[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya 2

selamanya

sumber

Dian membuka matanya perlahan. Cahaya lampu di atas kepalanya terasa begitu menyilaukan. Segera ia tutup matanya sambil berusaha mengingat-ingat, sedang di mana dia sekarang. Dian berusaha bangkit dari ranjang, tetapi sakit yang teramat nyeri memaksanya tidur kembali. Sakit itu berasal dari pinggangnya, begitu menusuk. Ia raba pinggang sebelah kanan, ada perban besar membalut sekujur pinggangnya. Dian mengaduh pelan. Matanya menyusuri sekeliling ruangan kosong. Di mana ini?

Lalu sedikit demi sedikit, sebuah ingatan datang. Hal terakhir yang ia ingat adalah ia sedang berada di depan makam Reza, lalu suara gemerisik yang datang tiba-tiba,  nyeri hebat yang seketika menghantam kepalanya, disusul rasa sakit di pinggang, sesuatu yang mengalir membasahi kemejanya, kelebatan orang-orang yang berteriak, lalu…ia tak ingat lagi.

“Aduh..”

Usahanya untuk mengingat ternyata membuat rasa sakit itu datang lagi. Dian memejamkan matanya. Kenangan tentang Reza berkelebat seperti slide film, frame demi frame silih berganti. Cerita bahagia, duka, pertengkaran, ketakutan, perasaan putus asa. Semua mengaduk perasaan. Tak terasa matanya membasah.

Terdengar suara pintu dibuka, dan langkah kaki mendekat. Harum bunga menyerbak dari tubuh orang yang baru datang itu. Dian membuka matanya. Seorang perempuan muda membawa nampan berisi obat sedang berdiri di sampingnya. Dengan cekatan perempuan itu memeriksa infus di tangan kiri Dian. Dian bahkan tak menyadari ada infus di tangannya.

“Suster…”

Perempuan itu menoleh. Senyum manis mengembang dari bibirnya yang penuh, dengan sapuan tipis pemerah bibir.

“Selamat pagi, Mas Dian. Sudah bangun?”

Dian mengangguk. Tentu saja ia sudah bangun.

“Saya di mana sekarang?”

“Rumah sakit, Mas. Mas Dian dibawa ke sini oleh orang-orang dari kampung sekitar sini sejak 2 hari lalu. Kondisi Mas Dian saat itu cukup mengkhawatirkan sebab kehilangan banyak darah. Tapi syukurlah sekarang sepertinya kondisi Mas Dian sudah lebih baik.”

“Keluarga saya sudah ada yang datang, Suster?”

“Tentu saja. Mereka tak ada di sini sekarang, tapi akan segera kembali. Ini obatnya diminum ya Mas. Semoga lekas pulih.”

Sambil tersenyum, Suster tadi menyodorkan 2 butir obat berwarna putih, dan segelas air mineral. Dian menelannya sekaligus.

“Saya permisi dulu, Mas Dian. Saya akan kembali kemari 1 jam lagi. Selamat pagi.”

Belum sempat Dian membalas, Suster muda tadi sudah berbalik meninggalkannya, menutup pintu perlahan dan hilang dari pandangan. Dian mendesah. Beberapa lama ia hanya terdiam. Pikirannya menerawang jauh, ke masa-masa yang ia bahkan tak mampu ia kenali lagi waktunya. Lalu ketika obat yang tadi ia minum mulai memberikan reaksi, pelan-pelan rasa kantuk menyelimuti matanya.

Saat kesadarannya sedang mengawang-awang, Dian merasakan seseorang sedang berada di sampingnya. Seseorang yang ia kenal. Sangat ia kenal. Lalu ia rasakan tangan orang itu mengusap-usap rambutnya. Usapan sayang! Lalu bibir yang hangat mendarat di dahinya. Ciuman yang sangat ia kenal dan telah sekian lama ia rindukan. Mungkinkah? Dian ingin membuka mata, tapi kelopak matanya seolah lengket satu sama lain. Ia hanya mampu merasakan. Sebelum ia benar-benar jatuh tertidur, samar-samar ia dengar suara orang itu.

“Cepat sembuh ya sayang.”

Suara itu begitu lirih terdengar di telinga Dian. Suara yang selama ini selalu membuainya. Milik orang yang sangat ia cintai.

“Reza?”

*********

Lily berjalan mondar-mandir di ruang depan rumah kontrakannya. Perasaanya gelisah tak menentu sejak tadi. Setiap terdengar suara kendaraan yang berhenti di depan rumah, hatinya langsung was-was. Lily melongok ke luar hanya untuk memastikan kendaraan apa itu, sekedar menenangkan gelisah. Lily hanya sendirian di rumah kecil itu. Seorang pembantu tengah berbelanja ke pasar. Ah, betapa Lily merindukan orang-orang yang ia sayangi. Reza dan anak mereka. Sungguh sangat berat yang dirasakannya saat ini. Ia kehilangan suami sejak kecelakaan tragis itu meski sebenarnya ia sudah kehilangan hati Reza sejak lama. Atau memang ia tak pernah memilikinya? Ah, sudahlah. Lily menepis bayangan Reza. Ia kini lebih memikirkan anak mereka. Sejak kematian Reza, anak mereka langsung diambil mertua Lily. Mereka tak mempercayai Lily untuk merawat anaknya sendiri. Betapa tega mereka! Lily merasa putus asa. Kalut. Lalu timbul dendam dalam dirinya. Dendam yang akhirnya ia lampiaskan. Walaupun sepertinya tak berhasil. Ah, mestinya tak ia lakukan saja. Ia tak mengira akan seperti ini jadinya.

Lily menyeduh secangkir teh tanpa gula. Meski sedang dirundung masalah, ia tak mau mengorbankan kelangsingan tubuhnya dengan mengonsumsi banyak kalori. Lily menghempaskan bokongnya di sofa ruang tengah yang nyaman. Sebuah majalah wanita ia raih dari bagian bawah meja. Membuka-buka halaman tanpa niat membacanya. Pikirannya menerawang.

Pertemuannya dengan Reza sekian tahun silam.

Lily mengenal Reza saat ia kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di kota ini. Reza yang ramah, tampan dan pintar. Reza yang jadi incaran banyak gadis di kampus. Reza yang sempurna. Setidaknya begitulah yang ada dipikiran Lily dan gadis-gadis lain saat itu. Lily jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Reza. Kedekatan mereka mulai terjalin sejak sama-sama terlibat dalam kepengurusan sebuah organisasi di kampus. Reza sebagai ketua dan ia sendiri sekretaris. Lily semakin cinta, sementara Reza bersikap biasa-biasa saja. Sikapnya sama saja ke semua orang. Tapi Lily tak berhenti berharap. Ia yakin suatu hari bisa menaklukkan hati Reza. Ia akan minta bantuan pada sahabat terdekat Reza.

“Hai, Dian.”

Lily melangkah ringan mendekati seorang lelaki yang sedang duduk santai di bangku taman di bawah rindang pohon cemara depan kantin kampus. Yang disapa menoleh, melambaikan tangan.

“Hai. Yuk, duduk di sini.”

Lily menurut. Duduk di bawah pohon saat siang begini terik memang terasa sejuk.Suasana sekitar kantin tidak terlalu ramai.

“Aku mau minta bantuanmu nih, Dian.”

“Oya? Bantuan apa nih? Melobi sponsor buat acara Pekan Seni Mahasiswa bulan depan?”

“Ah, bukan soal itu. Itu sih aku serahkan saja sama ahlinya. Kamu.”

Lily tergelak sejenak. Dian tersenyum lebar. Mereka sudah berteman cukup lama, sudah tak ada rasa canggung dalam percakapan mereka.

“Jadi, bantuan apa yang bisa aku berikan?”

Lily berdeham. Sebelah tangannya memuntir ikal ujung rambut. Kebiasaannya jika sedang minta tolong.

“Dian, yang mau aku bilang ini sebenarnya rahasia. Tolong jangan sampai ada yang tahu.”

Dian mengangguk paham. Lily melanjutkan.

“Kamu tahu kan kalau aku suka sama Reza. Kami sudah dekat cukup lama. Tapi selama ini Reza belum pernah menampakkan sikap kalau dia juga suka denganku. Sikapnya sama saja dengan sikap dia ke Nana, Maya, atau cewek-cewek lain temannya. Aku kan jadi bingung, Dian. Sementara aku ga bisa dong menyatakan rasa suka terlebih dahulu. Aku kan cewek.”

“Yee, emang ada larangan cewek menyatakan cinta duluan? Ga ada kan?”

Dian tersenyum menggoda, tapi matanya berkilat. Lily berseru tertahan.

“Malu dong! Aku kan belum tahu gimana perasaan dia ke aku. Makanya aku minta tolong kamu sebagai sahabat terdekatnya. Tolong dong cari tahu, apa dia ada rasa juga sama aku. Tolong ya, Dian. Pleaseeee..”

Mata indah Lily mengedip cepat. Memohon dengan cara menggoda. Tak ayal Dian tertawa kecil.

“Iya, iya. Ntar aku cari tahu deh. Tapi ga janji yaaa. Oya, gimana kalo sebagai upah awal dari tugas investigasi ini, kamu traktir aku makan bakso. Lapar niih.”

“Huuu…dasar tukang makan.”

Berdua mereka beranjak menuju kantin.

************

Rumah kos khusus cowok ini di desain seperti layaknya rumah-rumah kecil yang saling berdempetan. Setiap kamar memiliki kamar mandi sendiri. Individualistis. Khas sifat orang kota yang tak ingin terganggu dengan urusan tetangga kiri dan kanan. Di sebuah kamar yang terletak tepat di ujung kanan rumah, adalah kamar kos Dian. Ke kamar itu lah langkah kaki Lily menuju. Lily memarkirkan motornya di depan pintu pagar. Lily sudah sering ke mari jika ada yang hendak mereka diskusikan. Lily tak begitu peduli pandangan orang lain yang mungkin menilai ‘rendah’ jika seorang perempuan mendatangi kamar seorang laki-laki. Toh, mereka tak melakukan apapun yang dilarang. Dan selama ini, pintu kamar selalu terbuka, tak ada yang mereka sembunyikan.

Pintu kamar itu tertutup rapat. Jendela nako kecil di bagian depan terbuka, dengan kain warna biru menutupi. Mungkin Dian sedang tidur siang, pikir Lily. Tak apa lah, toh ia hanya berniat menyelipkan surat dari sebuah showroom motor yang bersedia menjadi sponsor acara Pekan Seni Mahasiswa yang akan mereka adakan. Kebetulan ia baru pulang dari kampus, dan kos-an Dian searah dengan arah menuju rumahnya.

Di depan kamar, Lily tertegun sejenak. Ada dua pasang sepatu tergeletak di atas keset. Dian sedang menerima tamu? Sifat iseng Lily muncul. Perlahan ia dekatkan telinganya ke pintu. Menguping. Dari dalam kamar, samar terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Lirih, tapi masih bisa terdengar ke telinga Lily.

“Dia mencintaimu, Rez. Tadi Lily bilang langsung padaku. Apa kau juga suka sama dia?”

Hati Lily berdebar. Dian sedang melakukan hal yang ia minta. Apa yang akan dijawab Reza, ya? Hening yang melintas membuat Lily semakin penasaran. Ia menempelkan telinganya lebih erat. Terdengar suara mendesah yang berat.

“Kamu tahu kalau aku tak bisa mencintai cewek manapun kan, Dian? Kamu tahu aku kan? Aku cintanya sama kamu!”

Kepala Lily mendadak pusing. Benarkah yang barusan ia dengar? Reza mencintai Dian! Artinya… Lily menggeleng, mengibaskan pikiran itu. Mungkin ia salah dengar. Mungkin Reza menyebutkan nama lain yang terdengar mirip. Lily bergeser pelan ke arah jendela. Tangannya terjulur membuka kain biru penutup nako, mengintip ke dalam. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di sofa ruang tamu, Reza dan Dian sedang berpelukan erat. Bibir mereka bertemu, dan mata mereka memejam.

Mata Lily seketika memburam. Bergegas ia menjauhi kamar Dian. Menjauhi kosan, menjauhi Reza dan Dian selamanya. Atau begitulah yang dipikirkan Lily kala itu.

************

Tiga tahun yang lalu.

Tanpa sengaja Reza dan Lily bertemu kembali. Reza kini adalah seorang arsitek muda yang mulai naik daun dan sedang menjalin kontrak dengan sebuah perusahaan konstruksi ternama tempat Lily bekerja. Pertemuan yang kembali memercikkan rasa cinta di hati Lily. Sekian tahun berlalu tapi Lily tetap tak mampu mengenyahkan rasa sukanya pada Reza. Dan lihatlah Reza sekarang, semakin tampan dan dewasa. Semakin berkharisma. Karirnya sebagai arsitek tengah menapaki jalan kesuksesan.

“Hai, Reza. Apa kabar?”

“Lily! Senang sekali melihat kamu di sini. Kamu kerja di perusahaan ini juga? Oh, ya aku baik. Kamu juga kan?”

“Iya, sekretaris. Aku juga senang ketemu kamu di sini. Apa kabar Dian?”

Lily sengaja langsung bertanya seperti itu. Ia ingin lihat reaksi Reza mendengar pertanyaannya. Dan Reza hanya sedikit terkesiap, lalu cepat menguasai diri.

“Aku sudah tidak tahu kabarnya sejak kita lulus kuliah. Kudengar dia melanjutkan kuliahnya ke Amerika.”

Lily ber “oo” panjang. Lalu segera beralih  ke topik lain. Percakapan mereka cukup lancar malam itu. Juga pertemuan-pertemuan berikutnya.

Ketika tender proyek pembangunan sebuah mal berhasil dimenangkan oleh perusahaan tempat Lily bekerja, perusahaan tersebut mengadakan pesta. Sebagai seorang arsitek yang jasanya pernah digunakan, Reza diundang sebagai tamu. Pesta yang meriah dengan makanan dan minuman yang lezat. Malam itu Lily minum sedikit terlalu banyak, sehingga ia agak mabuk dan tak bisa pulang sendiri. Reza bersedia mengantarkan Lily ke rumah kosnya.

Sesampainya di rumah, Lily meminta Reza untuk tidak langsung pulang.

“Biar aku buatkan teh hangat buat kita berdua. Biar pusingku cepat hilang. Tunggu yah.”

Sedikit terhuyung, Lily melangkah ke dapur. Setelah melewati pintu dapur, mendadak langkahnya berubah gesit.

“Malam ini harus terjadi,” bisik Lily. “Aku sudah terlalu lama menunggumu, Reza.”

Dari dalam tas tangannya, Lily mengeluarkan serbuk putih yang segera ia campurkan ke gelas teh untuk Reza. Yang selanjutnya terjadi sudah bisa ditebak. Reza merasa dirinya bergairah, sangat bergairah. Keadaan yang segera dimanfaatkan Lily. Mereka pun berhubungan intim, dan Lily hamil.

Dua tahun berlalu…

Karir Reza kian menanjak. Kesibukannya kian menjadi. Pengerjaan desain mal, gedung perkantoran, taman, seolah tak ada henti ia kerjakan. Sementara karir Lily di perusahaan konstruksi juga kian menanjak. Ia dipercaya sebagai sekretaris direktur utama. Nyaris tak ada waktu yang tersisa untuk merawat anak semata wayangnya. Pengasuhan si bocah diserahkan pada seorang pengasuh yang diambil Lily dari sebuah lembaga ternama. Sementara itu hubungannya dengan Reza kian dingin.

Entah bagaimana caranya, Reza mengetahui kalau malam itu ia dijebak Lily dengan obat perangsang sehingga mereka bercinta, Lily hamil, dan ia terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkannya. Mungkin Lily tak sengaja salah ucap, atau ada yang memberitahunya, Lily sungguh tak bisa menebak. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana agar sikap Reza kembali baik padanya.

Namun tampaknya kemarahan Reza belum surut. Mereka sering bertengkar. Sungguh, Lily pusing dibuatnya, ditambah lagi dengan beban pekerjaan yang semakin menuntut konsentrasi. Pada saat ia demikian rapuh, Ronal mendekat. Perhatian yang sangat dibutuhkan Lily, ia dapatkan dari Ronal. Ronal yang bersedia mendengar keluh kesahnya, Ronal yang mau mengantarnya menemui klien malam-malam, Ronal yang mau mengerti sepi jiwanya. Ronal yang….. Ah, Lily merasa pada satu titik ia ingin berlari dari pernikahan yang menyiksa ini. Tapi ia tak bisa. Ada Reza yang masih ia harap cintanya, ada Rio bocah kecil mereka.

Pagi itu Lily datang ke kantor dengan mata yang sedikit sembab. Pertengkaran dengan Reza tadi malam masih membekas di hatinya. Di depan pintu ruangan Ronal menyapanya.

“Hai, Lily. Selamat pagi, kok keliatannya cuaca mendung hari ini? Biar aku bantu mengusir mendung yaa.”

Ronal menggerakkan tangannya seolah sedang merapal mantra, lalu tangannya menjulur ke sana ke mari seperti sedang mengusir sesuatu. Lily tertawa. Sifat periang dan lucu Ronal selalu berhasil membuatnya sejenak melupakan masalah. Lily tersenyum.

“Ah, enggak kok. Cuma kurang tidur aja, jadinya mataku sembab. Yuk, masuk. Udah diliatin si Bos.”

“Eh, nanti malam datang ke tempatku ya. Ada syukuran sedikit. Aku kan baru dapat bonus dari kantor.”

“Wah, pasti aku datang. Bisa makan enak nih. Hehe.”

Keduanya tertawa, lalu bergegas menuju kubikel masing-masing, mengacuhkan pelototan si bos yang mengawasi mereka sejak tadi.

Malamnya  Lily datang sendiri ke apartemen Ronal. Mengajak Reza? Huh, mana mau dia menemani. Tadi pun dia bersikap acuh, tak menanyakan ke mana Lily akan pergi. Jadi, mengapa mesti repot-repot bilang? Tapi, kenapa apartemen Ronal sepi?

Ronal menyambut Lily, lalu membawanya ke teras. Di teras apartemen, telah ditata sebuah meja dengan beberapa tangkai mawar merah segar. Lily merasa heran, tapi tak berniat bertanya.

“Lily…,”ujar Ronal perlahan.”  Aku tahu semua cerita tentang pernikahan kamu. Aku tahu kamu tidak bahagia. Dan ada satu hal yang aku aku ingin kamu tahu. Aku mencintaimu, Lily. Aku ingin membebaskan kamu dari rasa sakit itu. Membawamu pergi. Mencintaimu selalu.”

Lily mematung, tak menyangka Ronal akan berkata begitu. Ia terisak. Ronal telah menyentuh relung hatinya. Membuainya begitu rupa. Ditambah lagi dengan suasana malam itu yang tenang tanpa awan, bulan yang terang, sangat menenangkan.

Malam itu pertahanan Lily demikian rapuh. Dan Ronal yang playboy tahu betul caranya memanfaatkan kerapuhan Lily. Tanpa Lily mampu sepenuhnya menyadari, Ronal sudah menciumi bibirnya. Lily tergeragap. Hatinya ingin menolak, tapi tubuhnya meminta. Sudah lama sekali sejak Reza memperlakukannya demikian mesra. Lily bahkan tak mampu mengingat.

Satu persatu pakaian di tubuh Lily dilucuti Ronal. Sementara tangan Ronal menjamahi tubuh Lily. Pikiran Lily melayang, demikian jauh menembus awan. Ia merasa bahagia. Ia ingin mereguk semua nikmat dunia. Saat mereka berpelukan nyaris tanpa busana, pintu apartemen mendadak didobrak. Seorang lelaki yang tampak murka berdiri di pintu. Reza!

Sejak itu, Lily merasa perkawinan mereka kian hampa. Reza makin tak acuh padanya. Bahkan sesekali terucap ucapan cerai dari mulut Reza. Namun yang paling menyakitkan adalah ketika Lily menemukan bahwa Reza kembali menjalin hubungan dengan Dian, yang entah sejak kapan sudah kembali dari luar negeri. Lily merasa hancur. Kematian Reza membuatnya merasa  tak memiliki harapan. Hingga ia nekat dan melakukan perbuatan itu.

Suara pintu yang terbanting menyadarkan Lily dari lamunan panjang. Di pintu ia memandang tajam pada pembantunya yang baru pulang dengan keranjang belanjaan di tangannya.

“Maaf, Bu. Ga sengaja terbanting. Anginnya kencang sekali tadi.”

Lily mengibaskan tangannya, tak acuh. Lalu beranjak ke kamar. Ia harus beristirahat sekarang. Ada satu hal yang harus ia kerjakan nanti malam. Dendam harus tuntas. Mata Lily berkilat.

***********

Dian sedang duduk di ranjangnya sambil mengunyah potongan apel yang disediakan Mama. Sesekali Mama mengelus rambut Dian sambil tersenyum. Papa yang duduk di kursi tunggu sambil membaca koran, hanya mengamati tanpa berkomentar.

“Dian, gimana kalau setelah kamu sembuh nanti, kita bertiga, kamu, mama dan papa liburan ke luar negeri. Biar pikiran kamu segar lagi. Bosen kan, di rumah sakit terus? Gimana, Pa? Setuju, kan?”

Yang ditanya hanya mengangguk kecil. Lalu kembali menekuni koran yang sedang dibacanya. Dian tersenyum maklum.

“Iya, Ma. Aku mau. Kata dokter sih 1 minggu lagi lukanya sudah kering dan aku sudah boleh pulang.”

“Mmm..kamu beneran ga ingat atau melihat siapa yang memukul dan menusuk kamu?”

“Enggak, Ma. Aku dipukul dari belakang, ga sempat melihat.”

“Yah, penjaga kuburan yang melihat kamu pun katanya ga sempat mengejar si pelaku. Sampai sekarang polisi belum bisa menangkap orang itu. Tapi kata si penjaga, sepertinya orang itu perempuan, lho. Kamu punya bayangan siapa yang kira-kira dendam sama kamu, Dian?”

Sebuah nama melintas di benak Dian, tapi lekas ia singkirkan. Aku tak punya bukti sama sekali. Dian menggeleng.

“Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Biar polisi yang mencari ya”

Mama beralih ke Papa.

“Pa, yuk kita ke acaranya Bu Marni sekarang. Ntar kita terlambat. Setelah dari sana, Mama sama Papa akan kembali ke mari ya, Dian.”

“Iya, Ma. Nikmati aja pestanya. Di sini kan aku ada yang jaga. Tuh, banyak suster di luar.”

“Jaga diri ya. Kalo ada perlu apa-apa, langsung aja telepon Mama atau Papa.”

Dian mengangguk. Melambai sambil tersenyum.

*********

Jam 11 malam. Mama dan Papa belum juga kembali. Tadi Mama sudah menelepon bahwa mereka akan terlambat sampai. Di acara Tante Marni mereka bertemu dengan kawan lama saat SMA dan asyik mengobrol. Kalau jalanan lancar, 1 jam lagi mereka akan tiba. Sambil menunggu, Dian menghabiskan waktu dengan membaca. Bosan membaca, ia hanya memandang ke sekeliling kamar tanpa berpikir apa-apa. Mendadak perutnya bergolak.

Dari dalam kamar mandi, Dian mendengar suara pintu dibuka perlahan. Pasti Mama dan Papa. Tapi kenapa sunyi sekali? Dian menyelesaikan hajatnya dan keluar dari kamar mandi. Ia terkesiap. Di depannya seorang perempuan berbaju hitam sedang berdiri.

“Lily?”

Belum sempat bereaksi, Lily sudah menyergap Dian. Postur tubuh mereka yang setara ditambah keadaan Dian yang masih belum sembuh membuat Dian kalah dengan mudah. Mulut Dian diplester dan kaki serta tangannya diikat dengan kain.

“Kita ketemu lagi ya, Dian. Sepertinya udah lebih sehat ya kamu sekarang. Tapi itu ga bakalan lama. Kamu tahu kenapa? Karena malam ini semuanya harus berakhir.”

Dian bergidik ngeri. Di tangannya, Lily menggenggam sebuah belati tipis kecil. Tadi ia menyembunyikannya di dasar tas tangannya, sehingga luput dari pengawasan satpam. Lily kembali bicara.

“Kamu tahu, sejak dulu kamu selalu jadi duri dalam hubunganku dan Reza. Kamu selalu jadi penghalang. Kamu tahu kan kalau aku begitu mencintai Reza. Tapi kenapa kamu ga mau ngerti? Kenapa kamu mau rebut dia dari aku, Dian? Kenapa?”

Dian menggeleng. Dia ingin menjelaskan, membela diri. Tapi tidak mungkin sebab plester di mulutnya sangat erat.

“Sekarang Reza sudah mati, orang yang sangat aku cintai sudah mati. Dan dia mati karena kamu! Karena kamu!”

Lily menudingkan belati ke dada Dian. Suaranya tajam, tapi tak melengking. Mungkin orang-orang di luar tak cukup menyadari kejadian yang sedang berlangsung di dalam kamar.

“Karena itu, kamu juga harus mati, Dian. Menyusul Reza, kekasihmu.”

Ada nada getir dalam suara Lily ketika mengucapkan kata terakhir itu.

Lily mengacungkan belatinya tinggi-tinggi. Belati terayun mengiris lengan Dian. Pekik tertahan terdengar dari mulut Dian. Matanya basah, sakit yang amat sangat. Lily tersenyum puas. Tangannya terayun lagi. Dian memejamkan mata.

Pintu tiba-tiba didobrak dari luar. Sesosok lelaki masuk, sejenak melihat situasi, lalu menghambur menghalau belati di tangan Lily. Belati terpental jauh. Lily dan Dian terperangah. Serempak bibir mereka menyebut sebuah nama.

“Reza?”

Sigap Reza memeluk Lily, memuntir tangannya ke belakang, lalu memaksanya berlutut. Lily mengaduh pelan. Matanya masih membelalak tak percaya. Begitu juga Dian. Reza hanya diam tak menjelaskan, tangannya meraih gagang telepon di atas meja dan memanggil satpam.

**********

Di kamar kini ada empat orang yang duduk saling diam. Sepertinya tak ada yang berniat mengeluarkan suara. Mama duduk di samping Papa, yang memandang dingin ke arah Reza yang duduk tak jauh dari Dian di ranjang. Luka di lengan Dian sudah diperban dan tak mengeluarkan darah lagi. Kesunyian ini begitu menekan. Akhirnya Dian tak tahan lagi.

“Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

Mata Papa pun seperti menuntut penjelasan. Saat mereka tiba tadi, Papa sungguh terkejut mendapat Reza masih sehat. Jadi siapa yang ada di dalam makam itu? Mengapa Mama kelihatannya tahu sesuatu?

Tepat ketika Mama akan membuka mulut, Reza bersuara.

“Biar saya yang jelaskan. Ketika Mama Dian meneleponku, aku sungguh panik. Aku bergegas mengemudi ke Rumah Sakit.  Aku berasumsi kalau kamu dirawat di rumah sakit terdekat dengan rumah kamu, tapi ternyata kamu tidak di situ. Aku panik memikirkan kamu. Akhirnya aku ingat untuk menelepon Mama kamu dan mendapat kejelasan tentang rumah sakit ini. Keinginan segera sampai membuat aku mengambil jalan pintas. Melewati jalan sepi di belakang pabrik makanan. Aku tahu daerah itu cukup sepi dan berbahaya, tapi kupikir toh ini siang hari. Siapa yang berani macam-macam siang hari? Rupanya aku salah.”

Sejenak Reza menghentikan ceritanya. Memastikan semua orang mendengarkan. Lalu ia melanjutkan.

“Tiba-tiba ada orang yang melintas di depanku. Ketika aku turun untuk memeriksa apakah ia terluka atau tidak, tiba-tiba beberapa orang langsung memukuliki. Mereka memukuliku hingga pingsan, merampas dompet, ponsel, dan semua barang berharga. Lalu membawa kabur mobilku. Lalu aku terbangun setelah entah berapa lama. Ya, tempat itu memang sepi, nyaris tak ada yang berani melintas. Saat itu yang teringat di kepalaku adalah menelepon Mama kamu.”

Semua mata beralih ke Mama yang gelisah memainkan ujung bajunya.

“Mama menyarankan agar aku sembunyi dahulu. Sebab polisi sudah menyatakan kalau mayat yang rusak parah dan tidak dapat dikenali lagi itu adalah aku. Mereka pasti menemukan dompet dan ponselku di mobil itu. Mama memiliki rencana agar…..”

Reza menatap Mama meminta persetujuan. Mama mengangguk pasrah.

“…agar nanti aku dan kamu bisa tinggal di luar negeri bersama-sama. Biar saja orang menganggap aku sudah mati. Lalu Mama akan mengusahakan agar Rio bisa tinggal bersama kita nantinya.”

Terlihat kelegaan di wajah Reza dan Mama setelah mengatakan semua hal yang sebenarnya terjadi. Dian dan Papa hanya diam. Wajah Papa terlihat melunak.

“Papa hanya ingin Dian bahagia. Kalau itu artinya harus bersama Reza, Papa mau bilang apa.”

Ada empat wajah yang tersenyum di ruangan itu.

***********

Menjelang keberangkatan ke Amerika, Reza dan Dian tampak sibuk mengurusi berbagai keperluan. Mengepak berbagai barang dalam beberapa koper besar. Sebuah identitas baru telah didapat Reza. Orang tua Reza pun telah mengizinkan Rio mereka bawa. Bel rumah Dian berbunyi nyaring. Mama bergegas keluar. Wajah Mama tampak keruh ketika kembali ke dalam. Reza dan Dian bergegas mendekati Mama.

“Itu tadi pesuruh dari kantor polisi. Lily bunuh diri di dalam sel.”

Reza dan Dian mematung, tak tahu mesti berkomentar apa.

“Dia menitipkan surat buat kalian.”

Mama mengangsurkan sebuah amplop putih yang segera diterima Dian. Ia menarik sehelai kertas bergaris, lalu mulai membaca. Mama dan Reza mendengarkan penuh perhatian.

Dian, aku minta maaf sudah mengancammu, menusukmu dua kali, memukulmu. Bahkan aku berniat membunuhmu. Entah apa kau akan mengerti atau tidak, semua itu aku lakukan untuk membela satui-satunya cinta yang aku punya, cinta yang kau rampas. Atau entahlah, kadang aku merasa justru aku yang merampasnya dari kamu. Aku hanya memiliki raga tapi tidak jiwa Reza. Aku selalu beranggapan bahwa dia selalu memikirkanmu, cintanya hanya untukmu. Dan ternyata memang begitu.

Kau mengerti, Dian? Aku ini hanya korban dari cinta. Aku ingin cinta, tapi tak bisa meraihnya. Mungkin akhirnya kau dan Reza – ya aku yakin dia ada di dekatmu sekarang-  mengerti bahwa kadang demi cinta seseorang bersedia melakukan apa saja. Aku ulangi, APA SAJA untuk mendapatkannya. Meskipun aku tahu itu salah.

Sekarang aku menyadari sepenuhnya, cinta bukan buatku. Bahkan setelah Reza ‘mati’ lalu ‘hidup’ kembali. Ha ha ha ha. Lalu buat apa aku hidup? Lebih baik aku mati saja, kan? Yah, picik memang. Tapi aku yakin kau pun akan mengerti jika mengalami apa yang selama ini aku alami. Ketika surat ini sampai ke tanganmu, mungkin aku sudah mati. Tolong kalian rawat Rio baik-baik. Terimakasih.

Dan buatmu Reza, aku hanya ingin menyampaikan satu hal saja. Cintaku padamu, Selamanya.”

Ruangan mendadak sepi.

***********

Lelaki yang mengaku pesuruh dari kantor polisi mengendarai sepeda motornya dengan perlahan. Di ujung gang, ia berbelok ke belakang sebuah warung yang belum buka. Seorang wanita dengan kerudung dan kacamata hitam besar menutupi sebagian wajah sedang menantinya.

“Beres, Bu. Mereka percaya.”

Wanita itu hanya tersenyum sekilas. Mengangsurkan lembaran uang ke pada lelaki itu, lalu menaiki sedan biru yang ia parkir di depan warung. Sambil mengemudikan mobil, matanya melirik ke arah lembaran tiket pesawat di jok samping kirinya. Bibirnya berguman pelan, menyunggingkan senyuman.

“Kalian…tunggu saja.”

**tamat**

Bagian pertama dari cerita ini bisa dilihat di >> Cintaku Selamanya 1 >> https://attarsandhismind.wordpress.com/2011/11/29/cintaku-selamanya/

Iklan

8 thoughts on “[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya 2

    • riga berkata:

      sampai sekarang belum kepikiran apa-apa tentang kemungkinan ada kelanjutan cerita ini, Dan. Kalau ada, aku tulis lagi deh. Thanks udah mampir ya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s