersama Randi atau Rian. Rian? Benarkah dia? Tapi dia adikku. Kandung! Seribu pikiran berkecamuk di kepala Randi.

Randi perlahan bangkit dari kursinya, menatap dokter dengan pandangan hampa, menjabat tangan dokter dan hanya mengangguk tipis pada dokter, sebagai tanda pamit. Lidahnya seperti kelu untuk mengucapkan salam. Dokter menyambut jabat tangan Randi dan mengangguk sopan. Mungkin maklum dengan keadaan Randi yang tampak terguncang.

Mobil memasuki halaman depan rumah yang luas. Randi mematikan mesin dan beranjak keluar. Mukanya masih terlihat kalut. Dia harus bicara dengan Mitha, mencari tahu apakah benar Mitha mengkhianatinya. Dia mencintai Mitha juga anak-anak mereka..ah..anak-anak Mitha dan lelaki itu, dan jika Mitha mengaku lalu berjanji tak akan mengulangi, mungkin ia masih bisa memaafkan.

Di depan rumah Randi masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia punya kunci sendiri yang sesekali ia gunakan ketika mesti pulang larut malam akibat pekerjaan yang menumpuk. Ia memandang sekeliling. Rumah tampak sepi, tak ada Maya yang biasanya bermain di ruang depan, atau suara Riyo yang menangis, atau tertawa, atau apa saja. Atau suara Mitha yang biasanya bersenandung ketika memasak. Rumah ini tanpa pembantu, sebab Mitha bersikeras ia sanggup mengurus rumah sendirian. Rumah ini sepi. Mungkin semua penghuni sedang tidur. Dan Rian pastilah sedang berada di kantornya. Randi meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tamu, lalu menuju dapur. Baru saja tangannya hendak menjangkau lemari es, telinganya menangkap suara-suara dari teras belakang rumah. Ah, di sana rupanya mereka. Perlahan ia seret langkahnya ke arah pintu yang tak tertutup. Kakinya mendadak kaku. Matanya terpaku pada pemandangan yang menyakitkan hati. Teramat sakit.

Di bangku kayu yang diletakkan di atas rumput halaman belakang, membelakangi pintu dapur, dua manusia sedang asyik bercanda mesra. Sesekali mereka saling menggoda, mencubit hidung, membelai rambut, mengecup bibir! Darah menggelegak di tubuh Randi. Jadi ini kenyataan pahit yang harus ia terima. Ia mandul. Istrinya berselingkuh. Dengan adik kandungnya! Terlalu!

Randi gelap mata. Akalnya buntu. Ia raih batang kayu bulat di dinding, kayu yang biasa dipakai istrinya untuk menggiling adonan kue. Setengah berteriak ia menghambur ke arah Mitha dan Rian. Keduanya kaget setengah mati. Berusaha saling menjauhkan tubuh. Mitha berteriak, Rian juga berteriak.

“Mas…ampun Mas. Ampuun…” suara Mitha yang merdu terdengar memohon. Tapi Randi sudah dikuasai nafsu. Ia tak mau mendengarkan apapun. Bukti nyata yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri sudah cukup. Ia menyerang keduanya membabi buta. Keduanya tak siap dengan serangan itu. Berusaha menangkis dengan tangan, berusaha lari. Tapi Randi jauh lebih kuat. Kemarahannya sudah meledak. Mitha tersungkur tak berdaya menyusul Rian yang sudah lebih dulu terbaring berdarah-darah. Mata Randi basah airmata duka. Melintas di benaknya semua kenangan. Rian yang masih lugu ketika ia bawa ke rumahnya. Mitha yang cantik yang membetot perhatian ketika pertama mereka bertemu. Ketika ia mengenalkan Mitha ke Rian sebagai pacar, lalu calon istri. Kedekatan keduanya yang semula ia pikir sebab Rian tidak punya kakak perempuan. Ia terlalu naif. Berapa lama mereka berselingkuh? Umur Maya sudah lebih dari 3 tahun. Mereka berselingkuh sejak 4 tahun lalu! Di rumahnya sendiri!

Tangan Randi terus berayun.

Teringat ia betapa bahagia ia menyambut kelahiran Maya, juga Riyo. Merasa betapa bangga ia sebab sebagai lelaki ia sudah memiliki keturunan yang akan meneruskan namanya. Ternyata mereka bukan anaknya! Mereka anak Rian! Ia hanya lelaki mandul dan bodoh. Terlalu bodoh sehingga tak bisa mengendus bau busuk perselingkuhan. 4 tahun ia dibodohi! Dungu! Aku lelaki dungu! Umpat batin Randi.

Suara jeritan kian lemah.

Mereka adalah orang-orang yang sangat ia kasihi. Mengapa tega berbuat seperti ini? Randi meratap dengan mata memejam. Ia tak mampu lagi melihat kedua orang terdekat yang dulu..ya..dulu sangat ia cintai. Tapi kini mereka tak ubahnya binatang dalam pandangannya. Randi menangis terus menangis. Tapi kayu bulat di tangannya tak berhenti berayun. Kembali terdengar suara sesuatu yang retak. Suara daging beradu kayu. Jeritan kesakitan yang semakin lemah. Lalu semuanya senyap.

Randi membuka mata. Tangisnya kian kuat. Didepan matanya tergeletak dua sosok bersimbah darah. Ia tak bisa memastikan apakah masih ada napas yang berhembus dari hidung dua tubuh itu. Kayu bulat di tangannya terjatuh dari genggaman, menimbulkan bunyi dentang yang terdengar amat nyaring di tengah kesunyian yang teramat menekan perasaan. Randi menutup mata sambil terisak. Jeritannya yang parau terdengar memilukan. Meneriakkan duka jiwa yang teramat dalam. Randi jatuh terduduk. Suasanya hening. Lalu telinganya mendengar suara gemerisik yang berasal dari pintu dapur. Baru ia sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya. Sepasang mata polos dan bening yang menatap ngeri.

“Maya!”

***tamat***

Iklan

30 thoughts on “[Cerita 17] Tragedi

  1. noichil berkata:

    mantep banget. Meski agak aneh kalo ketusuk beling langsung ditransfusi. Mau kasih saran sedikit, yah…

    kasus di cerpen ini, lukanya dalam mungkin iya. Tapi memutuskan untuk transfusi nanti dulu. Deskripsi kondisi Maya seger, nangis aktif. Dan dokternya juga santai ndak ngasih infus pas njahitnya. Kecuali dokternya bisa menilai ada tanda-tanda syok karena perdarahan yang banyak, Mekanisme transfusi juga ndak langsung dikasih darah, kok. Ada beberapa cairan yang harus dimasukkan lebih dulu via infus untuk mencegah reaksi yang tidak diinginkan ketika dilakukan transfusi. Dan ada cek darah setelah transfusi juga.

    Untuk keterlibatan direktur RS, ya, kayanya memang ndak perlu sih ehehehe :p

    Tapi konfliknya bagus, Bang. Suka ^^

    • riga berkata:

      asikkkk, dapat ilmu nihhh. thanks Nina. 🙂

      dulu pas bikin memang nggak “riset” soal transfusi. cuma cari tahu perihal klasifikasi kualitas sperma. ternyata masih banyak bolongnya. hehehe. *nyengir*

  2. _menikdp berkata:

    maaf y bang sebelumnya, saya pernah membaca notes d fb tp lupa punya siapa 😉 intinya sama sih, kalo si abang ternyata mandul trus anaknya ternyata hasil hubungan istri dengan adik si suami. nha kalo gak salah di notes itu disebutkan ada hadits-nya tentang melarang serumah dengan orang(khususnya laki2) lain meskipun adik sendiri kalau gak salah bunyinya “al Hamwu al mautu, ipar adalah kematian”. saya lupa persisnya gimana :mrgreen:. maklum bang ingatan saya agak2 gimana gitu, ingetnya cuman sepotong-sepotong hehehe 😀
    tapi pas awal cerita gak menduga sih kalo endingnya kaya gini hehehe 🙂 lanjut jalan-jalan ke postingan abang yang lain aaaahh

  3. Dicko berkata:

    Perselingkuhan yg sadis. Menurut saya, menurut saya lhoo bang. Gaya menulismu sangat terInspirasi dari cara menulis Marga T.hehehe. Menurut sy lhoo bg. Terlepas dr itu, ide ceritanya mantap. Kreatif…

    • riga berkata:

      makasih Amakta.. ntar kalo udah punya/nemu bagian yang bisa dikritik, jangan segan nulisnya yah. Buat bahan belajarku… 🙂

  4. penyayangkupukupu berkata:

    Wow! Keren….
    Blankar apa brankar ya bang? Hehe
    Oia untuk kepuasan pembaca aja yah, kalo ada pemerkosaan itu biasanya polisi kerjasama sm tim forensik bukan berhubungan langsung sama direktur. Saran aja kok 🙂

    • riga berkata:

      Makasih Inne… Kalo abg cek di KBBI yang benar adalah brankar. Nahh…kalo soal kasus…makasih infonya. Baru tahu, hehe. Itu cuma ‘jalan pintas’. Jadi, biar direktur yang memerintahkan bawahannya – yang abang ga tahu siapa :p – untuk membantu polisi. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s